Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Elviniraz


__ADS_3

"................." Satu per satu Dania pergi menatap mereka berempat secara bergantian.


Mengabaikan Elvira yang dulu tidak tahu berterima kasih sudah di tolong, tapi membuat keputusan sebuah kebencian padanya karena merasa di permainkan oleh Dania, padahal penculikan yang terjadi itu bukanlalh dirinya, tapi orang lain, membuatnya mengalihkan muka untuk memandang Youri atau Elvin ini.


Elvin segera memberikan senyuman ramah di sertai kepalanya yang sedikit menunduk.


Sedangkan Youri, malah memalingkan muka ke tempat lain.


" Ayo, saya antar kalian. Dari pada disini terus lebih baik bicara di tempat lain, karena mereka....." Nigel memberikan peringatan dengan sebuah jelingan terhadap orang-orang yang ada di bawah.


" Masih bisa melihat kita. "


" Baiklah tuan Nigel....kami akan mengikutimu. " Ellora menjawab, mewakili pembicaraan dari yang mulia yang ada di belakangnya.


" Dan kamu nona, bisa tolong ikut kami sebentar?. " pinta Ellora kepada gadis itu.


Archduke dan Tassel saling memandang satu sama lain, meski berada di meja berbeda.


Tatapan mereka berdua sudah jadi isyarat mata ' Dia kenal mereka? '.


Dan Ellora mengalihkan pandangannya ke satu orang pria berambut kelabu itu.


" Apakah yang mulia Archduke mengizinkan kami membawa nona ini?. "


Dania dan Archduke jadi saling bertatap mata sesaat, meski tatapannya Dania hanyalah lirikan semata.


" Tentu saja mengizinkannya, asal anda membawanya kembali padaku secara utuh. "


" Hahahaha.........tenang saja, kami bukannya mau memakannya kok. " Ellora pun mengikuti alur candaan orang ini.


[ Mereka punya hubungan khusus?. ] fikir Ellora.


[ Dua orang ini, candaan mereka nyambung sekali. ] Nigel tersenyum tawar, akhirnya ada juga dua orang di mana satu orang beerpangkat Archduke yang suka membual lelucon aneh bisa ada satu orang yang sepadan dengan leluconnya juga.


" Mari.......lewat sini. " Nigel berjalan memimpin mereka berempat, dan di tambah dengan sang Lady Dania, maka jadi lima.


" Bawa ini. " Archduke langsung mendorong mangkuk kecil berisi permen karamel pada Dania.


Dania segera menerima mangkuk itu sebelum terlepas dari tangannya Archduke.


" Apa?, mau membuat orang lain sakit gigi?. " Tanyanya, sambil mengernyit kurang suka dengan sikap pria ini yang selalu terlihat sok akrab ketika di depan orang.


" Kamu bukannya sangat rajin sikat gigi, segini saja tidak membuatmu sakit gigi. " terus mendesak Dania agar membawa semangkuk permen karamel itu.


" Itu saranku, soal wajahmu yang sering di tekuk itu. " lanjutnya lagi, lalu mendorong pelan pinggang yang langsing itu dengan pelan agar mengikuti mereka berlima.


"..................." Dania yang tidak bisa berkata apa pun, akhirnya pergi dengan membawa mangkuk permen karamel.


Dari sini, mereka berenam pergi menuju satu pintu yang ada di tengah ruangan itu, dan ketika di buka, rupanya di dalam sana ada sebuah lorong.


Lorong ini adalah lorong dari lantai ke tiga.


Jadi, ketika pintu terbuka, maka pintu itu sudah menghubungkan satu tempat ke satu tempat lain, yang sudah di sesuaikan dengan sedemikian rupa.


Sebuah sihir, sudah tertanam di pintu itu, menjadikan pintu itu langsung dapat terhubung dengan lantai 3, itulah yanh di terjadi.


Dia pun pergi melewati koridor dengan karpet berwarna biriu tua yang terbentang menutupi lantai di sepanjang koridor. Setelah itu, tiap beberapa meter ada sebuah pintu coklat, dengan hiasan bunga terpajang di depan pintu itu sendiri. Berbagai bunga yang sudah di beri sihir agar bertahan lama sampai bertahun-tahun, itu untuk mempertaankan bentuk fisik dari bunga itu sendiri.


CKLEK..........


Nigel berhenti di satu pintu yang terpajang satu tangkai bunga tulip, dia membukanya dengan pelan.


" Anda bisa istirahat disini. Selagi saya......."


" Tidak perlu merepotkan, kami semua sudah makan tadi, anda bisa membawakannya untuk nona manis ini. " Ellora menolak tawarannya Nigel dengan lelmbut, dan lebih mengutamakan agar melayani gadis berambut aram temaram ni.


Nigel menatap Lady Dania, mengharapkan sebuah jawaban.


Sebenarnya malas, sekaligus enggan, karena niatnya ingin sebuah perbincangan sesaat saja, tapi Nigel yang begitu mengharapkan bisa melayaninya dengan baik, jadi mau tidak mau Dania menerim tawarannya.


" Minuman saja. " pintanya. Di saat seperti ini, mana mungkin makan di depan orang lain.


Dan Nigel memberikan sebuah anggukan kecil, sebelum pergi menutup pintu itu.


Setelah kepergian Nigel, Dania melihat Ellora malah menatapnya seperti orang yang memgharapkan sesuatu darinya.


" Jadi ada apa?. " satu pertanyaan terlontar pada mereka, mungkin salah satu di antara 4 orang ini akan menjawabnya.


" Ehmm...yang mulia.. " Ellora memanggilnya, agar Yang mulia Elvin terlebih dahulu yang pertama kali bicara.


" Apa anda baik-baik saja?. "


Dari sekian banyak pertanyaan.


[ Kenapa dia bertanya aku baik-baik saja?, apa dia merasa tidak senang karena waktu itu aku tiba-tiba pergi meninggalkan rombongannya?. ] Dania berpikir demikian.


Terakhir kali, dirinya bertugas sebagai pendeta, tapi saat di tengah-tengah perjalanan, dia sendiri yang di pisahkan oleh sesuatu jadi terpisah dengan rombongannya, tapi karena satu hal, dirinya pulang ke kerajaan dan intinya memang pergi tanpa pamit padanya.


Dan akibat dari itu juga, dirinya tidak menerima emas yang di janjikannya, karena ....


[ Aku di usir. ]


" Nyam~, nyam~......nyam~. " Memasukkan satu biji permen karamel ke dalam mulut.


*******


" Ada gerangan apa yang mulia tiba-tiba datang ke sini?. " Tanya Archduke.


Tassel sesaat tersenyum tipis.


" Saya tidak mengira anda memperhatikan saya, saya disini untuk melihat seseorang. " jawab Tassel, kembali berekspresi datar seperti biasa, lalu iris biru itu melirik ke sebrang, sepasang kekasih sedang duduk santai di sana.


" Karena satu kendala, surat yang saya buat tidak di terima pada si penerima. " sambungnya.


" Jadi anda menyadarinya juga. Tapi ngomong-ngomong.... " Archduke sengaja menggantungkan kalimatnya, berdiri dan berpindah tempat menuju meja Tasse, dia segera duduk di sana. " Ada urusan mendesak apa sampai ingin mengundang dia ke tempatmu?. Bukannya semua urusan sudah selesai dengan bersih tanpa cacat sedikitpun?. "


Tassel menyeruput kopi yang di pesannya tadi dan menjawab.


" Hanya masalah kecil, bawahanku ada yang meminta untuk membuatkan pesta perayaan untuknya, jadi bukankah tokoh utama memang harus hadir?. "


" Hahhh...... " Archduke mendesah dengan sangat dalam, ternyata hanya acara sepele seperti itu, tapi...


[ Bisa saja itu hanya alasan semata, dia pasti punya tujuan pribadi. ] Archduke mengamati Tassel dalam diam.


" Atau.......anda sedang mencari seorang pendamping untuk menghadiri pesta yang mulia raja?. " teka Archduke.


Archduke sebenarnya mempunyai sebuah undangan, dari ulang tahun Raja dan secara kebetulan di masa itu juga merupakan debutante, sebuah debut yang di peruntukan untuk para gadis dari usia 18-22 tahun, masuk ke dalam kalangan sosial.


Lalu untuk datang ke sana harus punya pasangannya masing-masing.


[ Tapi memangnya dia mau datang ke acara seperti itu?, aku saja yang ingin mengadakan pesta kedewasaannya, terus di tolak mentah-mentah. ] Fikir Archduke, dan membayangkan kembali tentang ingatan akan Dania yang menolak keinginannya ( Archduke ) menyelenggarakan pesta kedewasaan untuk gadis itu.


' Aku tidak suka pesta '


Archduke memikirkan kembali ucapannya Eldania, sangat ketus, dan percaya diri dengan jawabannya itu.


' Apa gunanya itu?. Membuang tenaga dengan hal yang begitu sia-sia, menghamburkan uang, dan kalangan sosial?, aku tipikal orang yang tidak begitu cocok dengan kemewahan, apa lagi pertemuan adu urat seperti itu. '


[ Errhmm.......' adu urat ', dia memang orang yang tidak suka bertele-tele. ] Archduke tiba-tiba mengangguk pelan, dia tentu ingat tentang kebiasaan akan pertemuan nona bangsawan.


Ujung dari pertemuan seperti itu tidak lain selain sekedar bertukar informasi ( Gosip ), juga mendatangkan tokoh utama untuk jadi bahan sindirian. Mulut manis tapi penuh makna akan sarkasme yang sangat kuat.


Jika tidak punya hati kuat, dia akan di tindas habis-habisan meski hanya lewat mulut saja. Mereka akan membuat mangsanya terpuruk, dan mendapatkan tekanan batin serta psikologis yang kuat.


" Itu.... " Tassel tidak menyangka bahwa Archduke menebaknya dengan benar.


Archduke yang sudah tahu akan reaksi dari satu orang ini, tersenyum puas seperti sebuah kemenangan.


" Orang seperti dia, lebih bagus di datangi langsung. Anda harus ingat itu. " jelas Archduke.

__ADS_1


Dalam hal ini, jika tidak di tanyai atau bertemu langsung dengan orangnya ( Dania ), maka Dania tidak akan begitu mempedulikan segala permintaan ataupun jawaban yang mereka harapkan. Dania lebih akan mementingkan hal yang ingin dilakukannya ketimbang menuruti satu dua kemauan orang dari sebuah surat, itu sudah berlaku mulai dari 1 minggu lalu, dan bahkan sekalipun itu...


[ Sekalipun dia..., pangeran dari negeri lain. ] Archduke hanya sedikit membantu penolakannya Dania terhadap surat yang datang, tapi tidak akan membantu untuk membujuk Dania mengikuti kemauan dari isi surat yang kemungkinan tidak akan datang 1 atau dua kali.


" Begitu ya?. " Tassel menunduk, menatap permukaan air kopi yang tinggal separuh itu.


" Tapi apakah mungkin dia mau?. " teringat dengan ingatan masa kecilnya, dia adalah gadis cilik yang menyedihkan, tapi sekarang sudah tidak seperti dulu lagi.


Ya.....sekarang dia ( Dania ) sudah di pungut, tidak.......tapi di angkat menjadi adik angkat yang mulia Archduke yang punya status di bawah raja.


*********


Sebenarnya bibirnya ragu untuk membuka mulutnya, bahkan ke dua tangannya sampai mencengkram gaun yang di pakainya sebab sedikit takut, namun..


" Penampilan anda.....berubah ya?. " Youri akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" Hanya untuk hari ini saja. "


" Ya?. " Youri tidak menduga kalalu akan mendapatkan jawaban, jadi secara refleks bertanya.


Dania mnejawab lagi.


" Anda bertanya penampilan saya berubah kan?, tentu saja berubah tapi hanya untuk hari ini saja. Apa ada masalah?. " balik bertany.


Youri dengan gugupnya, menjawab..


" Ti-tidak masalah. "


" Hanya malam ini saja?. " Ellora segera menyelanya.


" Jadi maksudnya, kemarin-kemarin masih suka berpenampilan seperti dulu. "


" Ehm......yah, itu kenyamananku saja. " tidak ada gunanya berbohong, jadi memutuskan untuk jujur saja pada wanita ini.


" Apa saya boleh bertanya?. "


Dania melirik lagi ke arah pria itu. Apa yang ingin di tanyakannya?, dia akan mencoba mendengarkannya.


" Silahkan. "


" Apa judul lagu terakhir yang anda mainkan tadi?. " Tanya Elvin, dia sangat penasaran dengan lagu terakhir yang di mainkan oleh perempuan ini, dan karena penasaran yang tinggi itu, jadi Elvin tidak mampu lagi untuk tidak bertanya pada orangnya langsung.


" Flower dance. " Jawab Dania, tanpa mempertanyakan alasannya terlebih dahulu.


" Dari mana anda tahu lagu itu?. "


[ Kenapa kakak jadi menanyakan itu?. ] Elvira sedikit bingung dengan alasan kakaknya ini, kenapa tiba-tiba bertanya tentang lagu.


[ Lagu ini aku tahu dari video yang aku tonton, tapi aku mana mungkin memberitahukannya. ]


Jadi bagaimanapun, dia harus membuat alasan yang masuk akal.


" Saya pernah melihat pertunjukkannya secara langsung. Jadi saya menirunya.


Dania tidak akan memberitahu faktanya, jadi mau tidak mau harus berbohong, bahwa dia ( Dania ) pernah melihat pertunjukkan resital dengan lagu ini di suatu tempat.


Walaupun, kebohongan itu tidak akan bisa efektif membohongi pria ini, sebab Elvin tahu sebuah fakta kecil itu sendiri.


" Bagaimana mungkin?. "


[ Yang mulia.. ] Ellora merasakan hal yang tidak baik, jika Elvin terus bertanya.


[ Kenapa dia seolah menentang...' Tidak mungkin. ' ]


Dania mulai waspada, dengan maksud pertanyaannya Elvin ini.


" Karena lagu yang anda bawakan tadi, kemungkinan besar adalah potongan dari sisa chord lagu yang tidak di ketahui selama berabad-abad ini. Jadi sebenarnya siapa anda, dan bagaimana bisa tahu kelanjutan lagu itu?. "


DEG........


" Ha?, apa maksudnya itu?. " Dania mulai paham, tapi dia tetap berusaha menutupi kenyataannya terus, agar identitasnya tidak di ketahui oleh mereka.


" Saya hanya mendengarnya dan melihat di satu pertunjukkan yang pernah saya lihat, lalu......bagaimanapun saya bisa melakukan improvisasi untuk semua lagu yang saya bawakan, jadi apa maksud dengan kalimat 'siapa anda?'. " Tiba-tiba wajah seriusnya berubah menjadi sebuah senyuman mencibir.


Dania tahu, Elvin hanya penasaran dengan satu potongan dari chord lagu yang terpajang di dalam museum Ascordanti.


Semua benda dan segala catatan dari tulisan asing itu, Dania paham semuanya karena semu barang-barang itu memang berasal dari dunianya,


Tapi......kadang kala, menutupi kebenaran akan membuatnya selamat dari segala hal yang bisa mengancamnya, seperti julukan sepele ' orang jenius ' karena dapat menafsirkan semua catatan bersejarah di museum Ascordanti.


Memang, hal itu akan menaikkan namanya, tapi tidak semua hal itu akan menjadi keperuntungannya menjadi orang yang di agung-agungkan, semuanya pasti ada resikonya.


[ Ada untungnya aku ingat, aku pernah datang ke museum itu. ] Jujur Dania bernafas lega.


Dia bisa membuat alasan lain yang lebih masuk akal, meski harus di tambah sebuah bumbu-bumbu pamer, bisa melakukan improvisasi ke semua lagu. Dia tidak berbohong, tapi hanya terpaksa dia gunakan untuk mnyelipkan alasan itu, meski di akhiri rasa bangga terhadap dirinya sendiri.


[ Hah.....apa aku harus berterima kasih pada bos penipu itu? ] meski tersiksa dengan kehidupan lalunya karena orang yang bernama Devon itu, tapi hasilnya yang seperti ini tidaklah buruk, bisa memainkan piano adalah salah satu dari sekian banyak hal yang di ajarkan orang itu padanya.


" Dania.......maafkan yang mulia, beliau hanya penas...." Ellora yang mewakili permintaan maaf Elvi langsung terpotong.


[ tapi jika tahu kalau pertemuan ini hanya membahas hal semacam ini saja.......lebih baik tadi makan. ] Karena merasa tidak akan mendapatkan hal berguna dari reuni dadakan ini, Dania hendak pergi dari situ.


" Kalau hanya pembicaraan seperti ini saja, saya akan undur diri lebih dahulu. "


Dania sudah berdiri ingin mengakhiri pembicaraan yang hampir saja mengungkapkan identitasnya ini, hanya saja.....


" Apa sekarang kamu sedang bersikap sombong pada kami?. "


Satu suara milik perempuan yang dari awal terdiam, langsung menarik perhatiannya Dania. Elvira akhirnya mengutarakan suaranya yang dari awal mulutnya tertutup rapat.


" Setelah pindah ke sini dan di jadikan adik angkat oleh yang mulia Archduke, apa kau mulai berubah menjadi sombong pada kami?. Kakakku hanya bertanya karena penasaran saja, tapi wajahmu itu........seperti malah seperti sedang menyindir kakakku. "


" Elvira... " Panggil Elvin, mencoba menyadarkan adiknya kalau ucapannya tidak sopan.


Elvira tidak mendengarkan panggilan kakaknya, dan terus menatap tajam Dania dari tempat tadi dia duduk.


" Kakakku yang menyelamatkanmu, membawamu masuk ke dalam istana supaya kau hidup lebih baik dari pada menjadi budak, tapi sikapmu tadi itu........"


Deretan kalimat Dari Elvira, membahas sebuah masa lalu.


[ Apakah dia mau menagih hutang padaku?. Karena kebaikan kakaknya dulu, yang sudah memberikanku pekerjaan sampai tempat tinggal?!. ] Dania terdiam, dia mau mendengar apa lagi kalimat yang akan terlontar dari mulut Elvira ini?.


"................"


" Juga seperti sedang merendahkan kami, kami ini keluarga kerajaan harusnya lebih hormatlah pada kami!. "


" HA?~........." Dania yang sedari tadi sedikit menunduk itu langsung beralih menatap Elvira, dan membalas ocehan wanita ini.


" Jadi itu maksudnya kenapa dari tadi diam?, ingin memngocehiku di waktu yang tepat?. "


" K-kau......" Elvira terkejut, karena akhirnya Dania berceloteh dengan kata tak sopan.


" Kau apa?!. " Bentaknya.


" Aku kira kenapa, orang sepertimu diam saja. Kalau boleh jujur aku tidak tahan lagi denganmu, membanggakan status yang pada dasarnya hanya untuk memisahkan diri dengan orang lain dalam artian seakan derajatmu lebih tinggi, padahal kau sama-sama manusia sepertiku!. "


" Lady ........" Peringat Elvin.


" Aku bukan Lady. " Jawab Dania pada Elvin dengan cepat tanpa membuat jeda.


" Aku tidak akan menjadi nona bangsawan, jadi jangan memanggilku Lady, seakan aku pantas dengan gelar seperti itu. " sambungnya, dia tersenyum getir.


" Mendengrnya saja sudah menjengkelkan. "


" Apa?. " Elvin tidak menyangka akan mendengar pernyataan perempuan ini dengan begitu terus terang.


" Kenapa?, merasa sadar diri bahwa sebutan itu memang tidak pantas untukmu?. " Celetuk Elvira.


" Kalau begitu aku tanya, apa yang kau pahami dari statusmu yang lahir dari keluarga kaya?. Pertemuan pertama kita, kaulah yang menabrakku, tapi akhirnya aku jadi bahan tontonan karena keserakahanmu yang ingin menjadikanku permainanmu. " Bersilang tangan di depan dada, Dania kembali membahas hal yang di alaminya dulu bersama dengan Elvira.

__ADS_1


" Lalu, menuduhku kalau aku yang menculikmu, bukankah artinya panggilan terhormat ' Tuan Putri ' maka akan membuatmu merasa rakus dengan statusmu yang seakan kau bisa melakukan segalanya tanpa pertimbangan terlebih dahulu. "


Elvira, julukan sebagai tuan putri ke tiga, sikapnya tidak mencerminkan kalau Elvira melakukan segala hal dengan penuh pertimbangan.


Sembrono, ucapan dan tingkah yang tidak sopan.


Bisa dijadikan contoh untuk nona bangsawan lain, bahwa rata-rata mereka memang akan berperilaku seperti itu.


" Hah......" Dania mendesis kesal.


" Inilah hukum alam. " Decihnya.


" Apa ini, maksud dari pertemuan ini?. "


Elvira segera terbungkam dengan kata-katanya, apa yang bisa dia katakan lagi saat Ellora tiba-tiba saja angkat bicara.


" Bukan begitu. Awalnya kami hanya ingin bertemu denganmu, dan yang mulia berserta nona Elvira juga Youri, mereka ingin minta maaf. Setelah semua masalah yang dulu itu, sudah terkuak sepenuhnya, bahwa dirimu tidaklah bersalah. "


Ucap Ellora.


" Minta maaf?. Semuanya sudah berlalu, padahal hampir aku lupakan. " Kata Dania dengan tangan kiri mengibas.


DEG......


" Jadi maksudnya, kedatangan kami ini sia-sia?. " Youri pula, kini bertanya. Jujur, awalnya Youri ingin minta maaf, tapi apa ini?, orang yang dulu bersikap ramah, kini sudah tidak ada lagi, sikap Dania dan Danie terasa berbeda jauh.


"..............." Dania berpikir ulang. Berjalan ke arah Youri lalu membalas ucapan Youri tadi.


" Tujuan awalnya kan memang bukan menemuiku, jadi apa yang sia-sia?. "


Benar, tujuan awal mereka berempat memanglah hanya makan di restoran setelah lelah menempuh perjalanan panjang. Jadi semua pertemuan ini hanyalah pertemuan tak di rencanakan, jadi apa yang sia-sia?.


" Yang sia-sia adalah membuang waktu, baik waktu milikku........." berpaling, Dania menatap Elvira ini.


" Dan waktu kalian berempat. "


l


l


l


l


l


l


l


l


" Jadi......kamu. " Dania memasang wajah bencinya, yah.....benci dengan perempuan yang kini saja sudah lebih pendek darinya.


" Aku berkata sebagai sesama manusia dengan derajat yang sama. Sikapmu Elvira, aku tidak suka, sama saja membuat musuh. Apa gunanya jadi tuan putri, jika ucapan dan sikapmu saja seperti itu, karena yang ada......dirimu itulah yang bahkan lebih rendah dari orang lain yang hanya rakyat jelata. " Jelasnya.


" Pahami itu. " tambahnya lagi, dengan nada penuh penekanan sambil mengernyit. Dia ingin jawaban langsung dari perempuan ini, perempuan yang harusnya di didik lebih keras lagi.


Mungkin kali ini adalah pembicaraan terpanjangnya, dan bagi Elvira....dia untuk pertama kalinya mendapatkan ucapan tidak suka secara langsung dari seseorangg, membuat hatinya terguncang, dan pikirannya mulai tersadar akan semua perkataannya Dania.


" Nona Dania. " Tidak tahan dengan tatapan Dania yang seakan sedang mengancam, membuat Elvin segera memanggil namamnya agar berhenti menatap adiknya seperti itu.


Dania yang tersadar, langsung menoleh ke arah Elvin.


"..................., Erhm... jadi bagaimana harus membayar hutangku?. " Seketika Dania merubah sikap dan nadanya yang tadi terdengar mengintimidasi itu.


" Bukannya aku terpengaruh dengan ucapan adikmu, tapi hutang memang harus di bayar. Dengan satu hal, aku tidak akan kembali Linstone. " Dan satu hal lain, Dania malas berlama-lama menggunakan bahasa formal.


Elvin jadi tersenyum lemah, orang di depannya sudah berbeda dari yang dulu, itu terdengar dari ucapannya juga.


Maka dari itu, sebelum menjawab pasal hutang yang di maksud oleh nona Dania ini, Elvin harus meminta maaf dengan benar terlebih dahulu.


Itulah yang harus di kerjakannya setelah bersusah payah membuat pertemuan meski dadakan seperti ini.


Elvin berdiri, lalu pergi ke arah dimana perempuan itu berdiri di depannya Youri tadi.


Begitu sudah berada di depnnya, membuat Dania mendongak sedikit ke atas, Elvin segera berlutut di depannya Dania, mengambil tagan kanan Dania dan menatapnyya ke atas sambil berkata.


" Saya tidak tahu apakah ini akan terdengar tulus atau tidak di telinga anda. Tapi atas namaku, Elviniraz sebagai putra mahkota kerajaan Linstone, apakah anda mau menerima permohonan maaf kami semua, baik ayah, ibu, dan adik saya, dan semua hal buruk yang membuat anda terusir dari kerajaan kami?. "


" M-maaf. " Elvira, berbeda dari ucapannya yang meminta maaf, Elvira jadi tidak berani menatap mata itu. Tatapan yang tadi menatapnya secara dingin.


" S-saya minta maaf juga. " Youri juga membungkuk, dia yang tidak punya perkara terlalu serius dengan Dania, memberanikan dirinya meminta maaf pula.


Ellora terpukau dengan pemandangan ini, jika ada benda untuk mengambil gambar, maka akan Ellora ambil sebagai momen indah yang sangat langka ini.


" Kenapa sampai berlutut?. Jika orang lain melihatnya, namamu akan tercemar. " Dania hanya terfokus pada peria di depannya ini.


" Sebuah kehormatan, karena ratu dan tuan putri di selamatkan olehmu, jika bukan karenamu, keterpurukan kerajaan Linstone pasti sudah melanda. " Ellora menjelaskan.


" ......................" Tidak mau melihat pria ini berlutut lama-lama, Dania segera menjawabnya.


" Baiklah. Aku maafkan. " dengan begitu segannya berkata seperti itu, lemah, seperti tidak berdaya.


Bagaimana tidak berdaya, orang yang sedang berlutut seakan sednag melamar ini adalah orang tertampan pertama di kerajaan Linstona. Seorang putra mahkota sedang berlutut di depannya?!, sebuah kejadian langka dia dapatkan bukan?.


Hanya saja ini bukanlah lamaran seperti tadi pagi yang Dania lihat di depan toko bunga, tapi sebuah kehormatan bentuk permintaan maaf dari keluarga kerajaan langsung padanya ( Eldania ).


Setelah mendengar jawaban permintaan maafnya, Elvin yang kini sedang menggenggam tangannya Dania, perlahan mulai mendekatkan bibirnya ke punggung tangannya Dania...jadi berakkhir dengan suara...


CUP........


Dag...Dig.....Dug.......


Reaksi normal jika mendapatkan hal seperti ini pada fans beratnya. Sebuah perasaan suka sesaat yang tiba-tiba datang melanda, mempengaruhi jantung berharganya.


Apa lagi kalau tidak berharga, tanpa jantung, maka dia tidak akan hidup.


Dan laki-laki ini, berhasil mempengaruhinya.


"............." Dania segera menarik tangannya secepat kilat, kalau tidak, itu akan membahayakan pikirannya yang mulai tidak terkontrol.


Elvin yang tiba-tiba langsung mendapatkan angin kosong setelah mencium punggung tangannya Dania hanya terbengong.


Dania....merasa apa tangan kanannya kini sudah jadi tangan paling berharga?.


Dia bisa saja mencium balik punggung tangannya sendiri, sampai perbuatannya itu bisa di bilang sebagai ciuman tidak langsung.


Itu tidak akan terjadi, demi citranya.


Tanpa sadar wajah serius tadi berubah dengan hiasan sebuah senyuman tipis.


" ..................."


Elvin pun berdiri, setelah tangannya anya memegang angin kosong belaka.


Dia melirik ke bawah, Dania yang kini sudah punya tinggi tubuh lebih dari yang di bayangkannya. Baru kurang lebih setengah tahun, tapi punya perbedaan yang signifikan dari dulu.


" Soal hutang tadi...." Elvin segera membahas pasal balasan nona Dania yang ingin membalas hutangnya padanya.


" KIta bahas lain waktu. "


"................"


######


Lain waktu yang tak lain sebentar lagi.


Awalnya ingin mendengarkan keinginan apa yang akan terlontar dari mulut dengan bibir seksi milik si Elvin ini.

__ADS_1


Namun semua pemikiran itu dia tarik kembali ketika Dania harus terlihkan dengan urusan mendesak yang tiba-tiba datang ke arahnya!.


__ADS_2