
Dua orang memakai pakaian mantel jubah hitam untuk menghalangi air hujan dari pada membasahi bajunya dan karena sudah mulai mengguyur wilayah itu, lalu masker hitam untuk menutup mulutnya, sepatu boots, dan juga sebilah pedang.
Kedua orang ini berjalan menyusuri hutan, entah apa yang sedang dicarinya tetapi ada satu tas yang di gendong di pundak salah seorang itu.
Satu orang lagi berjalan memimpin temannya.
" Hujan sudah mulai deras " tuturnya, lalu ia mendongakkan kepalanya ke atas. Beberapa burung terbang ke sana kemari demi kembali ke rumah sebelum hujan benar-benar deras, namun tidak dengan dirinya.
" Di sekitar sini harusnya ada gua, cari kayu bakar sebelum benar-benar basah " pintanya pada temannya.
" Aku akan mencarinya disebelah sana " jawabnya lalu bergegas pergi.
Mereka berdua pun berpencar mencari ranting pohon untuk dijadikan kayu bakar sebelum semua ranting menjadi basah dan tidak bisa digunakan sama sekali.
Selagi mencari kayu bakar selagi itu lah keduanya mencari gua untuk berteduh, dari sana dan kesini semua dijelajahi.
[ Sepertinya hanya bisa menunggu sampai hujan reda ]
Fikir orang ini, sudah ada setumpuk ranting di gendongannya, disana ada lagi dan ada lagi, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dirinya terus mengambil, ambil dan am.
Tangannya berhenti mengambil satu ranting lagi ketika didepan matanya ia melihat ada sesuatu yang tergeletak di pinggir sungai dengan satu anak panah menancap di bagian perut sang macan.
[ Sudah mati? ]
Tiba-tiba ia sadar dan melirik ke satu tempat secara sesakma dan intens, terlihat satu tangan manusia tepat sebelah tubuh macan itu, jadi ia berjalan lebih dekat dan melihat dari sisi lainnya.
[ Ada kepala juga- ] lalu mengangguk-angguk tanda faham.
Namun ke fahaman itu sekaligus menyadarkan dirinya sendiri kalau..
[ Tunggu, apa dia jadi mayat juga? ] dengan buru-buru ranting yang tadi dibawanya ia turunkan dan meletakkannya ke tanah, setelah itu ia berdiri lagi dan berjalan lalu dengan niat baiknya menyingkirkan tubuh macan tadi sebab satu tangan lainnya itu tertindih.
******
Di gua.
Angin dingin masuk ke dalam gua sehingga menambah suhu dingin yang dari awal sudah terperangkap di dalam gua itu.
Namun dengan adanya api unggun yang sudah dibuat, suasananya menjadi sebuah kehangatan setidaknya untuk malam ini saja.
TAP.....TAP.....TAP
Suara langkah kaki itu mengalihkan eksistensinya, ketika menoleh ke arah mulut gua rasa terkejutnya melanda diri orang tersebut ketika mendapati..
" Tu, Tuan ja, ja, jangan bilang......."
__ADS_1
Yang di panggil tuan itu datang dengan membawa dua hal, dua hal itu sangat terlihat dengan jelas oleh kedua matanya.
Di tangan kirinya, si Tuan itu memegang segulung ranting yang sudah di ikat menjadi satu, namun di bahu kanannya tengah memikul seorang anak kecil.
" Belum mati, dia masih hidup " jawabnya, lalu meletakkan anak itu di samping api unggun sekitar dua setengah meter.
" Hah...syukurlah, tapi siapa anak ini?, kalau dilihat dari pakaiannya, kelihatannya dari keluarga biasa " dilihat dari manapun, manusia yang dibawa tuannya itu, pakaiannya tidak terlihat wah dan justru seperti gelandangan saja, sebab ada robekan di beberapa bagian.
" Tidak ada untungnya juga kalau kita tahu. "
" Be..begitukah?, saya hanya merasa asing karena tuan mau menyelamatkan anak kecil " kata teman dari orang yang di panggil tuan itu.
".............."
[ Anak kecil seperti itu masih hidup setelah hanyut ] fikirnya sambil memandang ke sebelah kanannya dengan tatapan menyelidik.
4 jam kemudian ~
Di hutan entah berantah ada satu pondok kecil berdiri disitu, lalu dibukalah pintu tersebut dan dua orang tadi yang sempat berteduh di dalam gua sekarang masuk dalam rumah kecil yang hanya berukuran 10 x 12 meter yang terbuat dari kayu.
" Cara tuan Arch membawa dia sepertinya kurang bagus "
Dari awal temannya dari tuan yang dipanggil Arch itu merasa kasihan dengan cara tuan Arch membawa anak kecil itu.
Bagaimana tidak jika caranya itu dengan di pikul layaknya barang.
Diletakkan anak kecil itu ke ranjang single.
" Tapi apa anda benar-benar mau
merawatnya? "
" Vidal, kan ada kamu. Jika keadaannya sudah baik, kamu yang bawa dia kembali kerumahnya " pinta Arch pada temannya sekaligus bawahannya karena memanggil dirinya( Arch ) dengan tuan.
[ Aku juga yang kena ] tutur Vidal dalam hatinya yang terdalam.
Ke esokan harinya Arch dan Vidal sudah bersiap untuk pergi lagi, namun Vidal diutus tuannya untuk menjaga anak yang semalam ia selamatkan, jadi tidak ada pilihan lain selain menurutinya dan Arch pergi seorang diri.
" Tuan ini, kenapa aku sekarang yang jadi pengasuh? " Vidal tidak tahu harus apa, menjadi pengasuh?, mendadak pula jadi tidak ada pengalaman apapun.
Ia melirik ke ranjang dimana seseorang tengah tertidur atau apapun yang faktanya dari semalam masih belum sadarkan diri.
[ Tangannya di balut perban?. Apa tangannya terluka ]
3 jam kemudian~
__ADS_1
Arch sudah kembali dengan membawa kantung yang merupakan tas dimana di dalamnya ada dua setel baju berukuran kecil dan beberapa makanan.
" Masih belum bangun? " tanya Arch pada Vidal.
" Belum, apa tidak sebiknya kita bawa ke kota? " tutur Vidal, bermaksud baik karena bagaimanapun resikonya akan tinggi jika dibiarkan begitu saja di pondok itu dan tidak menerima perawatan yang layak.
" Urusanku disini belum selesai, setidaknya dia tidak demam. Jaga dia, aku akan berburu lalu...apa kayu bakarnya sudah habis? " Arch tidak melihat kayu bakar yang tersimpan di sebelah tungku pemanas, jadi kemungkinannya sudah habis.
" Ada, masih belum saya potong " jawab Vidal, dimana masih ada kayu yang tersisa, hanya saja masih dalam bentuk yang besar sehingga harus di potong menjadi bagian kecil.
" Nanti malam aku baru kembali " Hanya beberapa patah kata lagi, Arch bergegas pergi kembali.
Sekarang hanya ada dua orang di dalam rumah tersebut. Vidal dari pada menunggu satu orang lain itu sadar, ia mengerjakan pekerjaan untuk menyiapkan kayu bakar untuk malam harinya, tanpa api tidak akan terasa hidup.
Beberapa saat kemudian~~~
PRAKK......( Satu pukulan terpotong sudah kayu yang semula tebal menjadi terpotong jadi dua bagian )
PRAKK.....
[ Hahh.....hidup di hutan jauh lebih susah ] satu usapan dari lenganmya membersihkan keringat yang bercucuran di wajahnya. Vidal masih melanjutkan aktivitasnya, setidaknya sampai separuh gelondongan kayu yang tersedia berhasil ia potong semua.
Di dalam rumah satu tubuh berukura kecil dan pantas di panggil anak kecil mulai bergerak-gerak.
Sepasang matanya yang dari semalam terpejam perlahan kini ia buka, beberapa kali ia mengerjapkan matanya agar retinanya bisa menyesuaikan cahaya yang diterimanya.
Awalnya menyilaukan namun perlahan terlihat sudah tempat yang asing dan lagikan sangat..
[ ASING!, Siapa aku?, dimana aku? , kenapa aku bisa disini? ] kepalanya celingak selinguk ke kanan dan ke kiri.
Lalu ia mencoba membangunkan diri, hanya saja ada yang terasa aneh yaitu ketika melihat..
[ Loh...kenapa tanganku menjadi kecil?n tubuhku?, rambut-rambut, wajah? ] satu persatu di cek dan kebenaran benar-benar terbukti.
[ Aku menjadi anak kecil? ] terkejut bukan main jika tubuhnya sendiri sekarang menjadi anak kecil. Disebebkan tadi ia melihat ada cermin besar jadi ia sempatkan untuk melihat pantulan dari dirinya sendiri.
Barulah ia menyadari akan keberadaan dirinya kembali seperti anak-anak lagi. Pertanyaannya adalah.
[ Bagaimana rupaku menjadi seperti ini? ] padahal yang terakhir di ingatnya adalah di kejar macan, lalu terdorong tubuh macan itu sehingga sama-sama masuk sungai dan hanyut lalu jatu karena air terjun itu sendiri, selesai sudah.
PRAKKK......
PRAKKK
Suara keras yang berulang-ulang mengalihkan perhatiannya, ia ingin melihat bunti apa itu namun sayangnya jendelanya cukup tinggi, walau sampai menjinjit pun tetap tidak sampai.
__ADS_1
Jadi dari pada mengintip lebih bagus lagi kalau bisa keluar dari tempat yang asing itu.