Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. Extra 37


__ADS_3

" Kalau kalian mau ikut turun tangan, aku akan menurunkan sepertiga pasukan penjaga untuk menyelidiki gerbang tak kasat mata yang ada di hutan. Bagaimana?. " tanya sang pemilik kastil, sang penguasa yang mengurusi kota.


" Yah...ya, itu lebih bagus dari pada tidak ada kemajuan. " jawab sang perdana mentri, dan merupakan salah satu korban dimana keponakannya juga menghilang.


" Saya juga setuju. "


" Saya juga. " ikut menyetujui pendapatnya.


" Kalau begitu, sudah di putuskan. Siang ini, kalian bersiap- "


Dan hasil musyawarah akhirnya menemukan jalan juga. Mereka berkasak kusuk untuk berdiskusi dengan hal lainnya.


__________


" Shera!.. " teriaknya lagi, entah sudah berapa lama Arhes mencari Shera, ia tak kunjung mendapatkan sisi terang.


' Ikuti kata hati '


Arhes teringat ayat itu, tapi..


[ Apa maksudnya?. ] mengikuti kata hati, tapi dilihat bagaimanapun dirinya seperti masuk di dalam labirin yang tak berujung, dengan pohon kering sebagai penemannya.


" Kalau kata hatiku mengatakan kalau sebentar lagi aku punya petunjuk..... " gumamnya, memperkirakan isi hatinya sendiri.


[ Apa akan ada perubahannya?. ]


DRAP....


DRAP.....


DRAP.....


DRAP.....


" ........... ! " terdengar suara kuda dari belakang, Arhes secepat kilat langsung menoleh ke belakang.


" Kakak!. "


[ ............! ]


Agak tidak percaya dan percaya juga, tidak percayanya kalau isi kata hatinya ternyata terwujud, dan faktanya Shera ada di hadapannya, apa lagi sudah bisa menunggangi kudanya sendiri?.


[ Tunggu,...... ]


"............." Arhes merasa masih kehilangan seorang lagi.


" Kakak!. " teriak Shera lagi.


TAK....TAK....TAK...


Dan berhasil mengendalikan kuda-nya agar memperlambat dan berhentikan kuda-nya.


" Apa kau baik-baik saja?. " Arhes langsung turun diikuti oleh Shera, dan saling berpelukan.


" Hmm... " disertai anggukan kecil saat kepalanya masuk kedalam pelukan dengan dada bidang milik kakaknya yang lebar, ia jadi merasakan nyaman dan aman.


" Tapi kenapa kau sendirian?. Dimana dia?. "


" Kakak itu, dia tidak ikut. "


" Iya, tapi alasannya apa?. " tanya Arhes dengan seidkit penekanan, soalnya gadis itu dalam statusnya yang sekarang juga sebagai majikannya, jadi merasakan khawatir.


" Aku tidak tahu, kakak Dania tidak menjawab pertanyaanku dan langsung pergi. "


" Pergi kemana?. "


" Ke dalam gua, disana ada goblin. "


[ Apa!, goblin hijau yang itu?. ] matanya langsung mengernyit.


《 Arhes sebagai orang yang belum pernah sekalipun bertarung apa lagi melihat goblin. 》


SYUHT.......


Sekilap mata, Arhes dan Shera mendongak ke atas. Burung itu terbang melesat dengan cepat ke arah dimana tadi Shera datang.


" Ayo....kita pergi mencarinya. " perintah Arhes.

__ADS_1


" T-tapi...disana ada goblin...me-mereka...merrka tadi hampir....hiks... " Shera menggeleng kuat.


" ............! " tanpa sadar, Arhes meminta sesuatu pada adiknya untuk ikut kembali ke sarang goblin tanpa pikir panjang, bahwa adiknya menangis ketakutan pasti karena hampir tejadi sesuatu dengannya.


" Ma-maaf....aku tidak memikirkan perasaanmu. " memeluk lebih erat sambil mengelus kepala adiknya.


{ Perempuan ( Dania ) itu majikanku, dia bagianku. kau urus saja gadismu itu dan cari jalan keluar. }


Ucap Everst dengan menghunakan sebuah telepayi kepada Arhes.


" ............. "


[ Dia bisa ber-telepati dengan ku?. ]


{ Berisik. }


TUT....


Bak panggilan telfon terputus, telepati antara Everst dan Arhes sudah terputus, dan yang memutuskannya adalah Everst secara sepihak.


" Kalau begitu, kita sekarang cari jalan keluarnya saja. "


" Tapi, bagaimana dengan Kak Dania?. "


" Tenang, dia itu lebih kuat daei yang kamu kira. "


[ Semoga saja. ] membatin dengan senyum tawar.


_______________


" Tolong..., keluarkan kami. "


TRANG...!


" Berisik!. "


Jeruji besi itu di pukul keras dengan batu, sehingga mwnimbulkan bunti nyaring yang keras dan membuat semuanya terdiam membisu.


" I..ibu, aku takut..dan ini dingin. " kata anak muda yang masih berusia 12 tahunan itu. Mendekap ke ibunya, dia menciba menahan isak tangisnya.


" ................... " Sang ibu tidak bisa berkata apa pun karena di tarap terus oleh para goblin yang berjaga di sekitar penjara, jadi ia hanya bisa membalas pelukan anaknya dan mengelus-elus rambut kusutnya untuk menenangkannya.


CRAZHH.....


CRAZHH.....


" Apa disana!. Cepat selidikki!. " pekik salah satu goblin saat mendengar anak buahnya tengah berurusan dengan sesuatu yang berba-.....


TAP....


TAP....


TAP.....


Langkah terakhir itu berhenti tepat di tengah pintu masuk dari ruangan penjara bawah tanah.


" ................... "


" Siapa?!. " goblin ini bertanya dengan lantang, ketika sepasang mata berwarna kuning pucatnya itu bertemu dengan seorang manusia dengan wajah dan kepala tertutup dengan sempurna, maka ia lalu memberikan kode ke anak buahnya yanga da di sekitarnya untuk langsung menyerang.


Tapi sosok tersebut justru menoleh ke samping kiri dan langsung melesatkan lariannya dengan cepat.


" ARRRGHHH.....! " Erangan yang begitu memekikan telinga menggema di dalam gua, suara berar dengan nada yang cukup tinghi, sudah memberikan kesan bahwa pemilik suara ini adalah sosok yang besar.


BRUKHH.......


" Hyahhh...! " puluhan kawanan goblin yang baru diperintahkan untuk menyerang, berlari keluar untuk membunuh manusia pengancam itu.






__ADS_1










Tak butuh lama, sebuah erangan yang memilukan..


" Kyaakkk.... " dengan durasi yang sama beberapa goblin membuat teriakan yang sama.


CRATTST.......


Di akhir, terlihat darah yang muncrat sampai ada beberapa diantaranya masuk dan menodai tanah tepat di pintu masuk ruangan penjara.


Disertai sebuah kepala daei bawahannya yang menggelinding tepat ke depan jeruji besi.


" Aah..! " All.


Takut melihat wujud dari kepala goblinnya saja.


Satu goblin yang dari tadi memerintah langsung mengambil langkah mundur dan...


DRAP...DRAP...DRAP.....


Berlari menghindar dan meninggalkan para tawanan.


TAP...


TAP....


TAP.....


Sosoknya kembali datang, dia masuk ke dalam ruangan yang merupakan penjara untuk memenjarakan para wanita.


" Tu...tuan?, apa anda penolong kami?. "


"................" tanpa menjawab pertanyaan, ia mengayunkan pedangnya dan..


CKLAKK....


Rantai yang memborgol pintu besi, langsung putus.


Dia membukakan pintu penjara itu dan terlihat, ada puluhan perempuan tengah duduk dan saling peluk sana peluk sini untuk menahan rasa dingin yang menerpa kulit tipis mereka secara langsung itu.


" Kalian..... "


Iris mata berwarna Ruby itu langsung membesar karena ia menyadari bahwa....


" Hahhh...... " menghela nafas dengan kasar, dia kemudian mengernyitkan matanya karena para tawanan ini ternyata hanya berpakaian, apakian dalam saja.


" Keluarlah " perintahnya.


" Te-terima kasih. " ucap salah satu diantara mereka.


Ada juga yang mengucapkan terima kasih selanjtnya, dan disusul yang lainnya lagi. Setelah itu mereka berdiri dan membukukkan tubuhnya karena pintu penjara ini dibuat lebih pendek.


" Kalian bisa ikuti semua mayat-mayat itu, mereka akan menunjukkan jalan keluar dari sini. " ujar Dania. Mayat yang bergelimpang di setiap jalan, hanya itu jalan petunjuk mereka agar sampai di pintu keluar.


" Aku akan melindungi dari belakang. "


Setelah satu orang terakhir keluar, Dania barulah mengambil langkah untuk mengekori mereka.


GROARRHHH........!


"...............! "


[ Suaranya, jangan-jangan dia lebih besar. ] semua orang yang mendengar pekikan yang keras itu terpegun takut, makin takut dari pada melangkahi mayat-mayat goblin itu.

__ADS_1


" Cepat..cepat!. " berusaha meneriaki tapi juga berusaha menjaga suaranya agar tidak terlalu lantang.


Tapi sayangnya semua itu seperti agak terlambat.


__ADS_2