Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 33


__ADS_3

Perjalanan panjang mereka lalui lagi, belum sehari pergi tapi Arhes dan Dania memutuskan kembali lagi.


Karena hari memang sudah mulai malam, Arhes yang tahu lokasi kota lain yang terdekat, memutuskan untuk mampir ke situ.


Setidaknya bisa istirahat di tempat yang layak dan bisa makan di kedai yang nuansanya terasa hangat untuk makan malam bersama.


Tapi siapa yang menyangka kalau di kota yang sedang di singgahinya ada hotel juga, tapi itulah bisnis, karena di dunia ini yang namanya pelancong pasti ada, jadi bisa dijadikan tempat pundi-pundi uang.


" Kami sewa 2 kamar untuk semalam. " Arhes lah yang berbicara pada resepsionis.


" Kami menyediakan makan juga, jadi totalnya 2 keping emas. "


Arhes memberikan koin emas pada si resepsionis.


" Apa makan malamnya bisa sekarang juga?. " tanyanya lagi, karena dibelakangnya pasti sudah ingin makan sebelum istirahat.


" Bisa, anda pilih menunya saja dulu. " memberikan secarik kertas dan juga pena pada Arhes.


Resepsionis tadi sedang berbicara pada wanita yang lebih tua, yang baru saja menghidangkan pesanan dari tamu.


" Aku terserahmu, pilih yang kelihatan enak. "


[ Aku tidak tahu yang mereka sajikan apa. Karena nama sajian menu-nya saja aneh-aneh, lebih baik di putuskan oleh orang asli dunia ini adalah ide yang bagus. ]


《 Sebagai orang yang biasa diberi makan dan makan masakan sendiri. 》


" Aku mengerti. "


"................."


[ Hmph...pemandangan punggung laki-laki memang eksentrik untukku. ] dengan sembunyi-sembunyi menyembunyikan senyuman jahat.


" ...............? "


[ Dia orang yang aneh. ] fikir Shera, saat melirik kakak di sampingnya itu.


Setelah resepsionis itu kembali, berkata..


" Silahkan anda duduk dulu, kami akan menyiapkan makanannya. "


Setelah 8 menit....
























[ Kelihatan enak. ]


Ada daging ayam bakar, mie rebus, telur gulung, dan.......


" Entahlah, aku akan mencobanya. " tidak mau dipikirkan lagi, ia langsung menyantap makanan itu sampai kenyang.


" Apa enak?. " Arhes mengambilkan daging ayam untuk adiknya.


" Enak kak. "


" Bagaimana denganmu?, apa sesuai dengan lidahmu?. " Arhes bertanya pada Dania, terlihat sudah menghabiskan bagiannya sendiri.


".................." tiba-tiba pandangannya tak menentu alias bengong.


" Aku membenci perasaan ini. " bergumam lirih sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"..............?! " All.


Makanannya nikmat ketika dimakan, tapi yang penting dari itu semua adalah kesan terakhir yang ia makan.


Di dalam tenggorokannya....


Tersisa satu hal yang membuat dirinya....


" Hueekkk..... " mual.


" __________ " semua orang jadi terpaku pada suara dari orang yang baru saja mual.


" Kakak.... " Shera berbisik memanggil kakakna, saat melihat wajah kakaknya mematung dan terkejut.

__ADS_1


" Huueeekkk..... "


[ Eneg..... ]


" Hei...kenapa kau diam saja?, kekasihmu sedang mual, bantu dia. "


" .......!, kekasih?. "


" Yang benar saja, dia bukan kekasihku. " Dania langsung memyela pembicaraan mereka sedangkan tangan kanannya langsung menyerobot gelas birisi bir milik Arhes, lalu menuangkan sedikit bir itu ke dalam gelasnya sendiri.


" Gluk....gluk....gluk... "


" Kamu-...! " Arhes terperengah melihat bir miliknya diminum oleh perempuan ini.


" Aku cuma merasa eneg, dengan makananku. Jadi bukan karena hal lain. " Dania mencoba memperingatkan yang lainnya bahwa apa yang dipikirkan mereka semua adalah kelewatan.


Sekiranya sudah selesai makan malam, Dania beranjak terlebih dahulu untuk menuju kamar yang ia sewa.


Si resepsionis bersedia mengantarkan tamu yang satu itu terlebih dahulu.


Terletak di lantai 3, ia membukakan pintu untuk sang tamu.


Terlihat kamar yang bersih dengan dua ranjang, pas untuk dirinya ( Dania ) dan Shera.


" Terima kasih. "


" Sama-sama. " membungkuk hormat sebelum pergi.


" ................ " Dania menilik masuk ke dalam kamarnya.


Bersih, murah, rapi, dan ada bonus makan pagi dan malam hanya untuk 1 keping emas per kamar.


[ Memang nyaman. Padahal aku lebih selesa jika sendirian. ] karena tak lain ada teman baru, ia hatus bertahan saja.


Hari yang sangat melelahkan, Dania langsung saja merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang cukup nyaman jika tidak menanyakan kulitas sesungguhnya dari kasur ini. Karena standar rasa nyaman tiap orang itu berbeda.


________


" Kakak, selamat tidur. "


" Kau juga, selamat malam. " setelah menepuk-nepuk kepala adik kecilnya, Arhes pergi ke kamarnya yang terletak bersebelahan, persis di samping kiri kamar yang dihuni oleh dua gadis itu.


Shera, ia pula kini sedang memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan agar sang kakak itu tidak terbangun jikalau memang sudah tertidur.


" Sudah tidur?. " langkahnya pelan agar tidak menimbulkan derit dari lantai kayu.


Gaya tidur yang laur biasa memukau, Shera terdiam sejenak untuk melihat wajah kakak perempuan ini dengan lebih dekat, wajahnya sangat polos jika mengetepikan sifat aneh yang sering dilakukan oleh Dania.


" ................. "


" Ehm.....jangan menatap orang yang lagi tidur. " ucap Dania sehingga memecah perasaan kagumnya si Shera.


Meski Dania tidak membuka kelopak matanya, tapi ia merasakan tatapan mata yang langsung menusuk wajahnya, maka dari itu ia merubah posisinya menghadap dinding dan memunggungi gadis itu.


Merasa malu sendiri, Shera memutuskan untuk tidur saja, yah...dari pada mengganggu sang kakak penyelamat itu.


Shera pergi ke ranjang single yang satunya lagi, yang letaknya dekat dengan pintu.


Ada selimut bersih dan masih wangi, Shera baru merasakan wangi yang lembut ini, karena ketika dirinya dirawat oleh bibinya, ia hanya hidup dengan apa yang bibi-nya berikan, yaitu apa adanya. Selimut, seprai, baju, hanya di cuci dengan air saja jadi seperti orang yang miskin saja, pada keda kakak-nya bekerja sebagai kesatria di ibu kota.


" Terima kasih sudah menyembuhkanku. " ucap Shera pada orang yang masih tidur memunggunginya.


"................"


Yang di ucapkan terima kasih sebenarnya belum tidur, ia masih belum bisa tidur meski ingin sekali tidur.


[ Mungkin kalau traveling, aku bisa tidur. ] memikirkan imajinasi liar, banyaknya hal yang dipikirkannya adalah salah satu hal yang membuat dirinya makin lama makin lelah dan otomatis tertidur.

























__ADS_1




















































Tengah malam kembali datang dan suhu yang dingin kembali menyapa para makhluk bumi, baik yang tertidur maupun yang masih bekerja.


Bahkan untuk seorang yang tidak kenal dimana pun dia berada dia akan selalu ada, dengan tujuan apa?, masih dalam rahasia.


Shera yang sedikit terusik karena ada angin dingin yang menerpa kulitnya secara tiba-tiba membuat Shera sedikit membuka kelopak matanya. Dan sepasang matanya menangkap satu sosok tengah berdiri menghadap ke arah dimana Kak Dania tertidur pulas di tempatnya.


Shera hanya menangkap punggung dari seorang pria dengan rambut berwarna emas itu, punggung kekar dan memiliki bahu yang lebar, jujur Shera baru pertama kali melihat pria sepertinya, apa lagi dengan corak garis zig-zag berwarna merah menghiasi tubuh laki-laki itu tepat di bagian kanan dan kiri.


Pria bertelanjang dada?.


[ A-apa yang dia lakukan disini?, dan siapa dia?. ] Shera sedikit takut, apa lagi saat laki-laki itu sadar untuk melirik ke arahnya.


" Hmm...! " sorotan mata berwarna merah itu sangat tajam seakan bahwa Shera adalah musuhnya.


Merasa seperti terancam, ia langsung menghilang seperti serbuk emas yang berterbangan dan di detik itu pula angin langsung berhembus masuk ke dalam kamar dan Shera seketika tertidur lagi.

__ADS_1


__ADS_2