
Sore menjelang malam, di tengah padang rumput, dua gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir menjadi satu-satunya tempat yang terlihat harmonis.
Angin malam pun mulai berhembus, dan dua orang manusia itu kini sudah pergi meninggalkan dua kuburan itu.
Suasananya yang tenang, tidak berlangsung bertahan lama.
Langit yang mulai menampakkan kegelapan, menjadi awal munculnya satu makhluk cantik dengan gaun hijau menyelimuti tubuhnya. Telinganya yang sedikit runcing, lalu ada mahkota daun menghiasi rambutnya yang panjang, mempercantik sebuah keindahan dari sosoknya yang menawan dan juga jelita.
Wanita ini kemudian berjongkok, dan memandangi dua kuburan yang saling berjejer.
Kulitnya yang putih, tidak menjadi penghalangnya untuk menyentuh gundukan tanah yang kotor itu.
Tanah yang masih lembab, dia kemudian tersenyum. Dan senyumannya menjadi pemicu untuk memerintahkan beberapa tumbuhan untuk tumbuh, dari dalam satu kuburan berukuran kecil itu.
Tumbuhnya sulur yang menjalar ke atas, berhasil mengangkat satu tubuh makhluk bersayap ini.
Wanita ini pun mengelus dagunya seraya bergumam sendiri.
" Ternyata anda punya tubuh boneka yang bagus. Dan perempuan itu sudah menyembuhkan semua luka ini. " mengangkat satu sayap secara bergantian, dia mencoba memeriksa semua bagian tubuh burung ini.
Setelah selesai dengan kegiatan kecilnya, dia mengangkatnya dengan ke dua tangannya sendiri.
Tidak ingin berlama-lama di tempat itu, wanita ini mengembalikan bentuk kuburan itu seperti sedia kala, namun isinya akan dia bawa ke rumahnya.
*********
Hutan....
Identik dengan rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sana, lebatnya daun hijau, menjadi hiasan tersendiri untuk hutan itu sendiri.
Di seberang padang rumput tadi, terdapat sebuah hutan lebat. Hutan yang hanya bisa di masuki jika sudah mendapatkan sebiah izin dari si penguasa hutan yaitu..
Darayad.
Darayad adalah penguasa sekaligus satu-satunya ratu yang menjadi pemilik segala hutan di wilayahnya yang tersebar di segala penjuru benua.
Dia memiliki rambut berwarna hijau muda hijau, cantik seperti elf.
Dia sebenarnya adalah makhluk astral yang hanya bisa dilihat oleh segelintir orang yang memiliki kemampuan khusus saja.
Tapi ada kalanya dia bisa menampakkan diri di depan seorang manusia biasa, hanya saja dia memilih menampakkan dirinya pada orang yang dia inginkan saja untuk memperihatkan wujud aslinya itu di depannya.
Dan Darayad hanyalah nama kuasanya, karena di satu sisi ia memiliki nama aslinya sendiri, nama yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun, termasuk bawahannya sekali pun.
" Yang mulia. " panggilnya. Seorang elf perempuan yang selalunya membawa busur panah di punggungnya.
Setelah mengetahui salah satu ruangan di dalam pohon besar, bersinar hijau, dia bergegas untuk pergi ke tempat asal sinar itu berada.
Tanda kalau sang Darayad sudah kembali dari urusannya.
" Kenapa anda membawa makhluk itu kesini?. "
__ADS_1
Tanyanya, saat tahu yang mulia membawa burung coklat sedemikian besar itu di ke dua tangannya.
Jarang sekali, atau bisa di bilang ini pertama kalinya majikannya membawa makhluk lain dengan tangannya sendiri. Itulah yang menjadi alasan dari pertanyaannya tadi.
" Kamu menyebutnya makhluk ya?. " Darayad meletakkan burung itu di atas satu batu yang sudah terhias sebuah ranting hijau dengan bunga-bunga kecil sebagai hiasannya. Ranting itu membentuk sebuah sarang yang sedikit besar, dan sarang itu di gunakan untuk meletakkan burung coklat ini.
" Burung ini hanya sebuah boneka, kamu tidak perlu waspada seperti dia ini akan memangsmu. "
" Yang mulia, dari luar.....makhluk itu terlihat seperti burung biasa. Tapi anda juga merasakannya juga kan?. " hatinya merasa tidak tenang melihat kakaknya membawa burung itu ke wilayahnya, karena terlihat sangat berbahaya.
" Aku mencium aroma darah yang sangat kuat. "
Tangannya mengelus punggung burung yang masih setia menutup matanya itu. Memang, jika merasakan roma dari tubuh burung ini, dia juga mencium aroma darah yang kuat, tapi dia tidak mempedulikannya.
Disini dia menganggap semua hal mempunyai alasannya masing-masing, seperti hal nya burung ini. Tubuhnya tercium aroma darah yang kuat, meski kelilhatannya hanya burung biasa, namun seperti yang dia tahu, jika kasusnya seperti ini, maka artinya roh yang mendiami tubuh ini, adalah seseorang yang punya kegiatan dalam hal bermain-main dengan nyawa banyak orang.
Darayad memutar tubuhnya ke belakang, menatap adiknya.
" Tapi Aliyn. Dia adalah teman dari orang itu. Orang yang sudah membunuh Raja Goblin, aku hanya mencoba membalasnya dengan merawat tubuh boneka ini sampai satu hari beliau masuk lagi ke tubuh ini. "
" Memangnya yang mulia tahu siapa roh yang memasuki tubuh burung ini?. " Ailyn tidak mengerti kenapa kakaknya terusan bersikeras dengan keputusannya, apakah sebegitu sepesialnya sampai kakaknya menyebut kata 'beliau' seakan derajatnya lebih tinggi darinya.
" Aku hanya pernah melihatnya sekali, tapi itu dulu sekali. Kamu jangan khawatir......." mengelus rambut adiknya, Darayad mencoba untuk meyakinkan adiknya lagi.
" Aku yang memutuskannya, tidak perlu berpikir hal lain, selain tugasmu untuk melindungi tiap perbatasan hutan ini. "
" Yang mulia, saya hanya khawatir saja padamu. " menikmati elusan dari kakaknya, Aliyn hanya bisa pelan-pelan mempercayai ucapan kakaknya itu.
" Aku tahu, tapi kamu ingat Ailyn?, hal yang sudah pernah aku katakan kan?. Suatu hari nanti, jika raja Goblin bisa di kalahkan, dan aku bisa merebut wilayah kekuasaanku lagi, maka aku akan membalas kebaikannya itu. " jelas Darayad.
Hutan yang di maksudnya adalah hutan kegelapan itu, itu adalah salah satu wilayah kekuasaannya. Namun karena perjanjian satu hal dengan makhluk Gobllin, dia tidak bisa sembarangan mengusik atau melawan raja Goblin.
Itulah mengapa, saat tahu kondisi hutan yang ada di lain dimensi itu sudah terbebas dari raja Goblin, niatan untuk membalas jasa itu pun muncul, salah satunya adalah dengan cara ini.
Darayad akan merawat tubuh burung yang tadi di kubur oleh pemiliknya itu.
Karena Darayad tahu, kalau roh yang mendiami tubuh burung ini hanya pergi karena kehabisan energi saja.
" Aku ingat, hanya saja.......aku yang pernah mengamati burung ini, dia bukanlah makhluk yang suka berterima kasih. "'
Darayad jadi tertawa geli, mendengar penuturan adiknya.
" Hahaha...itu pun menjadi hal yang kamu khawatirkan? "
" Tentu saja. " jawab Ailyn dengan antusias.
" Dia suka menuturkan kata tidak sopan, lalu dia juga tidak- "
" Ternyata kamu sangat menaruh perhatian padanya. " selanya.
" Apa?. Bukan itu yang aku maksud. "
__ADS_1
Darayad kembali menyela, padahal sudah jelas tentang sikap adiknya, tapi tetap ngotot menyangkal.
" Kalau bukan itu, lalu apa lagi?. Kamu kadang lalai dari tugasmu karena mengamatinya terus, berarti secara tidak sadar, kamu perhatian dengan burung ini kan?. "
Ailyn yang kehabisan kata-kata, hanya terdiam, dan memutuskan untuk pergi begitu saja setelah membungkuk hormat pada kakaknya.
" Ha~...dasr Ailyn, terus saja keras kepala. " Darayad kembali mendekati burung yang di panggil Everst, kembali menyentuhnya, perasaannya entah kenapa jadi menyenangkan saat mengelus bulunya.
" Jangan-jangan aku terpengaruh pesonanya. " Darayad tercengang karena merakan pertama kali sebuah sensasi menyenangkan saat mengelus tubuh itu.
******
" Hyaahhh........."
CTANG....
CTANG......
Teriakan yang memilulkan, dentingan adu besi yang terus mengoyak tubuh musuhnya.
Tiada hari tanpa pertumpahan darah, dataran luas itu berubah menjadi lautan manusia yang berkubang dengan darah merah segar, menaburkan semerbak naroma amis yang begitu menyengat.
" Maju!. " teriak salah satu orang yang memimpin pasukan yang dia bawa.
Sebuah perang yang terjadi, untuk merebut wilayah kekuasaan dari tangan musuh. Perang yang saling menjatuhkan, membunuh sesamanya hanya demi mendapatkan kemenangan yang sebenarnya tidak begitu berarti.
Dalam hal, mempertaruhkan nyawa demi negara?.
Tidak ikut menikmati hasil jeri payahnya karena kehilangan nyawa, itulah prajurit yang menjadi garda depan dari pasukan untuk melawan musuhnya.
" Karena mereka, ini mempermudahku mendapatkan hal yang aku mau. " ucapnya. Dia mengamati semua pergerakan para manusia yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa demi negara, dari atas sebuah tebing.
Tapi untuk laki-laki ini, pemandangan ini adalah sebuah anugerah untuk mendapatkan kembali 'mana' yang sudah dia gunakan untuk Dania itu.
" Tapi masih kurang. " Caster menatapnya dengan dingin, apa yang sedang dia dapatkan sebenarnya masih kurang untuk mempertahankan wujudnya.
Jadi mau apa lagi?.
Dia harus pergi mencari lebih banyak jiwa yang bisa dia dapatkan. Dan harus banyak, agar wujudnya bisa dia pertahankan sampai satu saat, dia dapat membentuk tubuh aslinya di dunia ini.
CTANG........
SRATTT...........
Sebuah pemandangan yang tidak pernah dia lewatkan sedikit pun selama hidupnya.
" ...................."
[ Hm........] di sela-sela dirinya mengamati perang yang sedang berlangsung di bawah sana, Caster melirik ke samping, satu hal yang di rasakannya....di tempat lain.
Sesuatu seperti sedang di elus-elus dengan lembut.
__ADS_1
[ Siapa yang sedang melakukannya?. ]