
Everst kala itu sedang terbang melintasi awan putih , menysuri langit yang luas dan sangat luas.
" ................... " mata tajamnya menjeling ke bawah, seakan menemukan mangsanya, dalam sekejap Everst menukik tajam ke bawah, menembus awan putih yang bergerak itu.
WHUSHH.........
[ Aku perlu istirahat. ] fikir Everst, dan tak perlu menunggu lama, pemandangan yang terlihat di matanya akan jadi tempat singgahannya untuk istirahat.
Sorotan matanya yang semula tajam, kini dia pejamkan dan akhirnya.....
BRUKK.......
Keberadaan Everst yang hanya tinggal 2 meter dari permukaan tanah, langsung ambruk dan terjatuh menghempap rerumputan hijau yang tumbuh di atas taman buatan.
_________________
Kembali ke tempat dimana Dania sekarang sedang berada di ruangan yang dimana dua meja tertumpuk berbagai dokumen.
" Apa aku harus duduk diam di- " ucapannya terpotong ketika perutnya terasa...
[ Sakit!. ] segera tubuhnya merespon untuk berdiri, dan satu hal yang di pikirkannya adalah pergi dari situ sebelum terlambat.
Sedangkan Tassel dan Ishid masih berbincang untuk mengatasi adanya kejadian penyelinapan sang iblis atau monster Demon untuk yang kedua kali?, setidaknya jangan sampai ada hal yang terulang karena kejadian itu lumayan merugikan kekaisaran.
Dan hal itu juga bisa terjadi karena kelengahan para penjaga perbatasan, dan untuk mengantisipasinya maka Ishid dan Tassel lah yang berencana untuk mengatur ulang sistem penjagaan perbatasan.
" Jadi bagaimana menurutmu?. " tanya Tassel sstelah memberikan solusi pada satu oang bernama Ishid ini dan Mikhail sebagai pengamat.
" Saya akan menghubungi pihak menara sihir sekarang juga. " ucap Mikhail.
" Mengganti dan menambah pasukan di perbatasan, saya akan memilih beberapa orang lagi untuk dirempatkan disana. " tutur Ishid, mengatur orang bawahannya untuk ditugaskan di beberapa tempat.
" Oh ya, Lady Dania sudah menunggumu, sebaiknya bergegas. Pembahasan ini, kita lanjutkan besok saja. " ujar Tassel, karena tidak mau sang tamu yang diminta Ishid untuk datang malah menunggu lama.
Ishid hanya mengangguk dan langsung pergi keluar dari ruang kerja milik yang mulai Tassel.
Dari situ, Ishid berjalan ke tempat dimana dirinya menyuruh tamu si Lady itu menunggu, harusnya masih menunggu karena tidak begitu lama dia menunggu tapi...
CKLEKK.....
Saat membuka pintu, hanya terlihat sofa yang kosong.
[ Aku kira, menyuruh dia menunggu disini. Kenapa tidak ada? ] benak hatinya, saat tidak melihat seorang pun di ruangannya.
" Yunifer....apa kamu besok ada waktu?. " tenya Cania.
[ Hha...Yunifer?. ] mendengar nama yunufer dari mulut seseorang, Ishid langsung mundur 2 langkah ke belakang dan menoleh ke samping kanan, 30 meter jauh di sana ada dua orang sedang bercengkrama antara Cania dan Yunifer.
[ Yunifer, kenapa ada disini?. ]
Seakan ada musuh bebuyutan yang hendak mencuri Yunefer nya, Ishid memutuskan untuk menghampiri mereka berdua, dengan satu kepalan tangan tengah mengepal dengan begitu erat, karena tidak suka melihat Cania dekat dengan Yunfer.
Cania bisa di bilang, penghakang sekaligus musuhnya karena selalu dekat dengan Yunifer, setidaknya itulah yang ada di sudut pandang dari Ishid.
[ Dia bilang besok?, besok Yunifer sudah buat janji denganku, apa dia akan menerima tawaran dari perempuan itu?. ] Ishid lagi-lagi tidak menerima jika perempuan bernama Cania itu dekat-dekat dengan wanitanya.
[ Tidak.....mungkin aku jadi egois, tapi aku tidak mau mereka berdua semakin dekat. ] akhirnya, keputusan yang diambilnya adalah menghalangi Yunifer untuk menerima tawarannya Cania, entah apa pun itu.
" Besok...... " Yunifer mulai berpikir bagaimana caranya menolaknya.
" Sayangnya besok aku sudah ada janji. "
" O-oh...... " Cania sedikit kecewa, lalu mata violetnya menemukan seorang pria bernama Ishid mulai berjalan ke arah mereka berdua.
" Kalau begitu lain waktu saja, aku....pergi dulu. " ucap Cania, dan bergegas pergi sebelum Ishid sampai.
" Ya...."
[ Apa aku menyakiti hatinya? ] fikir Yunifer melihat kepergian Cania yang penuh dengan wajah kekecewaan.
" Huhhh...... " Menghela nafas dengan dengan panjang, hari-harinya masih dipenuhi dengan kesibukkan karena harus membantu yang lainnya, menyembuhkan luka orang-orang yang terlibat dengan insiden 3 hari yang lalu.
[ Tapi...ishid, kenapa aku kepikiran dengan Ishid dan wanita bernama Dania itu ya?. ] sambil membawa keranjang berisi toples, Yunifer mengambil langkah maju yang tanpa sadar.....
" Yunifer. " panggil Ishid dengan wajah seriusnya.
" I...ishid?!. " karena tadinya sedikit melamunkan sesuatu, rasa terkejutnya karena sosok Ishid yang tiba-tiba muncul di hadapannya membuat tubuhnya tak seimbang, dan langkah kaki yang hendak ia ambilnya tadi tidak jadi dan refleks mundur ke bela...
" Ehh....?. " kang.
" Yu..nifer. " Ishid jadi merasa bersalah, wajah seriusnya yang sebenarnya digunakan untuk mengusir Cania justru malah membuat Yunifer terkejut.
__ADS_1
Dan apatah lagi, keberadaan Yunifer itu tepat di pinggir tangga.
Yunifer yang oleng itu, membuat Ishid menglurkan tangannya untuk menangkap tangannya Yunifer tapi...
[ Apa aku masih belum sembuh?, mau pilek juga. ] keluh Dania, sambil menggosok-gosok hidungnya yang benar-benar gatal dan ingin bersin.
Kakinya mengambil langkah demi langkah, menaiki undakan tangga yang terbilang cukup tinggi.
Sambil mengecek suhu dahinya dengan punggung tangannya, perasaan mengganjal di matanya untuk menatap ke depan adalah hal yang harus di lakukan sekarang......
" Ahh.... " Seru Yunifer.
"..........." sayang seribu sayang, jarak yang sudah dekat itu, yaitu keberadaan Yunifer yang sudah ada di depan mata, lantas membuat Dania kehilangan kesiagaan dan hanya ada satu pikiran yaitu..
' menyelamatkannya?. ' apapun itu, semuanya terjadi sangat.....
[ Apa ini hari sialku?. ] untuk sesaat, Dania melihat Ishid yang tidak berhasil menangkap Yunifer dan lantas membuat dirinya......
" AHHH......! "
BRUUKKK.....
Yunifer langsung menerjang Dania yang ada di belakangnya dan akhirnya....
Mereka berdua terjatuh bersama, niatnya Dania ingin menangkapnya tapi, setelah menangkapnya justru kaki kanannya yang sedikit mundur akibat menahan beban yang tiba-tiba datang, membuat Dania terpelset juga ke belakang, sampai terjatuh dan mendarat ke lantai pertama.
" Ukh...... "
[ Ahhh....... ] Dirinya lah yang jadi kasurnya Yunifer untuk beberapa saat, sebelum posisi Yunifer jatuh dengan pelan ke lantai.
" YUNIFER!. " Seru Ishid, melihat kekasihnya terjatuh dan tidak bisa ia selamatkan dengan tangannya sendiri.
[ Dasar, mereka berdua selalu ceroboh dan tidak kenal tempat. ] kutuk Dania akan keberadaan dua sejolin yang saling cinta bercinta, yah..hanya perkiraan saja di sudut pandangannya Dania.
Pandangannya melihat wajah panik Ishid benar-benae seperti hiburan tersendiri, wajah rasa bersalah itu.
[ Lalu kenapa...... ]
NGUUUNGG....
" Ahh... " Rintih Dania dengan tangan yang rerfleks menutup telinganya karena terasa sakit dan berdengung.
" Lady!. " seru salah satu kesatria yang kebetulan lewat dan menyaksikan kejadian tadi.
' Kenapa aku harus melahirkan anak perempuan?. ' tutur seorang wanita berambut coklat, sambil menatap ke arahnya ( Dania ).
' dan warna matanya, sangat mengingatkan pria itu.'
' jika tidak menginginkannya, kenapa tidak kau jual ke ayah anak ini?. '
' Itu saja kalau aku bisa, aku sudah lama mencarinya tapi tidak ketemu, dan meski aku sudah menjual anak ini ke orang lain, dengan mudahnya dia kembali ke rumah. '
' Unik, aku akan cari tahu lebih dalan mengenai anakmu ini, aku beri 20 keping emas tiap bulan. ' dan wanita berambut hitam ini memberikan kantung kecil berisi emas kepada wanita yang merupakan ibunya bayi yang barusan ia katakan
* unik *.
[ Apa?!. Gambar yang samar apa tadi ?. ] Dania yang masih terbaring di lantai memasang wajah terkejut, meski kepalanya sedikit berdarah. Tapi karena memfokuskan gambaran apa yang tadi terlintas di kepalanya, membuat tubuhnya melupakan rasa sakit sebenarnya.
" Dania!. " seru lagi seseorang, kini Mikhail pula
[ Ah...ingatan masa lalu. ] tebakannya memang benar, tapi kenapa terjadi sekarang?. Dania masih berpikir keras, meski matanya memang sayu, seakan hendak tidak sadarkan diri.
Melihat nama yang dipanggilnya tidak meresponnya sama sekali, Mikhail yang hendak menggendong Dania...
" Aku akan bawa dia ke- "
Dania menyela ucapannya Mikhail.
" Berhenti!. " karena langsung tersadar akan beberapa wajah panik mereka semua sekarang ada di depan matanya bagai lukisan. Lalu ketika melirik ke samping kanan, dua tangan kekar yang hendak berada di bawah tubuhnya dengan maksud ' di gendong ', Dania tatap secara bergantian ke arah wajahnya Mikhail.
" Apa yang mau kamu lakukan?. "
Tanyanya, sedikit meninggikan martabatnya agar tidak terkesan lemah, Dania langsung berdiri.
" Apa kamu tidak apa-apa?. " tanya Mikhail.
" Iya. " jawabnya dengan singkat. Setelah itu menggerakkan kedua bahunya agar bisa rileks sedikit.
[ Masih sakit, tapi tidak masalah sih. ] lalu, matanya melihat sesuatu yang bisa dijadikan pusat perhatiannya.
" Darah milik siapa itu?. "
__ADS_1
" Apa kamu tidak merasakannya?, itu darah dari kepala kamu. " jawab Mikhail, sedikit terheran pada wanita ini ( Dania ).
[ terjatuh dari tempat tinggi sampai berdarah, tapi tidak sadar kalau kepalanya bocor. ]
[ Aku?. ] Tangannya mengusap kepala bagian belakang, ada rasa basah yang dirasakan telapak tangannya, dan ketika dilihat dengan matanya sediri, sudah jelas itu adalah darah miliknya.
" Ah....aku sudah tidak apa-apa. " dengan nada malasnya, Dania merasa aneh karena ..
[ Kenapa mereka terlihat khawatir?. ] padahal tahu saja, kalau dirinya saja memiliki kekuatan suci untuk menyembuhkan luka.
Mengetepikan rasa khawatir yang muncul di wajah mereka, Dania menoleh ke samping kanan, ada Ishid disitu sedang menggendong Yunifer ala Bridal stayle.
" Ishid...aku baik-baik saja. "
" Tapi Yunifer terjatuh, dan itu karena saya. " dengan nada kecewa, yah Ishid kecewa pada dirinya sendiri.
" Lady tidak apa-apa?. "
" Seperti yang terlihat, aku tidak apa-apa. " ucap Dania, tangannya sekarang sudah mendapatkan saputangan dari seseorang untuk menyeka rambutnya yang kotor akan darah sendiri.
" Aku minta maaf. Membuatmu terluka. " Yunfer juga merasa bersalah karena melibatkan orang lain, meski pelaku utama sebenarnya adalah Ishid sendiri, tapi Yunifer tidak bisa marah pada Ishdi yang sudah bermuka memelas seeperi anak anj*ing.
[ Kaya perangko. ] fikirnya, dimana Yunifer dan Ishid setiap harinya menempel berdua seperti amplop dan perangko.
" Ya.. " dengan nada malas, dirinya tentu masih ingat saat di hutan waktu itu, Yunifer memerintah dirinya ( Dania ) dengan nada tinggi dan hal itu membuat hatinya sedikit kesal.
[ Kenapa aku masih kesal dengan itu?. Tapi....] Memperhatikan lagi dua orang tersebut, Dania hanya merasa kesal dan tidak suka dengan sosok mereka berdua, karena keduanya sangat terobsesi satu sama lain.
[ Apa lagi Ishid, dia hanyalah binatang buas. Aku benar-benar tidak peecaya, bisa-bisanya aku memikirkan lagi tentang nafsu manusia. ]
Memikirkannya sendiri, Dania jadi sedikit salah tingkah. Buru-buru separuh wajahnya bagian bawahnya ia tutupi dengan telapak tangan kanannya, meski lumayan bau darahnya sendiri tapi lebih baik menjaga ekspresi tawa geli yang sedang ditahannya.
" Tapi apa beneran kamu ti- " kalimatnya langung terpotong saat mendapatkan wajah serius yang diberikan Dania pada dirinya ( Yunifer ).
" Jangan ditanya lagi. " dengan nada dinginnya, sambil memutar tubuhnya dan memandang ke atas, yakni tangga yang tadi membuat dirinya juga Yunifer terkena musibah.
" Saya akan menunggu. " ucapnya, sebelum akhirnya kalimat tadi adalah ayat terakhir sebelum melangkahkan kakinya naik ke anak tangga.
" Ishid....turunkan aku, aku tidak apa-apa. "
" Apa yunifer yakin?. "
" Dari pada itu, kenapa Ishid membuatku kaget tadi?, jika bukan karena dia, akulah yang terluka. Aku jadi merasa bersalah. "
Dan begitulah, dimana dua orang itu masih berdebat, maka si Mikhail pula berjalan mengikuti Dania dari belakang.
Setelah sampai di atas, ada terdengar dua suara yang seperti sedang memperbincangkan sesuatu.
Mikhail sedikit mengintip di balik pilar.
" Apa yang kau lakukan lagi?!. " tanya Dania pada seekor burung yang sekarang sedang ada di atas punggungnya.
[ Dan...berat pula. ] merasa beban di punggungnya terasa lebih berat.
KWAKK....
"...........! " mendengar suara burungnya berbeda, Dania sekuat tenaga berusaha untuk berdiri, tapi satu kaki yang kuat milik si RAYA, menekan kepala Dania yang mau menoleh melirik ke samping.
Kenapa tahu, karena siapa lagi burung di dunia ini yang sekarang baru Dania kenal kalau bukan si Everst, maka si RAYA.
Kwak....kwak......
" Mana aku tahu?!. " jawabnya, bagai orang gila gara-gara membalas perkataannya Raya, yang dimana bagi manusia biasa, mereka hanya mendengar suara burung aaja.
Kwakk.....Kwakk.....
" Tidak tahu ya tidak tahu, lalu apa masalahnya sam...uhuk...pai..menindihku. "
[ Kalian berdua.....sama-sama membuatku kesal!!!. ] sayangnya hanya bisa berteriak di dalam hati dan pikiran.
[ Hanya karena makanan, burung hitam ini membalas dendam padaku?. ]
Merasa tidak adil, Dania yang sudah dilanda amarah yang sudah tidak tertahankan, memutuskan untuk....
[ Apa-apaan buruk milik komandan dengan Dania?, berkelahi?. ] Mikhail masih menyimak, tapi tidak ada yang masuk akal tapi serius ada di depan mata, sebab baru ketiga kalinya dirinya melihat pemandangan semacam itu.
" Ahh...., kukumu menyakiti kulitku. " protes Dania sambil mengernyitkan matanya yang jelas bahwa ujung kuku tajam milik Raya benar-benar lumayan menusuk ke kulit kepalanya dan juga helaian rambut yang tertarik.
Melihat pemandangan saling di tindas, Mikhail yang hendak mengambil langkah untuk meleraikan mereka berdua, jadi menggantung dan tidak jadi sebab....
" Aku tidak akan segan memotong kakimu. " Dania sudah mengeluarkan pedang berwarna coklat yang langsung muncul, dan sekarang ujung pedang itu selain pas mengarah ke perut Raya, bagian tengah pedang juga tepat di depan kaki kanan Raya.
__ADS_1
Kwakk....!
" RAYA!... " Seru seseorang.