Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 104


__ADS_3

Tak melihat apa pun, semuanya gelap gulita, perasaan kesendirian itu muncul kembali ketika berada di dalam kegelapan seperti saat ini.


Kedua kakinya merasakan lantai yang dingin, berarti kakinya sedang dalam kondisi tidak memakai alas kaki.


Sekarang berada di mana, sekiranya seperti berada di dalam lingkup jati dirinya.


Hampa, dingin, selalu ada kekosongan di dalam hatinya, amis, cairan kental...


DORR....!


" Jangan!.. " Teriak gadis kecil melihat salah satu orang yang ia anggap tidak dekat, tapi sekarang malah melemparkan tubuhnya untuk dijadikan tameng dari pada sebutir peluru yang hendak menju ke arah dirinya.


BRUK........


Darah, merah, amis, namun masih segar itu mengucur dengan deras dari dada kiri perempuan seumurannya.


" Hani!.. " Panggil Alinda, saat menggoyang-nggoyangkan tubuh yang semakin dingin itu.


" Kamu....harus...hidup...untuk..orang yang berusaha........ ingin menyakitimu. " Kalimat tersebut justru menjadi kalimat terakhirnya sebelum akhirnya menutup mata.


Maksud dari perkataan gadis itu adalah.


' Balas dendam lah pada orang yang memusuhimu. '


" Sekarang giliranmu. " Tutur pria dewasa tersebut kepada Alinda yang masih terduduk dengan wajah terkejutnya.


Saking terkejutnya karena kematian seseorang yang pertama kali itu berada di depan matanya dan orang itu adalah yang selalu ia anggap sebagai penguntit dan selalu di akhiri kemarahan sebagai permusuhannya.


Tanpa basa-basi lagi, pria ini menarik pelatuknya lagi.


DORR.....


Tepat di dada kiri, peluru langsung bersarang di dalam gadis kecil tak berdosa itu, seketika tubuhnya ambruk ke lantai bersama dengan Hani.


" Kau sudah memberesi semuanya? " satu suara terdengar dari arah lain.


" Sudah. " Jawab pria tadi yang baru saja mengeluarkan 2 peluru untuk dua orang bocah.


" Semuanya juga sudah ku bereskan, lakukan sisanya " Melemparkan korek api ke temannya itu.


PATS....


Menyalakan korek api lalu menyulut api ke arah tirai jendela.


Setelah menyala hingga merembet dengan api mulai membesar, semua perampok itu pun meninggalkan tempat sudah mulai terbakar itu.


Pengap, panas, udara sudah mulai dipenuhi dengan asap.


Alinda merasakannya.

__ADS_1


" Ahhh....! " Alinda membuka matanya kembali dengan rasa sakit teramat sangat di dada kirinya.


Darah itu keluar dari dalam tubuhnya, dan kini tangannya sudah berlumuran darah lagi setelah beberapa saat lalu darah di tangannya berasal dari darahnya Hani.


[ Ah......sakit banget. ] tapi udara yang dihirupnya makin lama makin membuat dirinya sesak dan terbatuk dengan sepasang mata hitamnya mulai mengeluarkan air matanya karena terasa perih.


Dari celah pintu yang sudah tertutup itu terlihat perlahan ada asap masuk dari celah tersebut.


Kondisinya sekarang ini adalah sekarang berada di lantai dua, dan sudah dipastikan kalau sekarang tempat sementaranya yaitu panti asuhan, sedang dalam kondisi terbakar.


Air matanya bukan saja berasal dari bola matanya yang perih karena asap itu, tapi juga dari dalam dirinya yang sedang merasakan sakit teramat sangat, hingga nagis tersedu-sedu.


Walaupun sudah menangis karena sakitnya itu, tidak akan ada orang yang mendengarnya karena tidak ada satu pun teriakan jika rumah ini sedang terbakar.


" Huhu...huhu....hiks... " meski air matanya akan mengering, namun yang namanya sakit pastinya secara refleks akan bersuara atau lebih bagusnya nangis, setidaknya untuk usia 13 tahunnya itu.


" Panas.... " rintihnya.


Di belakangnya ada jendela, dan tangannya mencoba menggapainya, karena jika dirinya menggapai pintu dimana dibalik pintu itu sebagaian besar sudah terbakar, maka tidak akan ada kesempatan lagi untuk kabur karena api dan asap langsung menusup masuk ke dalam kamar.


" Panas......sakit, huhuhu.....hiks.. " Semuanya menjadi satu di dalam tubuh.


Dengan mengeluarlan tenaga yang sudah dikeluarkannya dengan susah payah, ia akhirnya dapat menyentuh jendela tersebut.


Dia mendorong kuat satu jendela kaca itu hingga akhirnya terbuka.


Di tatapnya pemandangan gelap yang ada di bawah, pemandangan sebenarnya yang ada disitu adalah semak belukar dimana tersaji rerumputan juga.


Anggap saja karena efek menonton film kartun, ia mencoba melakukan yang swpertinya dilakukan seseorang yang ingin kabur namun terkendala oleh ketinggian.


Jadi ia menarik seprai, lalu selimut, dan di ikat untuk digabungkan menjadi satu.


Tapi tetao saja peluang selamatnya sekiranya kurang dari 30 persen, luka, derita, lalu sambungan dari seprai dan selimut hanya mencapai separuh ketinggian dari lantai itu, jadi ya hanya menyisakan untuk melompat dan meski....


" Ahh..! " Kakinya terkilir karena mendarat dengan posisi yang kurang pas.


Entah keman itu, Alinda hanya berharap kalau ada yang menolongnya. Lukanya sangat menyakitkan, dan jika mati lebih bagusnya mati langsung ( seketika ).


Tidak harus membuat dirinya jadi menederita menunggu kematian, itu sangat terasa menyiksanya.


" Awhh.... " pergelangan kakinya makin membengkak seiring berjalannya waktu karena di paksa untuk berjalan.


Dan luka di dadanya sengat menyesakkan, entah sedang berjalan kemana, intinya berharap akan ada yang menolongnya.


" To...tolong~ " dengan suara lirih dan menyesakkan.


Wajahnya makin pucat, dan ditambah lagi...


GLUDUK.....

__ADS_1


ZRASSHHH..........


Hujan langsung memgguyur dirinya, semua jalanan terasa sangat-sangat sepi.


Dan disitulah ia merasa kalau kematiannya adalah di bawah langit malam yang basah, dingin, di penuhi dengan bau tanah, aspal plus amisnya darahnya sendiri di tengah jalan dengan cahaya remang-remang.


" Uhukh....! "


BRUKKK......


Akhirnya dirinya terjatuh di tepi bangunan kosong, karena kebetulan disitu adalah perumahan yang sudah jarang di tinggali orang karena kualitas rumahnya yang terbilang buruk.


[ Apa aku akan menjadi makanan anjing?. ]


Kebetulan, di daerah tersebut terkadang ada anjjng liar berkeliaran dan menghuni beberapa bangunan kosong itu.


ZRASSHHH........


Darah merahnya mengalir seiring air hujan membawanya ke tempat yang lebih rendah.


Mungkin karena itulah....


TAP.......


TAP......


TAP.....


" To.....long. " dengan suara lirihnya, selepas melihat ada bayang seseorang sedang berjalan mendekatinya.


Samar-sama terlihat sepasang sepatu kulit berhenti tepat di depannya.


Entahlah, matanya kini semakin buram, tapi rasa sakitnya masih saja terasa.


" Siapa yang melakukan ini padamu? " tanya orang tersebut.


Kemudian salah satu tangannya menyentuh bagian dirinya yang terluka dengan pelan, meski pelan tapi terasa sakit.


" Hiks... To...long...a...ku. " Tangannya berusaha menggapai lengan orang tersebut.


"................" Untuk sesaat orang ini terdiam.


" Sa...kit...." rintihnya lagi.


" Bisa bertahan sampai disini, Ini mengejutkan karena jantungmu ada di sebelah kanan jadi cukup beruntung bisa hidup sampai sekarang meski sudah di tembak. Kalau mau hidup bersamaku, apapun konsekuensinya berikan tanganmu. " jelas orang ini kepada anak gadis yang sedang berada di ambang kematiannya.


Tanpa pikir panjang Alinda menggerakkan tangannya untuk menangkap tangan orang misterius itu.


" Ma...u. " walau tak bersuara, tapi dari gerakkan bibirnya sudah cukup membuktikan kalau dirinya benar-benar ingin melewati rasa di ambang kematiannya itu karena sangat menyiksanya.

__ADS_1


" Hiks... "


__ADS_2