Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. Extra 36


__ADS_3

" Shera!.. " Arhes sudah mencarinya selama 1 jam, tapi tidak kunjung menemukannya.


KEPAK....


KEPAK.....


Lalu mendarat tepat di atas kudanya Arhes, tapi di belakangnya.


[ ...............! ]


" Kamu!, apa kau kehilangan tuanmu?. " Arhes langsung menangkap tubuh Everst yang ada di belakangnya dan memindahkannya ke atas ranting pohon yang ada di sebelahnya, karena kebetulan dahan pohon kering ini tingginya sama dengan posisi Arhes.


Everst hanya memiringkan kepalanya, lalu mengibarkan sayap kanannya untuk menggaruk sayapnya dengan paruhnya itu yang agak gatal.


" ............. "


[ Aku memang bodoh, mau saja berbicara dengan hewan ini. ] batin Arhes dengan menatap datar burung di depannya itu.


Kwak...


Karena di puluhan detik berikutnya akhirnya direspon, Arhes terhanyut untuk bebricara dengannya lagi.


" Aku kehilangan mereka berdua, apa kau bisa membantu mencarinya?. "


Kwak...?


Lagi-lagi di balas sebuah tatapan oleh Everst.


" Sudahlah, membuang waktuku saja berbicara dengan burung ini. " langsung mengabaikan Everst, Arhes menarik tali kudanya untuk melanjutkan pencariannya, tetapi...


" Manusia yang mudah putus asa. "


DEG....


Arhes tercengang, dia memberhentikan langkah kuda dan menoleh kembali ke belakang, burung itu masih bertengger di ranting pohon sambil menengadah ke atas.


[ Bisa bicara?. ] fikir Arhes, sambil menenung Everst.


" Kalian saja bisa bicara memangnya aku tidak bisa juga?. "


[ Yah...ada betulnya sih, tapi yang aku maksud dia bisa bicara layaknya manusia. ]


Masuk akal, tapi baru kali ini juga Arhes bicara dengan burung yang bisa bicara seperti manusia.


Lepas itu, Everst terbang dan mendarat ke bahu kanannya Arhes, Arhes seketika itu juga merasa tersiksa dengan berat tubuh burung ini.


" K-kau...jangan mencengkram bahuku seperti itu. "


" Segini saja sudah sakit, berarti tubuhmu memang lembek. " sindir Everst dengan tubuh tegap memandang kepala Arhes.


Nyut....Nyut....Nyut......


Tapi cakar ( Kuku ) dari sepasang kakinya itu benar-benar menusuk kulitnya dan membuat bahunya berdenyut.


[ Bagaimana bisa perempuan itu memelihara burung seperti ini?. Mulutnya sangat pedas. ]


" J-jadi....kalau kau tahu dimana mereka berdua...tunjukan jalannya. "


" Aku tidak tahu. " ketus Everst.


"............, Apa!?. " Seru Arhes.


Everst dan Arhes saling pandang satu sama lain. Dan Everst pun memberikan seringaian yang menjengkelkan, karena sudah berhasil mempermainkan manusia ini.


" Ikuti kata hatimu. " kata Everst, lalu terbang kembali, meninggalkan Arhes sendirian saja.

__ADS_1


_____________


1 jam sebelumnya, tempat dimana Shera di tahan di sebuah gua.


" Kwahahaha......... " 1, 3, 5 ....lima goblin mendatangi Shera yang terbaring di tanah dalam keadaan terikat.


" Tolong!!!, tolong aku!. " teriak Shera.


Wajahnya sembab karena menangis, tubuhnya kotor tanah yang menempel gara-gara keringat yang merembes ke bajunya.


" Tidak akan ada yang menolongmu. Hehehe...... " tawa yang mengerikan.


Goblin, tubuh pendek berwarna hijau, hidung yang runcing, gigi beaar disertai air liur yang menitis, merupakan wajah terjelek yang pernah dilihatnya. Selain itu mereka tidak menggunakan alas kaki, membawa senjata pedang yang dibuatnya sendiri, tapi meski mudah di kalahkan, kelebihan dari mereka adalah selalu ber-invasi dalam bentuk kelompok.


Maka dari itu satu-satunya cara adalah dengan trik jitu, dimana mereka semua harus berkumpul dan langsung memusnahkannya.


" Ahh!...minggir!. " menendang wajah salah satu goblin saat tangan kecil kurus yang mengerikan itu menyentuh kakinya Shera.


" Graa....! " menggeram hebat, lalu e teman lainnya secara bersamaan berjalan cepat untuk mendekati Shera.


" TIDAKKKK!... "


DOR......DOR........


DOR......DOR......


" Apa!. " satu goblin yang tersisa saat menoleh ke belakang, dia melihat satu orang dengan dua senjata di tangannya.


"................" Hanya menataonya dalam diam, jari telunjuknya pun menarik pelatuk.


DOR.....


Amunisi yang keluar langsung melesat masuk ke dalam mata kanan si goblin.


Dan cipratan darah itu langsung muncrat ke bajunya Shera.


".......s-...siapa?. " tanya Shera dengan tubuh gemetar, melihat sosok yang tak dapat ia lihat dengan jelas karena samar-samar.


Dia melangkah mendekat ke arah Shera sambil menjawab.


" Ini aku. "


" K-kakak?. "


" Hmm.. " menyimpan kembali kedua pistolnya ke sarung yang terikat di kedua paha-nya.


" Kita harus keluar. " ucapnya, sambil melepaskan ikatan-nya Shera yang mengekak kedua tangan dan kaki.


Setelah beberapa saat, ua sudah berhasil melepaskan kedua ikatan tersebut.


" Apa kamu bisa berjalan?. "


" Ya-. "


" Ayo...cepat. " pujuknya, agar tidak menyia-nyiakan waktu lagi.


Dania menggenggam tangannya Shera dan berlari bersama, agar tidak tertinggal jauh.


Belum lama berlari, tapi Shera sudah tersengal-sengal.


" Kak...aku tidak kuat. "


" Tapi di belakang masih banyak yang akan berdatangan. " karena darah milik sesamanya, sudah pasti akan mengundang goblin yang lain.


Shera masih berusaha lari, mengikuti perintah kakak aneh ini.

__ADS_1


" Maafkan aku. "


[...............! ]


" Kenapa kakak minta maaf?. "


" Aku telat menyadarinya, gara-gara tertidur. "


Ungkapnya.


" Tapi kakak sudah menyelamatkanku. "


Tanpa melirik ke arah lawan bicaranya, Dania kembali melanjutkan ucapannya.


" Tidak, seandainya aku lebih awal mengatasinya, kamu yang baru keluar dari desa, tidak akan mendapatkan pengalaman buruk ini. "


"................. " Shera jadi terdiam karena nafasnya sudah memburu.


Tapi hanya tinggal beberapa meter lagi, di depan sana ada seekor kuda tengah menunggu penumpangnya.


Setelah sampai di kudanya, Dania membantu Shera menaiki pelana, dan meminta untuk menggenggam tali kuda.


Dengan berbisik, Dania menyampaikan sepatah kata pada si kuda. Barulah, Dania menatap Shera dan menyampaikan satu hal padanya.


" Shera, hanya satu kata untukmu, orang yang ada di dekatku biasanya selalu terkena masalah juga. "


" Tunggu-...., kakak!. Kamu tidak ikut?. "


" Pergi. " perintah Dania pada kuda-nya.


Dan kuda tersebut langsung berlari keluar gua sesuai instruksi yang sudah diberikan Dania tadi.


Dan tanpa menjawab alasan kenapa tidak ikut, Dania bergegas masuk lagi, alasannya adalah.....


Gua yang memiliki lorong dengan 2 ujung berbeda, di sisi salah satu itulah ia menemukan bahwa.....


[ Tidak hanya aku dan Shera, tapi ada orang lain yang terjebak. ] batin Dania, dia kembali berlari dengan mengambil jalur sebelah kanan.


Mau jadi pahlawan?.


[ Hm..boleh juga. ]


Atau jadi seorang penyelamat layaknya kesatria?.


[ Terserah, aku tidak peduli dengan gelar. ]


" Karena aku...hanya ingin menyelamatkan mereka. Imbalannya semoga saja bisa mendapatkan hal baik di masa depan. " itulah yang Dania percaya.


_______________


" Ini sudah tidak bisa di biarkan, 2 hari istriku menghilang. " ucapnya, wajahnya yang lelah, tubuhnya pun mulai tak terurus gara-gara mencari istrinya.


" Anakku juga menghilang, bagaimana ini?. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada hasilnya. " dan pria paruh baya ini, menghadapi anaknya yang juga menghilang setelah masuk ke hutan untuk mencari tanaman obat.


" Aku dapat rumor, kalau di hutan ada gerbang tak kasat mata. Kalian tahu, sudah 4 minggu berlalu goblin sering muncul. "


" Go-goblin?!. Bu...bukannya mereka suka mengincar para perempuan?!. "


Mereka semua mulai mewaspadai adanya segerombolan goblin yang datang dan mungkin saja bersembunyi, pasalnya keberadaan mereka sangat meresahkan para warga, apa lagi yang seorang peternak, ternak mereka menghilang ataupun sudah mati terbunuh hingga sudah menjadi bangkai setengah tubuh.


Karena kurangnya pengawasan dan isnpeksi pada tempat terpencil, rupanya mereka berhasil membawa 2, 3 orang perempuan dalam sekali datang. Karena minimnya kesatria penjaga, membuat mereka kwalahan sendiri.


" Kita harus bagaimana?, tidak ada penyihir di kota kita, dan kesatria juga sangat sedikit. Kalau begini terus, kita akan makin terpojok. " ucapnya.


Mereka semua jadi bingung sendiri, berdiskusi di kastil milik penguasa kota, hasilnya belum ada juga. Alasan pertama, bahwa gerbang itu akan sulit ditemukan karena tersamar, apa lagi letaknya yang ada di hutan. Dan alasan kedua, jika memgerahkan kesatria ke hutan, maka penjagaan di dalam kota akan mengkhawatirkan, mengingat kelicikan dari goblin yang kian hari makin meningkat.

__ADS_1


__ADS_2