Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. Extra 34


__ADS_3

Menjadikan cutinya untuk liburan bersama dengan adiknya, Arhes akhirnya menerima ide itu dari Dania.


Karena perjalanan untuk ke ibu kota adalah 1 hari, ia akan memperlambat waktunya untuk singgah ke kota-kota terdekat dan menikmati daerah itu.


Butuh 4 jam untuk sampai di kota selanjutnya, maka dari itu beberapa kali mereka memacu kudanya dengan cepat.


Tepat di hari menjelang siang, mereka sempat mengistirahatkan di sebuah padang rumput hijau, ini juga sebagai penghibur Shera yang tidak pernah keluar dari rumah maupun desanya.


Memberikan waktu berdua untuk dua orang tersebut, Dania berjalan ke sisi lain dan sesaat partnernya ikut datang dan menyambut Dania dengan sebuah mahkota yang lasung terpakai di kepalanya.


KRAKK....


Jati dirinya jadi tercoreng mengingat Everst juga kadang suka mencuri perhiasan. Itu Dania masih mengingat saat dulu singgah ke sebuah gua yang konon adalah rumahnya Everst, disanalah tertumpuk harta karun yang menggiurkan mata.


" Moment romantisnya kan jadi hilang. " gumamnya.


Padahal di waktu seperti ini, mahkota bunga adalah situasi romantis yang dirasakan si wanita, tapi Dania malah menerima sebuab mahkota sungguhan.


" Dari mana mahkota ini berasal?. " melepaskan mahkota yang mencolok itu dari atas kepalanya.


Kwak...kwak.... \= { Aku mengambilnya dari rumahku. }


" Yang itu?. " dengan kode jari menunjuk ke atas.


Everst mengangguk iya.


" Tapi asal muasal mahkota ini juga pasti ada kan?. " tanya Dania, suara geramnya membuat Everst sedikit melompat mundur.


Kwak.....kwak....... \= { Asalnya dari mana tidak ada hubungannya denganmu. }


Kwak...kwak..kwak.. \= { dan tidak ada yang akan mencarinya juga, jadi tidak masalah. }


" Aku mana mungkin memakainya, kau pikir aku ini tuan putri atau ratu?. Memang bagus, tapi apa gunanya untukku?. "


Kwak..... \= { Jadi tidak mau?. }


" Ya. " memakaikan mahkota itu ke leher Everst.


Kwak..kwak.... \= { Kalau ini?. } menyodorkan kaki kanannya ke gadis di hadapannya itu.


Sebuah cincin emas...


" Ha?, kamu seperti sedang melamarku. Tapi aku tidak butuh, yang aku butuhkan adalah uang...uang yang dibawa Caster itu. "


Kwak?. \= { Mau kamu apakan?. }


" Kumpulkan, buat rumah impian. "


Kwak...kwak... \= { Maksudnya masa depan?. }


" Berbeda, rumah impian adalah rumah sesuai apa yang aku inginkan dari imajinasiku, kalau rumah masa depan terkesan kalau rumah itu mau dibangun untuk tinggal bersama dengan pasanganku saja. "


{ ............. }


"..................! "


[ Lah.....dia pergi. Apa yang terjadi dengannya?, dia seperti remaja lagi puber. ] fikirnya, keberadaan Everst yang sudah menghilang.


Setelahnya, Dania terbaring di atas rumput hijau yang terbentang luas itu.


Sebuah sensasi menggelitik di kulit meski rumputnya hanya menusuk-nusuk pakaiannya.


Gumpalan awal putih bercampur kelabu, membuat awan tebal itu beberapa kali meredupkan tempat Dania terbaring, meski untuk sesaat tapi rasa hangatnya masih terasa di tubuhnya.


WUSHHH........


Semerbak angin bercampur aroma daun, Dania benar-benar menikmati sejuknya dunia ini, dunia tanpa adanya hiruk-pikuk kendaraan bermotor dan kendaraan konstruksi.


Lalu salah satu lengan tangannya dia gunakan untuk menutup sepasang matanya dan mulai bergumam.


" Seandainya saja seseorang. "


25 m dari tempatnya, Arhes mulai mencegat adiknya yang mau mendekati Dania.


" Biarkan, jangan mengganggunya. "

__ADS_1


" ...................., kakak perhatian sekali dengannya. "


" Jangan mengartikan hal yang tidak-tidak. "


" Iya..iya.. " sambil mengembungkan pipinya dan bibirnya yang manyun.


__________


" Jangan!. " tangan yang terangkat ke atas, wajah panik dengan nafas yang memburu.


" Kakak tidak apa-apa?. " tanya Shera yang panik melihat kakak ini tertidur dan sampai mengigau.


"............." Dania celingukan sebentar dan menjawab.


" Ya, ayo berangkat. "


[ Sudah berpa kali aku mimpi buruk?. ] membatin.


Dania tidak tahu harus berkata apa pada mereka, karena meski mereka mengkhwatirkan dirinya ( Dania ), mereka tidak akan bisa berbuat apa pun.


[ Dan yang paling tidak bagus, jika aku bermimpi beberapa gigiku ada yang lepas. ]


Terdengar konyol, tetapi mitos bahwa di hari itu akan ada yang meninggal selalu terbukti kebenarannya.


Ternyata hari sudah mulai sore lagi, Dania tertidur di padang rumput terlalu lama, dan perjalanan ke kota jadi terhambat karenanya.


Arhes hanya meliriknya sebentar, lalu kembali menatap ke depan.


Ia membantu adiknya naik ke atas kuda, barulah dirinya yang menaiki kuda.


Dan Dania yang sudah di hampiri kuda-nya, hanya tersenyum kecut, kuda-nya lebih perhatian ke dirinya.


{ Manusia, kau tidak apa-apa?. }


" Ternyata ada yang mengkhawatirkanku. Aku hanya bermimpi konyol tapi pertanda buruk. "


{ Mimpi apa?. }


" Bermimpi 3 gigi-ku lepas, menurutmu artinya apa?. "


" Wah....kau kuda, ternyata tahu mitos itu?. Meski memang jadi kenyataan, tapi banyak yang masih menganggapnya mitos. " Dania tidak tahu ada yang seperti itu juga, pendapatnya entah berapapun giginya copot, berarti akan ada yang mati, tapi si kuda justru menjawab


' berapa pun gigi yang copot, sebanyak itu pula yang mati '


Itulah maksud dari jawabannya.


" Berhenti!. " teriak pemuda ini, tiba-tiba muncul.


"................! " perjalanannya langsung di cegat oleh 2 orang yang tidak salah lagi, Dania menebak kalau mereka adalah..


[ Perampok?. 2...... ]


SRAKK....


SRAKK.....


[ 4?.......... ]


" Ternyata ada mangsa baru rupanya.. " tutur orang di belakangnya Dania.


[ 5?. ..... ] Dania menjeling ke semua orang yang baru saja muncul dari sisi berbeda, dan keberadaan 5 orang tersebut sudah membuat Arhes juga dirinya terkepung.


[ Main keroyok?. ]


".................... " ia hanya memandang dan mencoba mendengarkan apa yang mau mereka ucapkan selanjutnya.


" Serahkan uang kalian, terutama kamu!. " menunjuk tepat ke wajah gadis berambut sebahu yang tak lain adalah si Dania sendiri.


" Yang kau bawa di tasmu!. "


[ Dia tahu aku menyimpan emas ini ada di tas ku?. ] kecurigaan bahwa mereka sudah tahu dari awal adalah tebakan yang sangat mendasar.


Memang tidak salah lagi kalau mereka semua sebenarnya sudah menguntit mereka bertiga sejak lama, dengan alasan diantara mereka ada satu orang yang berhasil menang dalam perjudian.


Mereka berlima membawa pedang, panah, ada juga golok, dan belati.

__ADS_1


" Kak....ak-ku takut. " Shera yang ketakutan sudah mulai di peluk oleh Arhes. Arhes pula juga sudah bersedia mengeluarkan pedang.


" Apa yang akan kalian lakukan jika kita tidak menuruti permintaanmu?!. " ucap Arhes.


Bagi Dania, Arhes sudah berkata yang sia-sia. Karena jawabannya pastinya adalah...


[ Menyerangmu. ]


" Membunuhmu, dan mungkin gadis itu bisa dimanfaatkan juga. "


DEG.....


Arhes yang terprovokasi langsung turun dari kuda dan bersiap untuk menutup mulut kotor si perampok itu.


" Kauu-... "


" Kau tidak usah basa-basi lagi,serang mereka!. " perintah si oemimpin daei perampok itu sendiri.


Dania langsung menyela pergerakan mereka yang sudah siap saling menyerang dan berseru.


" Hentikan, kalau ingin uang, barislah di depanku. " Dania pula memberikan sebuah perintah juga.


" ...........! " All, semuanya langsung menatap gadis yang sedang menunggang kuda sendirian di belakang.


" Tidak perlu menuruti perintahnya, aku akan mengalahkan mereka. " kata Arhes, agar Dania tidak menyerahkan uang itu.


" Dia lebih suka melawan!, serang saja!. " teriaknya lagi.


" HYAHHH..... " ke empat orang tersebut berlari dan besiap untuk menyerang.


CTANG.....!


Arhes menepis pedang lawan untuk menjaga adiknya, tetapi sebuah suara khas membuat Arhes menoleh ke belakang.


KLANG....KLANG......


( Gesekan dari tumpukan uang logam. )


Terdengar di telinga mereka semua, 2 orang yang hendak menyerang Dania dari belakang juga berhenti berlari karena orangnya sudah tidak ada di atas kuda, melainkan di belakang mereka berdua.


" Bertarung dengan kami sama saja membuang tenaga, padahal aku memberi keringanan pada kalian. Jika mau luka dulu baru dapat ini tidak masalah juga sih, tapi apa kata orang-orang yang sedang menunggu kalian di rumah dengan rasa khawatir karena kembali dalam kondisi babak belur?. "


[ Aku tahu kalau mereka terpaksa merampok juga karena perekonomian keluarga, tapi disini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Karena aku orang yang belum terlalu membutuhkan uang ini, aku tidak masalah jika memberikannya kepada mereka semua. ] batin Dania, alasan dasa kenapa dari tadi hanya bicara untuk negosiasi.


[ Apa yang dia rencanakan?. ] batin pemuda ini.


"................. " mereka semua jadi terpengaruh dengan ucapannya.


" Aku sedang tidak ingin bertarung. Kalian hanya perlu berbaris di depanku. " perintahnya lagi. Mereka berlima jadi saling pandang.


" Atau kalian tidak tahu?, sesekali terimalah pemberian orang karena itu lebih berkah, karena pada dasarnya pemikiran manusia suka yang instan, aku tidak akan menyalahkan kalian yang ingin merampok kami. "


Perlahan satu persatu Dania mengambil dua genggam tangan berisi kepingan emas dan memberikannya pada ke 4 orang itu.


Dan masing-masing mulutnya mlongo, karena tanpa usaha keras sudah ada puluhan keping emas di kedua tangannya.


Dania terus berjalan ke arah sang pemimpin, meski di bilang pemimpin karena dari segi fisik memang lebih unggul di banding ke 4 orang tadi, tapi sayangnya pakaian dan pedang yang seharusnya di buang masih saja dipakai.


Berarti sudah pasti, kalau mereka tidak membuahkan hasil banyak meski merampok pejalan kaki atau pelancong yang melewati jalan ini.


" Karena itu, terimalah ini. "


TAK......


Satu kantung khusus diberikan pada pemimpin itu.


" Kalian mendapatkan uang dengan mudah, dan aku mendapatkan imbalanku yang tidak terlihat. " ucap Dania, dan di akhir katanya itu membuat orang-orang todak mengerti maksudnya.


" Jika memang masih mau melawan karena tidak puas, terimalah konsekuensinya. " Dania tidak berkata apapun lagi, karena sudab sekalian memperingatkan jadi harusnya...


[ Dia paham. ] Dania menatap lagi iris hitam dari pemuda bersurai ungu itu.


[ Sudah 1 minggu tidak dapat buruan, sekali dapat malah dapat ceramah. ] fikirnya.


[ Dan melihat mereka diam melihat emas di kedua tangannya, rasanya hari ini sudah cukup. ] batinnya lagi.

__ADS_1


" Ya sudah, kalian cepat pergi. " ketusnya.


__ADS_2