
Di dalam kereta kuda, dia yang sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, langsung memerintahkan kusir untuk berhenti di tengah jalan, saat pelupuk matanya melihat seseorang yang sangat di kenalinya.
Meski diantara banyak orang, di matanya hanya dia seorang saja yang nampak mencolok.
Dia turun, bergegas menuju manusia yang berdiri di depan pintu dengan sebuah kertas ada di tangannya.
" Ishid!. " panggilnya.
Suara seorang wanita menggema di kepalanya, itu bukan khayalan imajinasinya, dan si empu, lantas mencari ke asal sumber suara.
Dia menoleh ke samping kiri, dan bertemu dengan seseorang yang sangat di sayanginya.
[ Yunifer. ] matanya membulat sempurna, melihat Yunifer berlari kecil ke arahnya.
" Kenapa Ishid ada di sini?. " Yunifer bertanya, namun tak di sangka kalau kertas yang dipegang oleh Ishid tadi daei kejuhan rupanya adalah sebuah amplop.
" Apa yang Ishid pegang itu?. "
Raut wajah Ishid berubah menjadi murung, Yunifer datang, tapi undangannya malah ada di tangannya.
" Ini undangan yang harusnya Yunifer terima. "
" Itu undangan asli untukku?. " Dengan cekatan, Yunifer mengambil undangan itu dari tangan Ishid, dan membaca isi surat yang terletak di dalamnya.
" Ini....betulan Ishid yang menulisnya untukku?. "
Pria ini pun segera mengangguk.
Lalu Yunifer mengeluarkan undangan yang dia terima juga.
Membuat Ishid bertanya.
" Itu undangan dari siapa?. Apa Yunifer akan bertemu seseorang, disini juga?. "
" Oh..!, bukan...sebenarnya ini bukan undanganku. Di dalamya tertulis untuk Eldania. Niatnya aku akan ke sana, tapi apa yang Ishid lakukan disini?. "
Tapi keterdiaman sesaat Yunifer setelah mencerna semua peritiwa atas surat dan reaksi wajah Ishid, Yunifer akhirnya tahu.
" Ja-jangan-jangan.......ini yang sebenarnya Ishid rencanakan denganku?.
[ Dia benar-benar murung, hanya gara-gara surat tertukar itu. ] batin Yunifer.
" Karena Yunifer sudah disini, bukankah lebih baik kita pergi ke tempat lain?. " Ishid menawarkan ke tempat lain, dia memutuskan hal itu karena merasa pertemuannya sudah menjadi kacau gara-gara suratnya ternyata tertukar dengan milik seseorang.
[ Itu maksudnya apa lagi?!. ] Yunifer tercengang. Dia berpikir ke arah yang lain.
" Tapi ini?. " menunjuk ke undangan miliknya Dania.
Ishid merebut undangan itu.
" Jika undangan ini sudah di tangannya, apa Yunifer mau ikut dengan saya? "
" Tapi, bukannya Ishid sudah memesan tempat di sini?. " mencoba mengalihkan tujuan utama Ishid yang berniat pergi ke satu tempat lain.
[ Ini restoran mahal, aku yakin Ishid sudah merencanakan sesuatu disini, dengan surat yang sudah dia tulis. Lebih baik ke rencana awal Ishid saja kan?, dan lagi pula aku sudah membawa kue itu sekalian. ]
" Apa Yunifer mau disini saja?. "
Yunifer menjelaskan.
" Hmm!. Aku yakin....Ishid memang banyak uang, tapi di luar sana masih banyak orang yang bahkan tidak bisa makan untuk setiap harinya, ada baiknya jika tidak menghamburkan uang dengan sembarangan. Aku akan mengikuti rencana Awal Ishid saja.
Kata penuh perhatian itu, Ishid jadi semakin menyukai sifatnya.
Di saat yang penting itu, dia harus menyelsaikan sedikit urusannya.
Menatap undangan tersebut, itu bukan undangan miliknya, tapi milik seseorang.
Surat yang sudah tertukar itu harus tersampaikan pada si penerimanya, karena dia tahu siapa yang menulis surat itu.
" Kita masuk. " pinta Ishid.
" Tapi surat itu?. " menunjuk pada surat yang harusnya di antarkan ke kediaman Scnaider.
" Dia ada disini. "
Karena Ishid bilang begitu, dia pun menurutinya. masuk ke dalam Restoran.
******
Di dalam restoran, yang dia kira akan mencium berbagai aroma tidak menyenangkan, semuanya jauh dari bayangannya. Ekspetasi akan tidak menyenangkan itu segera sirna saat langkah kaki pertama memasuki ke dua pintu kaca.
Perempuan ini memperhatikan hal yang ada di sekelilingnya.
Ruangannya betul-betul luas, ada kurang lebih 40 meja berbentuk bundar tertata rapi dengan tiap meja, masing-masing terdapat empat kursi dengan bagian tengah hiasan berbagai bunga yang berbeda di tiap meja.
Selain itu, jika mendongak ke atas, maka akan di suguhkan oleh 7 lampu kristal berwarna putih bening.
Saat melewatinya, ternyata ada satu kehangatan yang terasa di kulitnya.
Tidak terkecuali bagian langit-langit sebuah plafon, ada banyak permata bentuk bintang layaknya itu memang bintang betulan, karena dapat megeluarkan cahaya cantik berkelap-kelip secara bergantian.
Perlahan orang-orang berdatangan dan memesan menu makanan yang mereka sukai.
Tapi yang lebih penting dari itu semua...
[ Kenapa tidak tercium aroma yang bisanya menjengkelkan itu?. ] Hidungnya beberapa kali mengendus, hanya ada perasaan lega karena mengirup udara segar saja.
Dia terus mengikuti orang ini dari belakang, sampai keheningan di antara mereka berdua tiba-tiba segera sirna setelah orang bebrkacamata ini bersuara.
" Jika anda berpikir kalau restoran ini akan dipenuhi berbagai aroma parfum tiap orang, itu tidak akan mungkin terjadi. "
" Apa bintang yang berkelap-kelipp di atas itu adalah penyebabnya?. " Dania bertanya, dia masih menyempatkan diri melirik ke atas, terpesona akan keindahan yang begitu dekat itu.
[ Dia menyadarinya?. ] menjeling ke samping kiri sedikit ke belakang.
" Benar. Bintang yang anda sebutkan itu adalah benda sihir untuk menetralisir segala aroma yang berkaitan dengan parfum saja, jadi keberadaanya tidak akan mempengaruhi aroma hidangan yang akan mereka makan. " jelasnya.
" Pasalnya tidak semua orang menyukai setiap parfum yang orang lain gunakan, hal ini juga demi kenyamanan pengunjung yang lain. Jadi tuan Nigel akhirnya menemukan ide tersebut meski harus dalam proes pembuatan, beliau perlu mengeluarkan banyak biaya sebab harus menyewa penyihir. " Tambahnya.
__ADS_1
[ Dia punya ide yang cemerlang juga. ] pujinya.
Jika memikirkan kemungkinan terburuknya saat di dalam restoran adalah mencium hal yang tidak enak itu, solusinya hanya satu hal, dan itu adalah makan di dalam sebuah ruangan.
Itu kebiasaannya, dan jika terpaksa mamka harus ada di samping sebuah jendela.
Bisa jadi, karena keberlianan dari ide Nigel yang bisa mencetuskan sebuah benda sihir seperti itu, Dania bisa makan di sini dengan leluasa tanpa beban.
Orang ini mau mejelaskan detail ldari benda sihir yang terpasang di langit-langit, membuatnya jadi penasaran pasal lampu gantung di atas. Pakah tebakannya benar?.
" Jadi lampu kristal itu apakah salah satu benda sihir juga?, yang dapat menghangatkan ruangan?. "
Langkahnya tiba-tiba saja berhenti, memutar tubuhnya ke belakang, dan berkata lagi.
" Sepertinya anda jadi tertarik dengan semua konsep yang ada disini?. Benar begitu Lady Dania?. "
Eldania yang terpaksa ikut memberhantikan langkah kakinya, segera menjawab pertanyaan tersebut dengan nada yang lembut.
Meski berbanding terbalik dengan ekspresinya yang sekarang beraut datar.
" Tentu saja. Semua ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan hal yang memberikan kemudahan baik dari sebuah kenyamanan, keindahan, proses yang cepat tanpa mempengaruhi kualitas adalah hal yang akan selalu aku utamakan dalam prinsip kehidupanku. "
[ Kenyamanan, berarti kenyamanannya itu salah satunya adalah pakaiannya yang dia gunakan?. ] Tidak ada hal yang menarik dari pakaian yang di kenakan oleh Dania.
Tapi jika di jejerkan dengan para nona bangsawan lain, justru yang palling mencolok adalah dia (Dania) sendiri.
Para nyonya dan nona bangsaan dengan pakaian mewah berbalut permata, maka hanya perempuan ini saja yang merupakan satu-satunya nona yang hanya berbalutkana kain.
Lagi-lagi sebuah perhatian, yang menarik perhatian mata?.
Dania yang sudah naik bosan dengan tatapan semacam itu, segera berucap lagi.
" Apa penampilanku menganggumu?. JIka mengganggu kalian juga, aku akan pergi saja. " sambil melirik ke beberapa orang yang meperhatikannya juga.
" Tentu saja. " tiba-tiba seseorang mengemukakan pendapatnya.
" .................." Dania menoleh ke samping kanan, dia lagi......perempuan yang waktu itu bertemu di sebuah toko yang bar di buka, dengan menghadirkan macaron rasa Red Velvet.
" Disini adalah tempat berkumpulnya para bangsawan, kenapa orang dengan pakaian sepertimu itu bisa masuk kesini?. "
" Hanya saja.....otakku mengatakan, asal punya uang, maka bisa masuk ke sembarang tempat sesuka hati biarpun orang itu berpakaian baju tidur sekalipun kan?. " ucapnya. Membalas ucapannya yang sebenarnya sedang menyindir itu.
" Itu saja jika mereka memang mau mencoreng citranya sendiri, memperbolehkan orang dengan pakaian tidur masuk ke tempat mereka. " ikutan membalas, perempuan ini tidak mau kalah dengannya.
" Jadi mana mungkin itu terjadi. "
" Itu bisa saja terjadi. " pungkasnya.
[ HIIII..........!. ] Perempuan ini segera mematung setelah mendengar suaranya.
[Kenapa kakak datang secepat ini?. ]
Masih berbicara.
" Aku tetap akan memperbolehkannya masuk. Jadi, jika adikku mau berpakaian baju tidur ke restoran ini, aku sebagai kakaknya juga tidak mempermasalahkannya.....ya kan?. " menoleh ke arah perempuan yang lebih muda 3 tahun itu.
" Chika...?. " Panggilnya, dengan nada penuh penekanan pada nama orang dari satu perempuan yang sudah mengganggu salah satu tamunya (Dania) ini.
Hanya tidak terima saja, mendengar ucapan kakaknya yang blak-blakan di depan umum seperti itu.
" Apa yang kamu lakukan disini, bukannya kamu masih ada satu kelas lagi?. " Nigel memicingkan matanya pada CHika, memulai sesi introgasi pada adiknya, kenapa bisa ada di restoran?.
" I-itu...." Gugup sudah ketahuan oleh kakaknya sendiri.
" Cider, antarkan dia ke tempatnnya. " perinttah Nigel, pada pria berkacamata yang tak lain adalah asistennya.
" Tunggu, aku disini ingin melihat kak Selina!. "
Tapi Nigel menggeleng, menolak adiknya untuk menonton, karena dia ( Chika ) harus melanjutkan kelas bangsawannya lagi.
" Perilakumu memprovokasi tamuku, sudah dijadikan nilai, kamu harus lebih banyak berada di kelas etika. Apa kamu mengerti?. " ujar Nigel.
Sebagai kakak, apa lagi yang bisa dia lakukan selain mengatur adiknya jika berbuat salah.
" Jadi lain hari saja. Cider. " Nigel memerintahkan lagi, hasilnya adalah mengalihkan tuga asistennya untuk mngantarkan adiknya pulang.
Cider pun menurutinya.
" Ayo......dari pada tuan lebih marah kepada anda.. " tutr Cider, dengan sedikit berbisik.
".............." Chika melirik ke kakaknya dengan rasa kesal, berpaling dari kakaknya, Chika gantian menatap perempuan yang ada di samping kakaknya.
[ Tatapannya seperti mengtakan.....' Awas kau' ] Sembari melihat kepergian dua orang tersebut.
" Dia hanya ingin melihat pertunjukkan piano saja, apa salahnya?. " Interupsi Dania. Dia mengerti akan situasi saat ini, tapi Chika hanya ingin melihat pertunjukkan piano, kenapa sampai Nigel tidak memperbolehkannnya?.
" Sebenarnya ada hal yang baru saja terjadi. "
NIgel sengaja menggantungkan kalimatnya.
Nigel pergi, maka dia pun mengikuti. Seperti akan memberitahukan di satu tempat yang tidak banyak orang.
Menaiki tangga, mereka berdua pergi ke lantai dua. Disitu adalah tempat khusus bagi yang punya kartu VIP.
Karena khusus, maka meja yang tersanding juga kurang dari 20. Memberikan jarak jauh, antara satu meja dengan meja lainnya.
Tapi jika tamu VVIP, maka tempatnya terletak di lantai 3, itu adalah ruangan besar dengan menyajikan pemandangan kota. VVIP juga bisa di bilang adalah tempat yang di gunakan sebagai tempat privasi, jadi tempat yang tepat jika tidak ingin di ganggu banyak orang.
" Aku disini saja. " Dania meminta untuk berada di lantai dua saja. Melihat mereka semua dari atas adalah pemandangan yang cukup menarik matanya.
Nigel mempersilahkannya duduk terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri.
" Hal yang baru terjadi apa yang di maksud?. " Dania menuntut penjelasan Nigel yang menggantung tadi.
Awalnya Nigel berwajah serius, tapi seketika berubah dengn senyuman yang di tahan untuk tidak terlihat terlalu bahagia.
Apa itu?.
" Sebenarnya.........Selina....." Menyangkut Selina lagi, Nigel berat hati memberitahukannya pada perempuan ini, tapi karena dialah yang menjadi pahlawannya, jadi Nigel memberitahukan permasalahannya yang baru datang itu.
__ADS_1
" Seelina tidak bisa hadir. "
" Kenapa?. "
[ Apa karena itu?. ] sambil bertanya, Dania berpikir satu kemungkinan dengan hal yang berkaitan dengan tunangannya Nigel ini.
" Saya baru di beritahukan, kalau dia ternyata........sedang hamil. " ucap Nigel dengan malu-malu.
Memperhatikannya.
[ Lilhatlah itu, senyuman bahagianya yang di tahan karena malu denganku. ] Dania jadi tersenyum sendiri melihat tingkah lucu orang ini.
[ Ternyata jadi papa muda. Terdengar meyenangkan jika orang semuda ini, sudah mau jadi ayah. ]
Dania memejamkan matanya, dan membayangkan sedikit akan imajinasinya yang liar itu.
Dan jika di pikirkan secara positif, kalau anaknyya sudah berumur 15 tahunan, anatarra orang tua dengan anak, jika kedua orang tua awet muda bisa jadi terlihat seperti saudara kandung ( kakak adik ).
" Karena itu, dia paksa untuk istirahat oleh ibunya. "
Membuka kelopak matanya dengan pelan, sebuah pertanyaan segera terucap lagi.
" Jadi?. "
" Jadi, Selina tidak bisa tampil. "
" Lalu?. "
" Anda jadi tidak bisa melihat penampilannya. Ma-......"
Satu jari telunjuk kanannya terangkat, dia tempelkan di bibirnya sendiri dan menyelanya dengan cepat.
" Sttt.......jangan minta maaf karena alasan sepele sepert itu. Aku juga tidak begitu mempermasalahkannya. "
" Tapi........" NIgel melirik ke bawah.
".................." Dania mengrti akan kerisauan di wajah Nigel yang tidak ingin melihat pengunjungnya kecewa.
" Jangan mencemaskan itu........tapi apa boleh aku memesan makanan dulu?. "
Terfokus dengan pennjelasannya tadi, menjadikan Nigel melupakan kasus pentingnya, untuk menjamu Lady ini dengan makanan.
" Akan saya berikan beberapa makanan andalan di restoran ini. " katanya, sebelum pergi meninggalakn tamunya sendirian.
TAP.......TAP.........TAP.......
Setelah orang itu benar-benar pergi, Dania pun menyenderkan tubuhnya ke belakang sambil menghela nafas panjang.
Memandanggi langit-langit, dia berusaha menikmati lingkungannya saat ini.
Lingkungan yang sangat berbeda dari kesehariannya berada di satu tempat ke tempat lain.
Inilah, kali pertamanya bisa bersantai dengan kemewahan tempat yang di jejaki kakinya sekarang ini
.
Tangannya di angkat, tepat ke atas. Memandangi jari-jarinya baik punggung maupun telapak tangannya.....
" Apa yang saja yang sudah selama ini aku lakukan?. "
Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Seberapa lama yang dia lakukan bersama orang-orang yang menginginkan bantuannya?.
Kapan terakhir kali dirinya berada di tempat mewah seperti ini?.
Apa saja yang sudah di lewatinya bersama dengan orang-orang di sekitarnya?.
Dan.........
[ Kapan aku punya uang banyak?. ]
Wajahnya berubah jadi masam, hal yang di inginkannya belum terwujud. Itulah masalahnya.
********
" Apa yang dia lakukan?. " tanya wanita bermbut hijau ini.
" Sudah pasti sedang merenungi hidupnya sendiri. " jawab si burung coklat. Dia bertengger di atas tepi batu sebuah kolam berdiameter 3 meter itu.
Sebuah cahaya muncul dari permukaan kolam, memperlihatkan sebuah gambaran dari seseorang.
" Anda sepertina mengenal sekali perempuan ini. "
" Jangan pernah berpikir kalaj aku orangnya dia, tapi justru sebaliknya, dialah orangku. "
Darayad menoleh ke arah Everst.
" Oh...jadi maksud anda, sebenarnya dia bawahan anda?. " Darayad masih saja berdiri di samping burung ini.
Kolam yang tidak begitu besar ini adalah salah satu sarana untuk melihat seseorag dari kejauhan.
Jika di artikan secara ringkas, mereka berdua sedang mengamati seseorang dari kolam cermin itu. Mengetahui apa yang sedang di lakukan atau apa yang sedang di kerjakan.
Tapi baru hari ini, mereka berdua mengamatinya, tepat saat gadis yang muncul di permukaan air ini sedang berdiri di depan sebuah pintu gerbang dengan seorang pria bangsawan yang di anggap sebagai kakak angkatnya.
" Apa tubuh itu masih belum pulih?. "
" Hampir. "
Darayad meliriknya, tapi berubah menjadi sebuah tatapan serius.
" Sebenarnya ada hal yang angin saya tanyakan. Sebenarnya anda merasukinya atau tidak?. "
" Cukup penasaran juga ya?. " Everst menyindir, membuat sudut paruhnya terangkat membentuk senyuman.
" Tapi sayangnya jangan mengharapkan jawaban dariku. "
Dan senyuman itu kembali memudar.
__ADS_1
"..............." Darayad terdiam, dia jadi tidak berniat bertanya hal lain lagi selain menutup kembali kolam cermin ini dengan lantai yang langsung tertutup seperti pintu geser.
" Aku disini hanya sampai 2/3 hari lagi. " Everst berkata seperti itu agar jika sewaktu-waktu Darayad pergi karena suatu hal, tapi saat pulang dirinya ( Everst ) tidak ada, yang penting dia sudah tahu kalau batas waktu tinggalnya memang sudah berakhir di hari itu juga.