Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Mereka Berdua


__ADS_3

" Terima kasih. " ucap Dania sebagai orang terakhir yang mengucapkan terima kasih kepada pria yang satu ini.


" Uang itu akan kamu gunakan untuk apa?. "


" Uang ini..." Dania juga bingung akan dia gunakan untuk apa uang yang ada di dalam kotak ini?.


" Bagaimana jika simpankan ini untukku?. " Menyodorkan kembali kotak emas itu kepada Archduke.


Salah satu alisnya langsung terangkat, dia sudah memberikannya kepada gadis ini sebuah uang emas yang cukup banyak, tapi mau di kembalikan dengan alih-alih menitipnya?.


" Kalau tidak mau menyimpannya sendiri, kenapa tidak di simpan ke dalam Bank?. "


" Eh?. Disini juga ada bank?. "


Dania sepintas langsung melongo, dia melpakan bagian terpentingnya. Di sini ada Bank, iya....tapi yang jadi pertanyaan terbesarnya...


Archduke kemudian mengambil kotak yang di pegang oleh Dania sambil memberitahu.


" Memangnya ini zaman apa?, mana mungkin orang-orang akan menyimpan uang di dalam rumahnya terus. Ternyata kau bisa polos juga, seperti tidak pernah dengar Bank itu adalah tempat orang menyimpan uang. "


[ Aku hanya melupakan itu saja. ] umpat dalam hatinya.


" Satu pertanyaan, jika aku menyimpan uangku di Bank di kota ini, apakah aku juga bisa menyetor dan mengambilnya di Bank tempat lain?. "


" Tempat lain yang kamu maksud?, luar negeri?. "


" Ya. " dengan antusiasme yang tinggi, Dania jadi tertarik jika sudah mendengar kata Bank. Hanya saja, apakah ada sistem dimana dia bisa menabung dan mengambil uangnya kapan pun dan di mana pun?, mengingat di sini tidak mengenal adanya jaringan internet.


KLAK.....


Menutup kembali tutup kotak itu, Archduke sedikit memberikan satu penjelasan singkat mengenai sarana tempat penyimpanan uang ang di kenal sebagai Bank, kepada Dania.


Tapi Archduke segera memperlihatkan apa yang dia punya, kepada gadis ini.


" Jika kamu punya kartu ini, maka uang bisa di setor atau di ambil di manapun kau berada. "


[ Itu...Black Card?!. Di sini pun juga ada?. Apa yang sudah aku lakukan selama ini?, sampai tidak mencari tahu informasi seperti ini?. ] Dania langsung menyambar kartu itu dan melihtnya dengan lebih dekat, dia benar-benar menyesalinya, ternyata ada juga Black Card?!.


Dimana kartu yang dia pegang itu, tertanam sebuah lingkaran sihir, membuat si pemilik tidak akan pernah kehilangan kartu ini meski sempat terjatuh di suatu tempat, dan ketika dirasakan lagi, tulisan yang bergores dengan tinta emas itu juga merupakan tinta sihir yang memuat berbagai informasi yang tertera di dalamnya.


Kartu yang tidak mempunyai batasan jumlah, mau belanja apa pun, menggunakan kartu ini, sudah seperti uang yang terus mengalir bagai air.


Tidak akan ada habisnya, mau di gunakan dalam jumlah sebarapa banyak apa pun itu.


" Kamu bisa memilih, tingkatan apa yang kamu inginkan dalam mendaftar namamu di Bank. Di sini ada 5 tingkatan batasan kartu yang kamu pilih. Ada perunggu, silver, gold, platinum, dan Black.


Sudah jelas, jika perunggu adalah yang paling rendah, karena proses pembuatannya tidak perlu memakan biaya, tapi batasan simpanannya hanyalah 10.000 keping emas, dan penyetoran juga pengambilan hanya bisa di lakukan di tempat yang sama. Silver hanya 5 juta emas, dan Gold 100 juta emas. " Jelas Archduke.


Dia sedikit memberitahunya dengan singkat, karena terlihat bahwa Dania ini justru malah tertarik dengan yang antara Platinum atau-pun Black Card.


" Lalu khusus untuk Platinum, biaya pendaftaran sekaligus pembuatan kartu ini, perlu mengeluarkan 10 juta emas. "


" Sampai 10 juta emas?. " Mengembailkan kartu itu kepada pemiliknya, Dania sedang menantikan penjelasan selanjutnya.


" Yang membuatnya mahal adalah karena kartu itu di tanamkan sebuah sihir dan prosesnya yang lebih banyak. Dan bedanya dengan black Card ini terletak di sini...." Dia memberitahu sebuah simbol yaitu sebuah burung kecil yang terletak di sudut kanan bawah.


" Kelihatannya seperti sebuah titik kecil, tapi jika menggunakan kaca pembesar, di sini ada lambang tersendiri, dimana kamu bisa mengeluarkan uangmu sendiri jika kau menyentuh ini dan menyebutkan kata sandimu juga jumlah nominalnya. Dan biayanya adalah 100 juta emas. "


" Apa?!. "


[ Sihir yag semakin tidak masuk akal. ] Sedikit tidak percaya bahwa hal seperti itu pun ada di dunia ini.


Archduke yang melihat tatapan ragu itu, segera membuktikanya dengan menyentuh titik kecil sebesar semut, dan pikirannya mengutarakan kata sandnya.


Lalu meletakkan kartu itu ke atas meja, hasilnya sebuah garis lurus tecipta, dan dalam sekejap mata muncullah kepingan emas yang tertumpuk rapi.


" Ini bisa dilakukan jika kamu menyetor uang ke Bank terlebih dahulu. "


Sebuah penemuan hebat, karena kegilan dari seorang penyihir yang tidak ingin begitu repot jika menginginkan uang tunai di saat itu juga, tanpa perlu ke Bank.


Dania yang mendengar penjelasan akan informasi penting lagikan menggiurkan seperti itu pun langsung tertarik.


Syarat utamanya adalah harus membayar sebesar 100 juta emas, agar bisa mendapatkan Black Card.


Setelahnya bisa bebas menyimpan uang sebanyak banyaknya tanpa ada batasan, dan bisa mengambil uang kapan pun dan di mana pun, seperti mesin ATM berjalan.!.


Tapi di sini, bagaimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak 100 juta emas itu?.


Berapa ton jika di timbang?, dan hasilnya berapa banyak nominal yang dia dapatkan jika di hitung dengan uang dari dunianya yang dulu?.


Itu setara dengan membeli sebuah pulau pribadi yang sudah memiliki bangunan sebuah Vila juga pesawat pribadi paling canggih!.


PEMERASAN!.


Hanya itu yang terlintas langsung di dalam kepalanya.


Sayangnya, keinginannya tidak bisa tercapai untuk waktu yang dekat, itu sudah pasti, karena yang dia miliki sekarang hanyalah bebeapa ratus keping emas saja.


Dania merungut, sebegitu banyaknya uang yang harus di keluarkan jika ingin memiliki Black Card sendiri?!.


Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?.


[ Mau bekerja sampai mati pun tidak akan langsung terkumpul semua. ]


Kecuali jika dia tiba-tiba di hujani uang, itu keberuntungan yang sebenarnya tidak mungkin terjadi.


Dania tersenyum mencibir, seberapa keras usaha yang perlu dia lakukan agar bisa mendapatkan jumlah uang sebanyak itu?!.


Bahkan, sekalipun menjadi pegawai di istana kerajaan pun, gaji bekerja penuh selama 20 tahun juga tidak akan sampai ke nominal angka 3 digit itu.


PUK.....

__ADS_1


"..............! " Merasakan tiba-tiba kepalanya di tepuk, Dania menyadarkan pikirannya, lalu mendongak ke atas.


" Ternyata seperti ini.......rasanya. " Archduke tersenyun kecil, melihat kelakuannya sendiri.


SREK...SREK....SREKKK.....


Tangannya tidak bisa berhenti untuk mengusap kepalanya gadis ini. Rambut yang lembut dan samar-samar masih tercium aroma sampo.


Padahal sudah beraktivitas berat seperti tadi, tapi Dania...terlihat seperti tidak melakukan apa pun.


Tidak tercium bau asam, bahkan keringat pun tidak ada, terlihat bersih, sehat, bugar.


" .................. " Dania yang terdiam, menikmati usapan lembut itu.


Dia tidak marah atau apa pun itu, karena laki-laki ini benar-benar orang baik yang memberikannya uang sebagai hadiah kemenangan.


Bukan karena itu juga, sebenarnya dia merasa bahwa kasih sayang ini adalah tulus?.


[ Apakah begitu?. ] tangannya langsung menangkap tangan Archduke, agar berhenti mengusap kepalanya yang rambutnya sudah mulai berantakan karena ulah orang ini.


" Apa permintaanmu?. "


Dania segera menyingkirkan keinginannya bisa mendapatkan Black Card sendiri, sebab yang paling utama di sini adalah keinginan orang ini. Banyak yang sudah Archduke lakukan untuknya, tapi dia sendiri belum membalas kebaikannya.


Archduke melirik ke arah tangan kanannya yang sedang di genggam oleh perempuan ini.


Dia pun sadar akan maksud ucapannya Dania barusan, dan pertanyaan apa yang di inginkannya?.


Sejujurnya, dia ingin sekali mengadakan upacara kedewasaan untuk perempuan ini, tapi di sisi lain, Dania menolaknya. Apakah ada alasan tersembunyi di balik di tolaknya penawarannya waktu itu?.


" Apa kamu pernah berlayar?. " Archduke bertanya secara spontan.


[ Pernah. ]


" Tidak. "


Jawaban yang saling bertolak belakang dengan pikirannya, dia hanya menjawab kenyataan yang ada di sini, bukan masa lalunya.


" Sesuai dugaan. Bagaimana jika satu bulan lagi kita berlayar?. Ada satu tambang yang harus aku kunjungi, tapi letakknya ada di pulau, dan paling tidak butuh 1 minggu berlayar. Bagaimana?. " kata Archduke, menawarkan pengalaman berbeda pada gadis ini.


Bisa melihat keindahan laut adalah mimpi dari semua orang di kota. Archduke tahu betul kalau mereka sangat penasaran dengan laut, tapi mereka tidak punya biaya perjalanan jauh untuk sekedar sampai di pantai ataupun ke pelabuhan, juga waktu yang di perlukan juga cukup lama, dan lagi pula, kehidupan orang-orang di kota adalah mencari uang, jadi tidak ada waktu yang banyak jika hanya sekedar berlibur ke laut.


[ Laut. ] Dania yang akhirnya memiliki kesempatan itu, mengangguk setuju. Dania berpikir bahwa Archduke menginginkannya ikut dalam kunjungan itu adalah sekedar menghabiskan waktu bersama, dan mungkin saja karena ada alasan lain pula?.


Entah apa pun itu, kesempatan seperti ini tidak boleh di lewatkan, karena lagi pula, itu permintaan yang Archduke inginkan darinya, jadi dia hanya menurutinya saja.


" Ini akan aku simpan untuk sementara waktu. "


Dan pembicaraan mereka berdua puun telah usai.


Dania pergi keluar, lalu berjalan pergi menuju kamarnya.


Setidaknya........


Seperti........


itu..........


KLEK..........


Sampai dimana dia membuka pintu kamarnya, yang pertama kali dia lihat secara tidak sengaja adalah ke dua pintu kamar yang menghubungkan balkon, sudah terbuka.


Padahal sebelum pergi dia sudah menutup dan tak lupa menguncinya, tapi ini.......


"..................." Yang terlihat di balkon kamarnya, seekor burung sedang bertengger di atas meja dan menatap jauh ke depan sana.


[ Apa yang sedang dia lihat?. ]


Dania yang penasaran, berjalan mendekat ke arah Balkon, dia melihat sorotan matanya itu, seperti sosrotan mata yang sedang mengenang sesuatu, jadi terlihat seperti seekor burung yang,...


Kesepian.


Sadar akan kedatangannya, Everst menoleh ke belakang, menghapus jejak sorotan mata tadi dengan ekspresi yang tegas.


Everst bergeser ke samping ke kiri satu langkah, lalu dia memutar tubuhnya ke belakang dengan kaki kiri mendorong sebuah bola berwarna biru jernih.


Dania yang melihat Everst bertindak seperti itiu, langsung bersuara.


" Apa kau baru saja bertelur?!. "


tanyanya dan segera duduk di belakang meja itu.


{ Aku burung jantan, mana mungkin bisa bertelur!. } Sekalipun mulutnya terdiam, tapi ekspresinya meperlihatkan rasa kesalnya.


Dania lantas tertawa cekikikan, dia tahu burung ini adalah burung jantan, tapi mellihatnya terdiam dan tiba-tiba bergeser lalu menyodrkan sebuah bola layaknya terlur, Dania jadi sengaja mengejek perbuatannya.


" Tapi warnanya cantik, dari mana kau bisa menemukan bola seindah ini?. "


[ Seperti kelereng. ] Mengambil bola seukuran bola takraw, dan melihatnya lebih dekat lagi.


{ Itu bukan bola, tapi batu mana. Seseorang memberikannya kepadaku. }


" Kalau begitu ini milikmu. " ucapnya, lalu meletakkan lagi batu itu ke depan Everst yang masih berdiri di atas meja.


{ Karena ini milikku, maka dari itu aku memberikannya padamu. } Everst mendorong bola itu ke depan lagi.


" Tapi kenapa juga?, aku tahu fungsi batu ini seperti kekuatan suciku, jadi aku tidak begitu membutuhkannya. "


{ Pada akhirnya, suatu saat pasti akan membutuhkan batu itu. Jangan pernah menolak pemberianku lagi. }


ucap Everst dengan tegas, kali ini dia membenci sebuah penolakan, mau tidak mau harus berkata demikian agar perempuan ini tidak lagi menolak pemberiannya.

__ADS_1


[ Dari tadi aku di beri hadiah terus. ] mengambil lagi bola itu dan mengusapnya dengan lembut.


[ Apa yang bisa aku gunakan dengan batu sebesar ini?. ] jika sudah di dapat, harus dia gunakan sebaik-baiknya, tapi rencana untnuk batu ini belum terukir jelas di dalam otaknya.


Lalu merupakan batu yang berharga juga.


TES........


"...............?!. " Mendongak ke atas, sesaat tadi dia merasakan tetesan air mengenai kepalanya.


[ Mendung... ]


Tepat di beberapa detik kemudian , tetesan air semakin banyak, buru-buru Dania berdiri dan mendekap tubuh Everst agar bisa masuk dengan cepat.


BRAK.....


Menutup ke dua pintu dengan cepat, sebelum air hujan itu masuk ke dalam kamarnya.


{ ................... } Everst yang sedang dalam pelukan gadis ini, hanya menatap datar apa yang dia lihat sekarang ini, dia sedang di peluk di depan dadanya.


Karena ukurannya sedang dalam posisi sebesar ayam jantan dewasa, jadi masih bisa di bawa dalam dekapan seperti itu.


Padahal dia bisa masuk sendiri, tapi dengan sengaja malah membopongnya masuk.


Kenapa dia jadi seperti itu?, seakan melindungi?.


Apa karena kejadian 10 hari yang lalu?, yang di kira dirinya sudah mati dan tidak akan kembali ke sisinya?.


Dia ( Everst ) tidak begitu tau pasti, tapi yang sekarang dia dapatkan hari ini dan di detik ini, adalah pelukan lagi.


Padahal jelas, pagi tadi juga melakukan hal yang sama, yaitu menangkap tubuhnya sebelum terjadi tabrakan, tapi berakhir sebuah pelukan juga dan di barengi dengan senyuman lembut pula.


" Kenapa menatapku seperti itu?. "


Ada yang berubah dari gadis ini, perilaku dan tindakannya jadi lebih lembut juga.


Padahal sebelum ini, mau memeluknya saja sudah seperti hal tabu, ujung-ujungnya pertengkaran, tapi ini jelas berbeda.


Dania sendiri yang justru lebih bernisiatif melakukukannya terlebih dahulu.


{ Sepertinya ada yang berubah denganmu. } jawab Everst, sambil melepaskan diri dari dekapan perempuan ini, lalu terbang dan mendarat di atas sebuah kasur yang empuk lagikan lembut.


[..................]


" Aku hanya ingin bersikap santai denganmu, apakah salah?. "


Everst memiringkan kepalanya ke kanan lalu berfikir.


[ Apa dia terpukul dengan kehilanganku waktu itu?. Atau...........] melihat gadis itu berdiri memunggungi pintu jendela yang di hiasi kilatan dari petir yang mengglegar, sosoknya yang sedang beridiri sendirian seperti itu sudah menjadi jawaban untuknya.


Inilah sosok yang sebenarnya dari gadis ini, sekalipun tadi bisa bertanding dengan serius, banyaknya orang di sekitarnya, serta hadiah yang tadi di dapatkan oleh ber status Archduke itu, tidak merubah fakta bahwa Dania.....


Dia....adalah orang yang berakhir terus sendirian seperti ini.


Tawa kecil itu selalu segera sirna dan di gantikan dengan wajah datar seperti itu.


Keberadaannya seperti bisa menghilang kapan pun dia mau, dan semua kerja kerasnya juga seperti bukan apa-apa.


Perempuan ini seakan, tidak begitu tertarik dengan yang ada di sekitarnya, selain membuat hal baru dan menciptakan penyelesaian akan setiap masalah besar yang muncul.


Terus menggunakan kemampuannya, meski tidak akan ada banyak yang mengetahui jasa yang sudah di toreh oleh perempuan ini.


" Tapi.....terima kasih sudah kembali. " ucapnya. Dania tulus mengatakan seperti itu, karena akhirnya ada sesuatu yang bisa mengisi kesediriannya yang seperti ini.


JDERR........


Kilatan yang berdatangan berakhir dengan dentuman yang cukup keras.


Dan hanya karena sudah kembali, dia ( Dania ) sampai megucapkan terima kasih?.


Everst menatapnya dengan tajam, Dania yang membalas tatapannya pun sebenarnya seedang di hujani tanda tanya.


[ Kenapa dia diam saja?, apa dia masih kesal dengan tubuhnya yang aku kubur?. ] fikir Dania. Dia yang awalnya ingin mandi, langsung mengurungkan niatnya setelah angin dingin dari hujan yang sedang mengguyr dengan derasnya, menyapa kulitnya.


Rasa sejuk itu lebih mendominasi agar di segera beristirahat dengan tidur di kasur.


Tapi.......tanpa jawaban apa pun, dan tanpa sepatah kata juga, Everst berpindah posisi menuju tengah kasur dan langsung tertidur di sana!.


[ Sepertinya dia masiih kesal. ]


Karena tidak ada tempat nyaman selain tidur di kasur, dia pun memutuskan untuk tidur di sisi lain kasur, dan berbaring di sana sambil memunggungi keberadaan burung itu. Meletakkan batu berbentuk bola itu ke sisi bantalnya, dia pun pelan-pelan tertidur.


Aroma tanah yang basah, dan aroma air hujan yang menyerbak, membuat mereka tertidur lebih nyenyak dari pada hari-hari mereka sebelum ini.


Perpisahan dan kebersamaan yang di sapa hujan dengan petir seperti ini adalah hasil keberadaan mereka berdua yang berasal dari waktu, zaman yang sama.


Di pisahkan oleh kematian.


Menunggu dan di tunggu.


Waktu yang terus berputar tiada henti.


Semua itu mereka lewati, meski keberadaan mereka dalam posisi secara terpisah oleh zaman dan dimensi waktu.


Dimana yang satu secara sadar melakukannya hanya demi menemuinya lagi, dan yang satu lagi secara tidak sadar terus melewati waktu yang lama karena kehidupan hukum alam itu sendiri.


Itulah mengapa..............


Mereka berdua dalam posisi sepeti ini.


Tahu dan tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2