
SYUHHHHH...............
Dalam seketika angin datang menyapa tubuhnya secara lembut, aroma air asin langsung menyerbak secara signifikan ke udara.
Panas sekaligus sejuk menyapa tubuhnya yang di balut oleh sebuah gaun putih dengan panjang tepat sebawah lutut, dan sebuah pita berwarna merah berhiaskan bunga melingkar di bagian pinggangnya.
Sekali pun berada di bawah cuaca yang terik, dia tetap memakai sebuah mantel coat berwarna kelabu yang juga memiliki panjang yang sama dengan dress yang dia pakai hari ini.
Dia berdiri di atas dek kapal yang dia naiki itu.
Menyelusupkan ke dua tangan ke dalam saku coat, dan berdiri tegak sambil menikmati sepoi-sepoi angin di laut.
Rambut sebahu yang bergerak-gerak seperti sedang menari-nari, dan gaun serta coat yang dia pakai pelan-pelan ikut berkibar, membuatnya menjadi sorotan untuk para awak kapal yang sedang memindahkan kotak peti kemas dari dek kapal ke dalam kapal.
Mereka secara tidak sadar terpesona sendiri hanya dengan keberadaan gadis yang sedang berdiri di situ.
Apa lagi warna pita yang terikat di kepangan terakhir di bawah telinga berwarna merah, itu senada dengan warna matanya yang terilhat....
[ Cantik. ] batin pria ini, tengah berdiri di depan pintu dengan alat pel di tangannya.
Mereka yang juga melihat keberadaan gadis itu, juga meliriknya dalam diam.
Sebuah tatapan yang begitu dalam, jauh entah kemana, meski tubuh itu sedang berdiri di sana.
Seakan tatapan itu sedang mengenang akan sesuatu yang di tungguinya.
SHAAAA~~
keberadaan sosok yang manis namun tidak bisa di gapai oleh mereka.
Itulah kenyataan pahit untuk mereka semua karena gadis itu hanya lebih suka menyendiri.
Gadis itu hanya menyapa dan berkata seadaanya, membuatnya terlihat dingin ketimbang penampilannya yang seperti gadis polos yang malu-malu.
*******
Setengah bulan sudah berlalu setelah kesepakatan yang dia terima dengan Archduke itu, mengenai menemaninya pergi ke salah satu pertambangan batu kristal yang ada di pulau.
Harusnya waktunya setengah bulan lagi, tapi keberangkatan jadi lebih di percepat dari seharusnya.
Dan kali ini, tepatnya hari ini dia akhirnya bisa berangkat.
"......................" [ Mereka melirikku?. ] batinnya. Dania secara sadar dengan aura tatapan mereka semua, karena dari tadi punggungnya terasa dingin.
Itu hanya insting yang dia dapat karena dari beberapa jam ini, dia terus mendapati tatapan dari para ABK.
Tapi apa gunanya itu?.
Yang terpenting sekarang adalah di mana keberadaannya di dunia ini hampir..
[ Hampir 3 tahun. ] Dania, atau nama yang kini dia miliki adalah Eldania.
Dia sudah berada di dunia lain selama kurang lebih hampir 3 tahun.
Setelah rangkaian kejadian yang dia alami, membuatnya kini berada di titik ini.
Semua pengetahuan yang dia bawa dari kehidupan sebelumnya, menjadi bagian hidupnya yang sekarang ini. Dan itu adalah sebuah keuntungan yang harus dia perhatikan dengan sangat hat-hati.
Karena dengan begitu, dia bisa memiliki keunggulan ketimbang manusia lainya yang ada di sini.
Memang, awal mula yang dia dapatkan adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena bereinkarnasi setelah kematiannya akibat kesalahan yang dia perbuat sendiri.
Tetapi pelan-pelan dia sudah menerima takdir mengenaskan itu, dengan menjalani hidupnya yang baru ini.
Bagai di era abad pertengahan, dan yang paling menonjol adalah akan keberadaan dari sihir, membuatnya benar-benar berbeda dengan kehidupan lalu-nya.
Dan yang paling mengejutkan adalah, di dalam tubuhnya memiliki kekuatan suci yang dapat menyembuhkan segala luka dan penyakit yang parah sekali pun dengan rentan waktu yang sangat singkat, juga kepemilikian dari energi sihir.
Sebuah takdir yang dimana Dania suka dengan dunia fantasi akhirnya terwujud, dengan tubuhnya pun juga memiliki mana alias mempunya kemampuan untuk membuat fenomena yang di sebut sihir.
Seperti impian akan imajinasinya yang selalu muncul itu.
Itulah keberadaannnya yang sekarang.
Mempunyai tubuh baru di samping mempunyai ingatan sebelumnya.
Memiliki kekutan suci, tapi juga mempunyai sihir, yang dimana Dania tahu benar bahwa keberadaan kekuatan suci dan sihir adalah dua hal yang saling bertolak belakang.
Jadi.......
Dia adalah orang yang baru saja memenangkan lotre besar!.
********
Eldania POV.
"..................." [ Laut........ ] Aku terus menatap laut biru yang berkilau karena pantulan cahaya matahari yang mulai terik ini terlihat cukup indah. Apa yang aku pandang adalah kumpulan burung camar yang sedang terbang bergantian menuju ke permukaan air, menunggu mangsanya.
Sejujurnya, sekalipun sudah berada di dunia ini selama beberapa tahun, aku masih tidak percaya, bahwa kematian yang aku buat karena kesalahanku sendiri, justru membawaku masuk ke dalam tubuh orang lain yang ternyata jiwanya sudah tidak ada.
Aku menatap ke tangan kananku, membuka tutup telapak tanganku dan secara sadar, pelan-pelan aku mulai terbiasa dengan tubuh yang awalnya lemah ini.
Awal kali masuk ke dalam tubuh ini, sangatlah meyakitkan, dan 20 kali lipat lebih lemah dari tubuh asliku.
Itulah mengapa, melatih tubuh lemah dari awal sangat menguras waktu dan kesabaran.
Dan jika kalian bertanya-tanya aku sering terluka dan kalah jika di hadapkan sesuatu, itu karena tubuh ini tidak bisa di kompromi dengan baik selain di paksakan, dan hasilnya.....mengira bahwa aku lemah?.
Itu karena salah tubuh ini yang lemah dari awal.
Menjadi kuat seperti tubuh asliku juga bukanlah hal sepele yang hanya bisa di ungkapkan dengan kata-kata saja.
Tapi dari sekian masalah itu, pelan-pelan aku sudah mengatasi kekurangan di tubuh fisik ini.
Lalu apa yang sekarang sedang aku lakukan adalah menemani pria ber status grand duke, dan biasa di sapa Archduke ini ke satu pulau.
Perjalanan panjang menuju pulau yang memakan waktu kurang lebih seminggu?!.
Bagiku itu cukup terdengar sangat lama.
Walaupun aku tidak tahu alasan kenapa dia membawaku, ada dua kemungkinan yang dapat aku simpulkan, yaitu menjadi pengawal pribadinya, agak konyol karena orang itu sendiri bisa menjaga dirinya sendiri, tapi mungkin saja ada alasan lainnya.
Dan yang ke dua untuk jalan-jalan bersama, walau terasa seperti sebuah dalih belaka.
Tap............Tap...........Tap........
Suara derap langkah kaki.
" Kamu tidak mabuk laut kan?. "
Suara berat milik khas dari Archduke langsung menyapa indera pendengaranku, aku juga tidak bisa berbohong bahwa aku bisa mengenali suara seseorang sekalipun aku tidak melihat orangnya langsung.
Aku menoleh ke belakang sambil menyelipkan helaian rambutku yang menari-nari karena angin, ke belakang telinga sebelah kanan.
" Aku juga tidak tahu. " Jawabku dengan singkat.
Satu permasalahan yang lainnya, aku tidak tahu apakah tubuh ini punya permasalahan ketika naik kapal, karena aku belum sekali pun mencobanya, dan hari ini aku akan mengetahuinya dengan pasti apakah aku akan mabuk laut atau tidak.
Tapi yang aku dapat di detik ini adalah, pria ini tiba-tiba menatapku dengan begitu intens.
[ Apa ada yang salah dengan penampilanku?. ] aku pun melirik ke bawah.
Dari rambut, aku sedikit mengepang rambut di bagian sebelah kiri, dan menambahkan pita berwarna merah, gaun putih yang tidak pernah aku pakai, baru kali ini aku pakai, karena aku punya bekas luka di ke dua lenganku, aku memakai mantel coat, dan untuk sepatu aku memakai sepatu bots karena lebih nyaman.
Archduke tersenyum tipis.
__ADS_1
Apa yang dia pikirkan?.
" Aku kira kamu akan memakai pakaian seperti laki-laki. Karena dengan begitu, tidak akan ada yang menatapmu diam-diam seperti mereka. " Kata Archduke, dia langsung melirik ke tempat lain dimana beberapa orang tadi menatapku secara diam-diam, dan keberadaan mereka langsung menghilang setelah apa yang Archduke ucapkan tadi.
Tapi aku langsung menatap kembali ke laut, tersenyum miring sambil menyibak rambutku ke belakang.
" Kadang kala aku juga ingin seperti ini. " aku menjawabnya dengan singkat saja.[ Yah......apa salahnya sengaja mencari perhatian mereka dengan gaya penampilanku yang feminim seperti ini. ]
Karena sebenarnya dari dulu, jika aku naik kapal untuk berlayar, aku selalunya pakai dress seperti ini, demi memperlihatkan bahwa aku perempuan manis.
Aku memangut-mangut setuju pada diriku sendiri.
[ Dan juga pada dasarnya aku mengakui diriku ini sudah lebih cantik, jadi aku bisa percaya diri memakai ini. Jika mereka melirikku, berarti aku memang bisa menarik perhatian mereka, dengan gaya feminim seperti perempuan normal. ]
Tapi di dalam otakku berkata lain juga.
[ Apa artinya, aku sedang membuat muka dua?. ]
Dan seketika itu, aku jadi membuat wajah berpikir.
" Jadi aku memang tidak sia-sia memberi dress seperti itu kepadamu. Tapi.......apa tidak repot jika sewaktu-waktu bertarung dengan memakai pakaian seperti itu?. " ucap pria ini kepadaku, dia mengikutiku dengan melihat ke depan dan menatap pemadangan laut yang di sibukan oleh sekumpulan burung camar terbang ke sana dan kemari.
Aku memiringkan kepalaku, lalu kembali menatap pria ini dengan seksama.
Apa yang barusan di katakan Archduke adalah 'bertarung' ?.
Apa yag dia khawatirkan tentang antara pakaian dengan pertarungan?.
Terkadang aku jadi di buat bingung dengan ucapannya itu, jadi aku terpaksa menjawab.
" Yang jadi repot itu jika aku memakai gaun panjang. Lagi pula Dress seperti ini malah justru lebih memudahkanku untuk bisa bergerak lebih banyak. "
[ Dia terlalu banyak berpikir. Mengkhawatirkan hal yang tidak berguna. Sekalipun aku memakai gaun panjang dan terpaksa bertarung, maka solusi tercepatnya tentu saja aku akan merobek kain berlebih itu. ]
Dan seseorang langsung menyela pembicaraan kami berdua.
" Maaf mengganggu perbincangan kalian. "
TIba-tiba saja seorang pria tua menghampiri kami, dia adalah nahkoda kapal ini.
Aku dan Archduke sama-sama menoleh ke arah pak tua ini.
" Saya harap yang mulia dan nona segera masuk, karena kita akan menerjang badai. "
[ Hah....kali ini mereka akan berjuang keras. ] Aku menghela nafas, aku tidak begitu menyadarinya tadi, tapi saat sudah di peringati oleh orang ini, aku sadar, bahwa sudah mulai ada gumpalan hitam di ujung cakrwala, lalu di tambah karena kencangnya angin yang datang, membuat kapal lebih cepat mulai memasuki gumpalan awan kelabu ini.
Aku pun sebenarnya jadi mencemaskan keselamatan dari semua hal yang ada di kapal ini. Aku tidak percaya jika kapal kayu seperti ini bisa menerjang badai, tapi apa boleh buat, aku harus menyaksikan kerja keras kalian mengatur kapal ini.
********
Normal POV.
Dan mereka bertiga langsung segera masuk ke dalam kapal, sekalipun menjadikan mereka harus melihat puluhan orang berlari keluar untuk menyiapkan hal terburuknya.
Pak tua tadi sudah pergi masuk ke dalam ruang kendali, sedangkan mereka berdua, tetap berjalan beriringan, sampai akhirnya Archduke kembali membuka suaranya.
" Sudah setengah bulan ini, dua kapal pengangkut hasil tambang tidak sampai ke dermaga. Mereka menghilang setelah menerjang badai, dan mungkin yang di maksud adalah ini. " jelas Archduke kepada Dania dengan singkat.
Dania yang mendengar penjelasan singkat pria itu, langsung menghentikan langkah kakinya. memutar tubuhnya ke belakang sehingga mereka berdua berdiri saling berhadapan.
" Jadi itu sebabnya aku di ajak ke sini?. "
Tanyanya, sambil berpikir dalam diam.[ Tapi kalau iya, kenapa orang seperti dia malah ikut dalam urusan seberbahaya seperti ini?!. ] Sejujurnya, bibirnya sudah berkedut ingin menyumpah serapah orang bod*h ini secara terang-terangan, tapi tidak bisa dia lakukan sesuka hati.
" Hm....., katamu ingin membalas semua kebaikanku. Aku percaya dengan kemampuanmu, maka dari itu aku memintamu untuk membereskan masalah ini, apa kamu bisa?. "
" Ya. " dengan anggukan kecil, Dania menyetujui itu.
Karena pada akhirnya kebaikan yang dia terima, bisa dia kembalikan kepadanya, jika memang itulah kemauannya.
" Jika mau berpacaran, lebih baik pindah ke kamar. Jangan menghalangi jalan. " pungkas seseorang yang berjalan cepat melewati mereka berdua.
".................! "
Kesal di katai pacaran lah, kekasih lah, Dania sontak langsung menyambar jubah pria itu.
SRETT.........
" Akhh....! " tubuhnya otomatis sedikit terhuyung ke belakang gara-gara seragam berjubah yang di pakainya, langsung mencekik lehernya, sebab Dania menariknya dengan kasar.
Archduke pun sebenarnya sedang menahan tawanya, melihat adegan di depan matanya ini, jadi dia sedikit membungkuk lalu segera berbisik di telinganya Dania.
" Dia adalah komandan kesatria angkatan laut, kamu bisa bekerja sama dengannya. "
Lalu tangan kanannya mendarat tepat di atas kepalanya Dania.
PUK......
Mengelus sedikit kepalanya, sebelum akhirnya Archduke memutuskan untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua, agar bisa memberi mereka berdua waktu untuk saling memahami dalam artian lain, karena terlihat jelas, wajah gadis ini sudah kesal karena ucapannya tadi.
Dania yang masih memandang sosok pria yang jubahnya sengaja dia tarik, hanya menatapnya dengan sorortan dingin.
" Lepaskan. " pinta pria ini, sambil adu tarik dengan gadis berambut coklat ini.
[ Bekerja sama dengan orang seperti ini?. ] masih menatapnya dengan datar, dia tidak begiu yakin jika harus berkerja sama dengan orang lain, apa lagi seperti orang yang di sebut sebagai komandan ini?!.
" Tidak mau. " ketusnya. [ Mau bertarung dengan pakaian berjubah seperti ini juga?. ] beralih menatap ke jubah berwarna hijau tua yang sedang dia cengkram itu.
Dania jujur saja semakin ragu, sudah lagi cuma berjalan cepat saja, sudah membuat kain berlebih di belakang punggung ini bisa langsung dia tarik, lalu apa jadinya jika sudah berada di dalam mode pertarungan?.
Dia sebenarnya sedikit heran, kenapa orang-orang di sini, lebih tertarik dengan baju yang memiliki sebuah jubah dibelakang punggungnya, padahal keberadaannya itu bagi Dania sendiri cukupplah mengganggu, karena bisa menjadi penghambat jika sedang bertarng atau pun ketika di saat-saat seperti ini.
Maka dari itu bisa jadi, saat pria ini dalam posisi jongkok, secara tidak sengaja Dania bisa saja menginjak jubah ini.
SRET.....
Pria itu menarik lagi dan tidak mau kalah, tentu saja Dania kembali menariknya lagi, berusaha mempermainkan orang ini, setelah ucapan yang mengesalkan itu.
" Kenapa tidak lanjut saja pacaran, atau lebih baik duduk diam saja di kamarmu. " dan tangan kanannya menarik kembali jubahnya dengan paksa sampai...
Secara sengaja, Dania melepaskan cengkramannya di detik itu juga, membuat orang ini hampir terhuyung ke belakang.
[ Dia ini...!. ] ikut ter povrokasi dengan tindakan gadis ini.
" Dari mana asal kesimpulan itu?. " Akhirnya Dania bertanya demikian.
" Lagian........jika kamu memang komandan kesatria, harusnya tahu siapa orang tadi kan?. " Dia sengaja berbicara seperti itu, agar sadar bahwa ucapan dari pria ini tidaklah pantas, karena yang dikatainya tadi adalah orang terhormat.
Dania berpikir seperti itu, tapi sebaliknya, justru pria yang di sebut komandan ini malah menggeleng pelan.
" Siapa dia dan siapa kamu, aku tidak peduli, yang penting pergi dari koridor ini sekarang juga karena sebentar lagi akan ada yang datang, jadi sebaiknya jangan meperburuk situasi. " peringatnya.
Seketika Dania terdiam, dengan ekspresi wajah seperti orang yang tidak paham dengan ucapan orang ini.
[ Dia bilang tidak tahu siapa Archduke?. ] Dania bingung, harusnya orang ini tahu siapa bangsawan ternama tadi.
Tapi jawabannya adalah, dia ini tidak tahu siapa Archduke, padahal Archduke sendiri tahu dia siapa.
[ Atau.....dia menipuku?. ] Dania mulai berprasangka buruk kepada Archduke, berpikiran bahwa dirinya di tipu.
Tapi dia berusaha menyangkalnya, karena ada sudut pandang lain yang Dania dapatkan, yaitu......bocah ini memang tidak tahu siapa Archduke tadi, karena tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi lain hal denga Archduke...dia bisa memiliki banyak informasi mengenai identitas orang lain dengan mudah, karena pada dasarnya, seorang bangsawan harus mengenal lebih jauh orang-orang yang bahkan belum mereka temui secara langsung.
[ Memangnya aku harus tahu kalian?, aku hanyalah orang yang menumpang kapal ini untuk pergi ke pulau itu dan melanjutkan perjalananku pulang ke negaraku. ] fikirnya dan di masa yang sama itu pula, suara keras..
BUARRHHH..............
__ADS_1
Langsung menggema di lautan luas itu.
"..................!. " All.
Kapal yang kemudian terombang ambing di atas air laut yang mulai menunjukkan keganasannya pun membuat dua orang ini hampir saja kehilangan keseimbangannya.
Seketika Dania bertindak lebih cepat, sebelum laki-laki berambut merah dengan iris mata violet ini menimpa tubuhnya.
Tentu saja itu karena gerakan refleksnya yang lebih cepat ketimbang gaya gravitasi bumi, di mana tangan kanannya mencengkram tepi daun pintu dan tangan kirinya langsung saja menahan dada bidang laki-laki ini sebelum mereka berdua benar-bena terjatuh dan terseret sepanjang koridor kapal.
" Hampir saja. " kata Dania denga nada pelan setelah menghela nafas dengan kasar.
Dia hampir saja benar-benar menerima berkah dari tubuh laki-laki ini karena selain memang tampan, tubuhnya pun tidak kalah menakjubkan, tapi semuanya langsung tertahan demi menjaga jati dirinya yang seorang perempuan, meski dalam hati dia mau-mau saja di timpa pria ini.
Tapi apa kata tuhan dan mata yang membaca?. :)
Sebuah pertemuan herem, hanya itu yang bisa dia katakan. Belum lama si Arhes, Erich, Elvin, tapi sudah bertemu dengan pria lain...
" Kau!. " matanya membelalak, melihat dadanya di sentuh dengan sembarangan oleh gadis ini.
Dania segera menyelanya dengan cepat.
" Maaf saja, tapi aku tidak mau tubuhmu menimpaku. " Sebenarnya tidak ada yang rugi, tapi hati nurani harus berkata lain.
Jadi dia segera mengangkat tangannya setelah kapalnya kembali dalam posisi sempurna.
" Itu tidak akan terjadi. " ketusnya, sambil mengibas kibas pakaian yang baru saja terseentuh oleh tangannya Dania tadi.
" Ya...aku percaya itu tidak akan terjadi, karena aku sudah menghalangi itu semua. " jawabnya dengan selamba. [ Apa dia punya phobia?. ] atau hanya merasa jijik terhadapnya, Dania tidak tahu, karena yang dia tahu sekarang ini, adalah untuk membereskan masalah yang membuat kapal pengangkut kristal mentah menghilang dan berhasil merugikan Archduke itu.
Dan sekali lagi, informasi yang dia dapatkan juga memang benar, bahwa beberapa kapal lain yang melintasi laut Ertopia, yang merupakan jalur internasional ikut menghilang juga.
Berkat informasi yang diam-diam tersebar dan Dania ikut mengetahuinya, jadi memang tidak dapat di ragukan lagi kalau Archduke benar-benar membutuhkan bantuannya agar permasalahan ini segera terselesaikan dan sekaligus membalas kebaikan orang tersebut.
" Ya...baiklah. " mengangkat ke dua tangannya seolah menyerah. Ya...dia memang menyerah, malas berurusan dengan orang ini, karena ada hal yang jauh lebih penting lagi.
Entah siapa laki-laki yang di sebut sebagai komandan angkatan laut yang di ucapkan oleh Archduke ini, Dania segera memutuskan untuk pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sebenarnya memang itulah niatannya, tapi di saat sama-sama baru mengambil dua langkah pertama mereka, guncangan kapal pun terjadi lagi, dan di saat ini, kondisi kapal pun miring, sampai-sampai membuat mereka langsung tergelincir....
BRUKK......
Pria bersurai merah itu terjatuh dan...
GREPP..........
Tangan pria ini segera menggapai pergelangan kakinya Dania, karena Dania lebih dulu menggapai daun pintu dan bersender di sana di pintu, sehingga tidak ada masalah soal terjatuh dan meluncur sampai ke ujung lorong.
[ Dia....bisa santai di saat seperti ini?. ] melirik ke pergelangan kaki yang sedang dia cengkram, tidak ada tanda-tanda bahwa gadis ini kesakitan menahan tubuhnya yang lebih dominan berat.
".................. "
Mendapatkan tatapan dingin dari gadis ini, dia benar-benar sedang di rendahkan olehnya ( Dania ).
[ Hmm...... ] Tiba-tiba saja Dania merenung, dia merenungi dengan nasibnya. [ Di saat seperti ini, jika memang tidak mau jatuh saat kapal miring seperti ini, harusnya dia lebih dekat dengan pintu. ] karena hal sepele seperti inilah, justru sangat menguntungkannya saat dalam kondisi terdesak.
Dania seketika mengernyitkan matanya, melirik ke bawah.
Tangan besar yang sedang mencengkram pergelangan kakinya itu, sungguh benar-benar tidak terduga, saking kuatnya, sebenarnya kulitnya mulai memerah karena tekanan yang cukup kuat dan bertenaga itu.
" Mau sampai berapa lama lagi mencengkram kakiku seperti ini?. " tanya Dania pada orang ini dengan nada yang sedikit di tekankan, agar segera sadar, bahwa perbuatannya bisa termasuk dalam pelecehan.
" I-itu...!. " Segera melepaskan cengkramannya, setelah merasakan bahwa posisi kapal sudah di posisi normal.
Entah seberapa lama lagi akan mendapatkan guncangan, yang terpenting adalah harus mempersiapkan diri.
Dan secara sengaja Dania pun mengelus-elus kaki yang tadi di jadikan korban cengkraman laki-laki ini, karena pada dasarnya sudah memerah dan lumayan sakit.
Dia sebenarnya tahan saja dengan sakit itu, tapi dia sengaja melakukannya, untuk mencari perhatiannya, bahwa orang ini patut merasa bersalah, bertindak menyakiti seorang gadis, sampai memar seperti ini.
" ..................... "
" Pergilah, ini tidak seberapa sakit. " tutur Dania kepada pemuda ini, seolah-olah tidak apa-apa.
[ Tapi perilakumu seperti mengharapkan aku bertanggung jawab. ] Tatap pemua ini, melihat gadis di hadapannya sedang berjongkok dan mengelus kaki yang tadi dia cengkram.
[............, Tunggu........Kenapa aku tiba-tiba merasa khawatir?. Aku bisa mengobatinya nanti. ] Sekilas otaknya langsung beralih pikiran.
Pemikiran paling logika mengatakan bahwa memar merah itu, bisa di urus nanti, dan lebih mementingkan fakta sebuah musuh yang sudah bersiap, menghadang di depan sana.
" Jika itu permintaanmu, aku akan pergi. " dengan nada datarnya, laki-laki ini pun pergi meninggalkannya!.
TAP.......TAP.......TAP.......
DRAP..........DRAP.......DRAP......
Awalnya dia berjalan kaki, tapi di langkah ketiga...dia langsung berlari.
"........................"
[ Aku di tinggal!. ] salah perkiraan, Dania berpikir kalau laki-laki tadi akan bersimpati, tapi tidak!. " Hah...?!. "
Mengabaikan kalau orang tadi sudah pergi, sesuatu yang akan segera menghampirinya, membuat Dania segera melompat mundur dari depan pintu itu.
BRAAKKK............
Benar saja, dari balik pintu....sesuatu yang panjang dengan daging tebal berhasil menembus pintu kayu sampai berlubang seperti itu!.
" Errr..........itu....." Dania sedikit menengadah ke atas, dia melihat banyaknya lingkaran-lingkaran merah di bawah gumpalan daging berwarna hijau itu. [ Seperti tentakel?!. ]
Di dalam kepalanya yang terlintas hanya satu hewan saja yang memiliki tentakel seperti itu, yang tidak salah lagi adalah Gurita.
***********
Di atas dek kapal.
Deburan ombak yang ganas tidak menyulutkan sebuah monster besar untuk mengusik keberadaan kapal ini.
Pemuda berseragam putih dengan jubah hijau tadi sudah berada di posisinya, melirik ke kanan dan ke kiri, para ABK mundur ke belakang dan mencari posisi yang tepat untuk bersembunyi, karena perintah dari anak muda yang terlihat seperti kesatria itu.
" Itu...Devil Fish Kraken. " kata pemuda ini, setelah melihat monster yang harus dia hadapi adalah sebuah...
" Gurita!. " sela gadis ini .
Seketika matanya melirik dan melotot tajam
" KAU!. " pekiknya, sedikit terkejut melihat orang yang bilang ' Gurita' tadi adalah gadis barusan.
" Aku bilang untuk pergi dari sini kan?!. "
Lalu yang di dapatinya, hanya senyuman masam dari gadis ini.
" Bagaimana aku bisa pergi?. Jika aku sudah punya tugasku sendiri. " Jawab Dania, dia tidak mengatakan siapa orang yang memberinya tugas, tapi apa yang sedang di lakukannya sekarang memang adalah pekerjaannya saat ini.
Tepat setelah berkata seperti itu.....
BRUGHH.......
Semua orang mundur ke belakang, setelah hampir saja tertimpa gumpalan daging berwarna hijau itu.
" i-itu....... tangan mosnter itu.." ucap seseorang di belakang mereka.
Tentu saja beberapa di antara mereka ada yang merasakan merasa jijik dengan gumpalan daging sebesar itu, sudah lagi warnanya hijau, lalu darah juga cairan hitam menjadi kuah dari daging itu sendiri. Siapa yang tidak merasakan jijik jika sudah melihat hal seperti ini.
GRAAAAHHHH.........
__ADS_1