
" Kalian semua mundur " perintah Ishid, pria ini berjalan dan berdiri menjauh dari orang-orang di belakangnya.
" Apa ketua ingin membakar mereka (monster serangga) ? " tanya salah satu orang di antara orang-orang.
" Itu jauh lebih efisien kan? "
" Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada ketua, kita juga tadi sudah membantu juga "
Beberapa bawahan pun hanya memandang Ishid sebagai orang yang cukup di andalkan, di andalkan dalam hal bisa di manfaatkan?, betul.
Dengan sihir api yang dimiliki Ishid, Ishid bisa membakar para monster serangga itu.
di sisi lain.
" A....apa?, apa yang mau kamu lakukan? " Satu kesatria yang terbaring terluka merasa takut dengan perempuan yang bajunya sudah ada cipratan darah dari monster yang dibunuhnya perempuan itu berjalan mendekat lalu berhenti ketika sudah berada di sebelah kesatria tersebut.
ia memandang iba pada satu kesatria ini, oh tentu saja, di awal pertama keberangkatan orang inilah yang selalu berisik, mulutnya tidak ada hentinya mengejek Dania.
Tapi sekarang sudah tumbang dan terbaring di tanah dengan wajah lelah, menahan sakit sekaligus takut.
" Bukannya anda terluka? " sahut Dania, ia berjongkok tuk menyesuaikan posisinya.
Ia meregangkankan satu tangan kanannya ke tempat dimana lengan kesatria dan perutnya itu terluka.
" ............... "
"................? "
" Aku..tidak akan berterima kasih " ucapnya sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Dania terdiam beberapa saat sebelum membalas,
" Aku tidak mengharapkan itu "
Perlahan lukanya sembuh, hanya perlu waktu beberapa waktu lagi untuk memulihkannya, tapi itu tidak akan bisa sebab kesatria ini pasti akan berdiri dan mengerjakan pekerjaannya sebagai kesatria.
DUARR........
WUSHH......
" Apa itu? " bisik Dania sambil menoleh ke belakang.
" Pasti ketua menggunakan kekuatannya "
[ Dia akan kewalahan sendiri ]
" Sudah selesai " lantas Dania kembali berdiri, ia berpikir untuk menyelsaikannya dalam sekejap namun juga tidak bisa ia lakukan sendiri.
" Kamu?, seorang Healer? " ia berdiri dan memeriksa tubuhnya yang tadi sempat terluka, kini sudah benar-benar sembuh.
" Memangnya kenapa? "
" Ti..tidak, bukan apa-apa "
"............. " Sudut matanya sesaat melirik ke arah kesatria tadi sebelum kembali memandang ke arah lain.
" Wahh..., ketua memang hebat " puji salah seorang penyihir air.
" Jika tidak hebat bukan ketua namanya " sela seseorang lagi.
" Tapi jika terus-terusan menggunakan sihir api, ketua akan kehabisan mana " Yunifer tiba-tiba bersuara, dia seorang saja yang merasakan khawatir pada Ishid. Semua di tanggung di pundak Ishid itulah yang membuat Yunifer merasakan iba.
ZRAKKK......
BRAAKKK......
WARRGHH..........
( para monster mengerang )
" KYAAAAAAA.......... " All para perempuan yang dibuat kaget karena monster-monster itu sekarang menempel di dinding pelindung dan semuanya dipenuhi monster serangga itu.
" A...apa ini?, kenapa mereka bisa menempel sebanyak ini? "
KREKKK..........
KRAKKK.......
Perlahan dinding pelindungnya retak.
" Ugh......, ada tekanan kuat yang menekan semua monster itu dari luar "
Tutur salah satu kesatria yang merupakan seorang penyihir yang sudah membuat dinding pelindung untuk mereka.
Lalu dengan sekejap mata, dinding yang retak tadi sudah diperbarui lagi.
Tetibe Kassel datang menyela.
" Bukannya itu kesempatan?, Ishid gunakan sihirmu untuk mebakar mereka. Yirefh, kau harus bisa menahan panasnya. Dan kalian juga, harus bisa menahan atau akan menjadi daging panggang juga, untuk antisipasi kalian para penyihir air gunakan mana kalian untuk mengatur suhu disini. " perintahnya.
Sesuai perintahnya, Yirefh membuat pelindung yang lebih tebal dari yang tadi, lalu Ishid mulai mengeluarkan sihir apinya untuk membakar seluruh monster yang sekarang ini berkumpul menjadi satu tepat di atas dan sekeliling mereka semua.
HWAARRRR...........
HWARGHHH......
ARGHHH......
Api menyulut daging monster tersebut, erangan tak jelas mengisi momen itu sendiri.
Panas yang menyengat membuat malam itu begitu panas bagai musim panas yang membuat orang-orang mengeluarkan keringat.
__ADS_1
Yirefh yang bertanggung jawab untuk melindungi semuanya juga tak kalah merasakan panas yang harus ditahannya.
3 menit kemudian.
Terlihat singkat, tapi kerja kerasnya terasa dihitung dua kali lipat lebih lama.
" Hahh....., panas.... "
" Ketua bisa menahannya dengan baik "
" Memangnya panas seperti ini masalah untuk beliau?, kan beliau sendiri yang memiliki sihir api "
Monster tadi sudah berubah menjadi abu, tanpa membuat kerusakan yang lebih besar dapat menyingkirkan mereka semua sekaligus.
" Ini mengejutkan, tapi jika bergerak sekarang juga tidak akan bagus. Yirefh, Ishid, kerja yang bagus, Sieg dan Mikhail kalian berjaga dengan beberapa orang yang masih aktif bergerak. "
" Terima kasih Yang mulia " Yirefh dan Ishid.
" Baik Yang mulia " Sieg dan Mikhail.
Setelah membuat rapat darurat, mereka bergegas untuk membersihkan dan merapikan tempat yang sempat porak poranda.
Tapi waktu yang terbatas, membuat mereka melakukan pembersihan ala sekadarnya.
Cania yang tanpa sengaja ada satu orang tergeletak di atas batang pohon berusaha menghampirinya, belum sempat bertanya orang segera bersuara.
" Ada apa? " membalik tubuhnya ke samping kanan.
_______________
Di dalam tenda.
" HAHH..... "
[ Ini dimana? ] Langsung terbangun dari tidurnya lalu bersikap waspada, tapi melihat ada bayangan dua kesatria di depan tenda ia baru sadar.
" Ah...haa.....apa aku ketiduran? " gumamnya, tubuhnya kembali ia baringkan ke tempat tidur sembari menutup sepasang matanya dengan lengan tangan kanannya.
Dirinya merasa frustasi, akan ingatan masa lalu yang selalu dimimpikannya.
[ Aku masih saja mimpi masa kecilku. Ku pikir sudah melupakan semuanya ] Fikir Tassel.
Ingatan --->>
ZRASSHHH........
ZRASHHH............
Di satu tempat taman bermain, hujan yang cukup lebat mengguyur tempat tersebut, dua orang anak kecil tengah berteduh bersama di bawah pondok kecil. Mereka berdua sudah basah kuyup akan air hujan yang menerpa tubuh mereka.
Awalnya tidak ada pembicaraan di antara mereka, namun untuk memecah keheningan, anak laki-laki bersurai hitam itu pun bertanya.
" Siapa kamu? "
" Merah? " masih tidak mengerti maksud dari jawaban si adik kecil. Yah boleh dikata adik sebab umur mereka berdua berbeda, dimana lawan bicaranya sekitar berumur 7 tahun sedangkan dirinya 11 tahun.
" Mataku kan merah~ " meenunjuk ke matanya sendiri.
" Bukan itu, tapi nama mu " menepuk dahinya sendiri, baru tahu alasan kenapa menjawab Merah.
" Merah ~ " masih menjawab dengan jawaban tadi.
" Hahhh......" Helaan nafas panjangnya menunjukkan sikap pasrah.
" Lalu kenapa kamu bisa kehujanan juga?, dan...kenapa bajumu bernoda merah? " sedikit sadar sebab baju yang dipakai anak tersebut bagian belakangnya bercampur dengan warna merah seperti darah.
Saat di tanya begitu, si Merah sedikit menjauh dari kakak itu namun masih mau menjawabnya walapun dengan nada rendah sambil menenggelamkan wajahnya sendiri di ke dalam pelukan lututnya.
" Aku lari dari ibu, ibu pukul aku ja..jadi....jangan bilang pada siapapun. ini rahasia "
".............." Dirinya hanya memandang iba dan tidak tahu harus bagaimana sebab menjaga diri sendiri saja ia juga susah.
GELUDUK....
GELUDUK......
JEDERRRRR.........
Si merah menenggelamkan semua wajahnya ke dalam pelukannya sendiri, namun tubuhnya bergetar menahan takut.
" Kamu takut petir? "
Merah mengangguk kecil.
" Kalau takut mende- " Seketika ayatnya langsung terpotong karena bunyi keras....
JEDEERRRRR...........
" KKKYYYYAAAAAAAAAAAA......."
Merah refleks memeluk tububnya
"............? " sehingga ia sendiri tidak bisa berkata apapun kecuali menenangkan si Merah dengan mengusap rambut kusut itu.
Falshback Off.
Setelah kejadian itu Tassel terkadang berkunjung ke taman bermain lagi untuk menemukan anak itu, tapi dari 1 bulan yang sudah ia lakukan hanya ada 2 kali pertemuan walaupun hanya sekilas. Anak tersebut hanya berdiri di tepi taman bermain sambil menatap anak sebayanya bermain namun tidak dengan dia sendiri, 3 menit kemudian dia pergi dan kembali menghilang.
4 bulan kemudian, Tassel dibawa oleh beberapa orang kesatria ke ibu kota Rovathia. sekian lama ia hidup selama 11 tahun sebagai rakyat biasa dan apatah lagi setelah di tinggalkan ibu 1 tahun lalu karena peyakit, sekarang ia di bawa ke ibu kota dan Tassel di beritahu kalau ibunya sebenarnya adalah seorang keluarga kerajaan Tartania, namun karena menghilangnya Ellena sang ibu dari Tassel maka pewaris takhta di wariskan oleh saudaranya yang lain. Tapi Tassel masih menetap di kekaisaran Rovathia untuk belajar menjalani hidup seorang bangsawan sebelum akhirnya nantinya suatu saat di waktu yang tepat ia akan merebut kembali hak nya.
Tapi walaupun Tassel sudah pindah ke ibu kota Rovathia, dia masih saja mencari si Merah dengan kembali ke wilayan kekaisaran Byass.
__ADS_1
Hanya saja ia berpikir itu adalah takdir pertemuan terakhir, saat itu Byass terjadi perang dengan kekaisaran Linstone lalu ia juga sempat melihat Merah kembali setelah 3 tahun mencarinya hanya saja perempuan yang di panggil Merah lari di kejar ibunya namun sayangnya mereka berdua memasuki kawasan medan perang jadi Tassel sengaja mengikutinya dari belakang dan di tengah peperangan....
[ Ada ledakan sihir yang terjadi ] Benar, monster di sekitarnya yang tidak berbahaya pun menjadi target dari ledakan itu sendiri dan mati, apa lagi manusia?. Tassel yang sempat berada di lokasi untung saja di saat yang tepat ada satu penyihir yang menolongnya dengan di teleportasikan ke tempat yang lebih aman, tempat yang amannya itu juga tidak jauh dari lokasi kejadian, dan tassel sampai sekarang masih ingat dengan jelas peristiwa itu.
[ Walaupun pertemuannya tidak mengesankan, tapi perpisahannya sangat mengerikan ]
Tassel tidak tahu harus apa, yah...ada satu yaitu harus melupakannya.
" Tapi...setelah 3 tahun kemudian dia kembali. Apa ini takdir kalau dia benar-benar masih hidup? "
Hak sebagai seorang keluarga kerajaan, ibu, sahabat pertamanya, semuanya tidak bisa ia dapatkan, tapi ketika menemukannya kembali ia tidak bisa melepaskannya.
Tassel kemudian berdiri dan mengambil handuk.
_____________
SRAKK.....SRAKK.....SRAKK........
WEHUSH........~~
Malam yang tenang, Tassel pergi ke mencari danau dan ia menemukannya, kemudian dia melepas baju dan..
BYURRR..........
Rasa dingin dari air itu rasanya sudah menenangkan pikirannya.
" Puahhhh.... , ini membuatku merasa lebih baik " tuturnya setelah menyelam beberapa saat.
[ Perasaanku jadi lebih baik ] lalu sepasang matanya menatap bulan purnama.
"..............."
keheningan kembali menyelimuti suasana di danau, tapi beberapa detik kemudian ada langkah kaki yang mendekat membuat Tassel bersembunyi di balik batu besar.
" Ugh.....mandi... "
[ Suara yang barusan kudengar, sepertinya itu suara perempuan ] tebak Kassel yang masih bersembunyi.
Splash......Splash......Splash.....
".........! "
[ Kenapa dia malah mandi juga?.
Bagaimana ini? aku sudah sembunyi , kalau aku keluar begitu saja situasi bisa makin runyam.
Mau tidak mau aku harus menunggu dia selesai mandi lalu pergi dari sini ]
Itulah rencana awal Tassel, namun setelah menunggu hingga 15 menit lamanya
BRRRR.........
[ Makin lama airnya makin dingin. Apa seharusnya sejak awal aku menampakkan diriku,ya? . Tidak, aku kan tidak tahu siapa perempuan itu?
Atau bisa saja itu pembunuh yang mengincar nyawaku? ] Tassel menjadi waspada, ketika ia melirik ke belakang
[ Kok dia tidak ada?!, kemana dia? ] setelah di tengok rupanya orang tersebut sudah menghilang, Tassel sempat khawatir dan...
SPLASHHH.....
[ Loh...dia ada di belakang? ]
Tak perlu waktu lama Tassel sudah di pojokkan oleh orang itu dan di ancam dengan pisau belati yang siap menusuk leher kapan saja.
" Siapa bajingan yang sedang mengintip orang mandi ini, satu......, dua........., ti- "
" Lady Dania "
"........! " Dania tercengang untuk beberala waktu.
__ADS_1
[ Suara ini, orang yang waktu itu ]