Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pertemuan Mereka


__ADS_3

Banyaknya orang yang berlalu lalang, tidak membuat keberadaannya menjadi pusat perhatian mereka.


Mereka berdua yang sekarang, memiliki fisik yang sama persis seperti manusia biasa.


Darayad dan Ailyn, pada akhirnya berjalan-jalan di tengah kota.....Rovathia, setelah mendapatkan izin dari nona Celes.


Jadi sekarang tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi selain waktunya menikmati pusat kota yang sudah pulih dari segala kerusakan yang di akibatkan oleh Gregore salah satunya, iblis sekaligus penyihir tipe petarung yang memporak-porandakan bangunan.


Ya...Darayad mengetahuinya dengan jelas, tapi tidak akan masuk campur dalalm pertarungan mereka, jadi hanya bertugas sebagai penonton saja, kala itu.


" Liyn, mereka tidak akan memperhatikan kita. " tutur Darayad, kepada adiknya yang terus saja memasang sikap waspada.


" Kenapa tidak, bisa jadi ada salah satu di antara mereka diam-diam adalah penyihir, dan mengetahui identitas kita. " Ailyn melilrik ke kanan dan ke kiri, bersikap waspada di tengah banyaknya manusia, itu yang dilakukannya saat ini.


GREP.....


Salah satu tangan Darayad langsung merangkul pundak Ailyn dan membuat anak ini dekat dengannya.


" Nikmati saja, aku sudah menghilangkan eksistensi kita di sekitar mereka, jadi mereka hanya menganggap kita adalah manusia biasa, sekalipun penyihir. Ya....kecuali penyihir tingkat 7, identitas kita akan terjaga. Apa kamu tidak percaya dengan kakakmu ini?. " Jelas Darayad, berbisik tepat di telinga Ailyn, menjelaskan sekaligus menenangkan anak ini dari rasa khawatir yang berlebihan.


" Kakak?. "


Darayad menyentuh keningnya dan menggeleng dengan pelan sambil berekspresi sedih.


" Kamu tidak pernah memanggilku kakak, sekarang panggillah aku dengan sebutan kakak, mengerti?. "


[ Kakak?. ] Ailyin memanggilnya di dalam pikiran, sekaligus mulutnya.


" Ya...Kakak?. " Agak aneh jika di ucapkan langsung di depan orangnya, jadi masih kelu.


" Bagus, adikku. " mengusap rambut Ailyn dengan sedikit kasar.


" Kita mulai dari mana?, makan?, kita ke sana...." Menunjuk ke satu kedai makanan yang ada di depan sana, Darayad menarik tangan adiknya agar tidak tertinggal.


" Makan......, yang penting jangan makanan daging. " Ailyn mengutarakan hal tabu-nya pada Darayad.


Hal tabu bagi mereka adalah untuk tidak makan daging, jadi yang di cari jika mau makan adalah selain daging.


Dua orang yang sedang berjalan-jalan untuk pertama kalinya, mereka pun pelan-pelan menikmati acara berduaan mereka, b


bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai keluarga, kakak dan adik.


" Berapa?. " mengambil 6 tusuk bola-bola sate.


" 2 perak. " jawab si penjual.


Darayad pun memberikan 2 keping logam perak.


Karena terlihat menarik matanya, dia mengambil 6 tusuk, tentu saja yang 3 akan dia berikan ke adiknya.


" Ini..... " menyodorkan makanan yang baru di belinya kepada Ailyn.


Ailyn sepat ragu untuk mengambilnya, tapi melihat kakaknya itu makan dengan lahap, sepertinya memang betulan enak.


"............"


Lama merespon, Darayad memaksa tangan Ailyn untuk memegang 3 tusuk sate itu.


'' Dari sini sampai ujung sana, mana yang menarik perhatian matamu?. " Darayad bertanya, dengan mengandalkan hal yang ada di depan mata mereka.


Bukan bertanya apa yang kamu inginkan setelah ini?.


Atau menawarkan, mau ini?.


Itu bukan cara yang jelas, untuk mendapatkan hal yang jelas, apa yang di mau adiknya, tapi pertama-tama harus memberikan keputusan, hal yang paling mudah...........sepasang mata yang menilai mana yang membuat hatinya untuk tertarik pada hal yang ada di sekitarnya yang terlihat menarik dari hal yang lain.


" Em.....itu. " Ailyn pun menunjuk ke sebuah papan bergambar gunting.


" Begitu ya?, aku juga penasaran. " dan lagi-lagi tangannya menggenggam pergelangan tangan Aiyn, dan membawanya ke tempat yang di maksud.


l


l


l


l


l

__ADS_1


l


l


" Selamat datag nona. " sambutan ramah bagi penunjung dua perempuan, memang terlihat biasa karena memakai pakaian rakyat biasa, tapi entah kenapa ada rasa menawan di dalam diri mereka berdua.


Seolah, bahwa jika dirinya melayaninya dengan baik, dan melakukan yang terbaik pada dua wanita ini, maka akan mendapatkan hasil yang leih cantik.


" Kami ingin mencuci rambut. " pinta Darayad.


Ailyn hanya terdiam, jika berkata dengan sembrono, maka akan di lihat seperti orang aneh oleh manusia ini.


Apa yang tidak pernah di lakukan saat di hutan, bisa di lakukan d sini, memanjakan tubuh alias rambutnya di urus kepada pelayan ( orang lain ).


Sampai dimana 30 menit berlalu, dna masih ada di tempat yang sama.


" Bukannya ini membuang waktu?. " Ailyn tidak terima, hanya untuk mencuci rambb


ut saja waktu yang di pakai sampai 30 menit.


" Itulah perempuan, apa anda tahu?, rambut adalah sebuah kecantikan nomor dua setelah wajah. " merespon nona yang begitu ketus.


" KIta tidak terburu-buru, jadi nikmati saja. " pujuk Darayad.


" Atau kamu mau pergi ke tempat lain?. " sambil memilih aroma wangi untuk rambutnya.


" Apa anda berdua baru datang ke sini?. " tanynya, sambil membilas rambut panjang yang dari awal memang sudah bagus apa lagi kondisinya yng lembut.


" Ya, kami hanya sekedar jalan-jalan ke kota. "


" Kebetulan saya tau semua tempat di populer isini, itu bisa di jadikan tempat rekomendasi untuk tamu seperti anda yang baru pertama kali datang ke sini. " jelasnya.


" Boleh. " Darayad mengiyakan saran dari manusia ini, jadi apa boleh buat?, selain mendengarkan.


Sampai akhirnya kegiatan setelah berada di salon, adalah pergi ke rumah kaca yang terkenal salah satu yang terbesar di Rovathia.


Rumah kaca Anezul, merupakan tempat yang di tanami berbagai tumbuhan dari seluruh benua. Mungkin memang dari awal mereka berdua adalah sejolin dari hutan, tempat seperti ini adalah lokasi yang lebih tepat untuk mereka berdua.


" Sihir memang tidak ada tandingannya. " gumam Darayad, mengamati bangunan kaca yang besar dan megah, padahal di tengah kota yang padat.


" Mereka berusaha keras, tapi dari seluruh benua?, manusia memang selalu melakukan hal yag tidak masuk akal menjadi kenyataan. " Ailyn pun turut berkata demikian, karena sejatinya di dalam rumah kaca itu juga ada salah satu kenalan mereka.


Sebuah tanaman yang tumbuh di tanah, karena berada di antara tumbhuan lain, jadi terlihat samar bahwa pohon kecil itu hidup di antara tumbuhan menakjubkan itu.


Darayad dan Ailyn harus berjongkok, karena pohonnya yang kecil dan pendek ini.


Ailyn diam-diam menyentuh batang pohon itu sampai di mana, sentuhannya memberikan sebuah pengaruh akan...


" Hei!, tangan siapa yang menyentuh dan mengganggu tidurku!. " suara lantang ketika tubuhnya di sentuh oleh Ailyn tadi.


Dia marah sebab tidurnya jadi terganggu, dan reaksinya juga mempengaruhi daunnya yang awalnya hijau jadi merah, benar-benar marah.


" Aku. " Ailyn menjawab akan kemarahan pohon Mandrake yang protes ini.


" Ail-..hp...." Mau menyebut namanya setelah mengetahui identitas si pengganggu, mulutnya langsung di bekap oleh Ailyn.


" Hmph..hmph..." memberikan protes lagi, meski tidak bisa melontarkan kalimat.


" Suaramu terlalu keras, begitu semangatnya ya bisa tidur santai disini?. " Ailyn menyindir pohon ini.


" Apa kamu hidup di sini dengan baik-baik saja?. " Darayad bertanya, mengingat semua tumbuhan di sini memiliki pertumbuhan yang baik dan punya suhu yanv lumayan.


Aliyn melepaskan tangannya, agar pohon mandrake itu menjawab pertanyaan kakaknya.


" Tidak lebih dari sekedar di rawat dengan cukup baik. " jawab Mandrake.


" EH...kau makhluk rat...Hmph....hmph...." Lagi-lagi mau menyebut nama, tapi sebelum itu Ailyn kembali membekap mulut kasar ini.


TAP......TAP......TAP........


Sampai di belakang, terdengar suara lanagkah kaki yang berhenti.


" Mandrake. " ucapnya, membuat AIyn dan Darayad menoleh ke belakang, dan menemukan seorang pria berambut hitam sedang memperhatikan mereka bertiga, karena salah satu yang diperhatikan juga si pohon Mandrake itu.


Tatapannya yang datar seakan memang sedang memperhatikan mereka berdua dengan lebih teliti, atau lebih tepatnya tahu akan identitas sebenarnya antara Ailyn dengan Darayad.


Ailyn menjadi merasa waspada akan tatapan dari manusia yang ternyata adalah......


" Wah......jadi ini pohon Mandrake. Dia lebih kecil dari apa yang aku pikirkan. " gumam perempuan berambut coklat ini sambil memperhatikan pohon pendek berdaun kecil berwarna hijau, dan kata 'kecil' yang terdengar, membuat mandrake membuat protesannya.

__ADS_1


" Manusia otak kecil, aku masih dalam pertumbuhan...mengerti!. " amarahnya kembali lagi dengan berubahnya daun di kepalanya menjadi warna merah lagi.


" Pohon pun bisa marah...?. " tidak tahu lagi, kalau ini kali pertamanya bertemu dengan sebuah pohon yang bisa bicara penuh dengan amarah yang menggebu-gebu.


" Ahahaha........" dan itu berhasil membuatnya jadi tertawa, karena tingkah pohon Mandrake.


Ailyn, dia malah jadi bersikap waspada setelah melihat perempuan yang tertawa ini.


[ Dia......manusia perempuan yang di lihat oleh burung itu. ] fikir Ailyn, dia tidak menyangka kalau akan bertemu di tempat seperti ini, apa lagi bersama dengan pria ini, yang semalam berbincang dengan perempuan berambut coklat itu, di dalam restoran.


" Liyn.....ayo pergi. " pinta Darayad, dia tidak ingin melihat kewaspadaan Ailyn, menarik perhatian dua orang ini.


"..................." Tapi Ailyn tidak henti-hentinya melirik ke arah mereka berdua, meski sedang di tarik oleh kakaknya untu pergi menjauh dari mereka.


[ Bertemu dengan mereka berdua secara langsung, aku jadi melihat kemampuan mereka berdua....sebenarnya bisa membongkar penyamaranku dan Ailyn. ] Darayad mengetahui mereka berdua, adalah orang baik, tapi ada kalanya leih baik menghindar.


***********


" Siapa dua orang tadi?. " tanyanya pada pohon Mandrake. Dan memang tidak salah lagi, orang yang tadi di temuinya tak lain adalah Dania yang sedang mengajak orang berstatus putra mahkota yaitu Elvin untuk berkeliling kota, walau di lihat dari mana pun seperti sedang kencan.


" Berisik!, jangan mengusikku!, aku mau tidur lagi!. " Mandrake tidak akan menjawabnya, jadi hanya beralasan ingin tidur lagi, tapi memang pekerjaannya adalah tidur terus selama tidak ada orang yang mengganggunya.


" Apa anda suka dengan pohon ini?. " Elvin seketika merubah ekspresinya kembali lembut.


Itu cukup membuat orang lain salah paham, dan daya tempur dari wajahnya yang rupawan menjadi salah satu penyebab dari pandangan pengunjung lain yang merasa terpesona dengan Elvin.


" Hanya kagum saja, ada pohon yang bisa bicara tapi emosian. " berbalik, Dania akan menunjukkan tempat yang lain.


" Pekerjaannya tidur, jadi memang sepantasnya marah, karena ada yang mnggaggunya. " jelas Elvin, mengekori perempuan ini.


"..................."


[ Dia bahkan tahu tentang gpohon aneh ini. ] bagaimana tidak aneh, bisa bicara secara terang terangan di depan orang adalah hal aneh, yang di kira kemampuan bicara milik Mandrake harus di sembunyikan dari orang-orang.


Tapi bagaimana dirinya bisa berada bersama dengan orang ini?.


Serangkaian kejadian sudah terjadi pada pagi hari ini.


Setelah mendapatkan momen seperti itu dengan Arhes hanya karena Arhes melamun dan tidak sengaja menginjak sebuah garis tanah yang merupakan lingkaran sihir.


Sangat memalukan sekaligus menyenangkan, tapi setelah itu, datang lagi satu permintaan, sebagai minta balas budi, Elvin meminta langsung padanya untuk mengajaknya berkeliling.


Jadi buktinya, mereka berada di sini, rumah kaca, 5 tempat yang babru di kunjungi.


[ Tapi siapa dua orang perempuan tadi?, aura mereka seperti bukan orang biasa. ] seolah-olah tidak tahu atau tidak menyadarinya, Dania sebenarnya hanya berpura-pura saja, tapi segaja mengabaikan, walau penasaran.


Tidak ada yang menarik, selain mengajaknya berjalan-jalan memperlihatkan kota Rovathia ini sesuai kesepakatan awal.


" Oh ya....apa anda akan datang ke pesta?. "


" Tidak, aku ada berminat untuk datang ke pesta. " Dania tidak tahu harus bagaimana melayani satu orang ini, putra mahkota, tanpa pengawalan, tapi berkeliaran ke sana dan ke sini di negeri orang.


Dan sejujurnya dirinya penasaran, satu orang dengan aura membunuh itu, Dania penasaran apa yang orang itu lakukan?.


[ Apa lagi...dia yang memegang ponselku. ] Dania menghela nafas dalam diam, dia ingin sekali pergi menemui duke Caver itu, tapi masalahnya.....di hatinya sangat malas pergi ke arah timur.


Satu fakta unik, Dania tidak begitu menyukai arah timur dan utara, baginya ke dua arah itu seperti ke tempat terpencil dengan nuansa yang membosankan dan tertinggal.


Aneh......


Tapi itu keadaannya dari dulu sampai sekarang.


[ Tapi........] matanya melirik ke satu orang ini.


[ Dia tingginya seperti tiang. ]


Bahkan perbandingannya dengan dirinya sekarang sampai 25 cm.


Dia benar-benar harus sedikit mendongak ke atas.


******


" Siapa lagi laki-laki itu?. " mulutnya bergumam sembari memasukkan daging panggang ke dalam mulutnya.


Tanpa sengaja matanya melihat orang yang di carinya malam tadi, tapi karena gagal, hari ini juga dia harus menemuinya.


" Saya tuangkan lagi. " ucap si pelayan wanita pada tamu di depannya ini, menuangkan sebuah cairan berwarnasebuan dari botol ke dalam gelas yang sudah kosong itu.


Setelah mendapatkan wine baru lagi, dia kemudian menyeruputnya.

__ADS_1


[ Biarkan dulu dia berkencan, jika waktunya aku akan pergi menemuinya, lagi pula.......aku tahu dimana dia tinggal. ] jadi mudah untuk menemuinya, kesempatan untuk bebricara dengan orangnya langsung.


__ADS_2