Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 19 ( Karena mimpi )


__ADS_3

[ Sakit.....aku tidak bisa bertahan, apa aku mati?. Sendirian?. ] hati dan pikiran terus meronta, kedua tangan masih terdiam kaku di lehernya


Dia berusaha menggerakkan jari dan tubuhnya, meski hanya bergerak sedikit tapi usahanya untuk keluar dari masalah itu tidak kunjung dapat.


" Agh....hh...ah.. " tubuhnya pun sekarang mulai kejang....


Dan terus terbawa sampai....






































__ADS_1







|


___________


Di kenyataan.


" Agh....sakit....ah....tidakk!. " mulai mengigau, Dania mencengkram lehernya sendiri seakan dirinya memang merasakan sakit persis seperti apa yang sedang di mimpikannya.


" To...long... " rintihnya.


[ Bagaimana tidak sakit, dia mencekik lehernya sendiri. ] dan apa yang dilihatnya sekarang, pria ini tidak melihat bahwa Dania itu tertidur di kasur, tapi sudah terjatuh di lantai.


[ Sampai tidak sadar sudah jatuh. ] batin Caster.


" Ugh.... to..long, hiks...sakit....panas.. " kata Dania melenguh sakit dan sebagainya, seakan memang nyata.


"..................." Caster mulai mengerutkan keningnya, pria bersurai emas ini pun langsung berjongkok dan mengulurkan keuda tangannya untuk mencengkram kedua tangan Dania.


" Apa kau mau mati?. " tanya Caster, kedua tangannya berusaha untuk memisahkan tangan Dania dari pada mencekik lehernya sendiri.


" Tidak....panas,...sa..kit..... " keluhnya lagi, dan siapapun yang mendengarnya pasti koneksinya langsung ke lenguhan sebuah salah paham yang merujuk sedang melakukan adegan dewasa.


Tiba-tiba Caster tersenyum tawar jika memikirkan hal itu, jadi ia punya cara lain agar saudari Dania ini bangun dengan menikmati sensasi nikmat.


CUURRR......


Sebuah teko berwarna emas itu langsung mengeluarkan air dan menyiram mulut Dania.


" Ukh...uhuk...uhuk......uhuk..! " Dania mulai terbatuk karena merasakan air yang terminum itu salah masuk lewat jalur kerongkongan jalur nafasnya.


" Aku perintahkan kau bangun sebelum aku memaksamu menenggak habis bir gandum milikku. " perintah Caster dengan tegas.


" Uhuk...uhuk... "


[ Apa tadi cuma mimpi?. ] tanya Dania dengan dirinya sendiri.


[ Aku kira aku masuk ke hari-hari kelam itu. ] batinnya lagi.


Setelah sadar, baru pandangan matanya terasa gelap itu karena adanya tubuh seseorang yang secara langsung berada di atas tubuhnya menghalangi cahaya mata hari yang perlahan mulai muncul dari ufuk timur.


Sebuah tubuh indah dengan postur perut ABS, garis merah yang menghiasi belahan dada dan perut itu seperti tato tapi memang indah di pandang.


Kalung yang menggantung di leher pria bersurai emas ini pun menggantung dan beberapa waktu sempat mengusik geli bawah lehernya.


Garis wajah yang jelas, bibir tipis yang menawan, surai pirang emas itu pun ternyata sukses memantulkan cahaya matahari, dan iris mata berwarna merah Ruby itu membuat masing-masing wajah seakan sedang bercermin sendiri.


[.............! ]


" Apa yang terjadi?. " masih dengan wajah bengong.


[ Sempurna, dia....sangat sempurna jika hanya di bilang laki-laki biasa. ] dan mengagumi semua yang dilihat dari pria bersurai emas ini.


" Kau mencekik lehermu sendiri. " jawab Caster, lalu seringaian iblis mulai terukir di bibirnya.


" Bagaimana caramu membalas kebaikan dari sosokku yang agung ini?. " kata Caster lagi.


Seorang pria yang bertelanjang dada, dengan wajah rupawan, ditambah beberapa tegukan dari air dengan konsentrasi alkohol yang rupanya lumayan tinggi membuat kepalanya pusing, tubuhnya yang baru ini belum terbeiasa dengan minuman alkohol, titik lemah yang harus di waspadai Dania.


" Harusnya aku tidak seperti ini. " gumam Dania dengan pandangannya masih lurus ke depan, tak mau berpaling dari wajah Caster.


Dan satu hal yang di dapatkannya ketika beberapa waktu Dania memperhatikan wajah Caster, yaitu terdapat di matanya.


" Kau terlihat seperti merindukan seseorang. "


" Hoo~......tapi jangan seenaknya menyimpulkan hal seperti itu tanpa dasar. " Caster pun akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dan merubah posisinya jadi duduk sambil menunggu gadis ini terbangun dari baringannya.


" Aku lihat kau memiliki kemampuan memasak, gunakan itu untuk membalas kebaikanku. " perintah Caster tanpa peduli ekspresi wajah heran yang masih terpasang di wajahnya Dania.


" Uhm.....tapi,....... aku sedikit penasaran. Apa kau seorang raja?. "


" ................. " mendengar pendapat Dania yang terlontar begitu saja membuat Caster mengerjapkan matanya beberapa kali karena terkejut.

__ADS_1


" Kenapa kau berpikir aku adalah raja?. "


" Karena kau sering memerintah. "


JLEBB...


[ Aku kira dia tahu dari penampilanku, dia menilaiku dari tiap perkataanku. ] fikirnya dengan menyesal tidak sesuai ekspetasinya.


" Jika aku raja, apa kau meu jadi pengikutku?. "


" Tidak. " ketusnya.


" Aku tidak mau terjebak seperti masa lalu. " lanjutnya lagi, alasan yang pernah dirasakan ketika mendapatkan majikan berstatus tinggi, berbagai hal pernah dirasakannya dan lebih banyak merasakan kejamnya hidup di bawah perintah seseorang jika sudah mengabdi pada orang tersebut.


" Yahh....aku juga tidak mengharapkan jawaban yang seharusnya aku inginkan. " kata Caster dengan selamba, dia duduk bersila lalu sebuah senyuman iblis yang tiba-tiba tersungging di bibir Caster membuat Dania terheran apa maksud dari senyuman yang memuakkan itu.


" Jangan mencari uangmu. " kata Caster sebelum akhirnya dia menghilang layaknya debu emas yang berterbangan.


" Uang!. " teringat dengan 2 peti emas yang baru saja di dapatkannya tadi malam, Dania buru-buru merangkak ke depan ranjangnya, kedua peti itu sudah tidak ada di tempatnya.


" Caster!. " pekik Dania.


" Kembalikan uangku!. "


Dia kesal karena uangnya sudah menghilang dalam sekejap, dan dalangnya tak lain adalah Caster. Yang tersisa justru hanyalah puluhan kepingan emas yang tergeletak di atas kasurnya, yah itu masih ada di tempatnya. Tapi tak menyulutkan bahwa Dania sudah merasa di rampok oleh pria kaya itu.


BRAKKK......


Dua pintu jendela yang menghubungkan kamarnya dengan balkon tiba-tiba langsung terbuka.


Dania yang langsung merasakan sensasi udara segar pagi yang masuk langsung menoleh ke arah pintu tersebut.


Bayangan hitam yang cepat terbang meliuk-liuk, bukan satu melainkan dua..


KWAKK......!


"..........! "


[ Apa?!. Apa lagi yang dilakukan dua burung itu!. ] pekik Dania di dalam otaknya.


Dania langsung mendunduk saat...


WHUSHH......


Kedua burung besar itu langsung datang dan berhembus masuk ke dalam kamarnya seenaknya.


KWAK....


KWAK.....


" Hei...kalian bisa berhenti?!. " ucap Dania dengan sedikit meninggikan nadanya.


Burung hitam dan coklat yang tak lain ada si Raya juga Everst, mereka berdua terbang ke sana kemari seakan kamarnya itu merupakan arena pertandingan untuk mereka berdua. Padahal banyak perabotan yang bukan miliknya jadi jatuh berantakan dan ada pula vas bunga yang jatuh tapi tak sampai pecah karena ada karpet tebal yang menghalangi vas itu membentur lantai secara langsung.


Kwak......Kwak...... \= " Kau sampai tahu kamarnya?. " kata Everst.


Kwak....Kwak ...... \= " Memangnya salah?. "


Jawab Raya dengan ketus.


Dan keduanya langsung berusaha saling mencakar lawannya. Tiap kepakaan dari sayapnya ada pula yang bulunya terjatuh, Everst dan Raya tidak tinggal diam saat melihat bulunya masing-masing terlepas, keduanya mendarat ke lantai, paruhnya yang kuat, cakar besar nan kekar, sayap yang membentang lebar, keduanya menggunakan kemampuannya itu untuk saling membalas sayu sama lain.


Kwak.....Kwak......Kwak..... \= { Kau sangat keras kepala, mengganggu majikanku dan masih mau menggangguku lagi?. }


Kwak.....Kwak.......Kwak.... \= { Ini karena salahmu, siapa yang duluan mempovokasiku dengan mengambil makaƱanku?. } kata Raya.


Kwakk....kwak...kwakk.....


Kwakk...kwak.....kwakk......


Cakaran demi cakaran, mencucuk lawan dan mengibaskan sayapnya demi memghalau serangan lawan.


" Kalian~~~!. " dan rasa geramnya yang membuahkan amarah besar, akhirnya tidak bisa di tahan lagi sehingga Dania melemparkan benda yang di dapatkannya.


Kwak........Kwakk......Kwakk....


DUAKKK.....


DUAKK.......


Dua lemparan berhasil mengenai kepala mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2