
Entah apa yang sudah dilakukan Everst hingga Raya seperti itu, kini Dania tidak mempermasalahkannya karena hal yang lebih bermasalah adalah....
GYUTT...
Kedua tangannya mencengkram kuat bulu coklat milik Everst.
Yah...kini mereka berdua sedang terbang di angkasa, dan cengkraman kuat itu sukses membuat Everst bersuara.
Kwakk....
Dengan arti ' sakit '
" Emasku, semuanya hilang.......dia mengambilnya....kenapa, kenapa!.. "
Lalu memukul-mukul tengkuk Everst.
" Siapa yang mengambilnya?. "
" Tidak, bukan di ambil, tapi dirampok. Si kepala emas itu, dia beru merampokku. " Dania menjawab.
" Kepala emas?. "
" Iya...tuh, orang bule, dia punya rambut pirang berkilau seperti emas. Meski aku tertarik dengannya karena postur dan wajahnya, tapi merampok semua emasku sampai habis sangatlah tidak bisa aku terima. Aku mati-matian mengumpulkannya demi bisa membangun rumah impianku tapi sudah pupus. " entah mengapa matanya mulai berkaca-kaca, air mata itu terbendung untuk beberapa waktu tapi akhirnya tumpah juga.
[ Kenapa aku nangis seperti ini?. ]
" Hiks.... " dengan cepat tangannya menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Everst merasa baru kali ini si gadis yang biasanya keras kepala penuh semangat, membuat ekspresi sedih dan berakhir menangis.
Demi menghiburnya, Everst mengubah laluan-nya, dia mengganti arah ke tempat itu.
Tempat dengan air super banyak dan berwarna biru.
Perjalanan berdua yang lama tak mereka lakukan menjadi kenangan baru lagi, Dania mulai mencium aroma asin dari laut.
Buru-buru ia menghapus air matanya yang dari tadi mengalir dengan punggung tangannya.
[ Kenapa dia membawaku ke laut?. ]
Angin yang cukup besar mulai terasa, aroma asin, dan pasir pantai, dia memiliki indera penciuman yang tajam.
Sebuah pemandangan yang tak kalah indah dari pulau hawai.
Karena di posisi yang tinggi, semua pemandangan dari atas terkesan seperti miniatur, rumah kecil, ternak sapi saja sudah terlihat seperti semut, ladang hijau seperti lapangan sepak bola. Sebuah pemandangan yang jarang dilihat orang.
Perlu 10 menit untuk sampai di sebuah pantai yang rupanya adalah tempat terakhir kali Dania dan Ishid tinggali.
Jarak sejauh itu, pantas saja Dania sadar kalau jarak seperti itu ia tak bisa kuat untuk berenang.
Lalu demi mencoba memacu adrenalin, Everst langsung terbang meliuk dengan menukik tajam.
Dania yang sempat kaget, buru-buru mencengkram leher burung ini dengan kuat.
Cip....cip...cip.......
Ketiga burung yang sedang bercengkrama riang di satu batang pohon yang sudah lapuk itu tiba-tiba berhamburan terbang.
Cip...!!!....cip...!
WHUSHHH.......
Setelah satu burung besar dengan sayap yang tak kalah besar menyapu keberadaan mereka bertiga.
" Uwahh..... " Dania turun dari punggung Everst dan menghela nafas panjang demi menenangkan hatinya yang sedang gundah.
Perlahan Everst mengontrol tubuhnya untuk berada di ukuran biasa.
__ADS_1
Dania yang terlena dengan deburan ombak langsung berjalan mengikuti arus langkah kakinya yang membawanya ke pinggiran pantai dan menikmati gulungan ombak yang lambat laun memang menyapu butiran pasir putih itu.
Untuk berjaga-jaga ia melepaskan sepatunya terlebih dahulu sebelum memasukkan kakinya masuk ke genangan air laut itu.
" Sudah lama tidak menikmati nuansa ini. " gumamnya, kali ini ia tak dapat menyembunyikan air mukanya yang senang.
Jari kakinya dia gerak-gerakkan, hangat dan dingin, Dania merasakan perasaan keduanya secara bergantian.
Cip....cip...cip... \= " dia yang waktu itu. "
Cip.....cip...? \= " Kau masih mengingatnya juga?. "
Cip.....cip...cip... \= " mana mungkin aku tidak ingat. Dia manusia yang memarahi kita. "
Pekik burung kecil ini pada dua sahabatnya.
Cip...cip....cip....cip... \= " Berisik, suaramu terlalu nyaring. "
Sindir satu burung kecil ini.
Cip....cip...cip... \= " Eh...kau juga nyaring, jangan menyindirku. "
Dania yang tak melewati percakapan cap, cip, cup, itu memperhatikan dengan seksama untuk mendengar arti dari percakapan dari ke 3 burung kecil itu.
Ukurannya seperti burung gereja, atau burung walet?. Intinya yang ia lihat berwarna abu-abu.
" Mereka lucu juga, aku jadi ingin meremasnya. " Dania memperagakan tangannya yang pastinya memuat satu burung untuk dia genggam dengan kuat, dari situ ia merasakan ada perasaan empuk, suara tulang yang patah, lalu pekikan dari burung kecil itu juga organ dalam yang mungil langsung mencuat keluar.
KWAKK......
CIPP......!.....!!!
Tapi sayang seribu sayang, Everst dengan semangat berjalan cepat ke arah burung mungil itu, lalu mengepakkan sayapnya lebar-lebar dan bersuara keras, sehingga menakuti ke tiga burung itu dan langsung membuat mereka semua kabur karena ketakutan.
Kwak...kwakk..kwak...kwak.... \= " Ahahaha.......wajah takut mereka sangat menyenangkan untuk aku lihat. "
Dania menggeleng pelan sambil tersenyum geli melihat tingkah peliharaannya.
[ Ahahahaaha......sejak kapan dia bisa bertingkah seperti itu?. ]
" Pfftft..... " menahan gelak tawanya.
Everst mendapatkan hal yang akhirnya membuat gadis itu tertawa juga.
____________________
Sore harinya.
3 potongan kelapa sudah berjejer rapi di bawah pohon kelapa, api unggun masih menyala dan mulai memasak 5 ekor ikan yang sedang di bakar.
Dua kelapa diantaranya sudah terbelah menjadi dua dan gadis ini sedang mengolah daging kelapa untuk dia konsumsi.
" Enak. " kata Everst sambil memakan 2 ekor ikan yang sudah hilang lenyap tanpa sisa dalam beberapa detik.
" Aku yang bakar belum memakannya sedikitpun. " rutuk Dania melihat tingkah rakus Everst yang sudah mulai keluar.
" Tapi aku yang cari, sudah lapar dulu. "
" Harusnya bagianmu itu yang mentah. "
" Sayangnya aku burung unik, lain dari pada yang lain. Jadi minta yang sudah di masak. " jawab Everst secara terus terang, jadi kini dia meminta jatah ikan bakarnya lagi.
Karena stoknya banyak, jadi Dania memberikan 3 ikan bakar pada Everst.
Dania memutuskan untuk makan banyak di istana Archduke saja, jadi karena itu akhirnya Dania memberikan 2 ekor ikan lagi ke Everst untuk di habiskan. Dan Dania meminum air kelapa serta daging kelapa yang sudah ia iris dengan pedangnya.
[ Sampai mendapatkan ikan salmon ukuran sedang, dia hebat juga sampai menangkap ikan mahal ini. ] batin Dania, ia masih tidak percaya dengan hasil tangkapan Everst yang seperti berhasil mendapatkan harta karun laut.
__ADS_1
Bagaimana cara Everst mendapatkannya, tidak ia pedulikan.
" Kita pulang. " pinta Dania.
Kwak...kwak....kak..
Menelan langsung ikan bakar itu satu persatu dan tak sampai 2 menit sudah hilang lagi.
Setelah habis, barulah Everst bersiap untuk terbang lagi.
Dania sedang menyiapkan barang bawaan pulangnya, satu kantung berisi cangkang kerang, satu ikan salmon, dan sudah...hanya itu saja tapi ternayat lumayan tak susah untuk di bawa.
____________
Di istana Scnaider.
Marsha berjalan kesana kemari alias mondar-mandir menunggu kepulangan nona-nya.
Si kakek tua yang merupakan kepala rumah tangga dari istana itu sendiri jadi dibuat pusing melihat sang nenek tua ini berjalan mondar-mandir di depannya, mambuat kepalanya pusing.
" Hei nek, kau bisa berhenti sekarang. Nona masih muda dan bisa menjaga diri, jangan sebegitu khawatirnya. " kata kakek ini pada nenek Marsha.
" Apapun itu, mungkin aku sudah menganggapnya cucuku, dia pantas mendapatkan rasa khawatir dariku. Kau juga harusnya khawatir!. " kata Marsha.
Benjamin dan Marsha pun mulai adu mulut di ruang tamu, sedangkan Archduke hanya menontonnya dari lantai dua sambil bercengkrama dengan Claporth.
" Apa kau sama dengan mereka berdua?. "
Tanya Claporth.
" Maksudmu kata 'khawatir' ?. Aku tidak mengkhawatirkannya. "
" Lalu apa yang kamu lakukan dengan berdiri disini?. " Claport tidak percaya bahwa Archduke bisa sebegitu perhatian pada gadis kecil itu, padahal bukan siapa-siapanya.
" Aku sedang menyaksikan dua orang itu adu mulut. " dan jawabannya makin aneh di telinga Claporth, berdiri di lantai dua dan memandang serius lantai satu yaitu ruang tamu, daei mana pun yang terlihat di mata Claport sudah pasti pria ini sedang menunggu gadis bernama Dania itu.
CKLEKK.......
Ke empat orang tersebut langsung terpaku pada apa yang sedang mereka pandang, yaitu dua pintu utama istana yang perlahan terbuka.
" Aku pulang. " suara khas milik gadis itu menjadi pemicu untuk dua kakek dan nenek buru-buru menghampiri Dania yang sedang membawa satu bongkah ikan besar.
" Astaga, kenapa nona membawa ikan sebesar ini?. " Marsha terkejut dengan apa yang dibawa gadis ini.
" Kau...bawa itu ke dapur. " perintah nenek Marsha pada satu kesatria yang tadi membantu membukakan kedua pintu tadi.
" Ikan apa yang anda bawa tadi?. "
" Namanya ikan salmon. "
" Oh... " All
Prok...prok....prok.....
Tepuk tangan itu langsung menggema di istana, tersangkanya adalah Archduke dan Claporth. Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga.
Dania pun akhirnya bertemu kepala pasukan kesatria setelah sekian lama tidak melihatnya.
" Apa yang akan buat dengan ikan salmon itu?. " tanya pria ini.
" Dari pada kamu bertanya seperti itu, biarkan nona mandi dulu, bau amis dan asin, sepertnya anda baru bersenang-senang di pantai. "
" Apa?, bagaimana bisa?. Jarak dari sini sampai pantai itu 20 KM. " Claporth yang tak tahu asal muasal Dania jadi terheran dan dipenuhi rasa penasaran akan sosok gadis ini.
" Sudah-sudah, tahan pertanyaanmu nanti saat makan malam. " sela Benjamin agar tidak menghalangi Dania untuk membersihkan diri.
Dania yang terdiam karena Benjamin menyela untuk menahan pertanyaan dari Claporth berarti sama saja dengan menahan jawabannya, langsung memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan melakukan ritual sore untuk memberihkan tubuhnya yang lengket.
__ADS_1