
" Yang mulia!, kenapa nona belum juga pulang!. Sudah dari kemarin dan sampai sekarang belum pulang?, bagaimana ini?, anda harus mencarinya. " meski unurnya yang sudah renta, namun omelan rasa cemas tetap jelas masuk ke telinganya Archduke.
Archduke kini sedang duduk di kursi, di sebelah tempat tidur nenek Marsha, dia tidak hanya duduk saja, melainkan sambil membaca buku novel.
Tanpa melihat neneknya, matanya yang terus tak beralih dari deretan tulisan tersebut, Archduke menjawab.
" Nek....nenek tahu sendiri, dia bukanlah seperti gadis bangsawan pada umumnya. Jangan khawatir hal yang tidak perlu, khawatirkan saja kondisimu sendiri bukannya orang lain. "
PLETAK!.
" ............... " mendapatkan pukulan tepat di tengah buku, buku yang di pegangnya langsung yerjatuh ke pangkuannya karena bilah yang di pegang nenek Marsha.
" Dia bukan orang lain lagi, dia adik anda dan sudah jadi bagian dari keluarga Scneder. Yang mulia sendiri yang membawanya ke sini, kenapa tidak bersikap seolah-olah khawatir?. " jelas nenek Marsha, memberi peringatan pada orang ini. Sudah dewasa tapi bisa-bisanya bersikap acuh tak acuh, padahal ada satu orang yang belum kembali dari kemarin.
" Maksudnya aku harus akting?. "
" Itu sendiri....sudah paham. Apa salahnya anda akting, tiap hari juga sering bercanda dengan orang lain juga kan?. " celetuk nenek Marsha. Dia sudah lama bekerja di bawah keluarga Scneider, apa lagi yang sudah mengasuh pria ini dari bayi hingga sebesar ini, tidak ada yang tidak nenek Marsha ketahui, tapi sikapnya yang kadang menyebalkan, membuat nenek Marsha harus menggurui anak ini sebagai peringatan.
Archduke menutup bukunya, berdiri dan membetulkan selimut untuk nenek Marsha yang sedang terluka karena terjatuh dari tangga kemarin.
" Istirahat dan tidur. Saat bangun, dia pasti sudah pulang ke sini. Dia bukan lagi anak kecil, jadi tahu jalan pulang. " pujuk Archduke.
" Yang mulia....nenek yang satu ini sudah tua, setidaknya carilah calon istrimu sebelum datek ini pergi. " sepasang mata yang sudah renta, sorotan mata penuh harapan.
Archduke jadi tersenyum kecil, nenek Marsha orang yang tidak sabaran jika sudah mulai membahas istri, padahal dia saja belum tahu kapan dan siapa, tapi nenek ini selalu membahasnya jika ada kesempatan.
" Umur nenek terbilang akan sangat panjang, jangan melantur lagi. Tidur saja, nanti akan ada pendeta yang datang menyembuhkanmu. " kata Archduke.
Archduke sebenarnya punya banyak pekerjaan karena masalah kemarin yang belum kelar, tapi nenek ini.....dia juga harus di beri perhatian, setidaknya jengukan. Dan dia sudah melakukannya, jadi sekarang yang dia lakukan adalah memcari segala informasi mengenai istana Scneider.
Setidaknya, apakah ada kerusakan?, apa ada pegawai yang terluka?, atau lainnya.
Dia harus mengerjakan banyak hal, dan apatah lagi....sebenarnya banyak kaca yang pecah, jadi mau tidak mau harus mengeluarkan dana besar untuk mengganti seluruh kaca yang pecah.
Archduke, setelah keluar dari kamar nenek Marsha, dia berjalan ke ruang utama.
Mereka semua sudah menunggu di sana, untuk memberikan laporan satu per satu secara singkat namun jelas juga padat.
TAP........TAP.........TAP.......TAP..........
[ Gempa sebesar itu, harusnya ada satu wilayah terdampak tsunami. Tapi seperti laporan dari Vidal semalam, tidak ada peristiwa besar selain kerusakan pada rumah penduduk baik desa juga kota. ] Archduke menyempatkannya berpikir, tapi di tengah jalan jalan ada Calporth sudah berdiri menunggu.
" Apa ada sesuatu?. "
Calporth berjalan dengan langkah yang sama dengan Archduke, lalu bertanya.
" Apa yang akan anda buat dengan lubang sebesar itu di belakang gedung latihan?. "
" Kau hanya datang untuk menanyakan itu ya?. " lirik Archduke sesaat pada Calporth. Dia mungkin memang belum di beritahu, jadi harus diberitahu sekarang mengenai lubang besar yang terbentuk di belakang gedung latihan mereka.
" Aku akan memberitahumu. Di hitung-hitung kalian tidak pernah yang namanya pergi ke pantai kan?. Si bersangkutan ingin membuat kolam renang untuk latihan kalian, bagaimana?, dia jeniuskan?. "
" Jenius?, hanya kolam renang juga, kenapa anda membanggakannya?. " Calporth tidak tahu kenapa, yang seperti itu juga di bilang jenius, padahal tidak ada manfaat.
" Ehh..." Archduke sedikit mendekatkan jaraknya dengan Calporth, lalu mengalungkan lengannya ke bahunya Calporth.
" Jika musim panas kalian bisa berenang, bukannya enak?. "
" Yang mulia, kami ini kesatria, pekerjaan kami bukan untuk bersenang-senang meski di musim panas sekalipun. " tutur Calporth.
" Nanti, ujung-ujungnya jika kolam renang sudah jadi, akan kalian pakai kan?. Kalau tidak mau, karena sudah keburu ada lubang, jadi harus di selesaikan, dan Eldania yang pakai juga tidak salah juga. " Archduke sudah tahu arti rencana kenapa di sana akan di buat kolam renang, dan lagi pula memang halaman kosong juga, jadi dari pada di biarkan kosong seperti itu, Archduke menyetujui pendapatnya.
" Sudah.......pekerjaan hari ini banyak, renovasi istana.....jadi bekerjasama lah dengan baik dengan penyihir yang aku undang juga. "
Calport hanya tersenyum pasrah.
" Anda suka menghamburkan uang ya?. "
Untuk mengundang penyihir, alias menyewa penyihir maka harus mengeluarkan biaya lebih sebanyak 3 kali lipat dari biaya pekerja biasa, meski hasilnya semua pekerjaan cepat selesai.
" Jika tidak seperti itu, hidup tidak akan bahagia. " Archduke melepaskan rangkulannya dari bahunya Calporth.
" Lanjutkan pekerjaanmu, aku mau mengurus mereka. " Ucap Archduke lagi. Menunjuk puluhan orang di lantai bawah sudah berkumpul semua dan menunggunya.
Calporth hanya memberikan anggukan kecil, dan tetap berjalan, tapi kini dia mengekorinya dari belakang. Namun ketika Archduke menuju ke arah para pelayannya, Calporth pergi ke pintu depan.
Dia akan mengatur bawahannya terlebih dahulu selagi menunggu para penyihir datang, serta material bangunan yang sudah di pesan Archduke.
Demi keamanan dan kenyamanan, Archduke memprioritaskan pemeriksaan menyeluruh di istana Scnaider dan memperbaikinya segera jika ditemukan kerusakan, agar tidak menimbulkan bahaya lagi ketika di tinggali.
Itu tujuan sebenarnya.
" Tapi aku sedikit heran, perempuan itu sering keluar......., kelihatannya juga tidak punya banyak teman, tapi apa yang dia lakukan di luar sana?. " Gerutu Calporth. Dia pergi ke arena latihan, karena disanalah keneradaan mereka berada, menunggu pemimpinnya datang.
" Eh..ketua datang, cepat baris. " perintah salah satu dari mereka agar bersiap baris dengan rapi dan menunggu perintah apa yang akan di keluarkan dari mulut pemimpin mereka.
" Apa kalian sudah mandi?!. " teriak Calporth dengan begitu entengnya dan dalam balutan senyuman cengiran lebar.
" Belum dua kali!. " jawab mereka secara serentak.
" Pfft ......... "
Suara tawa kecil yang baru saja mereka dengar, sontak membuat mereka langsung melirik mencari orang dari pemilik tawa tadi.
" Kalian mencari apa, aku ada di sini!. " teriak Calporth, melihat anak buahnya malah mengabaikan keberadaannya.
"................! " seperkian detik itu juga, mereka kembali menatap ke depan.
Calporth langsung memperhatikan mereka semua dengan tatapan tegas, juga penuh wibawa. Dia tidak akan bicara jika masih ada yang berisik, baik itu yan berbisik, maupun melirik ke arah lain selain dia.
Setelah melihat mereka semua benar-benar terdiam, barulah Calporth berbicara.
" Akan aku beritahu kepada kalian. Hari ini dan besok tidak akan ada latihan, tapi sebagai gantinya, kalian bekerja untuk ikut dalam renovasi istana. Akan ada penyihir yang datang ke sini, kalian bekerja samalah dengan mereka. Apa kalian PAHAM!?!. " Teriak Calport di akhir kata, demi mendengar teriakan mereka.
" KAMI PAHAM KOMANDAN!. " teriak mereka secara serentak lagi.
" Material bangunan sudah mulai berdatangan, perbaiki hal yang harus di perbaiki. Lalu untuk lubang yang ada di halaman belakang, kalian tidak perlu mencampurinya, biarkan saja karena hanya penyihir saja yang akan mengurusnya. Jika ada pertanyaan langsung tanyakan sekarang juga, aku hitung sampai 10. "
__ADS_1
" Memangnya akan di buat apa lubang itu?. " tanya Nigel, yang sudah mengangkat tangan kanannya.
" Pertanyaan bagus, aku juga baru di beritahu. Yang mulia akan membuat kolam renang. Apa kalian puas?!. " jawab Calporth.
" Lalu yang satunya lagi?. "
" Sama. Tapi intinya, yang satu itu bukan kolam renang untuk kalian. " lalu Calporth menambahkan lagi.
" Itu untuk nona. "
" Oh...untuk nona~. Sejak kapan kita jadi punya nona ya?. " mereka secara gantian saling pandang satu sama lain. Mereka juga bingung, sejak kapan mereka jadi punya nona, di dalam istana Scnaider?.
" Jika tidak ada pertanyaan lagi, sekarang bubar dan lakukan pekerjaan kalian!. " perintah terakhir Calporth apda mereka semua.
" Baik!. " All.
Para kesatria itu pun bubar dari barisannya, dan kali ini tidak akan memakai seragam kerja mereka, selain kaos dan baju biasa.
Membuat mereka terlihat seperti orang biasa, namun memiliki tubuh bagus layaknya model di majalah.
" Kalian benar-benar akan jadi terkenal jika berada di dunia modern. " satu pendapat yang muncul saat dirinya melihat mereka semua mulai berlalu lalang untuk melakukan tugas mereka sendiri.
Tanpa susah payah ini itu, hanya dengan berdiri di depan camera, duit akan mengalir deras ke rekening. Itulah yang di pikirkannya ketika pria-pria di sana mondar mandir tanpa menyadari keberadaannya yang sedang duduk di bawah pohon begitu santainya.
Kebetulan yang pasti, hari ini akan menjadi hari yang cerah, sinar matahari yang kian meninggi, mulai menyelusup masuk melewati rimbunan daun hijau ini.
Ada yang indah ketika mendongak ke atas sana, walau punya warna daun yang sama, yaitu hijau, tapi saat sinar matahari memaksa menembus lembaran daun-daun itu, justru menimbulkan warna hijau yang berhija-beda.
Itu menyejukkan matanya, agar terus menatapnya.
[ Kenapa aku disini?. ] sampai satu pertanyaan muncul di dalam kepalanya.
Duduk, sendirian di bawah pohon, dan lagi....sekarang sedang bengong menatap daun di atas sana.
[ Apa yang aku lakukan?. ]
Apa yang sudah di lakukannya, seakan memang sudah begitu cepat berlalu, sampai Dania juga berpikir..
[ Memangnya tadi aku melakukan itu?. ] matanya tidak bisa dia alihkan untuk terus menatap ke atas sana.
Dania juga bingung, beberapa waktu lalu, apa yang sudah dia lakukan?, memberikan saran dan solusi pada orang-orang?!.
[ Bukannya aku jadi terlihat sok tahu?. ] Dania jadi menyadari itu.
Dia jadi seperti boneka tak berpemilik, duduk seorang diri, memakai gaun lusuh karena sudah di pakai dari kemarin, dan dianya juga memang belum mandi, lalu di atas pangkuannya ada buku yang terus-terusan dia bawa.
Dia kemudian memejamkan matanya, dan membatin.
[ Menyedihkan. ]
Tidak ada siapa pun yang bisa dia ajak ngobrol ketika sudah berada di dalam istana Scnaider. Dia tidak begitu kenal dekat dengan mereka semua, dan tidak akan sok-sok-an tiba-tiba mendekati mereka tanpa sebab, hanya demi mendapatkan teman.
Benar.....
Yang hanya dia butuhkan setelah semua yang sudah dia lalui sehari kemarin dan setengah hari ini, dia ingin istirahat.......mendapatkan kedamaian, hanya untuk melanjutkan tidur yang kurang cukup.
Sampai 1 jam kemudian.
__ADS_1
SRAK.........SRAK..........SRAK...........
Suara dari semak-semak itu, lantas langsung membangunkan tidurnya kali ini.
[ Siapa yang datang?. ] Membuka kelopak matanya dengan pelan, tapi juga sudah menaruh waspada.
Arahnya dari belakang, dia yang masih bersenderan pada pohon tetap berada di tempatnya, namun dia segera menjeling ke samping arah kanan.
" Apa aku membangunkanmu?. "
Suara dari seorang wanita.
Dania padahal tidak bergerak sedikitpun meski memang sudah sadar dari tidurnya, tapi orang yang tadinya dia waspadai, malah langsung bertanya demikian. Jadi memang tidak salah lagi kalau orang ini tahu tadi dirinya tidur dan sekarang sudah bangun.
Dania menoleh ke belakang, dari balik pohon terlihat seorang wanita berambut panjang warna ungu, lalu di tangan kiri ada satu tongkat kayu panjang. Wanita itu berjalan mendekati Dania yang masih terdiam duduk di bawah pohon.
Mengekori kemana wanita ini bergerak, akhirnya dianya ikut duduk di sebelahnya.
[ Dia perempuan yang di gendong Archduke waktu itu kan?. ] Dania berpikir sambil menatap wanita yang lebih tua darinya.
" Saya Celestine, kita pernah bertemu waktu pertarunganmu dengan raja iblis. " sapa Celes, memperkenalkan dirinya. Memang nyatanya dia belum memperkenalkan dirinya langsung dengan Dania.
"...................... "
[ Kenapa dia datang menemuiku?. ]
" Melihat beberapa anak buahku di sewa, aku jadi sekalian ikut datang ke sini, alih-alih ingin melihatmu dengan lebih dekat. " jelas Celes, menceritakan secara singkat alasan kedatangannya dan berakhir duduk bersama dengan gadis di depannya.
" Dan alasan lainnya....... " iris violet itu segera bertemu iris Ruby.
" Aku ingin berterima kasih padamu secara langsung. "
" Terima kasih dalam hal apa?. " Dania pun ikut melihat secara seksama iris Violet itu, terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu pada dirinya.
[ Apa yang dia lihat dari diriku?. ] Dania tidak begitu perduli dengan hal itu, jadi dia hanya ikut membalas apa yang dilakukan oleh wanita bernama Celes ini.
" Selain terima kasih karena menyelamatkanku, aku mewakili dari semua orang, juga berterima kasih.....sebab kamu menyelamatkan banyak umat manusia. Meski melakukannya secara diam-diam sendirian, aku tahu kalau air bah yang harusnya sudah meratakan daerah selatan menjadi daratan tak berpenghuni tidak jadi, adalah hasil perbuatanmu. "
"...................... " Dania terdiam, dia mulai banyak berpikir setelah mendengar ucapannya Celes.
[ Sepertinya diam-diam banyak yang mengetahui pergerakanku?!. Dia....apa maunya?, kenapa bisa tahu?, apa ada hubungannya dengan Erich?. ] Dia benar-benar tidak suka ini, apa alasan wanita di depannya ini berkata seperti itu?.
Tiba-tiba Celes tertawa.
" Pfftt....eskpresimu seperti sedang mengumpat. " tebak Celes, melihat wajah kesal gadis muda ini, membuatnya jadi tidak tahan untuk tidak tertawa.
Jika saja hari ini tidak pergi ke sini, pasti akan melewatkan hal menarik dari gadis yang sering di bicarakan oleh Archduke ini.
" Jangan salah paham denganku. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tapi aku tidak punya hubungan dengan siapa pun. Aku mengetahui atas inisiatif dari diriku sendiri, jadi jangan khawatir, rahasiamu tentang hal itu akan terjaga dengan baik. Bahkan saat ini.......dari awal aku sudah memasang dinding transparan kedap suara, jadi tidak ada yang akan mendengarkan percakapan kita. " jelas Celes secara panjang lebar.
Dania melirik ke samping kanan dan kiri, seperti tidak ada dinding apa pun, tapi jika dia mengeluarkan sedikit mana, maka akan terlihat sebuah dinding layaknya gelembung udara, ada kilauan warna-warni.
" Apa kamu sependiam ini?. " tanya Celes, melihat gadis ini tidak merespon ucapannya tadi.
" Entahlah, aku tidak tahu harus jawab atau bicara apa lagi. "
Celes tersenyum lembut, gadis ini selain lelah juga tidak bersemangat karena topik pembicaraannya terus-terusan mengenai dirinya ( Dania ).
Banyak orang mengagumi jasanya, di satu sisi ada juga mengagumi bakatnya bisa bermain piano, di sisi lain, ada orang yang berpikiran negatif tentangnya.
Semuanya adalah tentangnya, tentang Eldania sendiri...
Siapa yang tidak bosan jika semua gosip, cerita yang dibuat, dan makin di buat-buat, hanya tentang dia sendiri, dan harus mendengarnya lagi...dan lagi.
" Bagaimana jika aku membantumu membuat kolam renangmu?, sebagai tanda terima kasihku. "
" Membantuku?. " Dania langsung tertarik, dan semangat jika sudah membahas hal lain, setidaknya selain dirinya sendiri.
" Ya...aku dengar dari Archduke, kalau kamu adalah gadis unik. Ada banyak sihir di dunia ini, pasti ada sesuatu yang kamu pikirkan tentang rencanamu mengenai kolam renangmu itu. " Celes mulai membujuk, agar gadis ini mau memberitahukan rencana apa, tiba-tiba ingin membuat kolam renang?.
Karena kolam renang adalah sesuatu yang langka di tempat ini, jadi akan menarik jika membantu pekerjaan gadis muda ini.
Ada banyak ide yang terbesit di dalam kepalanya, hanya saja tidak tahu mau di mulai dari mana dulu.
" Baiklah.....aku menerima ucapan terima kasih itu, asal bisa membantuku untuk membuat..... "
Tidak perlu terlalu banyak membuang tenaga lagi, membuat kolam renang, di bantu okeh wanita ini, dia jadi tidak segan untuk menerima bantuan itu.
Dia akan memanfaatkan sebaik-baiknya.
__ADS_1