Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Malam Ini, Adalah Dia...


__ADS_3

" KIta bahas lain waktu. "


"............"


[ Memangnya berapa lama dia akan disini?. ] Dari informasi yang di dengarnya secara tidak sengaja, pesta ulang tahun itu akan di adakan 3 hari lagi.


Jadi ada kemungkinan yang Dania dapatkan, kalau lain waktu yang di ucapkan oleh Elvin adalah di antara rentang di antara 3 hari itu.


" Kare-.........."


Srha....... ------->


"...............! "


Menunggu, apa lagi kata yang akan keluar dari mulutnya, semua segala piikiran Dania langsung dia tarik kembali.


Dia langsung mengalihkan pandangannya untuk segera menoleh ke arah kanan, jadi mengabaikan apa yang sedang di ucapkan oleh Elvin sebab indera pendengarannya terfokus pada hal itu.


Bukan kepada Elvin tapi..........


"............." Dania mengatupkan bibirnya, langsung menarik sedikit ujung roknya, lalu mengambil satu langkah kaki secara lebar ke arah sana...


Elvin yang segera terdiam saat tiba-tiba hanya melihat sekelebat helaian rambut coklat berhiasakan pita pita putih itu menyapa sepasang matanya secara tak sengaja.


Membuat di tiba-tiba juga mendapatkan aroma wangi dari shampo yang di pakainya ( Dania ).


Elvin pun jadi segera ikut mengalihkan pandangannya ke arah kiri, mengekori perempuan yang secara mendadak melakukan hal tidak sopan secaa terang-terangan dengan melompat ke atas...meja.


BRAK......( Kaki kanannya menapak ke atas meja. )


Dania langsung naik ke atas meja, lalu melompat turun, membelakangi mereka semua.


Dan tidak perlu menunggu waktu yang lama, semua kaca jendela di ruangan itu langsung...


PRAKKKKKK......


" Kyaaa....!. " All ( Elvira dan Youri berteriak. )


Semua kaca jendela tiba-tiba pecah, mengagetkan mereka.


Elvin dan Ellora....dia juga turut terkejut tapi tidak sampai membuat teriakan seperti itu selain melindungi mata dengan lengan mereka dari pecahan kaca yang tadi sempat menghujani mereka.


" A-apa itu tadi?. " Elvira melindungi matanya dengan lengan kanannya, tapi lengan kirinya dia gunakan juga untuk menutup telinganya.


Itu hanya tindakan refleksnya saja.


" ..................." Elvin pergi melihat, tindakan cepat tanpa peringatan yang di lakukan oleh Dania adalah..


[ Anak panah-.....]


" Ini sihir pembunuhan yang hanya akan akan mengenai orang yang sudah di targetkan. " Dania akhirnya bersuara setelah ketegangan yang barusan terjadi.


Di tangan kananya, kini sudah ada satu anak panah berwarna hitam dengan sebuah asap tipis berwarna merah menyelubungi anak panah ini.


" Kamu!, sudah bisa merasakan kehadiran energi sihir yang datang?. " Ellora memujinya dengan wajah senang sekaligus terkejutnya, ternyata tindakan Dania yang tidak sopan karena naik ke meja, tepat di depan dua putri itu, ternyata untuk menangkap sebuah panah sihir, yang di gunakan sebagai pembunuhan.


Menghiraukan Ellora yang bertanya.


[ Siapa yang melakukannya?. Dan targetnya untuk siapa?. ] Dania mulai mengamati arah panah ini, melalui sudut terakhir yang dia dapatkan sebelum menagkap panah sihir ini.


" 45 derajat......" mulutnya bergumam. Setelah saja dia mengingat kembail arah anak panah ini sebelum dia tangkap.


Jika mendapatkan sudut seperti itu, dan ketika melihat ke belakang yang sedang berdiri di belakangnya Dania hanya Elvin dan dirinya tadi, peresentase paling besar dari anak panah ini di targetkan adalah bukan Elvin.


Jadi....... kali ini, yang menjadi target pembunuhan adalah Dania sendiri?!.


[ Hahh?....targetnya aku?.....Lagi?. ] Dania jadi tersenyum getir, siapa lagi gerangan orang yang berhasil mengusik kedamaiannya kali ini lagi?. Sambil memusnahkan anak panah sihir tadi dengan tangan kosongnya, Dania menarawang jauh ke depan sana.


[ Arah serangannya dari jarak 1 Km, tepat di loteng dari menara jam Olbstir. ] Dania akhirnya menemukan tempat pelaku itu, denganmengambil garis panjang setelah menemukan titik sudut dari anka 45 derajat tadi.


" Siapa....yang menyerang tadi?. " Tanya Youri, dia sebenarnya masih terkejut dengan kejadian barusan, tapi segera berdiri lagi dan berpindah tempat ke tempat Ellora berada.


" Hidupku itu tidaklah damai seperti yang kalian pikir. " tiba-tiba Dania berbicara pelan dan lirih.


WUSHHH.............


Rambut pendeknya pun berkibar seiring angin malam berhembus masuk ke dalam ruangan yang kini saja sudah tidak ada penghalang seperti kaca lagi, karena sudah hancur semua.


" Apa anda baik-baik saja?. " Akhirnya Elvin berbicara, menyela akan keheningan yang ada untuk sesaat tadi.


Dania berbalik, mengadap mereka semua lalu menjawab.


" Tidak. " jawabnya dengan jujur. Kenapa juga harus bohong, secara fisik memang tidak apa-apa, tapi dia merasa semuanya selalu ada kerunyaman di tiap hal yang ingin Dania jalani secara santai.


Seperti tadi, sudah ada di momen indah seperti itu, semuanya harus lenyap setelah sebuah panah sihir yang datang, mengacaukan momennya ini.


Dania berjalan, dia akan pergi keluar untuk memburu seseorang, tapi ada satu tangan tiba-tiba menahan kepergiannya.


" Anda mau kemana?. " Tanya Elvin.


" Apa kamu akan pergi mencari pelakunya?. " Ellora pun ikut bertanya, sambil memberikan memberikan benda sihir kepada dua perempuan ini.


" Jika di biarkan, aku akan kehilangan jejaknya. Jadi lepaskan...." menatap tangannya yang masih di cengkram oleh Elvin.


" Lagi pula anak panah tadi hanya menargetkanku saja. " Menepis tangan Elvin yang memang sudah mulai mengendur.


Dan arti lain yang dikatakan oleh Eldania tadi adalah.


' Jadi kalian tidak ada hubungannya dengan ini. '


Yang berarti, mereka berempat akan baik-baik saja, jika Dania segera menyelesaikan masalah pribadi yang datang begitu mendadak ini.


Ada hubungan dalam hal, mereka semua ikut dalam TKP, tapi tidak ada hubungannya dengan target sebenar mereka.


Jadi mau tidak mau.....

__ADS_1


Elvin benar-benar melepaskan pergelangan tangan yang bahkan tidak sampai dalam genggamannya secara utuh. Perasaan yang tadi di rasakannya adalah bahwa pergelangan tangan itu lebih kecil dari pada yang terlihat.


Tapi orang yang sedang di ajak bicara ini, adalah orang yang sebenarnya keras kepala. Ingatan dulu, kalau perempuan ini di cambuk adalah salah satu keras kepala yang di perlihatkanna secara langsung. Tetap pada pendiriannya sendiri, itulah yang di lakukan oleh perempuan dari pemilik nama Eldania.


" Terima kasih.........." Ucap Dania.


"....................."


[ Kenapa berterima kasih?. ] Elvin bingung.


Lalu sedikit mendongak ke atas, menatap lagi mata indah milk dari pria ini. Tidak ada yang lebih indah dari melihat wajah tampannya itu, apa semuanya yang di sini secara garis besar memang punya gen yang bagus sehingga sering kali bertemu dengan para malaikat maut sepertinya?.


Dania jadi mendengus, tidak adil kalau semua pria yang pernah di temuinya hanyalah angin lalu yang tidak akan pernah dia dapatkan.


[ Kapanaku bisa mendapatkannya?. ]


Sampai-sampai kalimat itu tiba-tiba terngiang kembalil di dalam pikirannya.


Tapi...yang lebih penting dari itu adalah....


Dania yang menemukan kehadiran sihir itu lagi, segera mengurungkan niatnya keluar dari pintu dan berjalan kembali menuju jendela yang sudah pecah itu. Tepat di ambang bingkai kaca yang retak, Dania membuka paksa pintu kaca ini dengan paksa meski di bawahnya terselip akan pecahan kaca yang bertebaran di lantai.


Memutar tubuhnya ke belakang, sebelum meninggalkan mereka berempat, DAnia pun mengutarakan pikirannya lagi.


" Terima kasih sudah mengkhawatirkanku dan menemuiku untuk minta maaf. " sambungnya.


Itulah yang di inginkannya, terlepas tadi sempat mengatai rasa tidak suka secara terang-terangan kepada Elvira.


" Dan Elvira, jika tersinggung denga nkata-kataku, maka introspeksi dirilah agar dirimu bisa di sukai banyak orang. "


Elvira pun terbengong, rupanya kata-kata seperti orang sedang marah tadi hanya untuk nasihat, meski terdengar seperti hinaan juga!.


[ Aku jadi tidak mengerti apa isi pikiran orang yang rupanya perempuan ini. ] Elvira yang teringat saat tabrakan dulu, sampai salah mengira kalau dia ( Dania ) adalah laki-laki yang sengaja mneyentuh dadanya, jadi di buat malu sendiri.


Padahal perempuan dengan perempuan.....dan kesalahannya adalah dianya ( Elvira ) kuurang jeli dalam hal mengamati orang seperti Dania yang sebenarnya menyamar, jadi harusnya memang ada celah untuk menguak identitasnya dari leher perempuan yang bahkan tidak akan punya jakun!.


Dan kembali ke wajah yang tidak tahu sedang memasang ekspresi apa, karena terlihat antara perpaduan senang dan sedih.


Dania yang seperti sedang meninggalkan kata terakhir, sepasang kaki yang tertutup oleh rok merah itu perlahan mundur ke belakang terus ke belakang...sampai kaki itu berhenti saat pinggangnya sudah menyentuh pagar pembatas.


" Di sana kan ada pintu. " Ellora menyela, menunjuk ke sebuah pintu di depan sana, di arah sebaliknya dari tempat Dania sedang berdiri di balkon.


Namun Dania tersenyum tipis sambil memejamkan kelopak matanya, dia sedang merasakan sensasi dingin yang menyentuh wajah dan punggung tangannya.


" Tapi lebih cepat lewat sini. Yang mulia Elvin, saya tunggu kabar selanjutnya..." setelah berkata seperti itu, dia menghempaskan tubuhnya ke belakang, melewati besi pembatas.


SYUHH.........


Elvin berlari kecil ke tempat terakhir perempuan itu berdiri setelah mengucapkan ayat-ayat terakhir.


Hal yang Elvin dapat saat melongok ke bawah adalah orang itu ternyata mendarat dengan selamat, sampai secara tidak sengaja dia menemukan sebuah pita putih yang terlepas dari ikatan rambutnya Eldania, dan pita putih itu tersangkut di ranting pohon yang ada di sampingnya, karena hembusan angin sesaat tadi.


" Titip ini. " suaranya masih terdengar, Elvin kembali menilik ke bawah, dan rupanya Dania baru saja melepaskan rok berwarn merah itu, dan di berikan kepada seorang pria bepangkat Archduke itu.


Archduke yang menerima rok berwarna merah itu, dia jembreng secara terang-terangan.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


Di bawah.


Archduke dengan begitu entengnya menerima sebuah rok, yang ketika di jembreng, hanyalah rok berdesain sangat simpel. Bagaimana tidak simpel, jika penggunaannya hanyalah di lilitkan ke penggang dan di ikat saja, dan di balik rok yang sudah di lepaskan......


Dania yang awalnya terlihat memang memakai sebuah Blezer, itu salah besar, karena dia menggunakan sebuah mantel coat yang hanya memiliki panjang sampai lutut saja. Dan sisanya tidak lain, Dania memakai celana berwarna hitam...........hal yang memudahkannya untuk bergerak dengan leluasa.


" Dia benar-benar..........." Archduke tidak tahu harus bagaimana mengatur gadis yang selalu berbuat seenaknya itu, seperti tadi saja..


[ Sembrono, menitipkan rok pada seorang pria, yang bahkan dia lepaskan tepat di depan mtaku. ]


Jika dia hanya gadis polos biasa, sudah pasti Archduke akan memakannya sampai habis...sebagai hukuman.


[ Tapi sayangnya dia tidak seperti itu. ]


Archduke melipat kembali rok berwarna merah itu, bahkan sempat untuk mengira-ngira berapa panjang kain yang di habiskan hanya untuk membuat rok simpel ini, Archduke sudah mengetahui jawabannya, yaitu....


[ 4 meter......pantas saja....saat ujung rok ini di angkat, bisa terlihat kalau rok ini mengembang dengan lebar. Dari mana dia mendapatkan ide ini?. ] Saat memberi salam hormat layaknya nona bangsawan pada umumnya, Dania sempat menarik ujung roknya, dan berkibar lebih lebar dari pada yang terlihat....itulah kejutan akan penampilannya yag sedemikin sederhana, yang di maksudnya tadi.


" Apa memang pemikiran orang-orang disini sangat dangkal. "


[ Dia aset yang bagus. ] dan Archduke pun memujinya dalam hati.


*************


SYUHHHHHHH.............

__ADS_1


Malam bertambah malam, jalanan perlahan mulai sepi namun kian waktu berlalu akan bertambah sepi dan hanya di temani deringan jangkrik yang sangat nyaring di telinga.


Suara jangkrik yang keras itu, juga sebaai pertanda kalau hari esok akan menjadi hari yang cerah.


Tapi bagaimana dengan malam ini?.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


Perasaan dengan keberadaan 3 anak panah sihir, sebagai alat pembunuhan sudah terbang di udara dan mengejar sang target, gerakan kaki yang begitu lincah itu terus berusaha mengungguli kecepatan anak panah yang mengejarnya.


Dia melompat dari satu tempat ke tempat lain.


Mengalihkan arah tempat kejadian dengan menuju ke tempat pemukiman kumuh yang sepi ini, dia melompat kembali untuk naik ke atas pohon yang rindang itu dan benar saja, ketika menoleh ke belakang, anak panah itu sudah lebih dekat.....dan terus dekat.


Salah satu tangannya yang tidak bisa tinggal diam begitu saja mulai menarik senjata yang tersimpan dengan baik di ke dua pahanya, tapi dia hanya akan mengambil salah satunya.


Sarung senjata terikat dengan sempurna, dan tentu membuat senjata yang sedari awal dia bawa, tersembunyi dengan sempurna.


Sebuah rencana sempurna yang tidak sengaja di jalankannya.


Tangan kanannya yang lincah, langsung mengambil senjatanya....


Perpaduan biru dan silver menghiasi benda tersebut, jika bukan karena terhalang oleh rimbunnya pohon, maka warna itu akan terpantul dengan cantik setelah bertemu dengan cahaya bulan yang begitu terang.


"................." Sepasang bola matanya menatap dingin 3 anak panah sihir itu, membidiknya dengan tepat.


Lalu dia pun mengangkat hal yang hanya dimiliki oleh dia seorang.....jari lentik bagian telunjuk itu pun langsung bergerak, masuk ke dalam sebuah celah kecil dari satu senjatanya, dan di detik itu pula, dia menekan sebuah pelatuk.


SHUHHH.........


Dalam sekejap mata anak panah itu menghilang menjadi sebuah asap.


"............"


[ Selanjutnya. ] Dan bagian selanjutnya dari pemilik mata ini adalah melakukan sesuatu pada si pelaku yang kini jarak di antara mereka berdua tidak begitu jauh.


Tapi karena sebuah alasan, dia mengarahkan senjatanya ke atas loteng dari sebuah menara jam. Kembali menarik pelatuknya, yang terjadi...........


l


l


l


l


l


l


l


l


l


Di dalam loteng.....


Busur panah yang di pegang di tangan kirinya...seketika itu lenyap seperti kabut.


"......................"


[ Hah.......!. Menghilang. ] Bola matanya membulat sempurna. Tangan yang awalnya memegang busur, kini sudah tidak ada lagi!.


[ Bagaimana bisa.....!. Ini di luar rencana!. ] sebuah kepanikan, membuat kakinya refleks melangkah mundur.


Dan ketika mundur, kepala dia langsung menyentuh suatu benda.....penasaran, dia memutar tubuhnya dan segera di hadiahi sebuah senjata sudah tertodong tepat di keningnya!.


" Siapa yang mengutusmu. " nadanya yang begitiu dingin segera menyapu bersih seluruh ruangan yang dominan gelap itu.


dan di saat yang bersamaan...


TENG............TENG.............TENG.............TENG......


Suara dari lonceng besar dari menara jam yang mereka jejaki langsung menggema ke segala penjuru di kekaisaran Rovathia, tanda kalau jam sudah menunjukkan tepat pukul 9 malam.


" ..................." hanya keterdiaman yang dia dapatkan, sepasang kaki berbalut sepatu boots itu segera berjalan ke depan, mendesak satu orang di depannya untuk angkat bicara, menjawab pertanyaan tadi.


Tentu saja dia sangat menuntut sebuah jawaban karena sudah berhasil mengusik seseorang.


Sampai di satu masa, saat lonceng besar di atasnya bergerak, satu celah lebar saat lonceng pindah ke sebelah kanan atau kiri, membuat cahaya bulan sukses menyelinap masuk dan menerjang wajah si penodong yang rupaya adalah seorang pria dengan rambut hitam gelap berpadukan sorotan dari iris mata berwarna biru yang begitu dingin seperti lautan samudra yang sangat dalam.


" Aku rasa tadi adalah perempuan, kenapa yang datang seorang laki-laki?. " akhirnya suara berat dari seorang pria dengan ekspresi tidak percaya, samar-samar terdengar seiring suara lonceng besar itu mulai lirih setelah waktu berlalu.


" ...................." Pria dengan separuh topeng menutupi separuh wajahnya itu, menyapa sepasang matanya lapilazuli dan membuatnya kembali angkat bicara.


" Siapa kau?. " tapi bibirnya segera menutup rapat, dan berganti dengan kalimat yang lain.

__ADS_1


" Bukan....tapi apa maumu?. " tanyanyanya lagi, mengganti pertanyan sebelumnya karena di rasa...seorang penjahat tidak akan mungkin mengutarakan namanya sendiri dengan begitu mudahnya.


__ADS_2