Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Kamar


__ADS_3

PIP........


PIP.........


PIP........


PIP.........


PIP...........


Bunyi dari monitor Holter yang secara terus menerus mengisi keheningan di dalam kamar tersebut. Selebihnya, si pemilik kamar sedang berjongkok dengan tangan kanan memegang sepidol berwarna abu-abu, menggoreskan ujung spidol berwarna abu-abu di atas lantai marmer berwarna hitam itu.


Sepasang matanya terus terfokus dengan apa yang sedang di kerjakannya, tiap goresan menghasikan sebuah gambar.


Dari gambar setengah lingkaran, lingkaran, garis lurus, serta huruf demi huruf terus terjejer menjadi sebuah kalimat yang hanya bisa di mengerti oleh dirinya saja.


Perlu waktu lama untuk menggambar sebuah pola berdiameter 2,5 meter itu.


Karena setiap goresan, setiap kalimat yang di buat, membuat tenaganya terus terkuras, di buktikan dengan wajahnya yang kini mulai memperllihatkakn buliran air keringat meluncur dari pelipisnya menuju pipi.


Setidaknya itulah, alasannya tidak memakai pakaian kecuali jubah mandi ini, karena tidak akan ada gunanya juga, memakai pakaian yang pada akhirnya kotor karena keringat.


" ............................"


[ Sedikit lagi. ] Devon menghentikan tangannya untuk sesaat, dia menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, tepatnya ke jendela besar full glass yang memaparkan kota sudah di selimuti cahaya bulan, dan terlihat juga kalau bulan...kini kian meninggi.


Tidak ada banyak waktu lagi......


Harus ia selesaikan sekarang juga.


Kembali bersemangat menorehkan garis, Devon juga tidak kalut untuk terus melihat wanita yang masih tertidur itu.


" Aku jadi penasaran seperti apa reaksi wajah terkejutmu. " sebuah senyuman kecil tersungging di bibir seksinya.


Meski baru menginjak umur awal 30 tahunan, tapi sayangnya yang harus di waspadai adalah wajahnya yang terlihat berbeda dari usianya yang sudah ber kepala 3.


Karena salah satu korbannya adalah dia, yang kini terbaring di ranjangnya.


Devon menghela nafas kasar.


" Melakukan ini, ini membuatku teringat pada tawal pertemuanku. " kepalanya tak luput dari teringatnya pertemuan pertamanya saat di tengah hujan.


Devon masih mengingatnya dengan jelas, malam itu sedang hujan lebat, dan secara tidak sengaja menemukan seorang gadis kecil di dekat gang sempit dalam kondisi yang parah.


Kondisi dimana gadis itu tertembak di dada, tapi secara mengejutkan tidak mati setelah ia bawa ke rumah sakit.


Karena yang tertembak meski di dada sebelah kiri tempat biasanya jantung berada, tapi..dalam hal ini...sebuah kejadian langka ada padanya. Jantung berada di sebelah kanan.........


Itulah hal yang membuat pria ini tertarik dengan gadis ini.


DRRTTT............


DRTTT.........


Menghiraukan bahwa ponselnya bergetar, pria ini mulai mempercepat gerakan tangannya. Karena getaran ponsel litu adalah alarm yang ia buat sebagai pengingat.

__ADS_1


SRETTT.........


Tubuhnya memutar 360 derajat, menggoreskan spidol ke lantai dengan sekali gambar, dan menghasilkna sebuah lingkaran yang begitu sempurna.


" ....................."


Selesai sudah, gambar lingkaran dengan paduan berbagai pola.


Setelah selesai, pria ini langsung melempar spidol dan tongkat yang ia gunakan tadi ke sembarang tempat.


Kakinya melangkah keluar dari area lingkaran tadi, dan berjalan menghampiri si pasien.


Sosoknya yang sedang tidur membuat pemilik dari iris lapislazuli itu tetap terpaku pada wajah polos, tenang, wajah yang.....sudah lama ia lihat selama 3 bulan terakhir ini.


Padahal inginnya bisa membawanya kembali dalam kondisi hidup, setidaknya sehat. Tapi ekspetasinya adalah hal yang berkebalikan.


Mendapati salah satu anak asuhnya, membawa wanita ini idalam kondisi sekarat.


[ Yah...setidaknya, kau bisa membawanya kembali. ] terus berjongkok di samping kiri tempat wanita ini sedang terbaring.


Devon kemudian mengangkat tangan kanan yang begitu kecil itu.


Ukuran yang sangat berbeda, ketika dia meltakkannya atas telapak tangannya ( Devon ).


Dan membuatnya ada kalanya untuk berpikir bagaimanan jika tangannya dia remas, apakah langsung hancur?.


Sebuah pemikiran yang begitu bodoh.


Karena wanita yang ada di depannya ini adalah anak asuhnya yang hebat.


Buktinya.....


GREETT..... ( Meremas dengan kuat. )


Devon tapa sebuah ekspresi, mengeratkan genggamannya alias meremas tangan itu dengan kuat.


Tidak ada reaksi apa pun sekalipun tadi sudah dia remas tangannya dengan kuat, karena.......


" Apa kau tidak lelah tidur terus selama 3 bulan?. " Akhirnya Devon bersuara, setelah berbagai pemikiran yang malas membuatnya untuk berbicara.


Kadangan kala, dia berbicara dengan pasien yang sedang koma ini.


Karena menurut pengetahuan yang ia ketahui, meski dalam kondisi koma...


' keadaan tidak sadar sama sekali dan tidak mampu memberi reaksi terhadap suatu rangsangan. '


Terkadang ada satu kasus, kalau si pasien yang koma itu sendiri, bisa mendengar hal yang ada di sekitarnya, hanya saja karena masalah tidak mampu untuk merspon saja, yang menjadi inti dari keadaan itu sendiri.


" Jadi setidaknya.kau tidak akan merasakan sakit ini kan?. " ucap devon lagi, dia mengangkat tangan itu berbeda dengan tadi, dengansebuah kelembutan....di mulai menyentuh jari-jari lentik itu, dan tangan kanannya sudah memeggang sebuah pisau kecil.


SRATT........


Menyayat sedikit kulit dari jari telunjuk itu, sehingga darah merah pun akhirnya keluar.


Sebelum menetes mengotori lantai, dia sudah mempersiapkan sebuah lemek kecil, untuk menampung tetesan darah itu.

__ADS_1


Tentu dia mepertanggungjawabkan perbuatannya tadi dengan membersihkan luka yang ia buat pada wanita yang sedang koma ini, setelah di bersihkan dengan tisu, dia kemudian membbalut luka itu dengan plester.


Tapi, bukan hanya dari darah dari satu orang saja, karena dia juga akan melakukan hal yang sama pada dirinya juga.


SRATT......


Jari telunjuk dari tangan kirinya.


Dia menyayatnya, dengan penuhniata yang sangat jelas.


Meneteskannya ke dalam wadah yang sama, Devon mulai mencampurkan kedua darah itu dengan mengaduknya menggunakan jari telunjuk kanannya.


" Karena aku sudah puas melihatmu tidur terus, sekarang waktunya kau bangun. " ucap Devon sembari berjalan ke arah lingkaran ber pola yang tadi dia buat.


Ada celah di antara dua lingkaran besar yang dia garis, dan itu akan dia gunakan untuk menuliskan kalimat demi kalimat.


Dan kalimat itu dia gunakan dengan menggunakan darah miliknya juga darah si...


Devon kembali menatap perempuan itu.


" Alinda, kau pasti terkejut jika aku bisa melakukan ini, kan?. " setelah, dia mundur 5 langkah ke belakang, lalu duduk di kursi single dengan satu botol wine sudah di siapkan.


Saat ini, yang di lakukannya adalah menunggu, menunggu waktu yang tepat, dimana posisi bulan itu akan menyinari langsung kamarnya, sepenuhnya.


" Aku menunggumu, kau pasti merindukanku juga kan?." Sebuah kalimat dengan makna lebih dari yang terdengar.


Slurpp....


Penatiannya tinggal beberapa menit lagi dan itu akan terjadi, memulai hitungan mundur dari waktu ini.


***********


[ Apa ini"....kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suaraku?. ] Dania tercekat dengan kondisi hal ini.


Suaranya idak bisa keluar...meski masih bisa berpikir.


Dan semua inderanya perlahan-lahan mulai tidak bekerja, ini membuatnya semakin cemas.


Lalu selain itu, pelan-pelan tubuhnya terasa lebih ringan!.


Matanya membulat lebar, saat suasana di sekitarnya seperti berutar-putar, itu membuat pandangannya jadi tidak fokus.


Sampai-sampai di dalam kepalanya tiba-tiba seperti terdengar....


' Alinda '


Nama panggilan.


Sebuah nama yang sudah lama tidak dia dengar, kini terdengar lagi, dan yang memanggil namaya adalah pemilik suara dari pria ini...........!


#####################


Ketika matanya terbuka setelah mendengar nama panggilan yang sudah lama sekali tidak Alinda dengar, dia di hadiahkan sebuah kejutan yang begitu hebat karena suara yang memanggil namanya adalah dia.


Pria itu.

__ADS_1


Rahasia apa yang dimiliki pira ini?. sampai membuat Dania yang sedang menghadapi penyihir wanita bernama Chlloe, jadi berubah berhadapan dengan mantan bosnya?.


__ADS_2