Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Chapter 82


__ADS_3

Tok....Tok.....Tok.....


" Masuk "


Suara rendah terdengar oleh Dania, kerena sudah di izinkan masuk jadi ia tidak sungkan lagi. Ketika masuk ia dipertemukan dengan si penghuni ruangan itu sendiri, orang yang berbeda dengan yang kemarin dan dia tengah duduk di sofa sambil bersantai.


[ Seorang wanita?, apa yang dilakukannya disini? ] Fikir orang yang sedang duduk itu.


Boleh dikatakan orang ini memiliki rambut hitam juga, tapi matanya berwarna biru, tinggi walaupun tidak seperti yang mulia duke yang besar, dia adalah pria dengan ukuran normal.


[ Tunggu-........, kalau di pikir-pikir setelah reinkarnasi dan hidup di dunia ini, aku lebih banyak bertemu dengan laki-laki. Apa ini juga termasuk dalam permainan Dewa jtdalam


" Ada apa? " tanyanya pada Dania.


" Apa? "


[ Bukankah aku memang harus menemui seseorang disini? ]


" Saya di panggil datang kesini atas perintah pemimpin pasukan Efran " Dania memberikan satu surat yang ia dapati dari Vidal pada pria tersebut.


[ Hmm?.... ] Menerima gulungan kertas dan membacanya dengan sekilas, di bagian paling bawah memang tertera atas nama pemimpin pasukan kesatria.


[ Apa yang ingin Ishid perbincangkan dengan wanita ini?. Perbincangan secara pribadi, menarik. ] tatap pria itu pada Dania.


" Ohh......ini memang saya yang mengirimkan surat beberapa hari lalu . " mengembalikan surat tadi pada Dania.


" Jadi..... "


[ Dia Ishid Lucrenzia? ] fikirnya.


" Kalau bisa kita pindah tempat "


" Baiklah "


Kedua orang itu pun pergi dari ruang kerja tersebut, lalu Dania mengikuti Ishid dari belakang.


" Kalau boleh saya tebak, sepertinya anda belum lama berada disini. Apa hubungan anda dengan Archduke? " tanya Ishid pada Dania.


" Sepupu jauh " jawab Dania dengan cepat.


" Sepupu? " Ishid memberikan tatapan menyelidik pada Dania, Dania sendiri merasakan tatapannya.


[ Dia orang yang tidak mudah untuk di bohongi. Apa aku lebih baik jujur saja? ]


" Lebih tepatnya saya adalah orang yang tidak sengaja di pungut oleh yang mulai Archduke " sambung Dania.


" Ohh....., nama anda Eldania ya?, Eldania...hmm.....sepertinya membutuhkan waktu lama mebereskan markas kesatria ini ya? "


[ Dia langsung mengalihkan pembicaraan ]


" Ah...ya "


" Musim dingin tahun ini akan berakhir lebih cepat dari tahun lalu. " gerutu Ishid, lalu langkah kakinya berbelok ke arah kanan menuju lorong yang lain.


" Ngomong-ngomong Kesatria Jin , dia masih mengeluh karena pedangnya menghilang dan yang menghilangkannya adalah anda bukan?, bagaimana caranya anda mengembalikannya? "


[ Ah....lupa soal pedangnya kesatria yang satu itu, apa itu senjata berharga?. ]


"..............."


" Setiap kesatria bangsawan kelas atas, dia akan mendapatkan pedang khusus untuk dirinya sendiri. Jadi walaupun anda sekarang mempunya orang bernama Archduke, kalau bisa anda harus mempertanggungjawabkan apa yang telah anda lakukan " kata Ishid lalu berhenti di depan satu ruangan dan Ishid membuka pintu tersebut.


Rupanya setelah kedua pintu tadi di buka, di dalamnya adalah rumah kaca, walaupun diluar terasa dingin tapi ketika masuk kedalam suasananya sangat hangat, taman di dalam ruangan cukup cantik jika kalian melihatnya secara langsung. Bahkan atapnya juga dari kaca sehingga dapat terlihat dengan jelas kumpulan salju putih yang sempat mendarat di atap kaca itu, tapi ada beberapa bola cahaya yang tergantung di atas, itulah benda yang membuat suasana di dalamnya begutu hangat.


[ Yah.....itu ada betulnya juga, aku yang menghilangkannya maka aku juga yang harus menemukannya. Aku adalah orang yang akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku lakukan dengan tanganku sendiri ]


" Saya akan mengurus hal itu "


" Oh...ya, sebenarnya saya dari tadi sedang penasaran. " Ishid tetibe berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Dania.


Dia berjalan mendekat ke Dania dan semakin dekat, lalu kedua tangannya terangkat seperti hendak menyentuh wajah Dania.


" Apa yang anda lakukan? " tanya Dania yang merasa terancam dengan tindakan Ishid itu sehingga Dania sedikit melangkah mundur.


" Permisi " tutur Ishid, lalu tangan kirinya memegang rambut Dania yang di ikat ke belakang, setelahnya..


[ I..ni terlalu dekat ] Benak hati Dania merasakan wajah orang bernama Ishid ini sekarang ada di depan wajahnya dengan begitu sangat dekat.


KRASSHH.........


Sekali ayunan semua bagian rambut Dania yang terikat jatuh ke lantai dan membuat tampilan Dania kembali seperti dulu.


Dania menatap rambutnya sendiri yang sudah tergeletak di lantai.


[ Tidak asing, aku pernah melihat dia, seorang perempuan bermata Ruby dan berpenampilan seperti laki-laki. Dia tidak terkejut walaupun aku memotongnya? ] fikir Ishid.


" Tidak baik jika saya mempermainkan wanita seperti anda, maafkan atas kelancangan saya tadi "


CLICKK.......

__ADS_1


Satu jentikan jari merubah kejadian tadi.


Semuanya kembali seperti....


[ Rambutku sepertinya baik-baik saja. Dia seorang penyihir?, padahal aku ingat dia memotong rambutku dengan belati di tangannya ]


" Maaf membuat anda terkejut, saya hanya memastikan satu hal saja " ucap Ishid dengan senyuman ramah tamah.


Setelah peristiwa tadi, tidak ada hal aneh lagi yang di perbuat Ishid ini.


Jamuan teh biasa dan perbincangan sederhana, tapi di pikiran Dania tentu pertemuannya juga tidak sesederhana hanya untuk pertemuan pribadi yang biasa ini.


Tapi kenyataan kalau ia di perdengarkan kisah cerita tentang Hampa/Bayangan langsung dari mulut orang itu sendiri.


Hanya sebagai bualan biasa dan basa-basi saja, hingga semua perbincangan terlarut sampai 2 jam lamanya.


__________________


" Dimana wanita yang harusnya menunggu di dalam ruangan saya ? "


" Uh...maaf, saya tidak tahu, saya hanya mengantar nona itu sampai di depan pintu dan langsung kembali ke pekerjaan saya " tutur kesatria yang tidak sengaja bertemu dengan pemimpinnya di depan pintu ruang kerja si pemimpin itu sendiri.


" Kamu boleh pergi " perintahnya.


[ Apa aku terlalu lama datang dan membuat dia menunggu?, padahal aku yang mengundangnya kemari, ini kesalahanku ]


Sebab jam luangnya sudah habis, Ia pun pergi lagi untuk menemui seseseora.


Maka dari itu pertemuannya dengan Dania yang gagal untuk hari ini, dia akan meminta permohonan maaf jika bertemu dengannya secara langsung.


_____________


Siang itu Dania pergi ke markas kesatria yang setengah hancur itu, bagaimanapun dilihatnya memang sudah hancur sebagian. Reruntuhan bangunan masih banyak yang belum di bereskan, jadi...


[ Mungkin saja tertimbun ]


Dania berjalan memijak reruntuhan batu itu dan mulai melakukan percobaan...


[ Metode sihir pelacak. Jika memang aku penyihir dan pengetahuan yang aku pelajari memang beneran berguna harusnya bisa ]


Untuk kali pertama ia ingin mencoba hal yang belum pernah di coba, sesuai namanya yaitu melacak maka sistem penggunaan dari sihir ini adalah seperti radar.


Dania mencoba untuk berdiam diri dan menutup kedua matanya.


[ Di dalam buku tertulis aku harus berkonsentrasi pada lingkungan disekitarnya menyalurkan mana yang ada di dalam tubuh ke..-, Eh.....ini seperti penglihatan dari pengguna indera ke 6 ]


Bongkahan batu, serangga, manusia yang sedang berjalan, berbagai macam benda yang berada tempat penyimpanan, semuanya terlihat seolah-olah Dania sendiri sedang ada di tempat itu sendiri. Ia mencoba mengingat sepsifikasi dari senjata yang sedang di carinya dan....


Dania berjalan menyusuri bongkahan runtuhan di tanah dan mencari sosok pedang yang tertimbun. Apa yang akan dilakukannya apakah harus menggali?.


Dania membuka telapak tangan kanannya, ia hendak memunculkan pedangnya namun dari pada itu di belakangnya sudah ada satu orang yang mencengkram tangannya.


dan bertanya...


" Mencurigakan, apa yang kau lakukan disini "


" Ada satu senjata milik salah satu kesatria yang terpendam disini "


"............."


[ Terpendam? ]


" Jangan berbohong, disini area terlarang apalagi untuk wanita seperti anda "


" Hah?, apa hubungannya dengan gender? dan lagi pula tidak ada untungnya saya berbohong, jika tidak percaya coba gali "


Dengan begitu Dania tidak usah repot untuk mengeluarkannya dari dalam tumpukan batu itu.


Dari pada beradu mulut lagi jadi lebih baik memutuskan untuk membuktikan kebenarannya. Kesatria tersebut mengeluarkan pedangnya dan beberapa kali ayunan sekaligus menebas batu menjadi beberapa bagian.


CRAZHHH........(3×)


Menjadi bagian batu yang kecil, Dania sedikit menyingkirkan beberapa bagian batu itu ke sembarang tempat dan menggali sedikit lebih dalam, sesaat ketika mengibas beberapa cm salju barulah terlihat kilauan dari pedang itu.


" Ketemu "


" Sebegitu senangnya "


" Ini tanggung jawabku karena kemarin menghilangkannya " mengibas permukaan di pedang, lalu ia mencoba menarik ya namun tidak bisa.


" Pedangnya terlalu berat untukmu wanita! "


" Coba tarik! " Perintah Dania pada kesatria tersebut.


Dengan percaya diri kesatria yang ada di sebelah Dania mencoba untuk menarik pedang yang sebagiannya masih tertimbun.


[ Ini mah mudah ]


Tapi ketika ditarik tidak sesuai perkiraan, cukup sulit untuk di tarik.

__ADS_1


" Kan sudah saya bilang, terlalu berat untukmu Pria "


" Jangan meremehkanku wanita! "


[ Masa aku direndahkan oleh wanita seperti dia?. Tidak boleh jadi ]


Dengan sekuat tenaga, Pria berambut merah ini bersikeras untuk menariknya dan sedikit menggunakan kekuatannya hingga..


" Apa yang sedang anda lakukan? "


TUK..


" Aw..... "


Secara bersamaan ketika pertanyaan itu di tujukan oleh kesatria berambut merah, kesatria itu sendiri sudah berhasil menarik pedangnya. Namun ada satu batu terlempar dan menimpuk ke pala Dania yanga da di sebelahnya.


Dania mengelus-elus kepalanya yang berharga sambil berkata.


" Perhatikan yang disekitarmu "


" Nona? "


Dania melirik ke samping dna menemukan pria bermata zamrud yang waktu itu membantunya berdiri.


[ orang yang waktu itu ya?, lalu di sebelahnya....apa dia kekasihnya?. Kenapa wajah mereka berdua sangat familiar?, dimana aku pernah melihatnya? ] satu orang wanita berpakaian layaknya dokter juga ada di sebelah pria tadi. Ditatapnya Dania pada mereka berdua dan sedar akan dirinya sedang apa, akhirnya pandangannya ia alihkan ke samping.


" Bisa berikan itu? "


" Apa?, pedang ini?. Mana boleh, tidak ada boleh memberikan sembarang senjata pada wanita "


"..........hmmm, saya ingin mengembalikannya sendiri pada Kesatria Jin " tegas Dania pada satu orang yang masih berpikir curigaan.


" Sieg..... " tutur kesatria yang tadi datang bersama dengan wanita disebelahnya.


" Tapi.... "


T


A


T


A


P


" Ugh..., baiklah. Nah " memberikan pedangnya pada Dania.


Tentu ia mmenenrimanya, lalu menarik sisa korden yang tergeletak dan membungkusnya. Setelah itu ia berdiri dan membungkuk sedikit pada ketiga orang tadi sebagai tanda hirmat sebelum ia melangkahkan kakinya tuk kembali.


1 menit berlalu.


" Apa yang sedang anda lakukan disini? " Tanya Sieg.


" Yunifer " panggilnya.


" Ya? " Jawab Yunifer.


" Yunifer tunggu disini, saya akan segera kembali "


" Hm..baiklah, jika Ishid ingin pergi-pergi saja "


" Apa yunifer marah? "


" Kenapa harus marah?, kan itu urusan Ishid "


Lalu orang yang di panggil Ishid memberikan senyuman pada Yunifer sebelum akhirnya pergi.


[ Aku diabaikan ]


Benak Sieg.


" Kesatria Sieg, siapa wanita tadi? "


" Entahlah, saya juga tidak tahu. Tapi pemimpin sepertinya lebih tahu, kita masuk dulu cuacanya semakin dingin " jawab Sieg pada Yunifer dan keduanya berjalan masuk ke sisa bangunan markas tersebut.


di sisi lain.


" Kenpa aku sangat familiar dengan wajah kedua orang tadi?, lalu....wanita itu datang kesini lagi? " Dania melirik ke salah satu meja makan dimana Dania menemukan satu orang yang ia kenal yaitu Erista Crocus.


" Nona...ini pesanan anda "


Menghidangkan macam makanan yang sudah dipesan Dania.


Ya...sekarang dia ada di restoran sendirian, tidak seperti yang pertama yang di temani satu kesatria.


"............."


________

__ADS_1


Musim dingin maka enaknya makan makanan yang hangat, tapi kalau hati yang dingin..?


Kristal tanduk rusa, lebih indah ketimbang berlian, tapi harganya 1 koin emas?.


__ADS_2