Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 106


__ADS_3

Yah bawah... arah tatapannya pun berhenti tepat di situ. ' Itu '


[ Ishid ini anjing berahi nya Yunifer. Tidak...tidak....kenapa aku jadi berada di situasi semacam ini. Kenapa aku jadi teringat hal itu terus.! ]


" Ahahhahaa.... " tertawa getir dengan kondisinya sekarang ini.


" Apa ada masalah?. "


Segera menoleh ke arah Ishid.


[ Yha!, karenamu otak aku jadi dalam mode imajinasi 18+ ]


Rasanya ingin menggigit jari tapi tidak bisa, jadi Dania kembali berdiri namun dalam kondisi berhati-hati.


" Tentu-tentu.....kita harus mencari jalan keluar. " Jawab Dania tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


[ Aku harus membuang pikiran itu!. ] Menepuk-nepuk kepalanya agar bisa menghilangkan pikiran kotornya.


Ishid tidak tahu apa yang sedang di pikirannya Dania, tiap detik ekspresinya seketika berubah.


[ Padahal beberapa waktu lalu aku baru memotongnya karena aku marah, gara-gara Iblis itu....... ] Langkahnya seketika terhenti lalu kepalanya menunduk ke bawah.


[ Bener nih?, aku sudah tidak perawan?. Tapi aku tidak mengerti bagaimana pria langsung tahu si perempuan masih perawan atau tidak.] Dania pun menggeleng sambil menghela nafas panjang.


" Sebenarnya saya bisa ber teleportasi asal di luar sana ada seseorang yang membuat api. " ucap Ishid.


[ Ah...ya, aku tahu. Waktu itu, setelah pulang kerja di bawah turunnya hujan, setelah kamu mengantar Yunifer pulang, kau mandi dan menunggu di kamar mandi sambil memikirkan apakah dikamar Yunifer sudah membuat api pemanas ruangan atau belum. Setelah tahu ada percikan api di kamar Yunifer, kau langsung beranjak dari rumah dengan pakaian oblong dan minum obat kontrasepsi. Setelah itu kalian berdua.....Ugh...]


Dania tidak bisa melanjutkan ayatnya dan mejamkan matanya kembali.


" Hihihi... " mencoba menahan tawa, tapi rasanya tak sempat di tahan karena keburu keluar cekikikan halus.


Sebenarnya wajahnya sekarang ini sedang dalam kondisi merona karena sudah tak bisa membendung pikiran liarna lagi jika sudah menyangkut dua orang ini ( Ishid dan Yunifer ) komik yang sering dibacanya dari awal hingga Akhir.


Tapi alhasilnya, dirinya juga masuk kedalam situasi mereka berdua dan berpikir kalau dirinya mengacaukan jalan ceritanya juga.?.


Entahlah, Dania tidak tahu. Yang paling penting hari ini adalah keluar dari dalam gua.


Ia merasakan ada sesuatu di balik dinding gua itu, jadi Dania berjalan mendekatinya dan mulai meraba dinding.


[ Jika aku bisa bernafas di sini, berarti ada lubang yang lain dong? ] Tapi hatinya tetap terpaku pada dinding yang sedang ia sentuh dan...


Dania menghadapkan wajahnya ke dinding dan menutupi samping kanan dan kirinya lalu,.


" Jilat.. "


[ Wah....asin! ] terkejut karena indera perasanya lumayan tajam juga.


" Kalau anda mau ber teleportasi, silahkan. Tapi.. " Dania menoleh ke arah Ishid.


"....setidaknya bantu lubangi dinding ini. " menunjuk ke arah dinding batu yang baru saja ia jilat.

__ADS_1


" Apa anda menemukan sesuatu?. "


" Ya!?, asin. " dengan senyuman garingnya.


" Maksud anda, dinding itu rasanya asin?. "


[ Jadi tadi dia benar-benar menjilatinya? ]


" Saya akan tinggal disini sedikit lama, jadi kalau mau di tinggal juga tidak masalah. "


Ucap Dania, ia benar-benar ingin menikmati..


" Laut, karena saya ingin melihat laut lagi. "


[ Aku sudah lama tidak melihat laut biru setelah saat itu. ] Sesaat setelah peristiwa dirinya melompat ke laut dari jet pribadi milik bosnya yang akan meledakkan dirinya juga jika tidak segera melompat.


"............., Kalau begitu anda mundur dulu. " perintah liarna


[ Laut?, apa benar di balik dinding ini laut?. ] Fikir Ishid.


Dania menurutinya, Ishid Lucrenze si pemilik roh api pun mengeluarkan api dari tangan kosongnya itu dan kemudian menembakkannya ke dinding gua tersebut sesuai permintaan Dania..


DUARR.......


Kepulan debu dari sisa batu yang hancur itu berterbangan dan membuat keduanya.


" Uhuk....uhuk...uhuk.. " terbatuk-batuk.


SYUHHH.......


BYURRR........


BYURR.........


" Tebakanku memang tidak salah, laut.! " gumam Dania, ia merasa senang.


Selain akhirnya dapat menemukan jalan keluar, ia mendapatkan harta karun berharga yaitu sebuah pantai pasir putih yang terbentang kira-kira 500 m jika dilihat dari atas gua itu.


Yah...meski sudah menemukan jalan keluar, sayangnya keadaannya adalah gua itu terletak di tepi laut dengan ombak besar menghantam karang di sekitarnya.


BYARRR......


" Wahhh.....asin! "


seketika pecahan ombaknya menerpa tubuh mereka dan merasakan sensasi asinnya air laut secara cuma-cuma.


" Ini laut? "


ishid terpana akan indahnya air biru yang luas dan pantai pasir berwarna putih itu.


[ Tapi bagaimana caranya turun?, tubuhku lelah jika digunakan untuk mengeluarkan tenaga lagi, lompat sana lompat sini, ini lebih berbahaya karena bisa saja terpeleset lalu jatuh dan tersapu ombak dengan akhir membentur karang. ]

__ADS_1


Sekali lagi pecahan ombak itu menerba tubuhnya lagi.


" Kita harus turun dari sini. " Mengulurkan tangannya ke depannya Dania.


" ............."


Gelaannya itu mendakan Ishid terpaksa melakukannya.


" Maafkan saya. " Ishid melangkah lebih dekat ke arah Dania dan berakhir berhenti di sampingnya.


Sebelum akhirnya, kedua tangannya itu dia letakkan di belakang punggung dan satunya lagi di belakang lututnya yang dimana akhirnya, Ishid mengangkatnya.


" .........! "


[ Kayanya ini pertama kalinya buatku di saat sadar?. Kyaa.....nyaman banget, jadi begini rasanya digendong ala bridal stayle. ]


Di kala bajunya sudah basah kembali yang di ikuti rasa dingin karena hembusan angin yang kencang itu, ada rasa sedikit kehangatan ketika kulit tipis yang terhalang pakaiannya sedang bersentuhan.


Degupan jantungnya Ishid terdengar jelas di telinganya, maski begitu suara degupan jantungnya bisa dibilang normal.


[ Ya...iya lah, kan aku bukan siapa-siapanya. ] Fikir Dania.


Eloknya keindahan pantai pasir putih itu adalah tempat yang terlihat cukup menyenangkan.


[ Dan kalau ada perahu, aku ingin sekali menangkap ikan dan makan ikan salmon. ] fikirnya lagi.


Saat menuruni batu demi batu, tak sengaja Dania melihat sesuatu yang berkilau, asalnya dari tepi sungai yang mengtepikan airnya langsung ke laut setelah adanya air terjun kecil itu.


Akhirnya Dania di turunkan dengan pelan setelah sampai di atas pasir pantai.


Tak lupa, ia mengucapkan terima kaskasih.


" Terima kasih. Sekarang anda boleh pergi. " ucap Dania sambil memunggungi pria tersebut.


Dia berjalan melangkah ke hilir sungai yang terlihat jelas kalau baru saja tercipta belum lama ini. Dania mendekati benda kecil berkilau berwarna biru itu, setelah di perhatikan dengan jelas.


[ Ini kan kalung ku? ] memungutnya kemudian ia pakai kembali.


Setelah memakaikan kalunhnya di leher, Dania memutar tubuhnya kembali dan menemukan..


" Kenapa anda masih disini? "


" Saya adalah komandan, melihat saya pulang sendirian, apa yang akan terjadi mengenai para anak buah saya?. "


Eldania 4


" Bukankah tinggal katakan saja kalau saya sedang istirahat di suatu tempat?. Lagi pula, anda sepertinya juga sedang berharap bertemu seseorang secepatnya. " Jawab Dania, ia tahu betul pria di depannya ini sedang ingin kembali secepatnya agar bisa bertemu Yunifer, tapi siapa jiga yang mau mengatakan pikirannya itu yang sebenarnya kepada Ishid.


Karena dalam beberapa hal, menganggap ketidaktahuan urusan seseorang akan lebih baik. Karena jika memberitahukannya, maka memungkinkan dirinya akan di bubuhi belbagai macam pertanyaan, dan pertanyaan utamanya adalah


' Bagaimana anda bisa tahu? '

__ADS_1


__ADS_2