
Pada akhirnya, sebuah keputusan sudah dia ambil.
Dia mengambil pilihan pertama, untuk menerima tawaran dari undangan yang dia terima beberapa hari lalu.
Jadi apa yang akan dia lakukakn sekarang adalah.....
[ Entah kenapa, aku harus minta izin dulu. ] Menggaruk-garuk kepalannya yang tidak gatal itu.
Dania berjalan di koridor.
Ya....saat ini, dia sedang berada kastil milik Archduke.
Tidak terlalu besar, juga tidak seberapa mewah.
Karena merupakan kastil tua, dan Archduke tidak ingin membuat perubahan pada kastil lama ini selain melengkapi apa yang perlu di lengkapi saja.
Jadi Dania tetap merasakan hawa dingin dari bangunan ini, karena lama tidak di huni selain hanya untuk sekedar di bersihkan secara rutin saja oleh pengurus kebersihan di kastil ini.
" Apa ini sempel batu yang baru kalian temukan?. "
[ Oh...suara ini. ] mencari-cari asal sumber suara yang dia kenal, Dania menemukannya sedang berada di ruang tamu.
CLING.....
[ Wah....] kagum dengan batu yang Dania lihat, kilauan dari batu tersebut seperti sedang memanggilnya.
Jadi Dania pergi mendekat, agar bisa lebih jelas, melihat batu kristal itu.
" Ya tuan, itu adalah batu pertama yang di tambang. " kata pria ini. Setelah mendapatkan batu kristal yang pertama, dia segera menyerahkannya kepada Archduke untuk meminta pendapat dari penguasa ini.
" Baru ini saja kan?. " tanya Archduke.
" Iya, kami memberhentikan prosesnya dan menjaga ketat gua tersebut agar tidak ada yang masuk, karena kami menginginkan anda mengonfirmasi batu itu apakah aman atau tidak. "
Terkadang ada batu yang terlihat sangat cantik, sampai-sampai tidak bisa di bandingnkan dengan segudang harta kerajaan.
Tapi, di balik kecantikan batu itu, ternyata berbahaya karena mengandung racun mematian, ataupun memiliki kekuatan magis yang terlarang.
Itulah mengapa Archduke sering kali untuk menghentikan proses penambangan setelah mendapatkan sempel pertama seperti ini.
" Apa kamu suka ini?. " Menyadari keberadaan Dania yang sudah ada di belakangnya, Archduke langsung bertanya mengenai pendapatnya.
" Aku suka. Perempuan mana yang tidak suka dengan batu berkilauan seperti itu. " Dania pergi duduk di sebelah Archduke dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Archduke, karena dianya yang sedang memegang batu cantik itu.
" Benar sekali nona, saya sendiri juga merasa tertarik dengan batu itu, sampai awalnya, saya jadi punya niatan untuk memberitahukannya kepada yang mulia. "
" Nah itu!. " ucap Dania dengan sedikit keras, lalu segera berpindah tempat ke kursi single, demi menjauhkan diri dari benda tersebut.
" Nah itu apa?. "
" Batu itu, adalah batu yang dapat memikat hati si pemegang dan yang melihat. Dalam kurun waktu 24 jam, batu itu akan meleleh dan aroma yang menyebar bisa membuat orang yang tak sengaja menghirupnya, akan mengalami keracunan, seperti hilangnya indera penciuman. " jelas Dania.
Memberikan informasi yang dia milikki ke pada mereka berdua.
DEGG.....!.
" Bagaimana anda tahu, bahwa batu itu akan menghasilkan efek seperti itu?. " tanya pria tua ini.
" Soalnya, aku pernah mengalaminya. " Singkatnya, dia pernah mengalaminya waktu dimana dia pulang dari kampung halaman Arhes, dan saat itu, Dania membawa pulang sekarung batu yang isinya adalah batu kristal dan batu yang di luar tidak terlihat menarik tapi ada fungsi besarnya.
Semua itu dia dapatkan saat menemukan sebuah gua yang tersembunyi di balik air terjun dalam perjalanan pulangnya.
Dan di antara salah satu batu itu, ada satu batu berwarna merah muda, sama seperti yang sedang di pegang oleh Archduke itu.
Hasilnya, sudah seperti yang tadi dia jelaskan.
" Kenapa tidak bernah memberitahuku, jika kau pernah mengalami hal seperti itu?. " Sela Archduke seolah khawatir, lalu meletakkan kembali batu itu ke dalam kotak.
" Ini aku sudah memberitahumu. " Dania melirik ke arah batu yang sudah ada di dalam kotak perhiasan.
" Iya, tapi kenapa terlambat memberitahuku. "
" Aku sudah tidak apa-apa, jadi tidak ada gunanya untuk di bahas, selain......jika memang aku menemukan batu itu lagi. Maka aku akan memberitahu informasi yang aku tahu pada kalian." menatap batu itu lagi dengan serius.
Dua orang ini terdiam.
Archduke percaya-percaya saja.
Namun..
Yang satu, sedikit tidak percaya.
Jika sudah tidak apa-apa berarti memang ada penawarnya.
Padahal, Dania bisa sembuh sendiri berkat kekuatan suci yang di milikinya, jadi memang tidak masalah untuk dia seorang saja.
Tapi akan menjadi masalah jika untuk orang lain, termasuk oranng biasa. Tidak semua orang bisa memanggil seorang penndeta, atau pun dokter, bahkan bahan obat-obatan herbal untuk menyembuhkan efek dari racun itu sendiri juga belum di ketahui alias belum ada.
" JIka tidak percaya, coba saja untuk membiarkan batu itu di sini. Setelah meleleh karena perbedaan suhu yang berbeda dari asal batu itu, maka hasilnya akan di ketahui. " Dania memberikan kesempatan itu, kepada orang yang setengah percaya dan setengah tidak percaya itu.
Sesuai dengan penjelasan yang di berikan oleh Dania kepada mereka berdua, itu bisa jadi sebuah ancaman, jika memang benar-benar bahwa batu kristal itu berbahaya.
Berbahaya lainnya adalah...... gua tambang yang sudah di buka, dan membuat suhu dari luar mausk ke dalam, memberikan efek suhu yang berbeda, berarti kemungkinan terburuknya, bahwa semua batu kristal yang ada didalam itu akan memiliki efek lebih besar, yang akan membuat daerah sekitar akan terkena imbasnya.
Kemudian Dania berkata lagi.
" JIka mau di gunakan sebagai tujuan licik, ada baiknya untuk meletakkan sihir di area tambang, lalu sedikit sihir untuk di tanam ke batu itu, yang memungkinkan suhu tetap terjaga untuk menjaga batu itu tetap utuh, dari awal di tambang sampai ke rencana itu sendiri di mulai. "
Dua orang ini sedikit tercengang, membuat Archduke segera menyela.
" Apa kau sedang menghasutku?. "
Sambil sedikit mengerucutkan bibirnya, karena sadar kalau yang tadi keluar dari mulutnya sendiri merupakan hasutan, Dania kembali berbicara, membela dirinya sendiri.
"........................., aku hanya mengutarakan pendapatku. Jika memang tadi adalah hasutan dariku, itu tergantung di gunakan sebagai apa kan?. Tiap orang punya sifat alami mereka, untuk melakukan kejahatan atau pun kebaikan, jadi.......semuanya kembali lagi kepada kalian. Apakah batu kristal itu memang di perlukan atau tidak. "
Lalu demi menghilangkan rasa penasaran mereka, maka batu kristal itu di letakkan di dalam glass dome.
" Agar bisa lebih percaya dengan ucapanku, bagaimana jika ada yang menjadi kelinci percobaan ini?. " Dania menawarkan ide itu, tapi apakah ada yang mau?.
" Aku saja. "
" Yang mulia!. " terkejut, kalau yang akan menjjadi kelinci percobaan adalah Archduke sendiri.
" Kamu kelihatan enggan, jadi aku saja. Sekalian bisa mencoba seperti apa efek racun itiu. "
__ADS_1
" Itu berbahaya. "
" Hanya indera penciumanku saja, apa yang berbahaya. " Archduke tetap pada pendiriannya, dan glass dome yang berisi kristal itu langsung di bawa.
" Yang mulia, sekalipun saya memang tidak mau, biarkan saya saja, saya tidak mau seorang bangsawan seperti anda menjadi kelinci percobaan itu. "
" Terlambat. " Dan berjalan pergi ke kamar.
[ Sepertinya jadi kesempatan agar aku bisa berbicara berdua dengannya. ] fikir Dania.
Setelah kepergian Aechduke yang baru mengambil 10 langkah, Dania segera ikut pergi mengekori pria itu dari belakang.
*********
" Sepertinya memang ada yang ingin di bicarakan ya?. " tebak Archduke sembari meletakkan Glass Dome di atas nakas.
" Apa itu berhubungan dengan surat yang kau terima dari burung hantu waktu itu?. "
[ Tebakannya, tepat sekali. ]
Diam-diam memujinya.
Tapi kembali ke tujuan, awal.
Dania kini akan meminta izin, pendapat, dan juga akan bertanya apakah pria ini tahu tentang Academy itu atau tidak.
Dengan begitu, setidaknya dia punya sedikit informasi dari pada tidak ada sama sekali.
" Iya. Aku di tawari untuk masuk ke Academy Klenon, dan surat itu adalah undangannya. "
" Lalu apa keputusanmu?. " berjalan mendekati ranjang yang baru saja di bersihkan, Archduke duduk dan menatap gadis yang sedang berdiri di depannya ini.
" Aku ingin pergi. "
" Jadi maksudnya, kamu sedang meminta izin dariku?. "
" Iya. " jawab Dania dengan singkat, tapi matanya melirik ke arah lain.
" Bukannya kamu menganggapku sebagai adik.., jadi....um, jadi...."
[ Ah....ini aneh, aku tidak pernah minta izin seperti ini sebelumnya. ]
Dania merasa frustasi sendiri.
Tidak bisa mengucapkan kata-katanya dengan sekali nafas, tapi malah tersendat seperti orang yang tidak bisa bicara.
" Jadi sebagai adik, aku.......minta izin darimu. "
sambungnya .
" Ternyata kamu bisa bertingkah seolah ini pertama kalimu minta izin pada orang lain. Padahal tadi, wajahmu seperti sok tahu tentang batu kristal itu. "
[ Apa lagi saat menyebut dirinya sendiri adik, wajahnya seperti tersiksa. Tapi itu lucu. ]
Dalam pikirannya, Archduke tertawa...karena bisa melihat tingkah gadis yang biasanya arogan dan seenaknya ini, malah seperti orang yang tertekan, saat menagatakan 'adik'.
"......................."
[ Aku memang baru pertama kalinya seperti ini!. ] Jika saja bisa berteriak, Dania ingin sekali berteriak pada orang ini langsung.
" Jadi bagamana?. "
" Hm..bagaimana ya?. "
Arcdhuke pura-pura berpikir.
Kebetulan sedang duduk di atas kasur, jadi dia langsung menjatuhkan tuubuhnya ke belakang.
BRUUKK........
Sambil menatap langit-langit, Archduke akhirnya menjawab.
" Itu kan keputusanmu, lakukan apa yang kau mau. Tapi syaratnya, tetap di sini sampai besok. "
" Apa itu saja syaratnya?. "
"......................." Arcdhuke melirik ke bawah, tepatnya di depannya.
Gadis itu masih berdiri di situ, tapi..
[ Aku sedikit heran, dia bertanya lagi seolah itu bukan masalah. Pria dan wanita berada di satu kamar yang sama, apa dia tidak memikirkan kalau saja aku ini bisa melakukan lebih dari sekedar mengobrol biasa dengannya. Lalu, jika saja dia gadis biasa, apakah dia masih akan tetap sama bertanya seperti itu dan mengiyakan saja jika aku memerintahnya untuk tidur di sini menemaniku?. ]
Masih terdiam, menunggu jawaban dari Archduke.
Archduke sendiri tidak begitu mengerti kenapa ada gadis seperti dia ini.
[ Pasti dia meminttaku di sini saja agar aku bisa langsung menyembuhkan racun itu kan?. ] Dan itu, hal yang di pikirkan oleh Dania, menggenai syarat yang di berikan pria ini kepadanya.
Dua orang yang memikirkan duhal yang saling bertolak belakang.
Dialah.........Eldania dan Archduke.
" Iya. "
Jawaban yang sudah di dapatkannya pun, berarti menjadi titik awal Dania, untuk pergi ke tempat lain.
Kini jam sudah pergi, menunjukkan pukul 8 malam, yang berarti sebentar lagi, batu kristal itu akan beraksi.
Dania yang akan memenuhi syarat itu, pertama-tama pergi ke dapur dan kembali dengan membawakan kopi.
Kopi yang dia buat, adalah kopi capuccino khusus yang dia racik sendiri, dimana di atasnya ada krim putih dan di sajikan dengan sebuah gambar yang merupakan taburan dari bubuk coklat, dia menghiasnya dengan bentuk gambar dari lambang Ssneider, yang mengusung hewan singa, menjadi lambang kebersaran dari keberadaan sosok Grand Duke ini.
Archduke terkesiap, ini baru pertama kalinya mendapatkan kopi unik seperti itu.
" Aku sudah mengajarkan koki istanamu, agar bisa membuat kopi seperti ini termasuk cara menggambarnya. Itu bisa di jadikan tren jika keadaan Rovathia sudah pulih, dan akan menjadi keuntungan jika di jadikan bisnis. "
SLURRPPP..........
" Apa itu sebagai balas terima kasihmu lainnya, kepadaku?. "
" Aku cuma........" ucapannya langsung menggantung. Dania sedikit berpikir, selagi menatap kopinya sendiri yang sudah tinggal setengah.
" Ingin memberikan hal yang tidak pernah aku berikan kepada orang lain, itu sebagai imbalan karena kamu sudah memberikan sesuatu yang belum aku punya selama ini. "
Yaitu ........
__ADS_1
' Kehangatan. '
Dania sedikit demi sedikit sudah merasakan kehangatan yang ada dalam keluarga sebenarnya.
*****
Esok harinya.
[ Sebenarnya, kemana dia pergi?. Aku sudah lama tidak melihatnya. Apa jika aku memanggilnya, dia akan datang?. ] Dania mendongak ke atas. Langit biru bersih, menandakan kalau hari ini akan menjadi hari yang terus bersinar terang.
Juga, hari ini.....niatnya adalah dia akan berangkat. Tapi dia akan naik apa, jika burung itu saja tidak kelihatan paruh hidungnya.
Tidak ada cara lain untuk memanggilnya, Dania mengangkat tangan kanannya, memasukkan ke dua jarinya, yaitu jari jempol dan jai telunjuk, setelah itu, dia langsung mengehmbuskan nafasnya lewat mulut.
PRIIITTT..........
"...................?. "
[ Apa itu akan berhasil?. ] Dania baru saja bersiul keras, dan mencoba menunggu sebentar, adakah Everst akan datang atau tidak.
Mendengar siulan keras, pria ini tiba-tiba datang menghampiri gadis yang sedang berdiri di balkon.
" Apa kau yakin pergi hari ini?. "
Dania menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil. TIdak ada pilihan lain, selainn hari ini, karena perjalanan untuk ke sana, akan memakan waktu yang lama. Walau menggunakan teleportasi, maka harus menggunakan sihir yang lebih banyak, tapi siapa yang mau?.
Dan Dania tidak bisa menggunakan sihir seperti itu, dan meskipun punya, itu sangat menguras energi dan tiap kali berpindah tempat, hasilnya , kepalanya akan sedikit pusing.
Lalu cara yang paling tepat, adalah menikmati perjalanan ini dengan nyaman, supaya, dia bisa melihat lebih jauh lagi seperti apa dunia ini.
" Bawa ini. " Archduke tiba-tiba menyerahkan satu kartu berwarna hitam kepada Dania.
" INi...!?, kenapa memberikannya untukku?. " Sebuah Black Card, itu tidak mungkin hanya di berikan kepadanya secara cuma-cuma seperti ini, jelas Dania akan menolaknya.
" Aku tidak bisa. "
" Aku sudah mengiranya, jika kamu akan menolak ini. Tapi jangan salah paham, aku tahu sifatmu yang tidak terlalu suka dengan pemberian secara cuma-cuma. Kartu ini, biaya pembuatan dan pendaftarannya adalah 100 juta emas. Anggap saja aku memberikan pinjaman untukmu, kau bisa membayarnya kapan-kapan. Karena kartu ini tidak bisa langsung kamu gunakan, jadi harus di isi sendiri. "
" ................., jadi kartu kosong?. Ok...aku tidak akan sungkan. " Mengammbil Black Card dari tangan Archduke.
Dia tahu, kalau Black Card ini adalah sebuah kartu, dimana dia bisa menggunakannya kapan pun dan di mana pun. Tanpa batasan nominal, Dania bisa mengisi alias menabung dengan suka hati dan bisa mengeluarkan { menggunakan ) uang tanpa batasan, jadi tidak masalah jika hanya baru di daftarkan saja, itu sudah lebih dari cukup.
Karena yang terpenting, sekarang dia jadi punya hutang baru kepada Archduke, dan pelan-pelan akan di bayar, sekaligus pelan-pelan mencari uang demi mendapatkan kekayaannya sendiri.
KWAAKKK...............!
"...............! " All.
Mendongak ke atas, burung coklat itu langsung mendarat dengan sayap besarnya.
Di satu sisi, burung hantu berwarna kelabu, sudah menunggunya dari tadi, dan sedang berdiri di atas sebuah batu.
Archduke pertama kalinya melihat burung sebesar itu di depan matanya, dan itu adalah burung yang selalu menempel ke Dania.
" Aku....pergi dulu...., .......? " Dania sedikit ragu dengan nama panggilan yang ingin dia panggil kepada pria ini. Tidak mungkin tidak punya nama panggilan selain Archduke, pasti punya nama asli, tapi Dania merasa sulit untuk menyebutkan namanya.
" Panggil aku Deon. "
" Kak Deon. Aku pergi..pamit. " Ucap Dania, pertama kalinya memanggil nama dari orang ini lewat mulutnya.
DEGG.........
Archduke alias Deon, yang baru pertama kali mendengar namanya di panggil, tiba-tiba merasakan sesuatu.
Yang akan menghilang dari dirinya lagi.
Sebuah perpisahan lagi.
Benar, gadis ini selalu bisa pergi.......dan bisa saja menghilang tanpa di ketahuinya.
Tapi, dia pergi pamit sambil memanggil namanya (Deon).
Ketika, gadis itu berbalik, berjalan mendekati burung besar itu, Deon langsung mengulurkan tangannya, dan.........
GREPP......
Menghentikannya, sekaligus segera menariknya langsung ke arahnya, sehingga, Deon langsung menerima tubuh mungil itu, untuk masuk ke dalam dekapannnya.
" A-apa?!. " terkejut dengan tindakan tidak terprediksi dari orang ini.
" Tidak apa. " singkat Deon.
Dia memeluknya dengan erat, dan memejamkan matanya, untuk sedikit menikmati pelukan sesaat itu.
[ Ada apa dengan orang ini?, kenapa tiba-tiba memelukku?. ] Dania hanya membiarkannya saja, dan dia pun ikut membalas pelukan yang terasa hangat itu.
[ Lumayan. ] sampai-sampai dia, malah menjadikan ini sebagai kesempatan.
" Untuk seterusnya, berhati-hatilah. "
".................!. "
Mendengar hal tersebut, pikiran yang tadinya adalah pikiran sesat, bisa di peluk oleh pria ini, seketika langsung menghilang, tergantikan dengan pertanyaan.
[ Apa ini............, maksudnya....] dia mencoba untuk menatap ke atas. namun Dania hanya melihat dagu orang ini saja saking perbedaan tinggi yang cukup signifikan.
[ Pelukan perpisahan dari seorang kakak kepada adiknya?. ]
Dania yang tidak pernah mengalami hal seperti ini, hanya terpegun.
Benar......
Semenjak dirinya ikut, dan mau menjadi adik dari Archduke atau Deon ini, apa yang belum pernah Dania rasakan, pelan-pelan dia dapatkan, dan itu hanya saat berada di dekatnya, juga di sekitar pria ini.
{....................} Everst yang melihat pemandangan dua orang ini, hanya terdiam, dan melihatnya saja tanpa protes.
" Iya. "
KUUUU~~~~
" Selamat tinggal, jaga dirimu. " Setelah itu, sebelum Deon melepaskan pelukan itu sepenuhnya, dia tidak lupa untuk memberikan sebuah...
CUPP.......
Kecupan kecil.
__ADS_1