
Dingin, namun gelap......
[ Kenapa aku bisa di sini?. ] Matanya mencoba melihat ke sekeliling, tapi yang hanya dapat ia lihat hanyalah kegelapan itu sendiri.
Dia mengangkat ke dua tangannya, bisa melihatnya tangannya sendiri, tapi matanya hanya bisa melihat gelap saja di sekitarnya.
Apa yang di lihatnya dengan ke dua mata kepalanya sendiri itulah yang lantas, membuat pria ini langsung terkejut bukan main, tubuhnya yang tiba-tiba merasakan hawa dingin ini arti dari....
[ A-apa ini!?. Kenapa aku tidak memakai baju?. Kemana pakaianku!?. ] Saat menunduk ke bawah, Arhes melihat ari ujung kakinya, ia tidak memakai alas kaki, celana, hingga baju yang tak lain
tubuhnya tidak memakai pakaian apa pun.
TRANG........!.
" Kamu.....lawanlah gadis itu untukku. "
" Baik nyonya. "
Mendengar suara ini, seketika pria ini tercengang bukan main.
[ Itu kan suaraku!?. ]
Arhes, entah apa yang terjadi sekarang, yang terakhir dia ingat hanyalah, tiba-tiba di datangi oleh seorang wanita tinggi yang bahkan memiliki rupa wajah yang nampak lebih cantik ketimbang seorang putri kerajaan.
Pandangannya yang terpaku atas kehadirannya itu, lantas membuat Arhes diam saja ketika wanita itu perlahan mendekatinya dan....
"..............! " Tangan kanannya tiba-tiba menyentuh leher sebelah kiri.
[ Aku.....tiba-tiba dia mencium leherku. ] menyadari hal itu, dan sekarang yang ia lihat ada di kegelapan ini, Arhes menemukan kalau ciuman tadi membawa pengaruh pada dirinya.
Pengaruh dari sihir apakah itu?.
" Dan kau, bermainlah dulu dengan laki-laki yang sudah mempermalukanmu di depan banyak kesatria itu dulu, pasti kau akan puas rasanya, meluapkan rasa kesalmu itu dulu, ketimbang aku. "
dan percakapan selanjutnya..
" Arhes!. Kau yakin ingin melawanku?. "
[ Ah...suara ini milik dia. ] Arhes menengadah ke atas, setelah mendengar suara yang di kenalinya.
[ Ini baru pertama kalinya mendengar dia memanggil namaku. ]
Namun perasaan dengan tubuhnya yang sedang begerak lebih dari yang sedang di alamminya di dalam kegelapan ini, artinya memang ada sesuatu yang salah!.
TRANGG......!
CTANG.......
" KYAAA.........! "
Suara teriakan yang dimiliki..
[ SHERA!. ] Arhes berteriak di dalam pikirannya. Rasa khawatir itu akhirnya muncul juga setelah mendengar teriakan Shera yang terdengar seperti dalam keadaan bahaya.
Pikirannya pun mulai serabut, tubunya, terasa bergerak sendiri, padahal dirinya ada di tempat yang gelap ini.
Bagaimana caranya menyelamatkan Shera, dan apa yang sebenarnya terjadi di luar ini?.
CTANG....
........CTANG
CTANG........
Suara nyaring dari benturan dua besi, ini sangat mengganggunya. Mengingat dengan berbagai ucapan demi ucapan yang tadi Arhes dengar, hanya satu kesimpulan yang bisa ia ambil, yaitu...
[ Apa tubuhku sedang di kendalikan?. ] Arhes menatap ke dua tangannya dengan penuh rasa amarah.
__ADS_1
[ Jangan-jangan wanita yang tadi mencium leherku?. ]
GREP......
Kemudian tangannya mengepal dengan begitu erat, ini memang tidak bisa di biarkan, dan dirinya harus keluar dari sini, namun satu masalahnya adalah bagaimana caranya keluar dari sini?.
Apa ada yang bisa ia lakukan untuk dirinya sendiri di tempat ini?.
Tubuhnya sedang melawan gadis yang lebih muda 4 tahun darinya, dan dia gadis yang di angkat oleh yang mulia Archduke.
Pertemuan pertamanya, malah menarik kerah dari orang yang ia kira seorang koki pria, namun kenyatannya malah perempuan?!.
Dan sekarang, tubuhnya sedang bertarung dengan perempuan itu. Katanya sebagai pelampiasan rasa kesal?.
Yah........
[ Hah...] Arhes menghela nafas pendek, dia termenung sekejap.
[ Itu kan memang kejadian memalukan. Dan yang buat aku tidak mengerti....] Berpikir dengan lebih kuat lagi, membuat perempatan dahi itu mulai muncul.
[ Dia.........kenapa tidak memakai pakaian yang biasa dipakai oleh perempuan?. ]
Tiba-tiba pikirannya mengarah ke sana. Tentu saja.....itu karena apa yang terjadi pada malam di kantin itu, Arhes sempat melihat dia ( Dania ) tidak memakai pakaian dalam yang seharusnya biasa di pakai oleh semua perempuan.
Malah perban!?.
CTANG............. ( Suara pedang yang beradu kembali terdengar )
' Memalukan. '
Wajahnya seketika merona, malah jadi menepis semua kemungkinan yang sedang terjadi pada tubuhnya sendiri, dan suara dari teriakan adiknya tadi.
" Ah....hahaha............ Semakin waktumu terbuang, mereka akan semakin kehilangan daya hidupnya. Kau tahu, kehilangan daya hidup sama saja dengan kematian. " suara milik wanita itu lagi.
DEG..........
[ Apa maksudnya itu?. ] Arhes kembali sadar dengan arti dari teriakan Shera tadi, artinya jika terus membuang waktu, maka adiknya akan mati!?.
Karena daya kehilangan daya hidupnya terus?.
Ia harus keluar!.
Entah apapun caranya, pasti ada, jadi Arhes memutuskan untuk bergerak dari pada diam di situ, sampai ketika dirinya sedang berjalan dalam sebuah kesesatan karena bingung, Arhes mendengar suara lagi.
" Tidak. "
[ ................? ] Suaranya memang kecil dan begitu lirih, tapi memiliki nada tegas penuh keyakinan. Memang lirih, tapi Arhes masih bisa mendengarnya dengan jelas. Yang berarti itu sebuah gumaman, gumamannya Dania yang berkata 'tidak' .
[ Dia mau apa?. ] fikir Arhes, tdak berhenti untuk berlari kecil.
SRINGG........! ( Suara pedang yang bergesekan )
" Hek......"
[ ................! ] Tepat di suara itu, ada satu harapan yang muncul, harapan saat di depannya terlihat ada satu titik cahaya kecil, dan malah keberadaan cahaya kecil itu, membuat tangankanannya tiba-tiba seperti terasa di tarik ke arah tersebut.
Terus...tanpa mengerahkan tenaga sekailpun, tubuhnya benar-benar di tarik ke arah sumber cahaya itu sampai akhirnya Arhes mendengar suaranya lagi. Suara penuh harapan.
" Harusnya memang ini. "
Kalimat yang di ucapkan oleh Dania seketika itu, Arhes akhirnya mencapai cahaya ini...mengulurkan tangannya untuk mengapai cahaya itu.....tidak ingin membiarkan kesempatan itu menghilang begitu saja, jadi harus ia capai dengan sekuat tenaga.
SHAAAAAAA.............
[ Silau sekali dan....]
Cahaya yang begitu menyilaukan, membuat Arhes mengenyit karena menusuk indera penglihatannya.
__ADS_1
Tapi selain di sambut cahaya terang itu, ia juga di sambut oleh roma wangi yang menjemput indera penciumannya.
Silaunya cahaya itu, tak menyulutkan bahwa Arhes merasa ada seseorang sedang mendekatinya.
Arhes berusaha untuk membuka kedua kelopak mataya, mencari tahu siapa orang yang muncul di depannya itu.
NAMUN.............
"...................! " Arhes yang sempat menemui sedikit wajah bagian bawah itu, terasa familar, dianya sedang memberikan senyuman manis seperti wangi yang sama manisnya ini.
".....,........" Kata yang di ucapkan tidak bisa Arhes dengar, hanya ada gerakan dari bibir yang terkesan indah itu....
Sebelum akhirnya sebuah telapak tangan perlahan mulai mendarat menutupi separuh wajah bagian atas, menutupi pandangannya.
[ Lembut...... ] hanya itulah kalimat yang tiba-tiba muncul.
Sebuah pujian yang jarang ia utarakan baik dalam ucapan, hati maupun pikiran.
Baru kali ini, ia bisa merasakan kelembutan dari telapak tangan mungil itu.
Apa artinya ini?.
telapak tangan milik siapa yang sedang menutupi kedua matanya?.
Sampai-sampai dirinya merasa ada sesuatu yang basah menempel di kulit wajahnya itu.
---------------------------------------
Sayup-sayup hidungnya yang mancung itu merasakan geli dari helaian tipis yang menyenggol hidung dan bibirnya,
Lantas membuat dahinya bereaksi untuk mengerut.
{ jika tidak segera sadar, aku yakin tinjuku akan mendarat di perutmu lebih dulu, sebelum tubuhmu menimpaku!. }
[...............! ]
Peringatan yang muncul di dalam kepalanya. Arhes langsung membuka matanya setelah merasakan sentuhan telapak tangan tadi terlepas begitu saja setelah kalimat yang di ucapkan oleh....
" ..............., kamu- "
Ia di sambut helaian rambut coklat yang rupanya tadi menyentuh sedikit wajahnya, dankini sudah diperlihatkan wajah seriusnya gadisi ini?.
Dania menatap wajah itu dengan begitu intens, tangan kanannya yang ia angkat setelah menyentuh wajah pria ini, langsung membalas ucapannya setelah kata ' kamu-' langsung menggantung begitu saja dari mulutnya Arhes.
" Atur posisimu. " peringat Dania lagi dengan nada ketus.
"....................." Menyadari peringatan untuk yang ke dua kali, Arhes menyadari kalau tubuhnya terhuyung ke depan dan yang akan secara otomatis mendorong tubuh gadis ini.
Hal ini di sebabkan, karena kakinya Dania tidak bisa seimbang dalam posisi terhuyung ke belakang saat tindakan menarik Arhes ke arahnya membuat salah satu kaki Arhes menginjak kakinya, ketika ia ( Dania ) terfokus untuk mendaratkan telapak tangannya ke wajah ( sepassang mata ) Arhes.
Dalam waktu yang singkat itu, Arhes akhhirnya menjatuhkan pedangnya ke atas tanah, menangkap punggung kecil itu, tangan kirinya langsung menarik sedikit pergelangan tangan dari gadis muda ini.
" ...................! "
[ Dia...langsung membuat refkleks yang bagus. ] Dania tiba-tiba mengatakan sebuah pujian di dalam pikirannya.
Keadaan membuat ajah mereka begitu dekat, Arhes tanpa sadar menikmati momen langka yang berlalu singkat itu, mengamati wajahnya dengan jarak sedekat ini.
Pandangan yang begitu terfokus pada lawan pandangnya, tidak mengartikan kalau pemikiran mereka berdua kan sama.
[ Apa yang salah denganku?. ] satu pertanyaan terlintas begitu saja di kepalanya. Matanya merasa aneh ketika melihat mata Ruby milik Dania, ternyata jika di perhatikan begitu seksama, apa lagi dalam jarak yang dekat ini, rupanya tidak begitu buruk, hatinya malah tiba-tiba berkata..
[ Indah. ]
Dari mata turun ke bibir.
[ Sama persis. ] Sama persis dengan yang Arhes ingat beberapa saat tadi sebelum sadar ke dunia nyata ini.
__ADS_1
Matanya yang begitu sangat terpaku pada bibir itu, lantas betul saja membuat Dania merasa bahwa Arhes itu sedang menatapnya dengan sorotan dari pria penuh *****.