Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Kepergiannya


__ADS_3

Memcium aroma rumput lagi.


Dia sangat menyukainya.


Hanya saja untuk kali ini, terasa ada yang kurang.


Apa lagi kalau perasaannya, pada burung kesayangannya ini.


Dania berjongkok, tepat di depan makam tubuhnya sendiri, untuk berdoa sesaat.


Apa yang di ucapkan dalam bentuk bisikan batin, hanya dia yang tahu.


Setelahnya di tatapnya partner-nya, sudah tidak ada tanda-tanda bahwa burung ini masih hidup.


Tapi, Dania Rindu.


Kebiasaan anehnya yang tidak pernah dia perlihatkan pada orang lain kecuali saat itu, dia lakukan lagi, sekarang ini, dan di depan laki-laki bernama Arhes.


Mengangkatnya, dia langsung mendekapnya dalam pelukan yang hangat, dia mencium aroma unik dari helaian bulu yang lembut itu.


Sehingga wajahnya pun tenggelam, masuk ke dalam sayap yang besar itu, meski berukuran normal, tapi itu masih bisa di katakan besar, mengingat panjang rentang ke dua sayap saat berkibar, hampir sepanjang 1,7 meter.


".................."


Arhes hanya membiarkannya begitu saja, merasa sulit, itu pasti, merasa kehilangan juga tidak salah lagi, jadi dia cuma berdiri menunggu gadis ini.


Eldania.....


Namun entah kenapa, matanya tidak bisa mengeluarkan setetes pun air mata kesedihan untuk kepergian burung ini.


Burung adalah hewan yang paling di sukainya, dan perpisaahannya yang dulu dengan dua burung peliharaannya, justru disini dia pertemukan dengan burung istimewa yang bisa di ajak bicara.


Dan Dania memberikan nama Everst, karena waktu itu hanya nama itulah yang langsung terlintas di dalam kepalanya.


Jelmaan dari nama gunung Everest yang di nobatkan sebagai gunung tertinggi di dunia, dan itu seperti cocok untuk burung coklat ini, karena dialah burung istimewa yang bisa terbang tinggi, dengan kemampuan berbeda dari makhluk yang lainnya.


Karenanya, Everst itu adalah burung predator paling puncak, itulah kesan pertamanya saat menamai burung ini dengan nama Everst.


Meski suka bertengkar, Dania memang sengaja melakukan pertengkaran sepele, karena merasa menyenangkan.


Bercanda karena tidak ada teman yang cocok serta bisa di percaya, itulah penyebabnya.


Penyebab serta dari semua hal yang sudah mereka lalui secara bersama-sama.


Apakah dia, kini benar-benar sudah tidak ada lagi?.


Apa pada akhirnya semua ucapannya Everst beberapa waktu lalu, saat Dania sudah tidak sendirian lagi karena sudah ada dia ( Everst ), hanya jadi ucapan angin lalu saja?.


" Apa burung itu.....akan di kubur di sini juga?. " suaranya langsung mengisi keheningan itu.


Mendengar pertanyaannya Arhes, Dania segera menyelesaikan hobi anehnya itu dengan cepat, dan kembali melihat ke makamnya lagi.


" ................... "


Sebuah keputusan yang sulit.


Di satu sisi tubuh Everst mulai kaku.


Di sisi lain, dia keberatan soal di kubur.


" Aku....... " kembali menatap burung yang masih di dalam pelukannya dengan seksama, wajah dan kepala milik Everst yang begitu dekat.


Itu benar-benar sangat membuatnya tidak begitu tahan untuk..


" Ahhhh..... " mendesah pelan, Dania menempelkan pipinya ke salah satu sisi wajah burung ini, menikmatinya dengan sangat antusias sekali, meski mata itu sudah tertutup rapat.


".................." Arhes malah jadi tersenyum tawar.


[ Sepertinya aku salah mengira. Dia terlihat tidak sedih, malah menikmati tubuh burung yang mati itu. ] Arhes tidak bisa bertanya lagi, setelah pemandangan yang sedang dia tonton itu.

__ADS_1


Bagaimana tidak, dari prosesi aneh dalam mengubur jenazah perempuan yang tidak Arhes kenal.


Sampai melihat burung yang bisa bicara itu, kini mati, dan juga tidak menyangka kalau hewan istimewa tersebut adalah peliharaannya gadis ini.


Dari semua itu, meski kelihatannya Dania tadi memperlihatkan ekspresi wajah serta sorotan mata penuh kesedihan, itu seakan hanya sebuah akting belaka.


Atau...


[ Apa cuma aku yang merasa sedih?, karena rasa berasalah hanya bisa membuat mereka berdua kesusahan?. ]


Arhes memejamkan matanya, mencoba menjernihkan pikirannya.


[ Apa yang harus aku lakukan dengan semua hal yang sudah dilalui dengannya?. ]


Membuka matanya kembali, Arhes melirik ke arah kepala gadis ini, dari pemilik si rambut coklat.


[ Tapi. Melihat dia punya banyak bakat, dia terlihat seperti orang yang tidak butuh apa-apa lagi, apa lagi dari seorang kesatria rendahan sepertiku. ]


Dia masih memeluknya, seakan tidak ingin ada jarak di antara mereka.


Jarak dari tempat yang berbeda.


Jika Everst di kubur, dia akan ada di dalam tanah, dan tidak bisa melihatnya lagi untuk selamanya, karena kian waktu berlalu, tubuh makhluk hidup akan terurai dengan tanah.


[ Apa aku jadi se egois ini? ] tidak ingin tubuh Everst di kubur, meski itu memang sebuah pilihan yang egois, tapi kalau seperti itu artinya ia benar-benar tidak ingin kehilangan tubuhnya juga, meski nyawa sudah tidak ada di dalamnya.


Dania melepaskan pelukan itu, dan kembali meletakkannya ke atas mantel coat yang masih tergeletak di atas tanah berumput itu.


"................."


[ Tapi, aku memang orang yang egois. ] Dania menyadarinya juga.


Ke egoisan demi sebuah kepuasan, itulah yang terpendam di dalam dirinya.


" Sudahlah. " mendesah pasrah, tidak ada hal lain lagi yang bisa di lakukannya.


Arhes yang kini tengah menatap langit, mulai melihat bahwa matahari sebentar lagi akan tenggelam, pelan-pelan tergantikan dengan langit gelap.


Si empu tersentak kaget, bisa mendengar langsung namanya di panggil sejelas itu.


" Apa kamu perlu sesuatu?. " meliriknya sesaat, tapi teralihkan kembali ke burung itu.


" Tidak. Aku hanya ingin disini lebih lama lagi. Kau bisa pergi ke tempat adikmu. " kemudian Dania menambahkan lagi.


" Dan perjalananmu denganku sampai disini dulu. Di saat seperti ini, dari pada singgah terus, aku lebih baik langsung pergi ke kota. "


Jelasnya.


Dania tidak ada Mood lagi, dan memutuskan untuk berkuda semalaman adalah pilihan yang tepat.


Apa yang Eldania punya sekarang?, terasa sudah tidak ada lagi, selain pengetahuannya sendiri yang masih tetap dia jaga. Hanya itu saja, tidak ada yang lain, setelah Everst meninggalkannya pergi untuk selamanya.


WUSSSHHH.........


Rambutnya yang mulai sedikit panjang, berkibar mengikuti arus angin tadi.


Itu seperti sapaannya, sapaan terakhir kali untuk mereka berdua.


*******


" Yang mulia. " panggil Vidal, di saat dirinya masih mengaduk teh untuk majikannya yang sedang sibuk di belakang meja kerja, dengan segala tumpukan kertas yang sudah meninggi seperti tiang.


Archduke langsung meletakkan 3 lembar kertas yang sudah dia baca, lalu menjawab.


" Kenapa?, nadamu seperti sedang merindukanku. " dengan kilatan jenaka terarah langsung ke tempat Vidal berdiri.


" Yang mulia pandai sekali membuat lelucon ya?. " meletakkan sendok yang digunakan untuk mengaduk teh dengan sedikit tenanga, sebagai ekspresi tidak puas hati karena panggilannya tadi di anggap sebagai tanda rindu.


Tapi karena seduhan teh yang sudah dia buat sudah jadi, Vidal segera pergi ke arah sofa dan meletakkan dua cangkir teh ke atas meja pendek itu.

__ADS_1


" Melihat wajahmu yang serius itu, sudah pasti sedang merindukan seseorang kan, tidak lain kalau bukan....aku, karena selama satu hari ini aku mengabaikan keberadaanmu. " terang Archduke lagi, kembali menggoda anak buahnya yang satu itu.


Vidal hanya berusaha mengabaikan ucapan Archduke yang kadang suka berkata sembrono itu.


" Jangan mengambil kesimpulan seenaknya, saya hanya ingin memberitahu anda. " ucap Vidal di detik itu juga.


" Memberitahu apa?. " mengambil lagi kertas dari tumpukan tertinggi dan membacanya sekilas sampai akhirnya memberikan sebuah tanda tangan.


" Wanita itu sudah kembali. "


Tersenyum miring, Archduke benar-benar tidak teralihkan dengan apa yang sedang di bacanya, tapi mulutnya selalu berkata lain.


" Oho...wanita yang mana?. Disini banyak wanita, dan diantaranya sedang keluar. " yang dimaksudnya tidak lain adalah para pelayannya.


Hal lain yang berhasil menjengkelkan untuk Vidal, karena tidak di anggap serius oleh yang mulia Archuntu sendiri.


" Maksudku, dia...Eldania. "


Tiba-tiba mata yang dari tadi menatap rentetetan tulisan bertinta hitam dengan begitu seksama, langsung teralihkan ke tempat sekarang Vidal tengah duduk sambil menyeruput teh.


Jika melihat ke arah jam, sudah jam 11 malam.


" Aku kira dia akan pergi 3 hari. Baru 2 hari. Ini aneh. " Ucap Archduke yang berubah menjadi gumaman lembut.


Namun kemudian, Archduke yang menyadari Vidal duduk dengan cangkir teh di tangan, dia langsung menegurnya.


" Terus...kenapa masih saja duduk, majikanmu saja sedang sibuk. Gantikan aku sambut dia. Marsha pasti sibuk juga...dan aku menyuruh Benjamin untuk mengerjakan hal lain. "


[ Padahal dia punya kaki dan tangan sendiri, kenapa pakai acara aku harus menyambut kepulangannya?. ] Melirik ke arah Archduke, Archduke masih membuat menatap ke arahnya dengan maksud menunggu jawaban.


" Iya...iya. "


TAK....... ( Meletakkan cangkir teh ke atas lemek lagi. )


Lalu Vidal pun berdiri, berjalan pergi meninggalkan tuannya di sana.


Sebuah pekerjaan sepele, dia harus mengerjakan ini. Menyambut perempuan itu, padahal tinggal masuk saja lewat pintu, tapi karena yang mulia sudah memerintahkan untuk menyambutnya, tidak bisa membantah ucapannya Archduke, Vidal hanya menurutinya saja.


" Yang mulia benar-benar sangat memperhatikannya. " Gumam Vidal.


Mengingat setelah kejadian di hutan, dan membawanya ke istana, Vidal tahu kalau yang mulia terus memperlakukan wanita itu dengan sangat baik, padahal dia hanyalah orang asing yang tidak sengaja di temukan.


Tapi, setelah keberadaannya di Istana, rupanya benar-benar membuat suasana jadi ikut berubah.


[ Siapa yang menyangka, dia wanita aneh tapi punya prestasi seperti itu. Jangan sampai dia menghunuskan pedang ke leherku. ] sambil menyentuh lehernya yang seolah itu lebih berharga.


Vidal kadang takut pada wanita ( Eldania ) yang bahkan belum genap 20 tahun itu sudah bisa memegang senjata, dan karena memiliki mata warna Ruby, membuat tatapannya yang bisa berubah menjadi dingin, seperti mengisyaratkan kalau itu akan jadi sebuah pertanda buruk untuk si penerima dari sorotan mata tersebut.


[ Dia memang lebih gila dari yang mulia. ] mengurusi satu orang gila lainnya, itulah yang menjadi keseharian Vidal jika wanita itu sedang ada di dalam istana.


Setelah melewati koridor serta puluhan anak tangga, Vidal akhirnya bertemu dengan Dania, namun rupanya dengan satu bungkusan besar berada di pelukan.


" Apa yang kamu bawa?. "


" Bukan apa-apa juga bukan hal yang berbahaya. " jawab Dania, setelah Vidal berdiri 2 m darinya.


Sambil berjalan mendekat.


" Biarkan aku melihatnya, aku hanya ingin memastikan. "


Tanpa berkata sepatah kata pun, Dania sedikit membuka ujung kain itu dan memperlihatkan isi dari bungkusan tersebut.


Ketika di buka, Vidal terkejut di balik ekspresi wanita ini yang datar, di dalam bungkusan yang dibawanya itu adalah...


############


Up 2/3 hari sekali karena tubuh sedang tidak bisa di ajak kerja sama.


Akan kembali up 1 hari 1 kali setelah semuanya baikan dan kembali normal.

__ADS_1


Terima kasih atas kunjungan kalian.


__ADS_2