
" Alinda. " Panggilnya.
"....................."
[ Suara ini!. ] Kepalanya yang awalnya menunduk ke lantai dengan ke dua mata terpejam, kini dia membuka ke dua matanya secara perlahan.
Lantai berwarna marmer berwarna hitam, di matanya ini adalah lantai yang sangat familiar.
Berusaha untnuk menghilangkan rasa penasaran tadi, dia kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang tadi memanggil nama aslinya?.
DEG......
Seorang laki-laki tinggi, dengan ekspresi mata sayu langsung terarah kepadanya.
Ekspresi yang justru bagi Alinda ( Dania ) sendiri adalah ekspresi seperti sedang meremehkan.
Dania mendengus kesal.
".............."
[ Kenapa aku malah bertemu dengan dia lagi?. ] dia melihat tubuhnya sendiri, menunduk ke bawah, rupanya kakinya berada di atas lantai dengan sebuah lingkaran berwarna ungu mengelilinginya.
Tidak lain dan tidak bukan, kalau ini adalah pola lingkaran sihir!.
[ Ini......aku disini apakah...karena lingkaran sihir ini?!. ]
Yang pasti sekarang Dania hanya tetap berusaha terfokus ke depan, meski sedikit tidak masuk akal, bagaimana pria sepertinya yaitu Devon, bisa melakukan ritual yang hanya bisa di pakai jika memiliki sebuah mana 'sihir'.
Apakah pria ini memiliki sesuatu yang dirahasakannya dari dulu, dan baru saja terungkap untuk sekarang ini?.
" Kau pasti terkejut karena hal itu kan?. "
Pria yang sedari tadi berdiri di depan roh wanita, dia mulai ikutan berjongkok, untuk menyamai roh wanita yang kini juga sedang jongkok, dan dua mata tadi tentu tertuju langsung pada sebuah pola dari lingkaran yang kini bercahaya berwarna ungu, sebuah lingkaran sihir pemanggilan.
Itulah yang Devon perbuat, setelah menggambar pola itu dengan spidol.
[ Bagaimana...kau- ]
" Bagaimana aku bisa?. Bisa memanggilmu yang sedang dalam wujud roh dengan, lingkaran sihir?. " tanya balik pria ini.
" JIka aku memberitahumu, apakah kau akan ingat?. " tanya Devon.
Tapi, demi menghilangkan rasa penasaran dari roh ini, Devon akan memberitahunya.
" Aku akan memberitahukan satu rahasia padamu. Aku bisa melakukan ini, karena aku masih merupakan keturunan penyihir. Meski sulit.......sih.."
Mengendikan bahu tidak masalah.
" Tapi hasilnya, aku berhasil membawa roh mu kesini. " Jelas Devon panjang lebar, meski hasilnya jika roh itu masuk ke dalam tubuh, maka tidak akan mengingat semua pembicaraan ini.
Itulah, mengapa dia mau memberitahukan satu rahasia itu pada roh ini.
Dania...yang hanya mendengarnya, hanya ber oh ria, dia tidak peduli, karena yang paling ia pedulikan adalah....
".............."
[ Dia, bisa membaca pikiranku?. ]
Semakin cemas di buatnya, karena segala kalimat yang terlintas di pikirannya, pria di depannya bisa tahu.
" Karena kau tidak punya media tubuh untuk menghasilkan suara, jadi itu salah satu cara komunikasimu sekarang. " Beritahu Devon pada wanita yang terlihat mulai menyembunyikan rasa terkejutnya lagi.
Dania, dia mulai memperhatikan pria di hadapannya ini,.....tidak.....melainkan seseorang yang terbaring di atas sebuah ranjang, dengan banyaknya alat medis tersambung ke dalam tubuh yang terbaring itu.
Mengetahui bahwa tatapan dari roh wanita ini bukan tertuju ke arahnya, melainkan pada sesuatu yang ada di belakangnya, Devon mulai membuka suaranya lagi.
" Itu tubuhmu. "
"..............."
__ADS_1
[ Aku kira aku sudah mati. ]
" Lebih tepatnya, kau mengalami koma selama 3 bulan. " Devon menjawab lagi.
" Jadi........" Davon kembali berdiri, sambil mengarahkan tangan kanannya ke samping dengan sedikit sebuah bungkukkan kecil, dia benar-benar sedang memberikan sebuah sambutan pada roh ini.
" Silahkan kembali, maka kau akan kembali sadar, dan dalam jangka 1 bulan, tubuhmu akan pulih lagi. "
Dania sudah berdiri, dan mulai memikirkan apa yang harus di lakukannya?.
Di depan sana, itulah tubuh aslinya ....
Dania menatap tubuhnya sendiri dari jarak itu.
Ia juga melihat lingkaran sihir terpola dengan jelas mengelilingi bawah ranjang itu. itu adalah pola dari formasi batu marmer berwarna putih yang melekat di lantai, bisa dibilang....
Itu semua seperti sudah di siapkan dari awal.
Hatinya.....dia ada niatan ingin melihat tubuh itu lebih dekat lagi, agar bisa melihatnya dengan lebih jelas lagi.
Tapi.....
Semua kenangan itu, dan bersama orang ini......sudah musnah ketika saat dirinya awal sadar, sudah berada di dunia yang berbeda.
Membuat Dania yang sudah menjadi sosok roh itu, akhirnya memutuskan untuk berkata...
[ Tidak... ]
" Hmmm?. "
Devon mengangkat salah satu alisnya, karena hanya mendengar sebuah ucapan yang begitu lirih. Meski dia mendengarnya, tapi ingin mengkonfrmasi apakah kata itu betulan jawaban dari roh wanita ini?.
[ Aku tida akan kembali, masuk ke dalam tubuh yang sudah kau rusak itu. ]
Tangannya mengepal dengan erat, hatinya sudah bertekad kuat...
" Kau tidak mau?. "
Dua makhluk dalam wujud yang berbeda itu, sama-sama dalam satu lingkaran sihir dengan cahaya ungu itu, mereka pun saling berhadapan, saling bertatapan penuh dengan arti.
Sambil mendongak sedikit ke atas, karena orang ini lebih tinggi darinya, Dania kembali menjawab.
[ Aku mana sudi masuk kedalam tubuh itu, dan kembali padamu!. ] Dan itulah jawaban terakhirnya , jawaban penuh dengan sorotan mata penuh percaya diri yang tinggi.
[ Itu tidak akan mungkin lagi untukmu ataupun untukku. Sekalipun kau berpikir aku memilih keputusan yang bod*h, justru itu jauh lebih baik. ]
Devon menghela nasfas.
" Baiklah kalau begitu. " Tersenyum lemah, akhirnya yang di pilih oleh wanita ini adalah lebih baik mati. Yah....sudah sepatutnya...
Karena selama ini, wanita ini pasti sudah muak berada di bawah kendalinya.
" JIka keputusanmu adalah itu........" Kata Devon
GREPP........
Tangan itu langsung mendarat ke lehernya, dan mencengkramnya dengan kuat.
"...............! "
Apa lagi yang bisa dilakukan laki-laki ini selain mencengkram lehernya?.
Padahal sekarang dirinya sedang dalam wujud yang lain ( Roh ).
Dania tidak peduli lagi akan hal itu.
Devon yang tadi sengaja menggantungkan kalimatnya, mulai berkata lagi.
" Maka keputusanku adalah memaksamu masuk ke dalam tubuhmu!. "
__ADS_1
GRRTTTT.......
Lebih erat........seakan leherenya sebentar lagi akan putus, ah.....apa pun itu, dia benar-benar tidak berkeinginan lagi untuk masuk ke dalam tubuh yang sudah rusak itu, karena ada tubuh lain yang jauh lebih menguntungkan dirinya.
Hidupnya bebas, meski satu per satu, ada musuh yang menghadang, entah itu siapa.
Itu justru lebih baik ketimbang bersama dengan orang ini.
Tapi.....Apa yang sebenarnya di miliki oleh orang ini?.
HIngga bisa mencekik lehernya?, penyihir?.
Dania tidak begitu percaya, tapi faktanya ada di depan matanya ini, sebuah tangan manusia, bisa memegang lehernya yang harusnya tidak bisa di sentuh.
Devon...dia terus mencengkram leher dari roh wanita bernama Alinda ( Dania ), mengangkatnya dengan begitu sadisnya, jika dalam wujud manusia, sudah pasti mati dalam kondisi tercekik.
Tapi dia....hanya merasakan sakit di lehernya.
Yah....apakah ini menyiksanya?.
Tentu saja, tapi apa ada yang lebih menyakitkan ketimbang menghadapi kematian yang sebenarnya?.
Jadi ini bukanlah, apa-apa.....
Sampai-sampai.......
[ Heh.............] Dia masih bisa tersenyum meremehkan, walau matanya mengernyit karena sakit itu sendiri.
" Di saat seperti ini saja masih bisa tersenyum, inilah...yang membuatku tertarik. " Ucap Devon, di kala tangannya membawa roh ini...mendekat ke sebuah tubuh yang terbaring di ranjang.
GRTTT.....
[ Be...gitu...kah?. ] jawab Dania dengan terbata-bata.
Tangannya Devon yang semakin mencengkram lehernya, ternyata...meski tanganya Dania berusaha untuk membalasnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang hendak di gapainya...yang ingin dia cakar itu wajah tak berdosa, semuanya seperti angin lalu saja.
Devon....setelah sampai di samping ranjang itu , dia mengangkat roh itu tinggi-tinggi, hingga setara dengan tingginya ( Devon ).
" Dengan begini, kita kan berjumpa lagi dengan tubuh aslimu!. " Setelah berkata seperti itu, Devon langsung membanting roh itu ke dalam sebuah tubuh manusia, dia memaksanya untuk memasukkan rohnya Alinda ke dalam tubuh itu.
Dan kalimat terakhirnya...sebelum masuk lagi ke dalam tubuhnya sendiri, Alinda berkata.
[ Itu pun kalau..bisa. ]
Devon medengarnya....
' Kalau bisa?. '
" Tentu saja bisa. "
Setelah memasukkan roh itu ke dalam tubuh, Devon melihat perubahan yang terjadi, roh itu kadang muncul dan menghilang, bagai lampu berkelap kelip.
Dan di satu masa, ada satu yang mengganjal di matanya, bukan debu yang masuk ke mata, tapi penglihatannya.....seperti....
[ Siapa itu?. ]
Sebuah keanehan terjadi.
Roh Alinda dengan penampilan terakhirnya adalah seragam militer, apalagi dengan rambut panjang yang di kuncir satu ke belakang, tapi ini!.
" Siapa k............'"
#############
Devon yang belum sempat menyelesaikan ucapannya karena merasa aneh dengan satu penampilan lain yang ia lihat dalam diri roh Alinda itu, dia langsung di ganggu oleh seseorang.
Siapa maksud dari penampilan lain itu?
Dan siapa yang mengganggunya?
__ADS_1
SIlahkan baca di next chapter berikutnya.
------------>>