
Tak selang berapa lama, 10 menit kemudian, gadis muda ini sudah membawa setumpuk kayu kering di kedua tangannya yang bahkan tingginya hampir tak bisa ia jangkau untuk ia peluk, jadi ia membawanya dengan cara ala-ala bridal.
Ranting kayu yang beruntung~... 《 ~,~ 》
Karena merasa tidak terjadi apa pun pada gadis itu, Arhes buru-buru kembali ke tempatnya. Ikan yang ia dapatkan juga sudah ia siapkan, intinya hanya tinggal membakarnya saja.
TAP...
TAP....
TAP....
" INI. " langsung menurunkan kedua tangannya, membuat tumpukan ranting itu berserakan.
" Aku tidur sebentar. "
[ Rasanya lemas. ] masih mempertahankan kekuatan dan kesadarannya.
Tangannya memberikan kode pada kudanya untuk duduk, dan kuda tersebut menurutinya.
" Akhh..... " Dania segera duduk dan bersender ke tubuh kuda yang terasa nyaman itu.
[ Dia kelihatan sangat lelah. ] Arhes memungut ke semua ranting pohon itu, lalu mulai membuat api unggun.
[ Baru sebentar sudah lelap?. ]
Bagaimanapun Arhes jadi segan untuk membangunkannya, niatan awalnya untuk istirahat 30 menit, tapi ia akan mengulur 10 menit.
Arhes mulai membakar 5 ikan yang ia dapatkan itu, di atas api sedang, untuk membuat ikan tersebut matang paling tidak adalah 7-8 menit.
{ Dia tidur lelap?. } kuda coklat ini sedikit menoleh ke samping kanannya, di sisi tubuhnya sedang terlelaplah satu gadis yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
Arhes diam-diam selalu melirik anak perempuan yang sedikit lebih tinggi dari gadis pada umumnya itu dan memperhatikan lilitan perban yang terlihat di dua lengannya itu.
Arhes ingin tahu luka seperti apa yang ada di balik lapisan kain kasa itu.
Apa bekas luka bakar yang sensitif?
Atau justru masih ada luka yang dalam tahap penyembuhan di baliknya?.
Kalau tahu seperti itu, Arhes tidak akan menuruti permintaan gadis ini untuk pergi ke desanya ( Arhes ).
Namun perlahan gadis ini membuka kelopak matanya dan langsung melirik ke arahnya, Arhes langsung membuang muka saat menemukan sudut mata yang terlihat tajam itu.
Arhes baru teringat satu hal, bahwa ia ternyata sering melihat burung coklat yang terbang di atas langit istana Scnaider itu sama persis dengan yang barusan. Jadi dengan pikirannya yang masih logis, Arhes memperkirakan bahwa burung tadi memang benar-benar peliharaannya.
Iris coklat kemerahan itu kemudian memergoki Arhes yang tengah menatapnya lagi dan membuat bibir pucat itu mengembangkam sebuah seringaian konyol.
Dania tiba-tiba saja berdiri dan mulai berjalan mendekatinya dan duduk tepat di depan api unggun.
" Kamu memperhatikanku tidur?. "
"..............! " Arhes seketika mengalihkan pandanggannya ke arah lain.
" Ini baru saja 5 menit, jika lelah istirahat lagi saja. "
" Tidak bisa, jika aku tidur terlalu lama, yang ada hanyalah malas karena lemas. " jawab Dania, tangannya mengambil ikan yang masih setengah matang.
" Apa aku boleh mengambilnya?. "
" Silahkan. "
Tapi Dania hanya mematung, wajahnya terlihat sedang berpikir keras.
" Tidak jadi. " mengembalikan ikan setengah matang itu ketempatnya lagi.
Arhes mengerutkan keningnya, perubahan keinginan yang begitu mendadak.
" Ambil saja jika mau. "
__ADS_1
" Aku bilang tidak. " menjawabnya dengan ketus, lalu mundur lagi ke belakang untuk bersender lagi ke kudanya.
" Aku akan menunggu makanan yang lain. "
Baru saja mengatakan hal itu, beberapa buah-buahan langsung jatuh ke tanah, yang melakukannya tak lain ada...
[ Burung itu?. ] Aehes menyempatkan dirinya mendongak ke atas, ia benar-benar tidak percaya kalau burung itu menuruti kemauan dari perempuan di depannya itu.
______________
" Bibi-, aku....ingin minum. " seorang gadis remaja berusia 15 tahun terbaring lemah dengan wajah pucat menjadi pemandangan keseharian bagi wanita paruh baya berusia 45 tahun itu.
Memberinya sebuah tatapan enggan.
" Memangnya aku pembantumu apa?, ambil saja sendiri. " lalu berlalu melewati kamar anak tadi dengan begitu saja dan pergi keluar rumah meninggalkan anak perempuan tersebut yang masih dalam kondisi sakit.
Anak tersebut berusaha untuk bangun, tubuhnya lesu dan tenggorokannya kini terasa kering karena sudah terbaring cukup lama.
Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya untuk bangun, dan dengan pelan ia mengambil langkah penuh dengan kehati-hatian sambil meraba dinding di sekitarnya.
" Kakak. " panggilnya dengan nada yang sangat lirih.
Satu langkah, lalu dua langkah, pandangannya mulai berbayang, tangannya hampir sampai menggapai gelas yang ada di atas meja makan, dan karena sudsh terisi air ianya hanya harus mengambil-....
PRANKKK........
Gelas langsung pecah berkeping-keping.
Perempuan ini hanya memandangnya dengan wajah panik, takut-takut bibinya sebentar lagi pulang, dia harus segera membersihkannya, tetapi kesadarannya yang tidak bisa ia tahan lagi membuatnya limbung dan jatuh di samping gelas yang pecah itu.
_________________
KTOPAK....
KTOPAK.....
KTOPAK.....
Sebuah desa yang menjadi tempat tujuan mereka akhirnya sudah terlihat.
Sekarang kuda dalam mode berjalan, lalu sambil memandang sekitar, Dania mencoba mengkonfirmasi tebakannya.
" Apa kita sudah sampai?. "
" Ya. " Arhes seperti orang yang linglung, bagaimana tidak jika kedatangannya adalah untuk melihat kondisi adiknya yang dirawat oleh bibi dan pamannya, namun apa yang dilihatnya adalah seperti sebuah pengkhianatan besar.
Dua orang yang dikenalinya baru saja masuk ke dalam sebuah bangunan yang cukup besar, dan itu adslah tempat perjudian.
" Dimana rumah bibimu?. "
" Di depan sana. "
[ Kenapa mereka berdua masuk ke tempat perjudian?. ] Kalau paman dan bibinya keluar rumah, jadi siapa lagi yang ada di rumah untuk menjaga adiknya?.
Arhes langsung menarik tali kudanya untuk memacu kudanya agar berlari.
Dania yang lagi enak-enaknya memandang lingkungan barunya tiba-tiba di tinggal Arhes.
" Dia meninggalkan aku, apa aku sudah tidak di butuhkan lagi?. " menggerutu pelan.
Tidak mau tertinggal, Dania ikutan memacu kuda miliknya sampai akhirnya terlihat Arhes berhenti di satu rumah kecil yang biasa-biasa saja tapi memiliki dua lantai.
" Shera!. " Arhes berteriak dan langsung mendobrak pintu rumah.
"...............?!. "
[ Apa perasaanku saja?, Arhes terus Shera?. ] Nama yang digunakan untuk kakak dan adik adalah nama yang sedikit dibalik.
Arhes berlari masuk ke dalam rumah, terlihat wajah yang panik, Dania dapat mengetahui bahwa sekarang adalah situasi terburuknya.
Seseorang yang dikenal Arhes masuk ke tempat perjudian, dan.....
[ Adiknya yang sakit di tinggal sendirian di rumah. ] Dania membatin dan melihat hal ini dengan penuh miris serta rasa kasihan.
[ Aku memang seperti ditakdirkan untuk melayani orang lain. ]
Memiliki kekuatan suci dan kemampuan untuk bertarung, kekuatan suci yang bisa memyembuhkan orang membuat mereka akan menghiasi raut wajahnya dengan senyumannya karena salah satu keluarganya bisa sembuh dari penyakitnya atau lukanya. Dan kemampuannya bertarung selain untuk melindungi diri sendiri juga untuk memperoleh uang, tapi dengan keberadaan dirinya yang dipekerjakan oleh orang lain, maka ia menjadi salah satu orang melindungi orang banyak.
" Yah...sepertinya memang itulah tugasku. "
[ Membuat dosan dan melawan dosa. ]
Dania lalu melangkah masuk, memecah segala kemungkinan yang ada di dalam dirinya, Dania melihat seorang gadis yang sedang dalam keadaan sekarat.
Wajah yang pucat, tubuh kurus, dan telapak tangan yang berdarah karena terkena pecahan gelas.
__ADS_1