Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Adik angkat?


__ADS_3

Dikala bisa keluar dari istana, yah lebih tepatnya bisa jalan-jalan di taman tetiba Danie terpikirkan dengan perang Beysil yang ditinggalkannya.


[ Apa mereka masih berperang?. ]


Fikirnya, walaupun tahu kalau dirinya sedang di lirik oleh Vidal.


" Apa kamu ingat kenapa bisa terbawa arus sungai?, yang mulia pasti bisa membawamu ke tempat asalmu jika bisa menceritakan semuanya "


[ Langsung ke inti pembicaraan ya ]


" Aku tidak tahu kamu akan percaya atau tidak. Tapi jika memang penasaran akan kuceritakan.


Aku bisa terseret arus sungai karena macan sialan itu. Jika tidak merebut kelinciku, aku tidak akan berada di tepi sungai dan berakhir menyedihkan " jawabnya dengan mengendikkan bahunya.


" Jangan bercanda. Macan itu besarnya segini dan tingginya segini " keduanya memperagakan besar dan tinggi hewan buas tersebut.


" Sedangkan ukuranmu hanya setinggi pahaku, jadi itu tidak mungkin. Hanya karena berebut kelinci tapi kalian berdua sampai terjatuh kesungai? " Vidal memang masih tidak percaya dengan cerita singkat anak kecil di sebelahnya, tapi tawanya tiba-tiba memudar karena lawan bicaranya hanya berekpresi datar seakan-akan berkata


《 Tidak percaya ya sudah 》


" Lalu tempat tinggalmu? " Vidal memberhentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke samping kanan dan berjongkok tuk menyamai tingginya.


" Dalam hutan. "


Vidal entah ingin mempercayainya atau tidak tapi jika benar( Jika dirinya benar percaya ) maka apa harus mengembalikan anak ini ke dalam hutan.


Toh yang mulia Archduke membawanya karena merasa kasihan karena waktu itu keadaannya memang menyedihkan, dan tidak seperti sekarang yang sudah kelihatan lebih baik.


" Tuan Vidal yang mulia menyuruh anda datang ke ruang kerja bersama dengan dia " Ucap Benjamin.


" Beliau sudah menunggumu juga " tutur Vidal pada Danie.


**********


Di dalam ruang kerja Archduke.


Ketiga orang itu sedang duduk di sofa sehingga Danie harus duduk berhadapan dengan mereka berdua ( Vidal dan Archduke ), dan untuk waktu yang lama mereka tidak berbicara sehingga membuat suasananya menjadi canggung. Seperti sedang mengin terogasi penjahat.


Hingga pada akhirnya Archduke membuka suara untuk pertama kali.


" Senjatamu tidak akan aku berikan kepadamu jika tidak mau menceritakan siapa dirimu " tutur Archduke, dimana tangan kirimya menyangga kepalanya sambil menatap datar Danie.


" Aku hanya memberimu pilihan, masalahnya memang sederhana, hanya menemukanmu di pinggir sungai dan masih hidup lalu ternyata orang sepertimu memiliki senjata aneh itu membuatku penasaran siapa sebenarnya dirimu "


" Sebenarnya pistol itu tidak masalah buatku, kalau mau ambil ya ambil saja, tapi apa untungnya untukku jika aku memberitahukan identitasku yang sebenarnya? "


" Aku hanya merasa si otak kecilmu ada segudang pengetahuan yang tidak biasa "


[ Kenapa pembicaraan mereka seperti sedang bernegosiasi. ] Fikir Vidal tat kala hanya mendengarkan perbincangan dari mereka berdua.


" Keberadaanmu disini kelihatannya akan ada banyak hal menarik yang datang, dan aku bisa membuatmu terus tinggal disini jika mau, semua kebutuhanmu akan terpenuhi semuanya asal mau bercerita "


[ Karena dia ini seperti bukan orang biasa ] fikir Archduke, dirinya memang benar-benar sangat penasaran pada satu manusia di depannya itu yang kelewat seperti memiliki rahasia yang banyak.


[ Aku hanya ingin kembali seperti semula ]


" Itu berlebihan, aku bukanlah orang yang menarik seperti yang kamu pikirkan. Lebih suka menyendiri, berbicara jika ada yang ingin aku bicarakan, jika dekat-dekat denganku mungkin yang ada akan ada banyak masalah berdatangan " Bagaimanapun hidupnya penuh dengan masalah, dan ternyata ada satu orang menawarkan diri untuk menampungnya?, kesempatan seperti ini tentu tidak ingin di tolak.


" Tidak masalah "


" Bahkan jika di anggap berkhianat? " Mengenai masalah sebenarnya.


[ Di fitnah?, jadi itu alasannya kenapa Vidal berkata anak ini tinggal di hutan? ]


" Iya "

__ADS_1


" Aku......" Danie sengaja menggantungkan ayatnya.


Melihat Danie belum berbicara dan justru melirik ke arah Vidal, Archduke akhirnya memerintah Vidal untuk keluar.


Setelah keluar barulah keduanya bisa berbicara dan saling mendengarkan.


Karena Archduke terlihat adalah orang yang baik jadi tidak ada masalah untuk memberitahunya sedikit mengenai identitasnya.


Lalu Archduke sendiri memang tidak salah melihat orang, ia bisa menemukan seseorang yang menarik setelah sekian lama tinggal di luar negeri dan baru kembali 1 bulan yang lalu.


" Jadi namamu Eldania?, namun penampilanmu yang menjadi seperti pria jadi sedikit merubah nama menjadi Danie. "


" Kamu tahu yang aku ini perempuan kan, jadi namaku memang Eldania. Tapi penampilanku menjadikan namaku berubah jadi Danie. Apa ada masalah~ "


" Tidak, Aku hanya tidak mengerti, seorang Yang mulia Archduke tapi bisa-bisanya memanggilku


' Aku, Kamu ' , tanpa hormat sekalipun. "


" Itu karena kamu orang yang bisa di ajak bicara dengan santai. Tidak seperti bangsawan pada umumnya yang akan menghukum bawahannya. Lalu aku berterima kasih sudah menyelamatkanku walaupun


' tanganku saja kecil begini ' " Danie membuka dan menutup telapak tangannya sendiri, tangannya benar-benar kecil begitupun tubuhnya namun tidak dengan pikirannya, tetap menjadi yang sebelumnya.


Tiba-tiba Archduke ber smirk tersenyum sembari memandang Eldania di depannya itu.


Anak kecil dengan pikiran seperti orang dewasa, ini pertama kali ia menemui hal yang seperti itu.


[ Kalau ada dia istana ini akan menjadi hidup jika. Tapi keberadaannya juga akan dipertanyakan, hmm....]


[ Senyumannya menunjukkan dia sedang ada rencana terselubung. ] lalu Danie mengambil secangkir teh hijau dan menikmatinya dengan penuh rasa.


" Hmm.....kalau begitu sekarang statusmu adalah Eldania Leonavi Schneider "


PRUTTTT.....


" Aku memberimu tambahan nama dan status, menjadikanmu adik angkatku. Jika tidak ingin menoleh ke belakang maka harus tetap maju ke depan dan menjadi orang baru "


" Bagaimana aku bisa membalasmu? "


" Kamu hanya perlu melakukan apa yang ingin kamu lakukan. "


Cangkir teh tadi ia letakkan ke atas meja lalu berkata.


" Baiklah, aku tidak akan sungkan. Terima kasih untuk yang sebelumnya. "


[ Ada untungnya aku bisa tinggal di tempat yang layak dihuni ini, walaupun aku masih belum tahu motif dia yang sebenarnya tapi setidaknya sekarang ada yang membantuku dari belakang ]


" Bukankah dokter sudah bilang jangan berpikir keras "


Ucap Arch untuk memperingatkan.


" ................. "


[ Jadi aku harus memanggil dia kakak? ]


" Panggil aku sesuka hatimu "


" Ar? "


Untuk beberapa saat nama panggilan yang di ucapkan anak kecil bernama Eldania itu meembuat dirinya terkejut, bagaimanapun baru pertama kalinya ada yang memanggil kakak dari mulut seorang anak kecil.


" Tidak buruk "


" .....Apa....sudah selesai? "


Tanyanya dengan nada malas. Pembicaraan yang berisi omong kosong yang hanya berujung pemberian marga alias status.

__ADS_1


Tidak kurang tapi justru lebih, ya...sekarang dirinya adalah majikan dari istana Schnaider.


Walaupun harta orang yang bernama Archduke melimpah, tapi tidak ada hal yang membuat dirinya yang sekarang( Eldania Leonavi Schnaider ) tertarik dengan harta itu sendiri. Bagaimanapun hanya seorang adik angkat yang kapanpun pasti bisa memutuskan hubungan, apatah lagi dirinya tidak tahu siapa pemilik mata ruby ini.


[ Jika ibu pemilik warna rambut coklatnya, pasti Ayah dari tubuh ini yang memiliki warna mata Ruby. ] entah sejak kapan ia bisa memikirkan siapa ayahnya.


[ Anak ini keras kepala, sudah diperingati jangan berpikir keras ] Dari tadi Archduke melihat Nia ( nama panggilan dari Archduke ) melamun, bahkan sampai menjentikkan jari di dekat telinganya Nia tetap tidak sadar dari pikiran terdalamnya.


" Rghmm.!, pergi main gih "


" Main?. OH...ya, baiklah "


[ Main ya main, jangan berbisik di telingaku juga ] siapapun yang berbicara di dekat tilenga pasti merasa risih, walaupun dirinya juga pernah begitu.


[ Aku tidak tahu apa yang mau ku lakukan sekarang ] fikirnya.


Ia berjalan keluar dari ruang kerja, namun lamunannya membuat dirinya melangkah menuju halaman belakang istana.


Sambil memandangi langit yang mendung tangan kanannya memegang kepalanya.


[ Karena tenagaku pulih, aku bisa menyelesaikan sisa pekerjaan pendeta itu ] luka yang masih belum sembuh ia sembuhkan sendiri. Tidak ada yang spesial hari ini, hanya ada pemandangan yang monoton. Hanya ada padang rumput saja dan beberapa pohon saja di belakang istana. Ia berjalan ke menuju bawah pohon dan duduk disitu, memang benar kalau kalau di istana ini tidak ada kesatria , jadi bertambah bosan lah.


Tidak selang lama lukanya sudah menutup dan sembuh, hanya ukuran tubuhnya saja yang belum sembuh.


[ Andai saja dia disini ] detik hatinya, yang dimaksudnya itu adalah rivalnya si ( Everst )


2 bulan kemudian.


Belum ada seorang pun yang tahu kalau Eldania adalah perempuan karena pada hakikatnya ia selalu memakai pakaian laki-laki.


Namun permasalahan mengenai sihir yang tidak di ketahuinya yang menyebabkan tubuhnya menjadi kanak-kanak usia antara 5/6 tahun juga masih belum diketahui.


Mengingat Archduke percaya dengan apa yang di katakan Eldania mengenai sihir yang misterius itu, membuat Eldania tidak boleh keluar dari istana terlebih dahulu. Akan di pertanyakan jika banyak orang tahu Archduke mengangkat seseorang adik angkat berusia belia ( Anggap saja 6 tahun )lalu ketika sihir di dalam tubuh Eldania menghilang maka pasti ukuran tububnya kembali normal, dan akan menjadi bahan pertanyaan ' kemana anak kecil yang di akui menjadi adik angkat lalu sekarang siapa lagi anak berusia 17 tahun itu? '.


Untuk menghindari permasalahan yang tidak perlu maka lebih baik begitu saja.


FYUTTTT............


Dalam sehari sudah ke 15 kali Dania bersiul di taman namun hasilnya tetap saja nihil.


[ Sudah 1minggu setiap hari dia bersiul seperti itu, siapa dan apa yang dipanggilnya? ]


Fikir Archduke saat mengintip adik angkatnya yang ada di taman dari lantai 2.


Pekerjaannya memang banyak sehingga beberapa minggu lalu dirinya juga juro Vidal harus keluar dari wilayah untuk urusan pekerjaan dan pergi selama 3 minggu lebih, jadi saat ini dirinya bisa bersantai di istana untuk beberapa waktu.


Dari informasi yang didapatinya dari kepala pelayan Marsha dan Benjamin, kalau Eldania walaupun tidak bertindak bagai anak kecil pada umumnya atau berbuat rusuh karena di kurung, tapi yang di dapati mereka adalah kalau ia( Eldania ) sering keluar ke halaman belakang dan berlatih bela diri ataupun sekedar olahraga sendirian.


Ya karena tidak ada pengawal juga jadi bisa bertindak sesukanya.


Namun kali ini yang dikihatnya sangat diluar prediksi.


Arch melihat Nia menemukan satu anak burung yang terjatuh dari sarang yang terletak di pohon di sebelahnya. Niat baiknya Nia memungut anak burung itu lalu Nia meletakkannya di dalam saku baju.


" Aku kira dia mau mengem- " ayatnya terpotong untuk seketika karena berbeda dari pemikirannya tadi, sekarang Nia memanjat pohon hingga sampai di tempat dimana sarang burung itu berada.


Untuk beberapa waktu, Arch tidak tahu apa yang terjadi disana karena tertutup dedaunan yang lebat. Hanya melihat beberapa lembar daun terjatuh sebelum akhirnya...


BRUKK....


[ Itu...., pendaratan yang mulus ] berbanding terbalik dengan yang di harapkannya, tubuh pendek Eldania dapat turun dari pohon yang tinggi dengan sempurna tanpa terjatuh sekalipun.


[ Apa karena hasil latihan terutama karena hidup di hutan? ]


Fikir Archduke.

__ADS_1


__ADS_2