Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Lipan & Dua orang penolong


__ADS_3

PRAKKK......


" Hahhh......lebih enak mengerjakan dokumen sambil duduk ketimbang membelah kayu " gerutu Vadel, sudah menggunung potongan kayu yang sudah dikerjakannya dan sekarang hanya tinggal beberapa buah lagi selesai sudah.


CKRK...CKRK...CKRK..


Suara knop pintu rumah mengalihkan perhatiannya dari kayu ke pintu rumah, Vadel berjalan ke pintu tersebut lalu di putar knop pintu itu dan..


" Oh...kamu sudah bangun " tutur Vadel.


Namun lawan bicaranya hanya memandang Vadel dengan tatapan cemas sembari menelan salivanya kembali.


[ Apa....apa dia ingin memenggal kepalaku? ] fikir Danie, orang di depannya memiliki postur yang cukup besar lagikan tinggi bagai raksasa ditambah ada satu kapak tengah dipegang orang itu bagai orang yang ingin memakan anak kecil seperti dirinya atau bisa juga seorang pedofil.


" Ingin makan? "


Yang ditanyai geleng-geleng kepala.


Matanya benar-benar melirik ke arah kapak tersebut, bagian kepala kapak ada di bawah(tanah) lalu bagian lainnya di pegang tangan Vadel, namun sisi terpentingnya adalah sosok yang sedang jalan merambat itu.


" Atau mau minum? " Vadel bertanya lagi, sambil kakinya berjalan mendekat ke arah anak kecil di depannya.


Lalu tiba-tiba kapaknya di pikul secara cepat dan...


WINGG......


PLUKK...( Sesuatu jatuh tepat di baju Danie )


Raut wajah pucat pasi terlihat jelas, yang membuat dirinya takut setengah mati adalah keberadaan makhluk itu..


[ Li...pan ! ] matanya membulat lebar..


" Diam dulu, aku akan mengambilnya "


Melihat hewan paling dibencinya ada di baju, dan malah sekarang di tinggal pergi maka secara refleks..


AAAAAAAAHHHHHhhhhhh.........


Teriaknya, lalu berlari terbirit-birit keluar rumah.


[ Kenapa ini terjadi lagi?! ] fikirnya, kedua kakinya masih setia berlari dan tangannya mencari dedaunan yang besar untuk mengusir hewan tersebut sekaligus musuhnya itu.

__ADS_1


Belum sempat mengambilnya, justru anak tadi lari masuk kedalam hutan lagi membuat dirinya ikut panik dan lari mengerjanya juga.


" Hanya seekor Lipan kenapa sampai takut seperti itu! " gerutu Vidal.


Kembali ke dalam hutan.


" Menjijikan!, Huiihhh..... " mengibas-ngibas dedaunan yang sudah di dapatinya, tapi sebab banyaknya kaki itulah lipannya tidak bisa lepas begitu mudah dari baju.


" HIHHHHH..... "


Tidak ada kalimat lain selain HIH...HIIIIIH.. Karena memang benar menjijikannya setengah mati.


Kembali mencari keberanian dan mencari ranting yang ada, ia berusaha mengusir sang lipan yang dimana semua kakinya mengeratkan cengkraman pada serat kain baju.


Usahanya sedikit lagi berhasil, kemudian mencari ranting lainnya agar bisa mencapitnya dan segera membuangnya.


Bagai hampir ingin mati saja ketimbang berurusan dengan hewan berkaki seribu( julukan Danie ).


Kedua matanya tidak tahan dengan pemandangan tersebut, jadi ia menyipitkan kedua matanya sambil menahan rasa jijikmya yang sudah merasa kelewat jijik, kepalanya mengadah ke samping demi menghindari bertatapnya langsung dengan lipan itu.


[ Kapan lepasnya ini? ] keringat dingin juga sudah bercucuran lalu perutnya yang sudah mengaum minta di isi menjadinya bertambah muak.


" Jangan seenaknya pergi, menyusahkan sekali " Vidal akhirnya bisa menyusul, lalu melihat ekspresi bocah yang dikejarnya sudah seperti hampir pingsan, jadi Vidal membantunya melepaakan Lipan dari bajunya.


" Jangan lari lagi " Vidal menarik tangan Danie secara cepat sehingga ia jatuh ke pelukan kaki Vidal yang jenjang itu, di saat itu juga tubuh kecilnya terangkat dan di gapit di antara tangan kanan dan tubuh Vidal.


" Turunkan! "


" Aku kira bisu " Vidal mengendahkan teriakannya dari sang bocah yang sedang di bawanya.


" Turunkan aku!, aku bukan bukan anak kecil! "


[ Ini diluar prediksi, kenapa anak ini menganggap dirinya bukan anak kecil, padahal tingginya saja sudah mengatakan kalau dia ini memang anak kecil ]


" Diamlah~, jangan membuang tenagamu " jawab Vidal dengan malas. Sudah tadi memotong kayu bakar, berlari ke dalam hutan demi menemukan anak yang tiba-tiba lari, sekarang harus mendengar ocehan tidak berguna.


[ Keras kepala sekali orang ini ] satu ide muncul, dikarenakan kebetulan dirinya dibawa dengan cara bagai barang tak berguna yang hanya di gapit di antara lengan dan samping tubuh vidal, jari-jarinya mulai menggelitikkan bagian yang bisa membuat orang merasakan geli.


"H..hei, ja..jangan menggelitikku! , ahhaha...ja..jangan, a..atau aku akan " belum sampat menyelrsaikan aayatnya, Vidal sudah tidak tahan dengan gelitikkan itu hingga tidak sengaja tangannya melonggarkan eratannya..


BRUGG...

__ADS_1


[ Ahhh.....sakitnya ] tubuhnya langsung membentur tanah secara kasar.


[ Kenapa ini terjadi padaku, apa aku harus mengganti namaku? ] fikirn Danie dikala dirinya masih menahan rasa sakit dan seperti sudah tidak ada tenaga.


[ Waduh gawat! ] Vidal terdiam kaku karena sudah menjatuhkan anak asuhnya secara tidak sengaja.


" Vidal~ "


Satu suara yang sangat dikenalinya seketika membuat dirinya merasa tidak berani untuk menoleh ke belakang.


" I..iya tuan? "


" Kamu memang tidak bisa di andalkan "


JLEBB...( Untaian kata dari tuannya langsung menusuk ke hati Vidal )


Padahal selama ini dirinya mengerjakan semua perintah dari tuan Arch dengan baik selama 10 tahun lebih, dan kali ini baru pertama kali dirinya mendapatkan kalimat ' tidak bisa diandalkan selama hidupnya.


[ Apa aku seburuk itu ] dalam hatinya sedang termenung dalam keadaan jongkok dan menggambar lingkaran di tanah.


Manik mata violet itu kemudian melirik ke bawah, dan menemukan sosok bertubuh mungil itu masih tidak bergerak.


" Sudah ku bilang, lebih baik di angkat seperti ini " untuk ke tiga kalinya, Arch membawa anak kecil itu dengan cara di pikul.


[ Kapan tuan mengatakannya?, tapi ada benarnya juga, dari pada di gelitik mending di pukul ] Vidal membenarkan pendapat tuannya, dengan cara dipikul dan dimana kepalanya ada di belakang maka tidak akan ada kesempatan untuk memberontak, kemungkinannya hanya bisa memukul-mukul di bagian punggung saja. kemudian mengikuti Arch dari belakang sambil memperhatikan bocah berambut coklat yang sama dengan tuannya itu, namun memiliki warna mata yang berbeda.


Dengan dibawanya kembali anak kecil temuan tuannya, mereka bertiga berjalan pulang.


Danie yang seolah sudah kehabisan tenaga karena belum makan dari kemarin, membuat dirinya tidak bisa memberontak.


Dan pada akhirnya dirinya di bawa kembali ke tempat semula.


Pikirannya sedang kacau, sampai tidak sadar kalau dirinya malah berpikiran akan dijual sebagai budak oleh kedua orang ini.


Tapi karena posisi kepalanya dibawah, dirinya jadi merasakan hawa tidak enak karena pusing.


" Ja..ngan bawa aku se..perti ini " ucap Danie dengan terbata-bata.


" I..ini membu-......." kedua tangannya di angkat lalu menutup mulutnya dan.


" Hwekkk....." rasa mual namun tidak bisa muntah karena perutnya tidak di isi apapun dari semalam.

__ADS_1


" Tuan, walaupun merepotkan, tapi sepertinya itu tidak baik. " Vidal memperingatkan Arch untuk ke sekian kalinya.


" Kalau begitu gendong dia " dengan seenak hati, Arch melempar tubuh Danie ke Vidal,lalu Vidal menangkapnya secara langsung dalam posisi bridal stayle.


__ADS_2