Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Danie Vs. Rudolph


__ADS_3

" Pencapaian yang luar biasa, keberadaanmu membuat seisi stadion hampir penuh. Ini hukumanmu " ucap Rudolph dengan nada senang sekaligus benci.


" Tapi aku sudah minta ma- "


" Permintaan maaf mu tidak semudah yang kamu harapkan, pergi! "


Pintu masuk ke lapangan sudah dibuka, Danie di dorong dengan keras oleh Rudolph sehingga terhuyung hampir jatuh.


Seketika hening, apa yang dilihat mereka semua adalah benar adanya, yang akan melawan Rudolph adalah Danie.


[ Gawat......., kesalahan lagi ]


Tidak habis pikir sebenarnya mereka semua senang dan tertawa bahagia di atas penderitaan orang lain.


Ketika Rudolph masuk, semua orang justri berteriak memberikan semangat, lalu dilemparnya pedang ke arah Danie.


JLEBB....( Pedang tersebut menancap ke tanah, tepat di depan Danie )


Senyuman jahat pun Rudolph berikan pada Danie.


" Mulai ! "


Dimulainya pertarungan antara Rudolph dan Danie.


" Cepat ambil pedangmu!, Aku berikan kamu kesempatan menyerang duluan " ucap Rudolph untuk Danie yang masih berdiam diri di depannya, sedangkan pedang pun masih belum diambilnya.


" Tidak, aku tidak bisa melawanmu sekarang "


Semua penonton untuk sesaat diam, terkejut dengan ucapan Danie barusan.


" Hei!, bertarung lah! "


" Jangan membuat malu kami ! "


Teriak para penonton.


" Aku ti- " belum sempat menyelesaikan ayatnya, satu ayunan pedang dari Rudolph menghampirinya.


" Kalau begitu biar aku saja " dengan percaya dirinya Rudolph mulai menghunuskan pedangnya ke arah Danie.


SRING....SRING....


Dari sisi kanan lalu sisi kiri Danie hanya mengelaknya terus, ketika Rudolph menyerangnya dengan teknik tebasan dari kanan ke kiri, Danie langsung menunduk ke bawah.


[ Celah ] Rudolph segera mengisi celah milik Danie dengan langsung menedang bagian dadanya dan Danie secara otomatis terpental ke belakang dan sempat menghempap dinding pembatas.


"ERRGHH....."


BRAKK.......( Benturannya sangat keras dan membuat tanah dari lapangan berhamburan meyalang ke udara. )


Yang menonton sempat ternganga dengan tendangan rudolph barusan, sangat keras dan membuat sedikit keretakan di sana.


" Kalah sudah " tutur salah satu penonton.


" Berdirilah!, pestanya baru dimulai ! " teriak Rudolph dengan tatapan bengisnya.


Untuk sesaat Danie terdiam dengan rambut coklat temaram itu berserabai membuat sorotan matanya seperti tenggelam.


" Hmm.............., Pengguna bela diri dan pedang dari Kesatria Suci memang tiada duanya "


Danie yang duduk diam terpaku setelah menghentam tembok langsung berjongkok, lalu membersihkan wajahnya dengan lengannya secara bergantian sembari berkata.


" Kupikir lenganku akan patah saat menahanmu "


[ Lengannya menahan seranganku? , ternyata dia membaca gerakanku ] Fikir Rudolph dengan pandangan masih memperhatikan Danie yang sudah bisa berdiri lagi.


Tanpa membuang kesempatan Rudolph melancarkan serangannya, kini gerakannya lebih cepat.


" Kalau begitu, kau juga pati bisa melihat gerakanku ini, kan !? "


[ Cepatnya! ] Danie terbelak, melihat kecepatan Rudolph melebih kecepatan pukulan yang tadi, jadi ia segera waspada sebelum pedang di tangannya memenggal kepalanya.


Danie langsung berlari menuju dimana pedang tadi tertancap.


GREPP.....


Mengambil sembari sedikit membungkukkan tubuhnya dan langsung berhenti karena Rudolph sudah verpindah tempat ada di depannya, Danie segera merentangkan pedangnya ke depan wajahnya sebelum benar-benar membelah kepalanya itu.


" Apa kamu benar-benar ingin membunuh pendeta? "


" Hahahah....bisa menahan pukulan dan membaca gerakanku tadi, orang macam kamu mana mungkin seorang pendeta "

__ADS_1


" Aku juga berharap bukan seorang pendeta "


Di sisi lain--------------


" Bagaimana dengan semua kesatria yang akan ikut perang nanti? "


" Semuanya sudah dalam kondisi siap, hanya tinggal menunggu waktu saja, pemimpin "


" Apa hari ini ada latihan tanding lagi? "


" Ya, saya juga sedang mengawasi murid baru yang sudah dua kali kabur dari sini, jadi saya akan kesana lagi "


" Kabur? " Elvin sepintas melirik ke Felix dengan wajah tenangnya.


" Pasti ada alasan kenapa dia kabur bukan ? "


" Dia- "


Seketika ayatnya menggantung lepas melihat puluhan orang berlari menuju stadion.


Elvin dan Felix pergi mengikuti mereka semua, lalu Felix mencoba bertanya pada orang yang lewat..


" Apa yang sedang terjadi? "


" Katanya kesatria Rudolph menantang anak baru itu gara-gara tidak sengaja menabrak kesatria Rudolph " setelah selesai menjelaskan secara singkat, ia bergegas berlari pergi karena tidak sabar ingin menontonnya juga.


" Haih....sialan " Felix memijit keningnya sendiri, dan segera berjalan lebih cepat mengikuti pemimpin kesatria Elvin.


Kembali kedalam stadion.


" Rudolph..!!, semangat!...kalahkan dia!! "


HYAAA...( Sorak sorai menggema dalam stadion, memeriahkan acara yang tidak terduga itu )


" Dimana semangatmu yang tadi? "


" Aku hanya mempertahankan diri saja "


" .............. "


CTANG....CTANG.....


Danie hanya menangkis serangan dari Rudolph terus , itu sedikit membuatnya geram dan merasa dirinya diremehkan dan tidak mampu menumbangkannya.


Ia sedikit kewalahan jika terus menerus menahan serangannya terus.


Lalu di podium, berdiri sorang pemimpin kesatria Elvin, ia sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya walau ai kembali memasang wajah tenangnya lagi.


" Pendeta ?! " tutur Elvin.


Sekejap di dalam stadion suasananya langsung berubah menjadi hening.


Felix yang berdiri disamping peminpin Elvin juga tidak kalah terkejutnya dengan apa yang diucapkan Elvin.


" Pemimpin? "


Di saat yang sama ketika Danie hendak menyerang Rudolph, ia segera berhenti dimana Ia melihat Elvin memanggil dirinya(Danie) pendeta.


" Celahmu lebar ! " Teriak Rudolph.


CRAZZHHH.....


Tes...Tes.....Tes...Tes....


Felix segera turun langsung ke dalam lapangan, mencoba menghentikan situasi yang sudah diluar kendali itu.


Bukan lelucon lagi namanya, Dani melihat darah mengalir di lengan kirinya secara deras sehingga meneteskan darah merah segar, disaat menoleh ke arah Elvin tapi justru celahnya terbuka lebar sehingga Rudolph menyerangnya dengan telak, itulah yang terjadi , sehingga membuat lengan kirinya tersayat panjang bahkan bajunya bagian tangan kiri sudah koyak hingga perban yang selalu menyelimuti kulit tipisnya itu langsung lepas semua.


Rasa sakitnya langsung menjalar sampai ke ubun-ubun.


" Selama ini belum ada yang pernah melukaiku dengan seperti ini "


Rasa kemarahan yang selama ini terpendam seperti meluap, pedang yang ada di tangan kanannya langsung ia genggam erat.


[ A..aura membunuh yang kuat ]


Rudolph sangat tertekan dengan aura itu, kakinya terasa berat untuk di angkat, lalu dalam hitungan beberapa detik ia tahu kalau Danie hendak menyerangnya balik,jadi Rudolph harus bersiap siaga dengan serangan tersebut.


SRETTT.........


Dalam beberapa detik Danie mengayunkan pedangnya dan mengarahkannya pada Rudolph, setelah itu dengan gerakan lain yang ia buat secata cepat, ujung pedang milik Danie langsung menyabotase pedang Rudolph sehingga secara otomatis pedangnya terlempar.

__ADS_1


CLANGG.....


" A...apa ini peringatan? "


" Dia.. "


" Hebat "


" Sejak awal pemimpin yang menyebut dia pendeta, tidak mau melawan kesatria Rudolph, namun terus dipaksa "


PROK...PROK...PROK...PROK...


Ketika semuanya bertepuk tangan atas kemenangan Danie.


Sebuah tatapan dingin dari Elvin langsung diberikan.


"ERRR...." All


( Semua orang langsung terdiam )


[ Sakit sekali ]


Danie mengernyitkan matanya dan meringis kesakitan yang teramat sangat.


Pedang yang dipengnya ia lepaskan, disisi lain Rudolph masih terdiam kaku.


Danie hanya menjauhkan pedangnya saja dan setidaknya itu akan memberikannya pelajaran agar tidak mengganggu orang dan memaksa bertarung sepertinya sekarang.


[ menganggap remeh lawan padahal dia tidak tahu siapa sebenarnya yang dilawan, Itu adalah tamparan buat dirinya sendiri ]


Tetibe rasa basah menyelimuti pipinya, ketika diusap itu adalah air matanya sendiri.


[ Sakit sekali..!, aku tidak tahan ] Danie segera memegang lengan kirinya yang terluka itu, menggunakan kekuatan sucinya untuk menyembuhkan diri sendiri sambil berjalan tertatih agar bisa keluar dari lapangan.


Lalu tidak sengaja ia melihat Felix berlari menuju ke arah Danie.


" Danie ! "


Yang dipanggil melirik ke arah Felix.


[ Banyak sekali darahnya ]


Felix melihat darah di sekucur tangan kiri Danie, lalu ia juga melihat tangan kanannya itu memegang tangan kirinya yang pastinya sedang sengat kesakitan.


Lalu dengan sedikit terkejutnya, Felix melihat luka yang tesayat panjang dari atas sampai pergelangan tangan, sekarang lukanya sudah separuh menutup.


" Apa kamu...sudah percaya...aku ini dipanggil pendeta? "


"............"


Jujur saja ketika pertama kali pemimpin Elvin mengucapkan kata pendeta dirinya tidaak percaya, namun siapa yang meragukan ucapan dari pemimpin sendiri?. Jika Elvin berkata 'IYA' berarti harus 'IYA', dan barusan dia menyebut 'Pendeta' yang berarti Danie adalah seorang 'Pendeta'.


[ Sepertinya kekuatan 'Heal' ku sudah habis. ]


" Ah...." Danie terhuyung hampir jatuh, namun Felix menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Bahkan tanpa aba-aba apapun, tiba-tiba Felix menggendong Danie di punggungnya.


" Apa yang kamu..perbuat? " tanya Danie.


" Kamu banyak mengeluarkan darah, jika benar kamu pendeta, kekuatan sucimu pasti sudah tidak bisa dikeluarkan "


".............." Danie terdiam, memang benar setelah menggunakan semua kekuatan suci yang tersisa , kini sudah tidak bisa dikeluarkan lagi setelah mengeluarkan banyak tenaga serta darah yang keluar juga tidak kalah banyak.


[ Ternyata punggung seorang pria itu hangat, seumur hidup aku belum pernah merasakan digendong oleh laki-laki seperti ini ]


"............."


[ Dia ternyata bisa melawan Rudolph sampai seperti itu?, sebenarnya kamu orang yang seperti apa? ] walaupun Felix mengawasi Danie hingga 24 jam, tapi tetap saja masih belum mengerti sosok Danie itu seperti apa.


Ketika dihukum dengan hukuman mengepel lantai semua asrama Danie menuruti saja, mengikuti semua printah dirinya tanpa mengeluh sebelum benar-benar lelah di batas maksimalnya, lalu beberapa hari lalu juga Danie bisa keluar dari Akademi tanpa melewati pintu gerbang, sedangkan sekarang identitasnya merupakan pendeta namun bisa mengalahkan kesatria Rudolph yang merupakan kesatria tingkat dua darinya.


" Beberapa hari terakhir, aku terlalu memaksakan diri, ya? " Ucap Danie sambil menutup matanya sendiri dengan telapak tangan kanan.


Lalu telapak tangannya ia turunkan menutup kabawah setengah bagian dari wajahnya.


[ Aku membuang semua energiku hanya untuk hal yang membuatku menderita , tidak ada rasa kebahagiaan sama sekali. Tapi...digendong seperti ini , sekarang apa boleh buat?...rasanya............ menyenangkan ]


Di ayat terakhirnya itulah matanya terpejam, wajahnya terbenam di dalam dan mengistirahatkan kepalanya ke bahu kekar milik Felix.


Rambut silver dan mata berwarna biru itu sedikit menoleh ke samping dimana kepala dari orang bersurai coklat itu mengistirahatkan dirinya di gendongannya.


[ Dia tertidur.? ]

__ADS_1


Suara dengkuran halus terdengar oleh Felix, ia tidak habis pikir dengan orang yang digendongnya itu, setelah bertarung, dan mendapatkan luka yang lebar, namun bisa tertidur.


__ADS_2