
" Cania, apa kamu bisa mengurusi kesatria yang disini? " Tanya para Healer yang lebih senior pada Cania.
" Baik " Cania bergegas menuju tempat lain untuk menggantikan penyihir air lain yang sudah kelelahan.
[ Aku mengerti, amaran yang dia berikan pasti demi kebaikanku juga, terkadang jika aku mengabaikan amaran seseorang aku akan mendapatkan beberapa penyesalan. Aku sudah mempelajari semua buku sihir, ini masih teringat di otak ku, jika tidak digunakan juga akan sia-sia, apalagi jika aku dalam keadaan terdesak ]
Tangan kanannya memijit tengkuknya yang pegal, sedangkan kepalanya menengadah ke atas melihat matahari yang sedikit tertutup dedaunan.
Seolah dia sedang berpikir keras, tapi kenyataannya memang begitu.
Hutan kabut di wilayah kerajaan Rovathia, salah satu hutan yang cukup di kuasai oleh monster, pembasmian akan selalu dilakukan selama empat bulan sekali, itu hal yang wajib demi menekan pertumbuhan para monster.
Tapi konon di tengah hutan lebat yang di selimuti kabut juga ada beberapa danau, salah satu di antaranya adalah danau yang dibilang cukup keramat.
Peri cantik yang turun dari surga menganugrahi tempat dia turun yaitu danau yang berisi air suci dan batu kristal suci. Batu yang perlahan berubah menjadi kristal sebab menyerap banyak energi dari air suci itu sendiri.
Hanya di sekitar danau itu sajalah yang bisa merubah batu menjadi kristal, sedangkan dua meter dari dari tepi danau keramat itu tidak akan terpengaruh apapun.
Tapi cerita itu hanyalah dongeng yang belum di ketahui keasliannya, belum ada seorang pun yang menemukan akan fakta dari danau keramat. Sekalipun ada orang yang masuk apatah lagi sekarang sedang ada pembasmian monster sehingga mengerahkan banyak kesatrua, itu saja belum ada satu pun orang atau kesatria yang menemukannya.
" Aku juga bosan melihat pedang ini, jika dilihat sangat menyebalkan. Ini jauh dari karakterku yang seorang wanita, tidak mengesankan pemiliknya juga.
Jika harus memutuskan kontrak, aku harus bagaimana? "
Gerutu Dania dengan pedang misterius ini.
[ Sekalipun aku sudah membaca hampir semua buku sihir di perpustakaan kota, aku tidak pernah menemukan pemutusan kontrak dengan pedang. Apa lagi pedang ini asalnya saja aku tidak tahu, dan tahu-tahu ada di tanganku tanpa aku ketahui ] fikirnya lagi.
Disaat semua penyihir air sedang sibuk, hanya dia seorang yang duduk santai di belakang tenda.
" Ahaha....saya tidak tahu ternyata anda santai juga disini, padahal penyihir yang lain sedang sibuk " Kata Yunifer menegur Dania dengan wajah sombongnya.
Entah dari kaoan dia berlagak sedikit sombong pada Dania, ia tidak mempedulikannya.
Dania hanya memiringkan kepalanya sambil berpikir.
[ Aku penasaran dia berasal dari zaman apa, abad 20/21 ? ]
" Saya harus menghemat tenaga sebelum malam tiba "
sahut Dania dengan nada malas.
[ Sepertinya dia tetap tidak mengerti, malam akan jauh lebih berbahaya ketimbang siang sekalipun banyak monster yang kelihatan untuk dibunuh semua ]
Wanita ini kemudian berdiri dan sedikit menjauh dari Yunifer.
[ Sombong sekali dia, tapi sepertinya aku juga ] Yunifer berpikir untuk meengetahui siapa wanita aneh itu, namun sekarang juga masih belum bisa tapi jika terus mendekatinya juga akan menghasilkan informasi.
" Yunifer, cepat datang kesini, bantu aku "
" Iya, saya akan segera kesana "
Berlari cepat tuk membantu temannya yang sudah terlihat lelah.
" Nona Yunifer, kenapa dengan perempuan itu?. Tiap hari dia terlihat santai walaupun sudah di tegur beberapa kesatria tetap saja tingkahnya sangat menyebalkan " tutur teman Yunifer yang tadi meminta bantuan dari Yunifer.
" Massa, apa kamu iri dengan dia?, tiap hari beberapa kesatria pasti mendatanginya, selain itu juga kamu masih jomblo " Yunifer mendampingi sekaligus bertugas sebagai orang yang mengobati orang yang terluka.
" Aduh...malah menyimpang kesitu " Massa merasa sebal, bagai sindirian yang memang ditujukan pada dirinya dan langsung menohok hatinya yang masih jomblo, tidak seperti Yunifer yang sudah berpacaran dengan ketua( Ishid ).
_______________
Ada dua hal yang paling disukai Dania di dunia ini yang tidak pernah hilang sekalipun sudah bereinkarnasi.
Teh hijau dan sensasi saat adrenalin membanjiri seluruh tubuhnya di tengah pertarungan yang menjadi penyebab jantungnya berdegup kencang dalam dada sementara suara teriakan dari korbannya terdengar diseluruh inderanya.
Dalam sudut memori mantan mafia: masih terekam soson anak yang meringkuk dan menolak fakta bahwa dua tangannya kini berkumuran darah-.
__ADS_1
Benar, dari dulu sampai sekarang ini ia akan terus menorehkan darah sepanjang jalan hidupnya, merenggut nyawa suatu makhluk hidup sudah menjadi hal biasa yang sudah ia lakukan sampai sekarang. Ia lakukan demi...dirinya sendiri, ia harus membunuh yang kiranya mengancam nyawanya sendiri. Karena tekadnya yang sekarang adalah bisa hidup lebih lama, hidup di jalan yang akan lebih banyak menguras tenaga dan keringat serta darah yang menggenangi jalan hidupnya pasti akan selalu ada.
Eldania terkadang tidak mengenali dirinya sendiri yang memiliki keunikan akan sensasi menggulung kedua tangannya dengan balutan perban, balutan yang hanya sampai ke pergelangan tangannya. Bak mumi berjalan tapi ia suka akan kebiasaannya itu, mungkin ini sudah menjadi kebiasaan tubuhnya sebelum ia dihidupkan kembali. Yah terkadang ada satu atau dua hal yang tidak bisa ia hindari seperti memori kelam serta tubuhnya yang mengingat akan kejadian yang sangat mengerikan seperti waktu itu, gemetaran ketika akan di tabrak kuda.
Walaupun tubuhnya saat itu tidak terkontrol dengan baik, namun otaknya masih berjalan sesuai logika miliknya sendiri.
" Malam lagi, malam benar-benar nikmat " ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah terbiasa dengan kehidupan malam seperti burung hantu. Pekerjaan akan terasa lebih panjang jika dilakukan di malam hari dan tenaga juga akan dikeluarkan 2 kali lipat dari pada di waktu sebaliknya.
Gelap, dingin, suara-suara aneh atau suara burung gagak yang entah sedang bertengger dimana untuk menunggu mangsanya menjadi korban yang akan dibunuh yang lebih kuat darinya.
kalian harus lebih mewaspadai itu ketika di hutan, apa lagi jika tiba-tiba suasana menjadi terasa lebih sunyi ketimbang biasanya.
" Hmmm.....hangat juga " Entah mengapa sebelah kanannya terasa menjadi hangat, Dania yang tadi hanya duduk di batang pohon sendirian seperti ada satu yang tiba-tiba sengaja menempelkan tubuhnya yang hangat pada Dania. Kerena merasa nyaman, dia akhirnya mencoba memeluknya ada sensasi bulu yang terasa di telapak tangannya.
" Everst, berani datang kesini lagi dengan tubuh besarmu?. Tapi baumu kenapa berbeda? "
Usel....usel....usel....usel....
Kepalanya menggeleng-nggeleng agar merasakan sensasi bulu itu sendiri.
" Seperti boneka hidup " walau bukan boneka tapi memang hidup. Tapi burung tersebut langsung menjaub dan mengangkat satu kakinya ke arah Dania.
" Oh....padahal tadi pelukannya lumayan tuh, sekarang-.... "
[ Kakinya terluka?, itu alasannya menghampiri aku? ]
" Apa bayarannya? "
Burung bernama Raya itu memiringkan kepalanya seolah tengah berpikir.
" Lambat " sahut Dania, ia tidak mau imbalan dari seekor burung, toh cuma luka yang tidak cukup serius. Tangannya bersalaman dengan kaki Raya, lalu ia sedikit mengeluarkan kekuatan suci tepat di atas luka milik Raya.
Datang lagi satu burung lainnya si Everst namun kedatangannya sunggulah sangat kasar membuat tuannya sendiri di tolak ke belakang sehingga jatuh ke tanah.
KWAK....KWAK... { Jalan Raya sialan!, aku ingin membalaskan dendamku. Kau hampir memakanku }
KWAK.....KWAK.... { Tentu aku bisa lebih besar darimu imu } jawab Everst selagi menyombongkan diri.
KWAK....KWAKK... { Coba tadi aku makan kau saja } sindir Raya mengingat kilas balik Everst berrubuh mungil sudah berada di dalam mulutnya.
Keduanya saling beradu kepala, siapa yang lebih bengis lagikan seram, lalu kedua sayap masing-masing saling beradu untuk menjatuhkan.
[ Suasana apa ini? ]
Mikhail yang tidak sengaja datang malah di beri tontonan yang aneh lagi. Dua hewan bersayap sedang bertengkar.
" Ketua, apa tidak sebaiknya ketua memisahkan mereka berdua? "
" Apa hubungannya dengan saya?, raya harus menyelesaikan masalah yang dia buat sendiri "
" Tapi, dari mana asal burung yang satunya lagi? " Tanya lagi Mikhail.
DEG......
Kedua orang ini merasakan hal yang samg, sesuatu yang mendekat dan jaraknya juga semakin mendekat.
CRAZHHH...........
Dari arah depan kedua burung tadi sudah terbang menjauh, lalu ada satu monster menggelinding dan sudah terbelah menjadi dua tepat ke depan Ishid dan Mikhail.
" Jika tidak ada aku, kalian berdua sudah menjadi sate. " Satu suara terdengar di keduanya, Dania bangun dari rebahan sesaat akibat di dorong Everst.
" Menjijikan " gerutu Dania dengan baju yang sudah berlumuran cipratan darah dari monster tadi.
Yah jika waktunya tidak tepat, kedua hewan yang berkelahi itu paati sudah menjadi sate oleh monster yang kenetulan memiliki ngengat cukup panjang.
[ Hanya bermodalkan belati, ia dapat membelah tubuh monster tadi menjadi dua. Uih....emas pulak ] Mikgail terkagum.
__ADS_1
" Perintahkan mereka untuk bersiap menghadapi serangan gelombang pertama " Perintah Ishid.
" Baik ketua " Mikhail berlari kebelakang untuk mengatur strategi, sedangkan Ishid masih berdiri di tempat yang sama untuk menahan monter yang akan datang.
[ Apa mereka datang dengan melewatinya ke atas? ]
Dania berpikir dengan rencana yang sudah dia buat, mengingat ada satu monster yang lolos dari jebakannya berarti mereka memang tidak sebodoh yang Dania kira.
______________
CRAZSHHH............
CRAZSHHH..............
CRAZSHHHHH............
Keringat, energi yang terkuras, luka, darah, tumpukan monster, kemah yang sudah berantakan.
Medan perang di tengah malam, perang demi menyelamatkan orang lain yang lebih banyak.
Nyawa adalah taruhan dari ini semua, jika tidak ada Healer seperempat bagian dari pasukan kesatria pasti sudah tidak bisa berdiri dan bertarung lagi.
Seperti namanya Monster, tubuh aneh dan lebih kuat dari hewan biasa.
Disituasi seperti itu banyak yang akan berpikiran.
` Harus bertahan '
Padahal belum seminggu, sedangkan jadwalnya adalah sampai satu bulan lamanya, jadi kata ' bertahan ' akan sampai bertahan berapa lama lagi?.
Sesuai dugaan Dania kalau hal seperti ini akan terjadi, sudah berapa kali ia di jebak oleh ramuan terlarang itu.
Yah tapi itu tidak akan ada yang di permasalahkan bukan?, dengan banyaknya monster yang datang berarti tidak usah
jauh-jauh mencari.
Beberapa orang yang tumbang langsung di sembuhkan selagi teman lainnya menjaga agar tidak ada yang menyerangnya.
[ Dia orang yang waktu itu, apa mungkin dia pemimpin juga? ] Dania memandang satu orang yang pernah mengaku menjadi Ishid, ini kedua kalinya ia bertemu namun belum tahu siapa orang tersebut.
Nggungg.....ngunggg.....
" Kenapa harus monster serangga sih?, merepotkan sekali melawan dengan pedang "
Ucap Sieg yang kewalahan dengan serangga yang terbang dan susah untuk mereka mereka yang terbang di ketinggian.
Monster serangga seperti tawon hitam itu cukup merepotkan untuk dilawan, padahal manusia saja tidak bisa terbang bagaimana caranya mau menuntaskan serangan mereka.
Tapi seperti yang diketahui mereka semua, beberapa kesatria juga memiliki sihir dan apatah lagi sihir pelindung, kekuatannya cukup untuk menahan mereka untuk sementara waktu demi mengambil strategi berikutnya.
Merasa ada monster yang masih bergerak, Dania menusuknya lagi.
CRASHT.............
" Membunuh satu persatu juga tidak ada gunanya " gerutu Dania lepas menginjak daging sampah itu.
" Aku sudah lelah, kapan ini bisa berakhir "
" Hahh....kekuatanku sudah hampir habis "
" Coba jika ada hujan "
" Dih, aku mana mau ada hujan, nanti barangku basah semua "
" Sudah, tujuan kita disini bukan untuk mengeluh. " Yunifer mencoba menasehati teman-temannya yang sudah mengeluh kesal karena merasa tersiksa, ia juga merasakannya tapi hal ini juga sudah menjadi tanggung jawabnya juga sebab bersedia ikut dalam ekspedisi kali ini.
Wanita ini memandang ke arah dimana Ishid sedang berdiri jauh di depan sanin tentu Dania tahu tatapan dari Yunifer ini. Tatapan akan rasa iba yang harus di tanggung Ishid sebagai ketua pemimpin pasukan, yah dia harus melindungi semuanya, semua orang yang ia bawa, namun di sisi lain juga ada yang mulia Tassel yang juga sama-sama memimpin ekspedisi kali ini.
__ADS_1