
" Ini...." menyodorkan secarik kertas ke depan wajah dari pria bernama Nigel.
Dania mengetahuinya dari si petugas perpus tadi, sesaat dirinya masuk dia bertanya siapa laki-laki yang bertunangan dengan perempuan bernama Selina itu, dan jawabannya adalah Nigel Cornavus, pemilik dari restoran Varitha yang terkenal di kekaisaran Rovathia.
" Kamu coba mainkan itu, aku tidak tahu apakah sudah sesuai atau belum. " Dania mencoba meminta Nigel memainkan Chord dari lagu yang sudah sempurna itu dengan piano yang terpajang di tengah ruangan ini.
[ Kalau tidak sesuai bukankah karena dia sendiri yang menulisnya tanpa mencoba mencari tangga nadanya secara langsung. ]
Nigel menerima lagu yang sudah selesai itu, namun yang jadi permasalahannya adalah dia melihat perempuan ini menulisnya tanpa mengecek nada lagu dari piano-nya secara langsung.
Tapi sesuai permintaannya, Nigel mencoba memainkan lagu yang sudah di selesaikan oleh Dania ini.
Nigel, dia bukan seorang pianis yang profesional, tapi dia bisa memainkannya dengan baik.
Pelan-pelan tangannya menyentuh tuts dari piano berwarna putih itu.
Hingga satu per satu tuts dia tekan sesuai dengan chord yang dia baca.
Nadanya mulai terdengar ke segala penjuru ruangan, tidak akan yang mendengar suara pianonya karena ruangan ini di lengkapi dengan kedap suara yang bagus.
Sampai dimana Dania jadi merotasikan pandangannya ke segala arah, menemukan sebuah pendapat besar mengenai ruangan ini.
[ Tapi...jika ruangan ini punya kedap suara yang bagus, bisa jadi tempat ini adalah lokasi yang pas melakukan sesuatu antara lawan jenis. ]
Sebuah imajinasi yang berlebihan menyelubungi kepalanya.
Seandainya melakukan ini, lalu itu, melihat reaksi wajah lawannya, suara erotis yang terdengar sedemikian menggoda...
Cenggiran menjadi mimik wajahnya saat ini. Rasa puas jika mengutarakan isi pikirannya ke dalam sebuah buku, adalah satu cara menyalurkan imajinasi itu.
🎶 🎵 🎼
Imajinasinya kembali pudar, ketika telinganya menemukan keindahan yang nyata dari piano ini.
".................." Dania mulai menilai permainanya Nigel.
[ Dia memang memainkan nadanya dengan benar, hanya saja.......dia kurang menghayati lagu yang sedang di mainkananya itu. ]
Dia tidak begitu memperhatikan Nigel yang sedang bermain piano, namun dari mendengar suaranya saja sudah menjadi penilaiannya sendiri terhadap pria ini.
Lagunya sudah sesuai dengan tuts yang Nigel tekan, namun satu hal yang kurang adalah Nigel kurang menghayati lagu tersebut. Padahal lagu yang di buat Selena adalah lagu dengan pemilihan nada yang pas, dimana siapa pun yang mendengarnya akan merasakan kehangatannya juga, sekalipun itu orang awam.
" Apa sudah pas?. " berinisiatif membuka suaranya terlebih dahulu, Dania menginginkan pendapat dari orang ini.
" Tidak masalah, ini sudah bagus. Selena harusnya senang, setidaknya jika tidak terima, dia harus bisa mengubahnya sendiri. " Nigel bergumam lembut tanpa mengalihkan pandangannya darii tuts piano ini.
Padahal beberapa waktu yang lalu, dia sempat bermain bersama dengan Selena, tapi sekarang sendirian, walau di temani oleh seseorang, tapi tidak merubah kesan itu sendiri.
Gadis ini hanya memberikanya sebuah senyuman, senyuman tanpa di ketahui oleh Nigel sendiri.
[ Jika seperti itu, aku jadi senang. Pengetahuanku jadi berguna untuk orang ini. ] Ada manfaatnya menolong orang lain.
Nigel berdiri, meneghampiri perempuan yang asyik membaca bukuk itu.
" Ini.....sebagai ucapan terima kasihku. " Tiba-tiba Nigel mengeluarkan sebuah kartu dari dalam jasnya, dan menyodorkannya langsung ke depannya Dania.
Dia langsung saja mengambilnya sekaligus membacanya.
" Kartu.......?. "
" Kartu member VVIP. "
[ Wahh.........dapat bonus. ] Menatapnya dengan takjub, usahanya menolong orang lain pasti punya balasan yanag setimpal, dan hari ini, inilah yang di dapatkannya.
Nigel menambahkan.
" Anda bisa makan gratis di restoranku seumur hidup. "
" Sebenarnya bagiku ini terlalu berlebihan, tapi aku menerimanya dengan senang hati. " sebuah kilatan jenaka di tambabh sebuah cengiran menghiasi ekspresinya yang tidak terbendung untuk mengungkapkan rasa senang itu.
Kesempatan bisa makan gratis jika lelah saat jalan-jalan ke pusat kota. Ini yang pastinya di dambakan oleh semua orang.
Tapi senyuman yang sudah terukir di wajahnya, perlahan memudar.
Dia menerima kartu itu dan memandanginya.
[ Jika ada dia, pasti ikut makan denganku di restoran. ]
Bayangan ketika seekor burung mendatangi restoran mewah, akan jadi bahan perbincangan terheboh sepanjang masa, tapi di sisi lain dia bisa makan bersama dengan makhluk yang notabennya adalah seekor burung yang memakan daging mentah, jadi makan daging matang adalah pemandangan yang menyenangkan bagi dirinya.
"....................."
" Terima kasih sudah menolong Selena. " Kata Nigel. Dia tidak akan bertanya tentang keterdiaman sesaat dari perempuan tersebut.
" Karena lagunya juga sudah selesai, malam ini, silahkan datang ke restoranku. Dimana anda tinggal?. "
" Kenapa menanyakan tempat tinggal?. "
" Sebagai tamu VVIP, Pelayanku akan menjemput anda. Apa ada yang salah?. "
Secara spntan Dania menjawab.
" Aku kira tidak ada penjemputan seperti itu. " Dia hanya berpikir kalau tamu VVIP hanya akan mendapatkan sebuah tempat sekaligus tempat khusus saja.
Nigel tertawa pelan.
" Tentu saja ada, tapi hanya khusus untuk anda seorang. " Mana mungkin Nigel akan melakukannya secara setengah-setengah, justru karena hal sepeti ini, karena pertolongan dari perempuan ini, membuat Nigel harus memberikan rasa terma kasih yang banyak
" Atau di jam itu, anda akan ada acara lain?. "
" Tidak ada. "
" Jadi bisa kan?. " Tanya Nigel penuh harap.
Bukunya yang tadi di baca, dia tutup. Meletakkannya ke atas meja, dia menjawabnya.
" Kalau itu memang tidak merepotkan, kirim saja kereta kudamu ke istana Scnaider jam 7 nanti. " Sampai akhir, ujung-ujungnya istana Scnaider seperti tempat keramat penuh sakral, karena selalu di akhiri oleh keterkejutan dari ekspresi si pendengar.
Macam Nigel ini.
" Scnaider?. "
[ Jadi......dia perempuan yang di rumorkan itu?. ] satu keinginan untuk mengetahui siapa perempuan yang dari tadi tidak memperkenalkan namanya itu, terungkap sudah.
__ADS_1
Sebuah rumor yang beredar di kalangan orang-orang adalah, bahwa Archduke yang belum lama kembali dari luar negeri, mengangkat seorang gadis desa sebagai adik angkatnya.
[ Jadi rumor itu benar? ] Nigel ltidak menyangka juga kalau wanita yang ditemuinya ini adalah orang yang mempunyai hubungan dengan seorang Archduke yang terkenal akan kekuasaannya, karena Archduke merupakan adik sepupu dari raja yang sekarang.
Lalu perempuan ini, juga orang yang sudah menyelamatkan nyawa Selena, tidak di pungkiri lagi untuk Nigel, bahwa berbicara formal dengannya adalah keputusan yang tepat.
******
Dan jam 7 yang sudah di depan matanya.
" Tidak mau aku antar?. " Archduke menawarkan dirinya, mengantarkan nona ini dengan kereta kudanya.
Dua orang ini berdiri di depan gerbang, salah di antaranya sedang menantikan orang yang menjemputnya, dan satu orang lagi hanya mengekori gadis ini, mengantarkannya ke depan gerbang.
" Tidak perlu. " tetap pada pendiriannya, hal yang sudah di janjikan harus di tepati. Itu salah satu prinsipnya.
SYUHH.............
Diam-diam ada angin lembut yang menyentuh kulit tangannya serta wajahnya
"................." Ada angin dengan aroma yang lumayan familiar, Dania menengadah ke atas. Panca inderanya tidak menemukan apa pun di sekitarnya, lalu apa dari perasaan ini?.
Seperti ada yang mengawasinya, tapi dia tidak mendapatkan hal aneh di jarak setengah kilometer dari tempatnya berdiri, jika di luaskan lagi......
[ Kosong. ] Tetap saja tidak ada kejanggalan apa pun.
Lalu tepukan di bahunya, membuat Dania tersadar, dia menoleh ke Archduke, karena dialah yang barusan menepuk bahunya.
" Apa ada sesuatu yang aneh?. " Archduke bertanya, sebab gadis ini tiba-tiba saja terdiam dengan wajah yang terlihat serius.
Hanya gelengan pelan saja sebagai jawabannya.
Tak selang berapa lama, bunyi sepatu kuda mengisi keheningan itu sendiri. Dari ujung timur, datanglah kereta kuda berwarna coklat. Kereta kuda yang di tarik oleh 4 kuda, dan itu berhenti tepat di depannya.
Sambil berjalan ke arah kereta kuda itu, Dania menyempatkan dirinya melihat ke empat kuda itu secara sekilas mata.
Ngikk.....brrr........{ Pakaiannya tidak seperti perempuan lain. }
Salah satu kometar yang langsug dia dapatkan dari salah satu kuda itu.
KRIEET........
Pintu kereta kuda tiba-tiba terbuka dari dalam, berarti ada orang lain di dalalm kereta kuda tersebut.
Sebelum mengambil langkah masuk, tangannya menyempatkan diri untuk di lambaikan ke satu orang yang akan dia tinggal.
" Bye....." ucapnya.
" Bye?. " gumamnya, meski tidak tahu apa artinya, pasti tidak lain adalah ucapan selamat tinggal. Archduke pun membalas lambaian tangannya pada gadis ini.
[ Apa itu ucapan anehnya lagi?. Sepertinya bisa aku jadikan salah satu kata pengantar kepergian seseorang. ] Archduke yang punya daya pemikiran lain dari orang lain, akan selalu membuat orang lain menganggapnya seagai Duke yang ane.
Setelalah ucapan selmat tinggal pada sang 'kakak'?.
Sesaat itu pula, dia masuk ke dalam kereta kuda, dan bertemu dengan Nigel.
" Apa anda sudah menunggu lama?. "
Satu pertanyaan terlontar begitu saja setelah langkah kaki pertama Lady itu masuk ke dalam kereta kudanya.
" Apa ini kereta yang baru di buat?. "
Llau duduk di sebrang NIgel.
Nigel ikut menilai kereta kuda miliknya, menjawab tebakan dari nona ini.
" Sudah 1 bulan, bagaimana anda menyadarinya kalau ini kereta baru?. "
Dia meliriknya sekilas, menjawabnya tanpa sungkan.
" Masih ada sisa aroma kayu, yang masih kuat. " Dania measih menikmati aroma kayu ini, sangat nyaman, tapi semuanya sangat berkontradiksi dengan aroma parfum yang dipakai Nigel.
Nigel yang duduk di sebrangnya, dia baru menyadari akan pakaian yang dikenakan Lady ini cukup bebeda dari tadi siang.
" Apa nanti kita akan mampir?. "
Dania sedikit mendengus.
" Apa itu sebuah pertanyaan?, atau tawaran?. " mengkonfrmasi apa maksud dari ucapan Nigel yang mengandung dua makna itu.
[ Dia punya sudut pandang yang seperti itu?. ] Padahal ucapannya tadi adalah sebuah pertanyaan, tapi justru Nigel di tanya balik olehnya.
Nigel jadi berdehem, mengatur nafasnya, dan mengkonfirmaasi ucapannya tadi.
" Tadi saya bertanya, karena saya melihat anda berpakaian seperti itu, mungkin saja kan anda mampir ke butik untuk mengambil dress anda. "
Dania meihat penampilannya sendiri.
" Memangnya ini salah?. Aku selalu yakin dengan pakaian yang aku kenakan. " jawabnya.
Sembari memperbaiki dasi sepanjang 1,5 meter berwarna hitam yang di ikat ke kerah bajunya menjadi pita itu.
Setelah di rasa rapi, dia menegakkan kembali kepalanya, agar sejajar dengan Nigel yang duduk dengan tegak penuh kesopanan.
Memberikan satu penjelasan lainnya pada Nigel, Dania menyatakan....
" Sebuah pakaian akan menjadi cerminan orang itu sendiri, itu yang sering terjadi.
Namun seperti yang anda pahami, bukan pakaian yang memilih orang, tapi orang itu sendiri yang memilih pakaian yang akan di kenakannya.
Dan jika mau jujur, aku bukanlah orang yang menyatakan pakaianku jadi salah satu kecantikanku, melainkan jadi jiwa kenyamananku. " lalu dia menambahkan.
" Apa salahnya jika perempuan pakai rok seperti ini. "
Apa yang di pakainya?.
Dania memakai sebuah kemeja putih dengan kerah yang di hiasi oleh pita berwarna hitam.
Tapi selain kemeja, dia memakai satu pakaian lagi yaitu sebuah Blezer berwarna Navy, dengan kerah bahkan ke dua ujung lengannya memiliki garis berwarna kuning.
Dan untuk bawahannya Dania memilih untuk memakai rok rimpel berwarna merah, di bagian bawah ada keindahan sebuah sulaman berbentuk bunga kecil yang tersebar di berbagai sisi, sulaman emas menjadi daya tarik dari bunga itu sendiri, karena hanya bagian itu saja yang terlihat begitu mencolok mata.
Pakaiannya cukup sederhana, tapi setidaknya masih menampilkan sisi perempuannya kan?.
__ADS_1
[ Jadi apa yang salah dari ini?. ] fikirnya.
" S-saya mengerti. " Nigel tersenyum tawar.
Desain gaun yang berbeda dari yang pernah dia lihat, memungkinkan pakaian yang dipakai oleh Lady Dania ini, bisa di pakai sendiri tanpa bantuan pelayan.
" Anda orang yang simpel ya. "
[ Padahal tinggal di istana Snaider, tapi memilih gaun sederhana.......dia memang orang yang berbeda. Dari segi pikiran, sepertinya dia bukan orang yang suka dengan hal rumit. ]
Dania terdiam sejenak, mencerna kata simpel, memang dirinya ini adalah orang yang tidak suka kerumitan.
Dalam segi aktivitas, semua hal harus dikerjakan cepat tanpa basa basi, itulah dia, mengapa dalam hal pakaian pun, dia benar-benar tidak akan mengikuti tren di zaman ini.
" Karna itu, aku tiak suka pakaian yang rumit. " jawabannya, Dania benar-benar menolak dengan keras, sebuah dress panjang, cukup berbobot, dengan korset yang menyiksa tubuh.
Padahal pakaian adalah hal yang di buat untuk kenyamanan bagi si pemakai, tapi apa ini?.
Di dunia ini masih banyak perempuan memakai korseet, gaun yang mengembang dengan berbagai hiasan permata terhias di bagian sisi dress.
Jadi dapat di simpulkan, kalau disini masih banyak perempuan, lebih mengutamakan pakaian mewah untuk menunjukkan kekayaannya, ketimbang derita dari memakai dress ini.
Dress dari abad pertengahan..
[ Karena masih pertengahan, bararti hanya aku sendiri saja yang akan terus berada di abad maju. ]
Sebuah keputusan yang tepat, dia bukan orang yang justru akan berpikiran kuno seperti ini.
Tok....Tak.......Tok.....Tak......
Merasakan kereta kudanya mulai berjalan perlahan, Nigel memberitahu..
" KIta sudah sampai. "
Dania menilik ke arah jendela, apa yang ada di balik jendela adalah sebuah bangunan bertingkat 3, banyak lampu menghiasi restoran tersebut, besar, dan lebih megah dari bangunan di sekitarnya, menampilkan sebuah kemewahan, itu adalah salah satu ciri khas dari restoran ternama milik dari Nigel ini.
Kereta kuda ini, dia berhanti tepat di depan pintu, yang pertama turun adalah Nigel, dan yang selanjutnya.......
Saat Nigel mengulurkan tangannya untuk membantu lady Dania turun, Dania se carara terang-terrangan menolaknya.
" Jangan membuatmu punya skandal denganku. " ucap Dania secara lirih, tepat saat dia turun dari kereta kuda dengan mengabaikan uluran tangan itu.
[ Naik kereta kuda yang sama saja, sudah jadi bahan gosip mereka, apa lagi jika aku menerima uluran tangan orang ini?. ]
Bisa jadi akan ada gosip baru, tentangnya juga tentang dirinya ( Dania ).
" Tuan Nigel....." panggil seseorang, membuat NIgel menoleh ke belakang.
Yang memanggilnya tadi adalah asistennya, dia berangkat terlebih dahulu, tapi sekarang dari wajahnya seperti orang yang sedang terdesak akan sesuatu.
[ Apa ada sesuatu yang gawat? ] Raut wajah asistennya terlihat begitu mencemaskan.
" Ada apa?. " Nigel bertanya.
Orang berkacamata bundar ini langsung berjalan cepat, mendekati majikannya dan berbisik, sekalipun tatapan matanya mengarah pada seorang perempuan dengan pakaian sederhana itu ( Dania ).
"................! " Nigel yang di bisiki sesuatu, langsung membuat wajah tegang.
Dania yang menyadarinya, haya memperhatikannya saja.
" Apa yang kamu katakan itu benar? " Nigel menatap orang ini, dan mengharapkan jawaban secepatnya.
Dan jawabannya adalah sebuah anggukan kecil.
" Apa aku bisa masuk sekarang kan?. " menyela atas tatapan dua orang ini padanya.
" Jadi dia?. " tanya asisten Nigel pada Nigel.
" Ya.... , kamu antarkan Lady ini. " pinta Nigel terhadap asistennya yang masih memberikan tatapan menyelidik.
[ Tapi kenapa pula, tuan Nigel berangkat bersama dengannya?. ]
Dari pada menyia-nyiakan waktu hanya untuk memperhatikan perempuan ini, dia segera memberikan pelayanannya..
" Kalau begitu, anda ikuti saya. Saya akan membawa anda ke kursi anda. " ucapnya, dengan bahasa super formal.
" Anda ikuti saja dia, nanti saya akan menyusul. "
Tanpa sebuah jawaban, Dania serta asisten ini pun pergi masuk ke dalam gedung ini, meskipun dua langkah yang di ambilnya, langsung terhenti karena..
BRUKK.....
Dia tanpa sengaja menyerempet seseorang, gara-gara sama-sama hendak masuk di jalan yang sama.
Dania menengok orang yang tadi berserempetan, yang ternyata adalah...
[ Jangan-jangan tempatnya, restoran yang ini. ] Dania malah menemukan orang dari pemilik surat yang di terimanya tadi sore, ternyata sekarang ada di depannya.
Tidak merasakan kalau perempuan yang di ceritakan tuan Nigel tidak mengikutinya, dia segera menoleh ke belakang dan memberikan peringatan.
" Kenapa anda berhenti, ayo... , pekerjaan saya tidak hanya mengantar anda saja. " celetuknya. Tidak sabaran, karena bagaimanapun waktunya yang berharga itu tidak sekedar mengantarkan nona ini saja, melainkan harus mengurus pekerjaan tuan Nigel.
" Ya... " Menghiraukan laki-laki dari pemilik mata hijau Zamrud, dia buru-buru menyamakan langkah asistennya Nigel ini.
[ Kenapa yang datang malah bukan Yunifer?. ] Ishid terdiam, menatap surat yang tadi di terimanya dtai Eldania. Dan surat yang di pegangnya adalah surat yang ia tulis sendiri untuk Yunifer.
Tetapi, yang ada justru....
[ Surat ini ada di tangannya?, kalau begitu Yunifer pegang surat milik siapa?. ]
Sekarang dia memegang suratnya sendiri, dan yang datang bukanlah Yunifer melainkan Lady Eldania.
#######
Sebuah kebetulan yang tidak terduga.
Bertemu di tempat yang sama.
Jamuan makan di tempat termewah di Rovathia, pelan-pelan dia bertemu dengan mereka semua, di tempat yang sama, termasuk dia?.
Sebuah tindakan yang tidak terpikirkan.
Silahkan baca...
__ADS_1
Di chap, selanjutnya terus, dan terus. -------->>>