Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Selamat tinggal Linstone


__ADS_3

" Hahh...hahh...hahhh....kenapa ada yang bisa mengenaliku?, padahal lukaku sudah aku samarkan "


《 Dean Parisot : Pesta di saat wabah terjadi 》


[ Tapi untungnya aku sedikit memberi kesatria itu pelajaran ]


Flashback On.


" Tidak sopan!, apa yang kalian mau ? " Marah si Dean,lalu memberikan uang pada pedagang.


Namun sebelum pergi Dean sempat menempatkan sebuah duri kecil di tudung kepalanya tadi, jadi walau hanya sedikit tertusuk kemungkinan yang terjadi akan tetap terjadi.


Flashback Off.


Kembali ke tempat dimana Danie dan Rudolph berada.


" Ah...... "


Danie segera memutar kepalanya tuk menoleh kebelakang, Danie mendapati Rudolph hampir jatuh terduduk.


" Kamu kenapa? "


Seperti yang dialami dirinya, Rudolph ternyata terkena virusnya juga


[ Ini...] Rudolph melihat di depan matanya muncul pola sihir.


" Kekuatan Virus "


[ Tidak ada waktu lagi, jangan sampai lolos atau aku akan mati ] Danie melihat ke depan sana dimana orang tadi sudah jauh.


{ Aku yang akan menangkapnya untukmu }


Danie berlari lagi agar tidak tertinggal jauh, Rudolph turut andil dalam pelarian kejar mengejar buruan.


[ Jadi orang ini menahan rasa sakit selama ini? ]


" Kenapa melirikku? " Tanyanya, sedar kalau dirinya di perhatikan Rudolph dari awal tadi.


"........."


" Lebih baik kita berpencar " Danie mengambil jalur lain untuk mempersingkat waktu karena situasinya semakin genting dan waktu juga tidak banyak lagi.


*****


Everst terbang tinggi mengikuti dari atas, melihat jalur pelarian manusia yang sudah membuat tuannya menderita.


Masih mengandalkan kekuatannya untuk mengirim apa yang dilihat dirinya kepada Danie, untuk mempermudah jalur mana yang harus Danie lewati agar bisa berpapasan dengan si Dean Parisot.


Tetapi jalur pelarian si Dean mengarah ke hutan Monster, karena hutannya(pohonnya) yang lebat, maka Everst tidak bisa memantaunya dari atas dan harus masuk ke dalam juga.


[ Masuk ke dalam hutan, memang pilihan yang terbaik ]


Danie bergerak masuk ke dalam hutan, Rudolph masih berusaha mengejar Dean dari belakang jadi sama-sama masuk ke dalam hutan Monster.


Dari balik pohon lain seperti ada sekelebat bayangan yang cepat. Rudolph tidak tahu apa itu tapi firasat buruk mendatanginya.


HARGGHHH......

__ADS_1


Seketika Rudolph memberhentikan lariannya sebab di depannya tetibe ada kelabang berukuran besar menghalangi jalannya.


Besarnya melebihi 10 orang dewasa, ketidak beruntungan Rudolph sudah terkena virus sekarang ada monster yang menghadang.


[ Tidak ada waktu meladeni monster ini ]


Rudolph dengan kekuatan yang dimilikinya, ia menebas semua kaki yang ada agar tidak berjalan lagi.


Walau sudah mengalahkan monter itu, ia kedatangan tamu yang lainnya.


Mengurusi Monster sama saja menyia-nyiakan waktu yang tersisa.


Jadi hanya dengan melumpuhkan bagian matanya saja itu sudah lebih dari cukup untuk mengukur waktu dirinya kabur dan mengejar buronan tadi.


******


Di atas salah satu pohon yang tinggi terdapa sosok perempuan sedang duduk di dahan pohon.


" Tidak menarik jika tidak ada yang menghalangi mereka semua " lalu di tangan kanannya dia sedang memegang botol kaca dan dengan sengaja ia jatuhkan dari atas sehingga ketika menyentuh tanah, botol itu pecah.


" Silahkan menikmati, rasanya di kepung monster "


Kebetulan Dean melewati pohon yang di duduki oleh wanita( Chloe ), namun ia nya tidak sadar dan hanya berpikir bisa kabur dari kerjaran mereka.


Tidak perlu waktu 1 menit satu persatu monster datang karena mencium aroma yang memikat.


" Mereka tidak menyerangku?, apa ada yang membantuku? " bisik Dean dikala masih berusaha berlari, padahal berpapasan dengan monster tetapi tidak ada satu pun yang menyerang dirinya.


[ Bau ini, dia ada di dekitar sini. Pasti dialah yang membantu orang itu kabur ]


Everst tidak tahu dimana si Chloe berada, tapi dirinya harus segera melumpuhkan orang yang mengendalikan Virus kanibal itu.


JRATT....JRATT....JRATT...JRATT....


Puluhan bulu yang ternyata setajam pisau mulai ia hujankan pada Dean.


Hanya sedikit menggores tubuhnya jadi tidak berarti apa-apa.


[ Si..siapa yang menyerangku! ]


Dean kaget dengan serangan barusan, matanya sedikit ia kernyitkan karena ada yang tergores.


*****


" Disana! " Danie melihat targetnya, namun seperti ada yang akan datang menuju ke arahnya, Danie langsung sembunyi ke semak-semak.


[ Kenapa ada banyak monster yang berkeliaran? ]


" Apa nyaman bersembunyi disini, dimana buran kita? "


Seseorang tiba-tiba berbisik tepat di telinganya.


Danie menoleh kesamping, dan menemukan.


" Deckard? "


" Ssttt...." memberikan kode supaya diam, karena ada dua monster berhenti tepat di depan mereka berdua yang sedang bersembunyi di semak-semak.

__ADS_1


Setelah rasa curiga monster itu hilang, akhirnya bisa pergi dan membuat nafas lega bagi kedua orang tadi.


" Dia di sa-.....uh "


" Demammu tinggi " Sentuhan karena Danie hampir jatuh, jadi Deckard tidak sengaja mendapatkan tubuh Danie sudah panas.


" Tidak perlu khawatir, jika bisa menangkap pengguna kekuatan Virus itu aku akan sembuh "


[ Dia beneran terkena Virus kanibal? ]


" Bertahanlah, kami akan membantu menangkap bedebah itu " Deckard dan puluhan teman yang lainnya sudah datang untuk mempercepat urusan yang sudah semakin genting itu.


Dengan begini harusnya bisa diselesaikan dengan cepat, lalu bisa bebas tanpa ada yang mengatur dirinya. Di cap menjadi pengkhianat juga sudah menjadi hal biasa, toh akhir hidupnya mati setelah menjadi pengkhianat.


1 jam lagi.


Berlari dan terus berlari, kata lelah tidak akan berarti lagi jika usahanya berhasil.


" Aku berhasil kabur, aku yang menang. Ordon, Chloe, dan pondok itu hanyalah alat untuk bersenang-senang bagiku. Manusia lemah sepertiku bisa lepas dari segalanya, orang-orang bangsawan dan kuat seperti mereka lebih baik mati terkena virus. Hahah....sangat menyedihkan " ucap Dean dengan senangnya, berhasil menjauh dan membuat mereka kehilangan arah karena dihalangi para monster, Dean tahu pasti ada seseorang yang membantunya jadi sebuah keberuntungan bisa terlepas dari jeratan kejaran mereka.


Senyuman mengembang bagai memenangkan piala oscar, meras kalau dirinya lebih unggul. Sekuat apapun orang itu, jika terkena virus mematikan maka tidak ada gunanya lagi kekuatan yang dimilikinya.


" Lihat, masih bisa tersenyum senang padahal sudah dikepung, apa kamu hanya bisa lari saja? "


" Ke..kenapa kalian- " Entah apa yang ingin dilakukannya sekarang, pasalnya di depannya sudah banyak orang sudah menunggu kedangannya.


" Orang sepertimu itu mudah ditebak, konyol jika aku berlari terus mengejarmu. " tutur Danie, dikala dirinya akhirnya bisa mendahuluinya dan menunggu kedatangannya untuk menemukan reaksi apa yang akan dibuat orang seperti Dean jika sudah terpojok.


Elvira, Rudolph, Deckard, Danie, Everst, Yohanes, dua orang penyihir dan beberapa kesatria lainnya.


Mereka bisa berkumpul dan menangkap basah pelaku.


" Nah, karenamu kekaisaran menjadi kacau balau dan hampir membunuh ratu. Adakah yang ingin kau katakan? " Tanya Elvira.


" Ma..maafkan aku, akan kumatikan virusnya sekarang juga "


" Baguslah, CEPATT.!! " dari nada yang lembut berubah menjadi garang.


Membuat Dean ketakutan karena garangnya Putri ke tiga si Elvira.


Sekaligus menonjok wajahnya, sepasang mata yang menyaksikannya terkejut bukan main, seorang wanita memukul seorang laki-laki.


Danie dan Rudolph melihat pola sihirnya sudang menghilang yang artinya sudah benar-benar dimatikan.


[ Akhirnya, aku bisa lega dan keluar dari situasi maut Virus ]


Disaat berpikir bisa lega keluar dari situasi sulit antara hidup dan mati, puluhan pasang mata menatap dirinya.


" Pergilah dari sini, jika melihatmu lagi di sini bukti pengkhianatanmu yang disaksikan orang di istana akan aku pastikan kamu nati di depan mereka semua " Ucap Raja Mirkan pada Danie, menjadi oengingat sekaligus kata terakhir untuk Danie sendiri.


" Saya akan mengingatnya, walaupun bukan aku pelaku yang sebenarnya. Nona Elvira ....." Danie mengalihkan pandangannya ke Elvira.


" aku tidak mengharapkanmu jujur atau mengatakan pada mereka. Karena aku akhirnya bisa bebas " Mata sayu yang penuh arti itu membuktikan keinginan bebasnya dari masalah fitnah sangat terasa.


" Everst ayo pergi "


Yang dipanggil namanya tanpa basa basi bertengger di pundak Danie, Danie berjalan masuk ke dalam hutan Monster lebih dalam.

__ADS_1


Alasannya hanya tidak mau mencolok terbang dengan seekor burung.


Kisah perjalanan Danie terus berlanjut, kebebasan lagi, dan pasti akan bertemu orang baru lagi.


__ADS_2