Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 108


__ADS_3

Kedua kakinya dengan cakar yang besar itu pun mendarat ke tanah, menghampiri Dania yang kesakitan.


Untuk pertama kalinya ia melihat wajah kesakitannya itu setelah virus waktu itu.


[ Tapi kenapa tempat ini terasa ada yang berubah?. Lalu, tidak bisa menggunakan sihir. ] Everst tentu saja pernah ke pantai terpencil ini, namun kali terakhirnya itu adalah saat ia yang di hadapkan beberapa monster dan tentu saja ia bisa menggunakan sihirnya.


Namun kali ini, ada sesuatu yang membuatnya berbeda, selain tidak bisa menggunakan sihir, tidak ada tanda keberadaan monster meski satu sekali pun.


[ Benar-benar bersih. ] puji Everst, tetapi hal utamanya kali ini adalah..


{ Aku tidak bisa membawamu pergi, apa bisa berdiri?. }


masalahnya tidak bisa mengubah dirinya untuk menjadi besar, jadi hanya mengharapkan Dania bisa berjalan sendiri.


" Air!. " pinta Dania.


Dania mengharapkan kalau dengan membasahi tubuhnyabdari atas sampai bawah, rasa pusingnya jadi hilang.


{............} Everst pun mengepakkan sayapnya, mencari air dengan terbang ke atas, dengan begitu maka bisa dengan mudah mencari dari atas ketinggian.


Kembali ke tempatnya Ishid.


Sedangkan Ishid, ia sudah berkali-kali mencobanya namun hasilnya tetap sama yang di akhiri kegagalan.


[ Padahal aku tidak pernah gagal dalam melakukan banyak hal. ]


" BERISIK!. "


".........!" Ishid mendengar suara teriakan keras seseorang yang sangat familiar itu jika bukan.


KWAKK...!


Setelah mendengar teriakannya Lady Dania, ternyata di ikuyi suara burung besar.


Di saat yang sama terlihat ada 3 ekor burung terbang menjauh dengan suara berisiknya.


Cip....Cip...Cip...Cip!


Cip...Cip....Cip...Cip...Cip!


Cip....Cip...Cip...Cip!


DRAP....


DRAP....


DRAP....


Dengan kondisinya yang terlihat patut dikasihani itu, Ishid pun masuk ke dalam hutan untuk mencarinya.


Berjalan cepat melewati semak belukar, dengan pedangnya dibawanya, ia memotongnya beberapa tanaman rambat yang menghalangi jalannya.


DRASH.....


BYURR.....


Ada suara lain datang dari air terjun yang posisinya cukup dekat.


Arahnya di posisi jam 1, maka dari itu ia mencoba memastikannya dengan berjalan menuju ke sana.


Kwak...!.


Ishid melihat burung coklat itu membawa ranting kayu dan mengumpulkannya menjadi satu.


SRAKK....

__ADS_1


Ada tanaman rambat yang menghalangi jalannya lagi, maka dari itu Ishid menggunakan kedua tangannya untuk membuka tirai dari tanaman rambat yang terdiri dari banyak daun dan bunga putih kecil.


Kwak....kwak....


Burung coklat itu kembali dengan membawa ikan di kedua kakinya dan satu berada di paruhnya, setelah itu meletakkannya di daun besar yang tergeletak ditanah.


Secara garis besar, kali ini Ishid sedang diberikan pemandangan seeokor burung yang sedang bekerja keras mengumpulkan ranting dan ikan, lalu satu orang manusia sedang mengambang di atas pemukaan air.


Ada juga satu kristal biru yang meryoakan kalung yang dipakai Dania itu, sekarang berada di atas ujung ranting yang sengaja di posisikan berdiri dengan menghadapkannya langsung dengan sinar matahari, lalu di bawahnya adalah tumpukan dedaunan kering dengan tambahan ranting yang akan di jadikan...


Ada sedikit kepulan asap yang tercipta di dedaunan kering itu, penyebab utamanya adalah karena satu cahaya kecil yang tersorot langsung ke daun kering tersebut dalam waktu lama, sehingga menyebabkan daun itu..


KRATKK..


KRATAK....


Api unggun pun tercipta.


".............."


Sakitnya masih terasa, namun sudah lebih baik dari pada sebelumnya.


[ Sepertinya aku jadi menghkawatirkah hal yang tidak-tidak. ] keluh Ishid, ia harus memikirkan bagaimana caranya keluar dari tempat tersebut dan cepat pulang.


Kwak...!


SRUK....


"..........! " Seekor burung yang tadi berlalu lalang bolak-balik, kini bertengger tepat di atas dahan besar sambil menenung dirinya ( Ishid ).


[ Pria ini, Ishid si orang itu? ] fikir Everst, kemudian kepalanya miring ke samping kiri sambil bersuara.


" Kwak..! "


"..........? "


Lalu menyerahkan menyodorkan seekor ikan dengan kakinya tepat ke depan wajahnya Ishid.


[ Burung ini menyuruhku membakar ikan? ]


Seperti itulah yang diartikan Ishid.


Ukurannya cukup besar dan bisa dibilang setara dengan miliknya yaitu si Raya, lalu ia baru teringat kalau burung ini adalah burung yang sempat mengikuti Dania saat ekspedisi beberapa hari yang lalu sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.


SPLASH.....


SPLASHH...


Dania yang berada di permukaan air berenang dengan pelan sambil menghadap ke atas, dengan posisinya yang mengambang dengan baik, ia pun bergumam.


" Kalau dirumah ada kolam renang~ "


BLUPH.....


BLUPH...


Perlahan tubuhnya tenggelam masuk ke dalam air.


Saking jernihnya air, ia seperti menganggap kalau itu seperti kaca transparan.


Pohon dengan batang pohon yang menjulang tinggi dan menyebar ke segala sisi, membuat dedaunan hijau itu terlihat indah karena terkena cahaya matahari, dan banyak diantaranya menjadi bayangan gelap ketika sampai di bawah.


{ Kalau bisa, kamu cari penyebabnya. Aku akan pulang jika sihirnya sudah bisa digunakan lagi. } Telepati ia gunakan dengan Everst dan memerintahnya untuk menemukan penyebab keanehannya.


Gara-gara sakit kepalanya, ia jadi tidak berniat untuk menikmati pantainya.

__ADS_1


Tapi karena ada si keberadaannya Everst, lain kali ia akan datang lagi ke pantai dengan dia.


{ Apa aku dapat hadiah?. }


{ Jika pekerjaanmu sukses. } jawab Dania, lalu memjamkan matanya kembali sembari masih menahan nafasnya terus selagi menyelam di dalam air.


Satu hari ini ia sering berada di air, maka dari itu tidak heran jika kulit tangannya menjadi keriput karena dingin.


Setelah sampai di ambang batas maksimalnya, Dania akhirnya..


" PHUAHH....! " Segera keluar dari air dan mengambil nafas dalam-dalam sembari menyibakkan rabur aram-temaram nya.


[ Ini menggangguku. ] Melirik ke arah dua tangannya yang terbalut perban tapi juga sudah basah.


Pelan tapi pasti, ia melepaskan gulungan pervan yang membalut di kulit tipisnya itu.


SYUKK....


Dua-duanya ia lepas agar menjadi leluasa dan tidak terasa berat saat berenang.


Dan akhirnya hanya menyisakan perban yang melilit di dadanya, hanya saja ia masih memakai pakaian kaos tipis yang masih melekat di tubuhnya.


Kecipak.....


Kecipuk....


Dengan pelan ia menikmati tiap ayunan tangannya yang digunakan untuk mendayung.


" Lady?! "


"........! " Pandangannya yang sedang melihat bebatuan kerikil kecil di bawahnya pun terhenti karena suaranya.


" Hah..... " kepalanya keluar dari air dan segera menjawab.


" Ya?. "


[ Sejak kapan dia disitu? ]


" Ikan bakarnya sudah matang, anda mau makan?. " tanya Ishid sambil memegang dua ikan bakar yang sudah matang.


"..........."


[ Kebetulan aku sudah lapar, untung ada yang masakin. Kan tinggal makan ]


👆


《 Memanfaatkan dengan baik, kebaikan orang lain 》


SYURR.....


Dania pun keluar dari air, berjalan menuju tepi sungai meski air masih menetes dengan derasnya.


Bertelanjang kaki, celaan pendek, kaos putih tipis pendek yang membuat kedua tangannya yang oenuh bekas luka pun jadi terekspos, lalu...


".Uhuk... "


[ Uh...jadi itu sebabnya, dia menggunakannya untuk menutupi bekas lukanya. Hahh...tapi....wanita ini, apa dia sedang menggoda pria?. ]


"..........? "


[ Bukannya aku jadi berdada datar kerena perban yang kupakai?. Meski basah begini juga ngga kelihatan juga kan?. ]


👆


《 Jiwa dari dunia modern, yang tak menganggap penting pandangan orang meski sedang berpakaian minim. 》

__ADS_1


Namun salah satu fakta lainnya adalah karena Dania baru melupakan semua rutukan dan keluhannya sesaat setelah mengalami beberapa hal dan salah satunya sakit kepala tadi.


Jadi ia terbawa suasana yang mengharuskan dirinya menahan sakitnya itu dan meninggalkan pikirannya yang beberapa waktu lalu saat di gua, ia keluhkan semuanya.


__ADS_2