Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Chapter 85


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Dania di berikan ujian masuk namun bukan Ishid yang menjadi pengamatnya, melainkan Sieg.


" Aku yang akan menggantikan ketua "


" ............. "


[ Apa ketua tidak salah merekrut wanita ini? ]


" Baiklah, Ujian pertamanya adalah memasukkan kelereng ini ke benang. Pastikan sampai habis dan tidak ada yang kurang atau lebih "


[ Sebanyak ini? ] Dania menerima satu karung goni berisi kelereng, jika di timbang-timbang beratnya sekitar 30 Kg lebih.


" Jika tidak sanggup, menyerahlah sekarang "


" ............ " Dania mengabaikan sindiran dari Sieg, ia memulai pekerjaannya.


Sieg sendiri meninggalkan Dania sendirian di ruang ujian tersebut.


Ujian yang dikira akan sulit ternyata semudah mengupas kulit kacang, untung ia di tempatkan di lantai dua jadi tidak akan memiliki pemandangan yang membosankan, karena ada jendela jadi ia bisa melihat keluar sembari kedua tangannya mengerjakan tugasnya.


3 jam kemudian.


{ Apa tuan baik-baik saja? }


[ Dari pada itu kenapa tiba-tiba tanya?, ingatkan sudah lama ditelan bumi. ]


{ Dan dari pada itu, kenapa tuan mau saja mengikuti perintah orang itu? }


[ Apa masalahnya, dari pada mengikuti tata krama kelas bangsawan yang memuakkan itu, lebih baik memasukkan kelereng ini ke dalam benang ] Jawab Dania pada Everst yang baru kedengeran suaranya setelah beberapa waktu menghilang.


_______________


Petang menjelang malam.


Semua pintu sudah terkunci, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di bawah yang sedang berpatroli, namun di satu ruangan ada satu orang yang masih setia memasukkan kelereng ke dalam benang.


Baru seperempat bagian yang sudah ia kerjakan namun hari juga sudah mulai malam.


" Apa aku sudahi saja? "


Saking seriusnya sampai tidak ingat waktu sudah berlalu dengan cepat, yang tadinya pagi kini berganti petang, matahari pun sudah terbenam,hanya memperlihatkan cahaya kejinggaan dari sebelah barat.


Everst sendiri sudah pergi dari tadi siang?, entahlah sebab dia tidak menunjukkan dirinya dan hanya berbicara dengan pikiran atau lebih tepatnya telepati.


Di sisi lain Sieg baru ingat tugas yang ia tinggalkan.


[ Sudah hampir malam ] Sieg memandang langit yang sudah mulai menggelap dan beberapa bintang juga sudah mulai bermunculan.


[ Apa aku harus kesana untuk memastikan ]

__ADS_1


Fikir Sieg.


Sieg memang masih berada di markas, tapi karena berurusan dengan berkas yang menumpuk jadi secara tidak sadar ia menghabiskan banyak waktu di ruang kerja.


" Sieg, kamu tidak pulang? " tutur


" Sebentar lagi " jawab Sieg lalu menunpuk berkas demi berkas menjadi satu.


Barulah setelah membereskan berkas yang mulia limpahkan padanya sudah rapi, ia baru keluar dan di perlihatkan koridor yang yang minm cahaya namun masih bisa ia lihat dengan jelas.


Kemana ia berjalan tentu saja sudah jelas, lepas ia membuka pintu ruang ujian, masih ada orang yang senantiasa duduk manis dan...


" Kenapa belum pulang? "


" Anda sendiri tidak mengawasi oeserta ujian dengan benar, saya mana bisa pulang sebelum bertemu dengan panitia ujian ini sendiri? " Jawab Dania.


" Baiklah, ini salahku. Lanjutkan buat besok sekarang bisa pulang kan? "


"................"


Dania mengikat karung goni, meletakkan jarum dan hasil kerjanya ke karung lain lalu mengikatnya juga, lalu ia pergi...


BRAKK......


".........? "


Sieg di tinggal sendirian, tanpa ada satu patah kata dari juniornya.


Hari ke dua, dan ketiga.


Dalam tiga hari berturut-turut, Dania datang paling pagi dan ulang malam.


Sieg kewalahan untuk menegur si kepala batu, agar tidak perlu memaksakan diri. Pasalnya..


[ Ini bukan perintah dari ketua, melainkan dari yang mulia ] Benak hati Sieg.


Ishid sendiri sudah berkata untuk mengatur ulang jadwal ujian masuk Dania, namun nyatanya hal itu di buat kesempatan oleh salah satu orang untuk mengerjai Dania.


Tapi sampai hari ke empat, Dania masih bersikeras menyelesaikannya, di hari terakhirnya ia bisa menyelesaikannya sampai setengah hari lalu langsung menyerahkan satu karung itu pada Sieg.


" Ini sudah selesai semua? " Sieg masih tidak percaya, padahal dalam 5 hari saja kebanyakan hanya bisa mencapai 16 Kg, tapi ini sudah menyelesaikan keseluruhannya.


Dania meninggalkan Sieg sendiri sementara kakinya berjalan, pandangannya menghadap ke deoan, tapi otaknya terngiang kalimat..


' Kontrakmu akan terputus jika si pemilik( tuan ) meninggal '


[ Memangnya aku harus mati dulu? ]


" Padahal kali ini aku ingin hidup lebih lama "


gumam Dania.

__ADS_1


" Ucapan anda seperti memiliki makna kalau hidup anda akan sangat singkat "


Dania tersadar akan gumamannya dan khayalan dari dunianya sendiri, ia di hadapkan oleh Ishid.


[ Dia hanya menunjukkan senyumannya jika pada Yunifer ya?. Hmm...disini kebanyakan pria yang tinggi status selalu bersikap dingin ]


" Saya harus mengatur ulang jadwal ujian anda, apa anda tidak keberatan jika dimulai sekarang? "


" Apa?, lalu- "


[ Empat hari ini si Sieg mengikuti perintahnya siapa jika Ishid ini sudah berkata mengatur jadwalnya lagi ]


" Apa ada masalah? "


" Tidak " Amarah, dendam yang terpendam. Kesabaran yang di salurkan ke kelereng itu menjadi ada artinya kalau hidup harus banyak menghadapi situasi tak terelakan seperti empat hari yang sudah ia habiskan hanya untuk duduk.


Dan pada akhir dari ujian itu....


[ Ujian lisan, aku hanya menjawab pertanyaan seputar hidup di alam terbuka. Apa aku tidak salah hidup?, apa aku tidak salah ambil langkah?, atau ada yang salah dengan otak dia? ]


Dania tidak mengerti jalan pikiran si pemimpin bernama Ishid ini, dari sekian banyak ujian yang biasanya sering di ambil dalam hal ujian fisik dan ke ahlian, justru Ishid malah memberikan ujian lisan alias wawancara. Berarti dalam hal bertahan hidup, artinya Ishid lebih mencondongkan penilainnya dalam hal pengalaman.


" Au ah, aku pusing. " tangan kanannya memijit pelipisnya dimana kepalanya seperti mau pecah.


CLING......


Dania ternampak satu benda berkilau di bawah semak-semak. Ketika dia mendekatinya ternyata itu adalah perhiasa yaitu anting namun hanya sebelah saja, ia mengambilnya dan melihatnya dengan seksama. Berwarna biru dan berkilau tapi siapa pemiliknya?.


" Ahhh.....bisa gila aku, dimana aku harus mencarinya lagi? " Satu kesatria tengah mengeluh dan mengacak rambutnya sendiri yang sudah pasrah akan satu hal yang belum di dapatinya.


Dania melirik ke samping, orang tersebut terlihat sedang mencari sesuatu jadi Dania berpikir kalau banda yang sedang di pegangnya lah yang sedang dia cari.


" Hei kamu! " panggil Dania pada orang tersebut, memang tidak tahu siapa namanya jadi langsung ia panggil dengan 'Hei'


" Hei, kenapa memanggilku Hei, aku Revin. Jadi jangan memanggilku denga- , Eh....itu yang di tanganmu, sini " Revin pun meminta benda yang di pegang Dania.


Dania melemparnya dan bisa ditangkap dengan mudah oleh Revin.


" Makasih " ketusnya dan berlalu pergi tanpa ada basa basi lagi.


Di tinggal sendirian, sendirian lagi.


Dania memegang kepalanya yang nyut-nyut..


[ Gara-gara dia aku jadi kena insomnia ] Seperti kerja rodi, kerja paksa yang bahkan tidak di upah. Setiap beberapa malam ia harus menghadapi satu orang yang suka bermain adu kekuatan atau adu mulut dengan Caster yang selalu datang tanpa di undang.


" Sebaiknya aku pulang " gumam Dania.


[ Wanita itu sampai berurusan dengan orang yang membawa senjata aneh, dan Yang mulia ingin dia berada di pasukan tapi Yang mulia ingin aku yang merekrut dia secara pribadi, apa Yang mulia tahu siapa wanita bernama Dania itu? ] Fikir Ishid.


" Tapi jika dia berada di dekat Cania, bukankah Yunifer dan Cania bisa jadi berpisah? " Ishid secara pribadi juga ingin agar Cania bisa menjauhi Yunifer. Jadi perintah dari Yang mulia juga berarti memberikan dirinya kesempatan untuk memisahkan kedua wanita si Cania dan Yunifer.

__ADS_1


Yah...ia akan menyuruh juga agar Dania bisa mengawasi Cania jika Dania bisa bekerja di tempat yang sama. Yunifer adalah miliknya dan tidak boleh ada siapapun yang mendekatinya.


__ADS_2