Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
ke Kekaisaran Rovathia


__ADS_3

3 jam kemudian


Dikarenakan ada urusan mendesak yang Arch dapat, akhirnya Arch dan Vidal diharuskan kembali ke ibu kota dan tidak lupa membawa Danie sekali yang masih dalam keadaan tertidur.


Ibu Kota, Kekaisaran Rovathia.


Itulah tempatnya, tempat tinggal kedua orang ini ada disana yaitu di istana Schneider.


Dalam 3 jam itulah sekarang akhirnya mereka sampai di pintu gerbang, dan tepat di pintu gerbang sudah ada seorang pria paruh baya yang dilihat dari rambut putihnya yang sudah hampir mengubah warna rambut aslinya yang hitam bisa di tebak kalau orang itu sudah berumur setengah abad lebih.


" Saya sudah menunggu anda " ucap kepala pengurus rumah.


" Tuan Vidal " sambungnya lagi ketika yang turun dari kereta kuda adalah Juro Vidal.


" Bawa dia masuk, aku akan menemani tuan lagi " Vidal memberikan Danie pada kepala pengurus rumah.


" Baiklah " dengan hati-hati dirinya membawa anak kecil yang tadi di gendongan Vidal.


Vidal kembali masuk ke dalam kereta kuda dan melanjutkan perjalanannya bersama tuannya.


" Hmmhh? " karena merasakan rasa yang tidak nyaman dan ada bau yang berbeda yang sebenarnya campuran antara bau dirinya yang belum mandi dan ada bau dari orang baru di depan matanya.


" Anda siapa? " Tanya Danie pada kakek tua itu, lalu dirinya berusaha untuk turun dari gendongannya itu.


[ Kenapa aku jadi anak kecil sih! ]


" Saya Benjamin, kepala pengurus rumah tangga di sini tuan muda " jawab Benjamin.


"Tu..tuan muda?, kenapa anda mengatakan itu dan kenapa saya disini? "


" Saya hanya melakukan perintah juro Vidal untuk membawa anda" jawabnya.


Lepas menjawab pertanyaannya, Benjamin membuka kedua pintu rumah itu.


Kesan mewah dan indah membuktikan kalau tempatnya benar-benar nyaman dan hidup. Lampu kristal biru yang besar serta puluhan anak tangga yang dilapisi karpet merah menjadi pemandangan pertama yang dilihat oleh Danie. Ada lilin yang menyala menjadi hiasan dinding sekaligus penerang di ruangan tersebut. Danie mendongak ke atas, di langit langit pun ada gambar berpola yang tidak kalah cantik dengan karpet yang ada di lantai.


" Siapa ini? " seorang nenek dengan pakaian pelayan datang menghampiri kedua orang yang baru masuk.


" Nenek? " Benjamin terkejut karena kedatangan nenek itu alias kepala pelayan.

__ADS_1


" Wahh...tuan muda dari mana ini?, apa ini anak yang mulia? " tanya nenek pada Danie, lalu menghampiri dengan perasaan senang penuh dengan kehangatan dan berjongkok agar dapat menyamai tingginya.


[ Hiiikk??, siapa anaknya siapa?! ]


" Anda salah paham nenek " sela Danie dengan cepat.


Bisa-bisanya dikatai anak yang mula


" Jawaban yang pintar, pasti yang mulia yang mengajarimu kan, agar tidak ada yang


percaya " Marsha kemudian melihat Danie dari atas sampai bawah, pakaian lusuh sekaligus robek, perban yang kotor dan masih ada sisa darah.


Danie tahu dengan tatapan itu segera menghindar dan mundur ke belakang, namun langkahnya terhenti karena di belakang ada benjamin yang menghalangi dirinya.


" Anda pasti lelah kan?, tapi kita harus mandikan anda dulu sebelum tidur "


Nenek yang bernama Marsha berjalan mendekat lagi lalu dengan sigap menggendong Danie layaknya bayi karena langsung di angkat dengan kedua tangan begitu saja.


" Jangan bergerak, kaki anda pasti sakit kan? Jadi jangan banyak bergerak ok "


" Ti..tidak nenek, lebih baik turunkan saya. Saya pasti lebih berat di umur anda itu "


" Aduh...walau sudah menjadi nenek-nenek seperti ini, tapi tidak selemah itu juga " membetulkan gendongannya layaknya anak sendiri.


Danie memalingkan wajahnya ke tempat lain sambil mengutuk dirinya sendiri karena dianggap anak kecil terus, walaupun diperlakukan dengan hangat dan dimanja, tapi bagi Danie yang sudah berumur dewasa tetap saja merasa aneh yang dimana kehidupannya penuh dengan perjuangan dari diri sendiri baik yang sebelum dan kehidupan yang kedua.


Berjalan melewati lorong namun masih dengan karpet merah yang menunjukkan kemewahan tempat.


Ketika di lorong, disitulah Marsha berpapasan dengan dua pelayan wanita yang sedang melakukan pekerjaannya.


" Halo, Marsha " sapa kedua pelayan wanita pada nenek Marsha sembari menunduk hormat, mengingat Marsha adalah kepala pelayan.


" Beri salam pada tuan muda. "


Seketika raut wajah kedua pelayan tersebut menjadi tercengang.


[ Tuan muda siapa?, dia malah seperti anak gelandangan yang dipingut dari jalan ]


Keduanya berpikiran hal yang sama.

__ADS_1


" Halo, tuan muda. Merupakan kehormatan bisa melayani anda. Silahkan panggil kami kapan saja jika anda merasa tidak nyaman. " jawab salah satu pelayan itu, yang berambut merah.


[ Dia pakai cara apa sampai bisa masuk kesini?. ] fikirnya lagi.


Selagi melewati dua pelayan, Danie masih meliriknya, hanya pikiran sesaat kemudian balik menghadap ke depan.


Tidak perlu waktu lama akhirnya mereka berdua bisa sampai di kamar mandi...


" Sudah lama tidak kedatangan tamu di istana. Jadi sepertinya mereka tidak tahu harus melakukan apa karena terlalu senang. " ucap Marsha, Marsha sendiri tahu reaksi dari pelayan tadi. Jadi kalimat tadi hanya untuk menenangkan anak kecil di depannya.


" Tidak apa-apa nenek, lagi pula saya hanya orang asing disini. "


" Ah, suhu airnya sudah pas. Sekarang silahkan lepas baju anda "


" Ba..baju? " Danie mundur ke belakang.


" Nenek mandikan ya, sudah lama nenek tidak memandikan anak kecil seperti anda yang manis ini " pujuk Marsha.


" Tapi- "


" Tidak usah malu sama, entah kapan nenek bisa memandikan anak kecil seperti anda. Akan jadi kebahagiaan buat nenek kalau anda benar-benar anak yang mulia Archduke "


[ Aku ingin menangis deh, aku anggap saja dia nenek ku sendiri. Tapi bukan berarti aku anak siapa itu?, Archduke? ]


" Maaf, hal seperti ini lebih nyaman dilakukan sendiri "


" Ya sudah, nenek tidak akan memaksa. " Marsha terpaksa keluar demi kenyamanan Danie sendiri.


******


Di dalam kereta kuda.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan kejaksaan, Arch akhirnya bisa pulang dan bisa menginterogasi anak pungut itu.


" Tuan, apa tidak apa-apa membawanya ke istana? " Tanya Vidal.


memandang berbagai kedai di pinggir jalan Arch menjawab.


" Apa?, memangnya apa yang dia bisa lakukan?, mau mencuri juga tidak akan bisa. Apa yang perlu di cemaskan. Bukannya kamu sendiri yang berinisiatif membawanya ke ibu kota karena kondisinya? "

__ADS_1


" Yah, itu saya tidak menyangka jika tuan akan menempatkannya di istana, bukan di panti asuhan atau apa "


" lagi pula ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada anak itu "


__ADS_2