Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Yang mulia Archduke


__ADS_3

Malam itu kembali datang, suara tapak kaki mengisi kekosongan di koridor kala itu.


Jaket coklat dengan kemeja putih menjadi pakaiannya sore itu.


[ Jaket ini membuatku sesak saja ] Archduke sesekali memperbaiki jaket yang dikenakannya.


Jaket yang di pilih langsung oleh Benjamin si kepala pengurus rumah.


Flash back On.


Di ruang kerja Archduke.


Dua orang sedang bercengkrama mengenai anak pungut yang ditemukan di hutan.


Lalu di meja terdapat satu senjata sebuah pistol.


" Apa anda yakin ? " Tanya Vidal.


" Aku yakin, senjata ini ada di bagian paha anak itu, maka dari itu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya "


" Tapi saya jadi sedikit khawatir, dia seperti bukan sembarang bocah. Anda berkata kalau senjata( pistol ) itu ada di tangan anak itu, berarti dia berbahaya " peringat Vidal.


Tiba-tiba senyuman melanda Archduke dan memutar tubuhnya ke belakang agar saling berhadapan dengan Vidal.


" Setelah dipikir-pikir, ternyata kamu takut jika dia bisa membunuh siapa saja tidak kecuali kamu, hanya karena senjata mematikan ini? " tuturnya lalu sambil menunjuk Vidal.


" Anda bilang apa!? " terkejut Vidal sebab dibilang oenakut.


" Juro Vidal yang penakut. Apa kamu tahu kalau ini adalah istana berhantu saat hendak bekerja disini? " Tanya Arch pada Vidal, bercerita sedikit mengenai asal usul istana yang sedang mereka semua tempati.


" Itu apa lagi maksudnya? "


" Kamu tidak tahu?, legenda istana Schneider..?. Di malam bulan purnama muncul, hantu anak kecil yang merintih kesakitan akan muncul di lorong lantai satu "


Flash Back Off.


Archduke berhenti sekejap tepat di tepi jendela untuk menyaksikan bulan purnama.


" Wah...bulannya terang sekali " tutur Arch ketika melihat bulan purnama itu terlihat lebih terang ketimbang purnama yang sebelum-belumnya.


Archduke meregangkan tubuhnya sambil tertegun dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


" Aww....sa..kit, arrhh....."





Suara tersebut membuat Archduke terdiam kaku dan langsung berlari kencang.


" Mau bertemu bocah itu itu saja menyebalkannya setengah mati ! " Bagaimana tidak, dari kemarin sudah tidak dapat di ajak bicara, seharian ini pergi untuk menyelesaikan pekerjaan baru bisa pulang sore hari dan masih harus adu mulut dengan juro Vidal, dan sekarang di malam-malam begini sudah mendengar rintihan seseorang seperti rumor cerita di istananya.


Sesampainya di depan salah satu kamar yang menjadi asal suaranya, buru-buru Archduke membuka pintu itu sambil berteriak.


" Suara menyedihkan siapa i- "







" ni "


Archduke baru sadar siapa pemilik suara tadi.


Marsha sedang duduk dengan satu gulungan perban di tangan kanannya dan di satu sisi lain seorang anak kecil bersurai coklat dengan mata ruby sedang duduk juga namun dalam keadaan mata terpejam menahan sakit.

__ADS_1


" Aduuh...yang mulia, kenapa anda berteriak?!, nanti dia kaget bagaimana? " yang dimaksud Marsha adalah Danie.


" Bisa gila aku!, aku kan menyuruhmu untuk melayaninya bukan membuatnya kesakitan dengan suara menyedihkan seperti itu! "


" Tapi bukan berarti anda harus berteriak tengah malam begini "


Danie membuka kedua matanya, lalu melihat kedua orang antara majikan dan pelayannya


saling bersilat lidah.


[ Pemandangan yang langka ]


" Aw.." seperti raut wajah memakan jeruk lemon, Danie melanjutkan membalut lengannya dengan perban sendiri saja. Beberapa luka baru masih ada jadi hanya diolesi salep lalu di tutupi dengan perban, karena untuk sementara dirinya sedang malas menggunakan kekuatan suci mengingat kondisinya yang sekarang membuat fisik sekaligus kejiwaannya terganggu ( efek masih terkejut dan masih berfikir kalau ini tidak nyata tapi pada nyatanya memang kenyataan ).


[ Eh..tunggu ] seketika tangannya memberhentikan aktivitasnya karena merasakan tatapan dari seseorang.


" Dia anak yang pintar. Apa dia anak yang mulia juga? "


" Jangan sembarangan bicara, aku memungutnya dihutan. "


Danie mengangguk iya, menuetujui apa yang barusan dikatakan laki-laki tersebut.


" Bawakan camilan untuknya " pinta Archduke pada kepala pelayan yaitu Marsha.


" Baik " dengan langkah terburu-buru, Marsha pun akhirnya kekuar.


KLIK.....( Sunyi sudah )


Lalu lelaki berambut coklat yang memiliki postur tinggi dan besar berjalan mendekat ke arahnya. Kedua pasang manik Violetnya menatap sosok bertubuh mungil anak kecil berusia 5 tahunan yang sedang duduk di kursi.


" Bocah, Siapa namamu? "


Kalimat itu membuat Danie berpikir-pikir kembali mengenai namanya, ingin menggunakan nama lain atau nama yang itu.


" Aku bukan bocah, Panggil saja Ruby "


" Ruby? "


" Lihat, warna mataku kan Ruby " Menunjukkan sepasang matanya yang memiliki warna merah bagai batu Ruby.


" Tidak ada " melanjutkan membalutkan perbannya, hanya tinggal beberapa lilitan maka selesai sudah.


[ Lilitan perbannya terlihat rapi di usia begitu? ]


" Dari mana kamu belajar membalut perban serapi itu?, di usiamu hanya jatuh juga sudah bisanya menangis "


" Karena ini kebiasaanku "


SRETTT.....( Kedua ujung perban sydah di ikat rapi di bantu dengan giginya )


KRIETTT.......( Suara pintu kamar terbuka )


Marsha sudah kembali dengan membawakan nampan dimana diatasnya ada bermacam-macam dissert, susu, kue, puding, ice cream dan masih ada beberapa lagi, Marsha meletakkannya di atas meja.


Setelah itu karena tidak ingin mengganggu tuannya, Marsha kembali keluar.


" Dengar, kamu Ruby, beritahu 1 hal padaku, dari mana kamu mendapatkan senjata ini " tanya Archduke pada si Ruby mengenai pistol yang dibawanya.


" Karena itu memang punyaku " saat hendak mengambilnya lagi, dengan sengaja Archduke mengangkatnya ke atas sehingga tidak bisa di jangkau oleh Ruby( Danie ).


" Kembalikan! " Ruby mulai berdiri di atas kusi demi menggapai barang miliknya, namun tetap saja tidak sampai dan malah berpindah tempat jadi dirinya juga berpindah naik ke meja.


[ Meledeki anak kecil memang lucu. Wajah marahnya yang menggemaskan itu sangat cocok ]


" Ahahah, tidak akan, senjata ini berbahaya untuk anak kecil seperti mu " senyuman jahil pun sudah terpancar.


" Aku bilang aku bukanlah anak kecil! " Marah karena tidak terima dengan wujud serta panggilan dari orang di depannya.


[ Keras kepala juga ini bocah, kenyataannya tubuhnya kecil. Di panggil anak kecil juga tidak mau, aku juga malas sebut nama yang mengasal hanya dengan warna matanya saja ]


" Jika bukan anak kecil lalu apa? " masih menggantungkan pistol tadi setinggi-tingginya.


[ Orang ini ! ] matanya melirik ke samping, ada makanan manis yang enak dimakan, jadi tangannya memutuskan mengambil kue yang sudah di potong kecil itu dan memakannya sebelum berbicara kembali.

__ADS_1


" Intinya aku bukan anak kacil seperti yang kamu lihat. Aku orang dewasa usia 17 tahun! "


Salah satu tangannya kembali mengambil beberapa makanan dan langsung memasukkannya ke dalam mulut, lalu kembali berdiri dan berjinjit demi menggapai barang miliknya.


Archduke seketika terdiam, sebelum akhirnya suara tawa menggema di dalam kamar.


" Ahahahhaha, barusan aku sepertinya mendengar suara anak kucing memanggil ibunya.


" Pendengaranmu bermasalah, aku tidak akan pernah menyebut kata ibu yang kejam pada anaknya itu, sampai membuat tubuh anak ini terluka dia memang pantas mati " ucap Danie dengan serius sambil memandang tangan kanannya.


[ Jadi dia bisa mendapat bekas luka seperti itu karena disiksa ibunya sendiri?. Tunggu, kata-katanya lebih seperti orang dewasa. Ketimbang mengatai ibu yang jahat pada umumnya, dia malah berkata kejam dan mengatai pantas mati ]


" Kembalikan!, itu cuma ada satu "


" Buat apa menggunakan senjata berbahaya macam ini, tidak akan ada yang membunuh bocah sepertimu lebih baik buat paman "


" Sejak kapan kamu menjadi pamanku?, Tidak ada yang tahu kedepannya bukan?, kembalikan jika tidak kamu akan menyesal "


" Aku tidak yakin itu, cobalah "


[ Kamu sendiri yang memintanya ]


Dengan jurus andalannya, Danie membuat ancang-ancang lalu satu genggaman kuat di tangan kanannya sudah bersiap siaga untuk memukul.


BUKK....BUKK...


" Cuma segitu? "


[ Cih dia bisa menghindar padahal hampir aku pukul saudaranya itu ]


Karena bisa menghindar juga, Danie melompat ke sofa dan berlari melompat menerjang tubuh Archduke lalu memanjatnya bak pohon, namun sebab terjangan yang kuat tadi membuat keduanya terjatuh dimana Danie menindih Archduke.


[ Tubuh sekecil ini memiliki tenaga kuat ] Fikir Archduke lalu ia mengangkat tubuh Danie bagai anak kucing, tapi rupanya cengkraman Danie itu juga tidak kalah kuatnya karena ikutan mencengkram kemejanya.


Danie berusaha melepaskan cengkraman kerah baju yang dilakukan Archduke dan berusaha mengambil pistol yang ada di tangan kirinya itu.


[ Tinggal sedikit lagi--- ]


" Memang bukan anak biasa, sampai aku kewalahan. Jika memang usiamu 17 tahun, akan aku kembalikan jika ukuranmu kembali normal, Itu akan lebih aman " ucap Archduke pada Danie, ini semua hanya demi ke amanan. Bagaimana mungkin seorang anak kecil memiliki mainan yang tidak masuk akal jika ada orang yang tahu.


Danie menyerah untuk sesaat saja, lalu baru sadar sekarang dirinya masih berada di atas tubuh seorang Archduke si bangsawan bermarga Duke ini sedang ada di bawahnya.


Untuk sekejap Danie mengerjapkan matanya beberapa kali karena kesadaran di depan matanya itu.


Oughh....jika di bayangkan dia sosok yang sempurna juga, otot tubuhnya apa lagi otot perutnya sungguh terasa, mata violetnya yang memancarkan aura kuat, rambutnya yang coklat juga dan dagu yang kokoh.


Dibandingkan dia sayangnya Danie lebih suka sosok Caver jika keduanya di banding-bandingkan.


Lalu dimata Archduke.


Archduke hanya merasakan kehampaan dimata Ruby sang anak itu. Kehampaan itu hanya di isi dengan tubuh penuh luka dan kekuatan yang berdiam di tubuh si mungil itu.


Lalu Archduke tersadar kalau..


" Jadi kamu perempuan " tuturnya dengan senyuman yang memiliki penuh arti 《 Ketahuan kamu 》


Danie tidak menunjukkan reaksi apapun karena sudah terlamun kedalam pikirannya yang dalam hingga tidak sadar kalau...


TES.....TES....TES....


Archduke terkejut dengan apa yang terjadi pada anak yang dipanggil Ruby karena belum mau memberitahu nama aslinya.


Darah mengalir dari kepala ke dahi dan sempat membasahi kelopak matanya lalu turun kebawah menuju dagu dan berakhir menetesnya darah merah itu ke kemeja putih yang di gunakan Archduke.


Danie baru merasakan ada yang mengalir di wajahnya, salah satu tangannya menyentuh apa cairan yang membasahi wajahnya itu dan ternyata adalah.


" Dar- ah "


[ ternyata ada luka di kepala ]


BRUKK.....


Tubuh kecilnya ambruk ke aras dada bidang milik Archduke.

__ADS_1


Cepat-cepat ia berdiri dan mengangkat anak tersebut, lalu membawanya ke atas kasur.


__ADS_2