Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
pertarungan 2


__ADS_3

Semua orang didalam gua sudah dalam keadaan sadar, namun ada juga yang masih linglung.


Tapi masalah terbesarnya hanya ada satu, yaitu jalan keluar. Gerbang tadi sudah tertutup seiring sihir milik Grint lemah karena tongkatnya sudah hancur.


Banyak orang bergumam panik karena tidak tahu mereka berada di tempat apa.


Sadar tangan masing-masing memegang alat untuk menambang, mereka pun mereka membuangnya dan mulai mencari jalan keuar.


" Tepat waktu " Decih Karasov lepas sampai di dalam gua dengan tepat waktu sebelum gerbang itu tertutup.


" Sebaiknya kita berpencar " perintah Karl dengan tatapan datar.


" Jangan memerintah, aku dan anak buahku akan sekalian mencari batu itu disini, karena kemungkinana kita sedang ada tepat di kaki gunung " Karasov dengan semua anak buahnya pun mulai berpencar menemukan anggotanya yang lain selagi mencari benda yang diincarnya.


"............"


Karl hanya bisa diam, karena dari awal kesepakatan itu hanya untuk sementara waktu saja.


HWARRGHHH.......!!!!!!


" Suara apa itu? "


Semua orang mulai gaduh...lalu ada puluhan orang berlari dan berteriak histeris seakan-akan dikejar sesuatu yang memyeramkan.


Tapi faktanya memang...benar.


" Minggir....minggir..!, aku tidak mau mati.!" Teriak laki-laki sambil berlari dengan wajah pucat.


" Semuanya lari..ada monster.!!"


Kata Monster itu lantas membuat semuanya terkejut, sudah diculik lalu sekarang dihadapkan oleh monster?, hari-hari yang sial bukan?.


" Aarrghhhh......, tidak...jangan bunuh aku! " Ada satu orang terjatuh lepas tersandung batu.


Teriakan itu membuat semua orang takut, hanya dari bayangannya saja sudah menunjukkan kalau monster itu besar dan tidak pandang bulu mengenai sasarannya.


Semua yang ada di hadapannya ia bunuh dan mengkoyak tubuh korbannya hingga mengeluarkan organ tubunya.


Satu persatu, manusia yang merupakan warga dari desa Jacilky terbunuh karena diterkam oleh monster misterius itu, tidak ada yang berani untuk melihat monsternya dengan mata kepala mereka sendiri, karena dari tadi hanya dengan melihat dari bayangan dari lorong sebelah saja sudah membuat semuanya merinding sebab darah yang berterbangan menghiasi tanah dan dinding gua.


Bayangan tersebut semakain mendekat disertai langkah kakinya yang terdengar jelas, semakin dekat mereka semua akhirnya melihat sosok dari monster itu.


Monster serigala dengan ukuran tubuh lima kali lipat dari ukuran serigala normal, memiliki bulu berwarna pitih serta ada tanduk di atas kepalanya. Ada noda darah menempel di bulu putih nan halus itu membuktikan bahwa puluhan orang sudah benar-benar ia bunuh.


Mulut dengan gigi yang super tajam dan kuat itu sudah mengoyak mangsanya dengan ganasnya, hanya saja mosnter tersebut tidak memakan tubuh korbannya, monster itu membunuh manusia dengan sadis bagai boneka yang dapat dimainkan sekali saja.


" Aku, Camilo, Eden, Davis, Zoe bersiap lindungi para warga. Sisanya cari para pendeta kesatria Tristan, dan Trafis. " Karl memerintahkan para pengikutnya untuk menyerang Monster Battle Wolf dan sisanya mencari anggotanya yang menghilang.


Sebelum itu Karl mengeluarkan sebuah kertas yang sudah dibentuk menjadi burung, lalu hanya dengan hitungan detik kertas itu terbang.


" Kalian semua ikuti burung kertas itu, dia akan mengantar kalian sampai keluar dari sini selagi kami memghalangi monster itu untuk mengulur waktu kalian "


Dengan antusias mereka semua mengejar burung kertas tadi ke arah yang berlawanan dan membuntutinya agar bisa keluar dari gua itu.

__ADS_1


Sedangkan kelima orang kesatria itu sudah berdiri bersiap siaga untuk menahan monster BattleWolf. Kesatria yang tersisa mencari keberadaan kesatria Tristan serta para wanita yang katanya disandera sebagai pelayan seseorang dan anak-anak yang sama halnya dengan mereka yang kemungkinan besar dipenjara atau dijadikan budak.


Semuanya berpencar melewati dua lorong gua yang tersisa dari empat lorong yang ada.


Tidak banyak kesatria yang bisa menggunakan sihir, banyaj diantaranya ada yang membawa benda sihir karena memang disediakan untuk keadaan darurat, sama halnya yang dilakukan Karl tadi.


Sekarang dua orang masing-masing tadi sedang menelusuri lorong, lalu di lorong yang di masuki oleh Kesatria Marcello serta temannya yaitu Sean hanya ada jalan lurus seperti lorong tak berujung, mereka berdua mulai risau apakah itu jalan yang benar atau salah, karena tidak ada satu pun yang mencurigakan hingga setelah dua ratus meter lebih berjalan yang di dapatinya hanyalah jalan buntu.


Ia toleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sesuatu, karena perkiraannya jika lorong yang terlihat menyeramkan atau lebih tepatnya seperti terbengkalai maka ada sesuatu yang tersembunyi. Maka dari itu Marcello menyuruh Sean untuk mencari sesuatu, yang bisa ditebaknya mungkin adalah pintu rahasia?.


" Memangnya disini ada pintu rahasia? "


" Tidak salahnya mencoba bukan? " Marcello masih meraba-raba dinding Gua dan sedikit mengetuk-ngetuknya sambil mendengarkan suara yang dihasilkannya.


Setelah 4 menit berlalu, tidak ada hasil yang didapatinya namun Marcello masih tidak menyerah.


" Sudahlah, kita pergi dari sini...membuang waktu itu bukanlah kebiasaan kesatria. " Kata sean dengan wajah bosan, karena tidak ingin meninggalkan Marcello karena memungkinkan mereka akan mendapatkan masalah lebih besar jika keduanya berpisah , lantas dia duduk untuk istirahat sebentar karena dalam keberadaan mereka berdua yang berada di dalam gua paling dalam, maka secara otomatis jumlah oksigen disitu juga semakin menipis.


Tetapi tanpa disengaja, batu yang diduduki Sean bergerak turun, dan perlahan dinding gua yang ada tepat dibelakangnya bergerak.


" Wajah mengeluhmu menyelamatkan kita, Kamu menemukan pintu rahasia. "


Puji Marcello, lalu tidak perlu membuang waktu lagi Marcello melangkah masuk melewati pintu rahasia tersebut


Walaupun Sean masih memasang wajah terkejut antara percaya dan tidak percaya.


" Sampai kapan kamu duduk disitu?, tidak ada waktu untuk terkejut " sambungnya lagi melihat Sean yang masih terdiam bengong.


" Ah....ya " Sean mengikuti Marcello dari belakang, lalu ketika sudah melewati pintu tadi mereka dibawa masuk ke koridor sebuah bangunan yang mewah dengan karpet merah terbentang di jalan itu. Terlihat berbagai macam patung terpajang di setiap sisi jalan.


Keduanya pun berpisah ke sisi yang berlawanan.


Sean berjalan ke sisi kanan dan Marcello ke sisi sebaliknya.


******


TRANG....!,CTANG......!!


Kedua pedang itu saling berdenting...keduanya saling beradu pedang.


Pertarungan yang dilakukan dari tadi masih menghasilkan poin yang seimbang.


Masih belum ada yang menang maupun kalah, talenta yang Danie pendam selama ini tidak bisa ia kendalikan karena mengaruh sihir yang entah dari mana ia dapatkan.


Dari luar kamar Sean dari tadi membuka satu-persatu kamar yang ditemuinya, dan kebanyak menemui dua orang yang sedang seranjang bersama dalam keadaan kebingungan sekaligus terlejut.


[ suara ini?..] Sean mendengar suara ribut dari kamar sebelah, karena penasaran ia segera pergi ke sana, namun sebelum itu..


" Kalian berdua sebaiknya pergi dari sini bersama yang lainnya, pergi ke arah kanan... "


Sean mendorong mereka pergi ke tempat dimana tadi ia dan Marcello masuk, apa yang membuatnya menggiring mereka semua keluar lewati lorong gua tadi?..


Masalahnya sederhana, tempat yang sekarang mereka tinggali, tidak ada satu pun jendela atau pintu keluar.

__ADS_1


Bagaikan penjara tanpa lubang angin, hanya ada sihir di dinding yang membuat seolah-oleh itu adalah jendela bagai kediaman disebuah istana. Sihir lukisan, terlihat nyata namun semuanya hanyalah ilusi belaka.


CTANG ..... !, CCTTANGG.......!


Krietttt.......( Sean membuka pintu dimana asal suara keributan yang dari tadi mengganggunya )


Seketika Sean terbelak kaget...., ketika ada pedang melintasi ke arahnya namun untung dirinya bisa menghindar dengan cepat, tetapi yang membuat dirinya seketika marah adalah ia melihat Tristan berjongkok dengan luka disana dan disini


" Kau...! " Sean membuat muka bengisnya, tidak habis pikir yang membuat Tristan luka itu adalah..


" Pendeta.! "


[ Dia melukai Kesatria Tristan sampai seperti itu !..tidak bisa di maafkan !]


SRINGG.....! ( Sean langsung menghunuskan pedang ke arah Danie )


Danie dapat menangkisnya hanya sekali ayunan, dan membuat pedang milik Sean terlepas dari genggamannnya.


[ Ba..bagaimana bisa! ]


" Ka..ķamu...pergi bawa...ke...satria...Tris......da..ri sini! "Seru Danie pada Sean dengan nada gugup...sebenarnya bukan gugup, Danie yang sedang melawan dirinya bergerak tidak sesuai kemauannya membuat dirinya mengerahkan tenaganya sendiri ( Menahan dirinya sendiri dari pada melawan Sean dan Tristan )


Dari mata yang dilihat Tristan, Danie sedang menahan diri, itu dapat dilihat dari peluh diwajahnya..


" Capat..! " teriak Danie..masih berusaha keras walaupun sedikit demi sedikit tangan dan kakinya bergerak lagi, tangannya memgayunkan pedang dan hampir memenggal leher Sean...tapi tepat waktu ia masih bisa menahanmya sekejap.


[ Dari pada melawan dia, lebih baik ikuti perintahnya...Tristan.!, dia terluka...aku harus secepatnya pergi dari sini ] Dikir Sean, ia menundukkan kepalanya kebawah agar dapat menghindar dari pedang yang terlentang di depannya.


Segera Sean memapah Tristan keluar dari kamar.


" Cepat...yang lain sudah menunggu "


" Ta..pi...pende- "


" Dia sendiri yang menyuruh kita pergi dari sini...tinggalkan dia " sela Sean selagi memapah Tristan.


Di tempat Marcello, dia banyak orang yang ada di bangunan tersebut, memerintahkan mereka keluar dari situ lewat pintu rahasia itu.


Lalu melihat Sean sudah menemukan Tristan, ia pun segera berlari mendekat ke arah Sean dan tristan.


Di dalam pikirannya ia bertanya-tanya kenpa tidak menemukan pendeta Danie, dan justru hanya bisa menemukan Tristan seorang.


" Apa kalian melihat pendeta Danie? "


" I- "


" Tidak!, aku hanya menemukan Tristan sudah dalam kondisi seperti ini " Sean cepat menyela ucapan Tristan tadi, bagaimanapun karena perintah Danie untuk segera pergi maka artinya tidak ada hak bagi Marcello mengetahui keberadaan Danie juga.


Tadinya Marcell sedikit curiga, namun karena keadaan sudah mendesak juga, Marcell segera membantu Tristan menawari bantuan padanya agar digendong di punggung Marcell.


Sebelum berjalan Marcell sedikit menoleh ke belakang, tempat dimana Sean dan Tristan muncul.


" Ayo pergi " pinta Sean pada Marcell.

__ADS_1


Dengan berat hati Marcell berjalan keluar, walau ada sedikit keganjalan dihatinya namun segera ia ketepikan.


__ADS_2