
Dania masih tidak bisa lega meski..
" Hahh~........" Menghela nafas panjang, ia akhirnya bisa keluar dari tempat yang sesak itu, sebelum tubuhnya benar-benar terhimpit jadi keripik kering, waktunya sangat pas, bisa memotong gumpalan akar berduri ini.
Karena sudah berhasil terbebas dari jeratan akar berduri, setelah menebas dalam sekali tebasan, sepasang kakinya pun sudah bersiap untuk bertolak dari tempatnya.
Bertumpu dengan kaki kanannya, dengan sihir penguat yang Dania gunakan ke sepasang kakinya, ia pun melesat dengan cepat.
DRAP.......DARP.........DRAP.....
WUSHH.....
Secepat yang dia bisa, Dania menuju ke tempatnya....
Mengejar penyihir wanita itu, tangan kanannya yang sudah memegang kendali pedangnya sendiri, kali ini ia sudah besiap untuk melawannya.
Apa yang sudah penyihir itu lakukan terhadapnya, ia tidak bisa membiarkannya lolos begitu saja.
Satu dendam tumbuh lagi, setelah rasa jengkelnya pada Arhes yang sebenarnya masih belum reda karena kejadian memalukan di depan banyak kesatria di kantin beberapa hari yang lalu.
Dan kini satu orang asing muncul...
Siapa dia?.
Ingin sekali mengetahui siapa wanita ini.
SYUHHHH.......... ( Sekelebat kabut, datang dan menghilang dengan cepat. )
[ Dia pintar sekali bisa membuat kabut. ] Langsung menerjang kabut yang datang dan pergi secepat kilat, namun ada bayangan samar berwarna hitam, dan setelah kebut itu menghilang?!.
"........................" kedua matanya langsung terbelak saat di jarak 7 meter di depannya, tiba-tiba saja muncul seseorang setelah kabut itu menghilang dengan cepat, yang ada di hadapannya.....berdiri satu orang laki-laki.
Postur ubuh yang tinggi, warna rambut, dan pakaian juga bentuk punggung yang tegap itu.
Pria itu kemudian memutar tubuhnya ke belakang, namun dengan bilah pedang sudah terpisah dengan sarungnya. Pedang yang sudah tergenggam di tangan kanannya terjulur ke samping kanan....
Menampilkan kilauan tajam dari besi yang di ngin itu.
SRETT.....
Pelupuk matanya Dania menangkap siluet mata milik pria itu yang terkesan dingin, tak kalah dengan wajah yang begitu sangat datar.
Dan di masa yang sama itu pula, bibir seksi itu memberikan sebuah senyuman yang sinis....
" Apa-apaan itu?!. "
[ Arhes?!. ] Pantas saja sangat familiar di matanya, karena sudah tahu postur tubuh pria ini meskipun terlihat dari belakang saja.
Dan ketika matanya bertatapan dengan sepasang mata milik Arhes, ia pun akhirnya menyadari keanehan itu.
Meskipun.....Arhes..
Tiba-tiba ada di depannya?.
Jaraknya yang sangat dekat, kalau dirinya tidak cepat-cepat menghindar saat ini juga yang terjadi adalah menabrak pria ini!!.
Kakinya yang sudah bersiap-siap untuk mengambil arah jalan yang berbeda unutk menghindari Arhes yang masih berdiri itu, justru menjadi kesempaan untuknya!?.
Saat Dania berhasil melewati sisi sebelah kanannya Arhes, berpapasan dengannya, satu hal yang menariknya adalah......
Dania langsung menjeling ke arah Arhes yang ada di sebelah kanannya, karena....
[ Dia....mengangkat pedangnya?. ] Ketika sudut matanya menangkap bilah pedang yang di genggam Arhes mulai terangkat lebih tinggi dan diayunkan ke arahnya-
__ADS_1
Tangan Dania seketika itu beraksi untuk menghalangi bilah pedang punya Arhes...sehingga menghasilkan bunyi nyaring yang cukup mengusik telinga.
TRANGG.....!
Tidak berhasil mendekti wanita itu, yang di dapatinya adalah beradu pedang dengan pria ini?.
" .....................?. "
Dania pun memberikakn tatapan menyelidik pada Arhes. Sorotan matanya yang begiitu berbeda, ini bukan sekedar perasaan saja karena waniita yang masih jauh di depannya tiba-tiba berkata..
" Kamu....lawanlah gadis itu untukku. "
Perintah Chloe. Ujung kipas menyentuh dagunya, lalu sedikit memiringkan kepalanya ke sebelah kanan, Chloe pun tak lupa untuk memberikan sebuah senyuman yang begitu hangat untuk pria bernama Arhes tersebut.
Apa maksdu dari senyuman itu?
" Baik nyonya. " jawab Arhes secara singkat, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari musuhnya, siapa lagi kalau bukan gadis bernama Dania ini yang ada di depannya ini.
Hanya.....Dania jadi terusik, Arhes dengan begitu menurut, menjawab perintah dari wanita itu!.
Setelah memberikan perintah pada laki-laki itu, Chloe kini menatap Dania yang masih menahan pedang Arhes itu, lalu kembali berkata..
" Dan kau, bermainlah dulu dengan laki-laki yang sudah mempermalukanmu di depan banyak kesatria itu dulu, pasti kau akan puas rasanya, meluapkan rasa kesalmu itu dulu, ketimbang aku. "
Membalasnya dengan sebuah senyuman miring, Dania sudah tidak bisa membiarkan lagi penyihir wanita ini berdiri santai seperti itu terus.
Bisa tahu malam itu, dirinya ( Dania ) di permalukan oleh Arhes ini, berarti memang benar sudah...kenyataan kalau Chloe itu menguntitnya terus.
Dari kapan?.
Meski Dania tidak tahu, tapi yang terpenting untuk sekarang adalah mengurusi laki-laki ini sebelum menghajar penyihir itu.
Itulah yang terpenting.
Dengan intens, Dania menatap pria ini dan..
Jika biasanya di dunia modern akan menyebutnya dengan panggilan mas, kalau disini?, Dania merasa kelu untuk memanggil orang-orang dengan jabatan seperti kakak, atau apalah itu.
Karena biasanya langsung memanggil namanya secara langsung.
Apakah begitu?.
[ Cih.......]
Ah ...persetan dengan nama panggilan, pertama-tama harus menyadarkan orang ini, karena bagaimanapun, jika Arhes sekarang ini ada di depannya, dan hendak menghunuskan pedang padanya, bagaimana dengan mereka?.
" KYAAA..........!. " All
Dania menjeling ke kiri, setelah mendengar teriakan tadi..
Ya...tepat di sebelah kiri sejauh 40 meter, mereka sedang berkumpul menjadi satu, namun sudah dalam keadaan terbaring.
Tidak sadarkan diri.
Pengamatannya yang tajam, tentu membuat Dania tahu kalau mereka tidak ada luka luar.
Apa yang membuat mereka bisa terbaring begitu saja?, berarti ada yang salah dengan di dalam tubuh mereka.
" Ah...........hahaha. " Chloe yang tak sengaja menemukan teriakan itu juga tiba-tiba tertawa geli, karena mantan dari para tawanan Goblin itu, kini sudah terbarng tidak berdaya.
Dania terperengah dengan wanita itu yang terlihat seperti baru saja menikmati makanan, sudah agak...pasti dialah melakukan sesuatu terhadap mereka semua.
Di tengah-tengah Chloe memandang sekelopok perempuan yang sudah tidak berdaya itu, matanya melirik ke tempat dimana gadis in masih menahan serangan dari pria itu.
__ADS_1
" Semakin waktumu terbuang, mereka akan semakin kehilanagan daya hidupnya. Kau tahu, kehilangan daya hidup sama saja dengan kematian. " Peringat Chloe.
[ Apa lagi yang bisa dia lakukan?. ] Tidak akan mungkin hanya ini saja. Memang tidak bisa di anggap remeh wanita ini!.
Dania bertekad di dalam dirinya, kalau dia ( Chloe ) memang bukanlah sekedar penyihir biasa.
Everst entah sedang berada di mana, hanya berharap kalau hari ini akan berakhir dengan cepat, menemui kedamaiannya hanya untuk sesaat saja, itulah yang di inginkannya.
Tangannya yang sedang menahan pedangnya Arhes yang ada di depan wajahnya ( Dania ), langsung segera mengeluarkan sedikit tenaganya untuk menepis pedang itu, sebelum pedang itu benar-benar membelah kepalanya Dania.
CTANG..........
Arhes mundur ke belakang, tapi berlari dan menghadang gadis itu kembali untuk tidak mendekati nyonya majikan yang ia tahu itu adalah ( Chloe ).
Shera, dan mereka semua....Dania masih memikirkan mereka.
Apa yang terjadi, di matanya terlihat kalau keadaan tubuh mereka sangat lemah, mendekati kondisi kritis.
Selagi memikirkan tentang itu, yang terpenting adalah Arhes dulu. Di hadapannya ini.......Dania, yakin...sangat yakin untuk melawannya dengan waktu sesingkat-singkatnya!.
Bagaimana caranya?.
CTANG...........
Pedangnya kembali beradu setelah, Dania mengayunkan pedanganya dari kiri ke kanan.
CTANG......
Ke arah sebalilknya dari kiri kanan ke kiri.
CTANG......
..................CTANG.......
......CTANG................
"......................."
Masih terdiam, karena lebih baik diam ketika bertarung, matanya selain terus mengawasi mana gerakan yang akan di gunakan pria ini, ia juga menatap wajah Arrhes yang terlihat serius alias menikmati pertarungan yang sebenarnya bukan kehendak Arhes sendiri, ini adalah pertarungan yang mengatas namamakan melindungi sang majikan, si penyihir wanita itu.
Apakah ini sepadan?.
Ketika ia mempunyai hal yang sangat menuntut untuk membalas kekesalannya pada pria ini ( Arhes ) atas kejadian malam itu?.
Jawabannya adalah.....
" Tidak. " Terpejam sejenak, Dania bergumam singkat di tengah-tengah pertarungan ini.
Tentnu saja ini kurang sesuai, karena pri aini di kendalikan oleh wanita itu.
Memiliki insting yang tajam, di detik berikutnya, kepalanya ia miringkan ke kanan, sebelum wajahnya tersayat pedangnya Arhes, dan sebagai hasilnya Dania tentu saja sebelum pedang Arhes menyapa wajahnya, dia lebih dulu mengarahkan pedangnya sendiri ke samping kiri, dengan ujung pedang yang menghadap ke atas, mengasilkan gesekan tipis dengan sedikit menimbulkan sebuah percikan.
SRINGG.........
Kesempatan!.
Tat kala tangan kanan Arhes menjulur ke depan, dalam posisi inilah.....
" Hek...... " bela diri sederhana, tangan sebelah kirinya Dania segera menarik tangan kanannya Arhes agar terus tertarik ke depan, disinilah dia langsung mengambil tindakan atas solusi untuk menyadarkan Arhes ini.
" Harusnya memang ini. "
Dania berbisik tepat di telinga sebelah kirinya Arhes. Arhes yang terdiam, lantas perlahan menoleh untuk memandang wajah gadis itu. Ekspresi...
__ADS_1
Sebuah ekspresi yang,
"......................." terlihat khawatir?!. Sebelum Arhes menatap samping wajah gadis ini dengan benar, sebuah telapak tangan langsung mendarat di wajahnya Arhes, menyisakan ingatan sesaat tadi sebelum pandangannya gelap, matanya menangkap sebuah senyuman terakhir yang dapat Arhes lihat, perubahan senyuman yang sangat drastis.