
Esok harinya.
Darayad diam-diam masuk ke dalam kamar-nya Ailyn. Adiknya terlihat masih tertidur dengan lelap.
Tentu saja masih lelap, karena masih pagi buta, jika di hitung dengan jam, masih ada di jam setengah lima pagi.
Darayad melihat adiknya yang tertidur itu, yang posisinya sedang membelakanginya.
Tapi mau seperti apa posisi tidur Ailyn ini, Darayad pelan-pelan menyentuh rambutnya Ailyn dan dalam detik itu juga, dari warna rambut sampai telinga runcing yang mencolok itu, ke dua hal itu berubah dalam sekejap mata.
Ailyn sekarang terlihat seperti manusia biasa dengan rambut hitamnya dan tidak ada telinga elf-nya, sekarang yang harus di lakukannya adalah sampai menunggunya bangun saja.
Darayad pun keluar, sampai dimana Ailyn pasti akan terekjut dan pergi mencarinya. Itu pasti, jadi dia tidak akan pergi jauh-jauh, dan hanya berjalan-jalan di luar istana pohon saja.
Sampai di satu titik, dia mendengar sebuah suara.
" Pi....Pi.....Pi....Pi...! " terdengar suara pici.
" Kau hanyalah makhluk kecil. " dan ada juga suara Everst.
" Pi.....Pi...! "
Darayad pergi mencari asal aumber suara dari Pici dan Everst, ternyata ada samping istananya tepat di bawah pohon.
" Pi.....pi.....pi...pi!. " Pici, suara keras seakan sedang marah, tangan kecil berupa ranting dengan dedaunan kecil yang tumbuh itu, pici gunakan untuk..
WUSH.....WUSH.....WUSH.....
Meninju burung coklat itu, tapi yang di dapat hanyalah memukul angin kosong saja, karena ujung sayap Everst menahan kepala Pici dari pada tinju kecil yang sebenarnya tidak berasa itu, menyentuh tubuhnya.
WUSHH....WUSH.....
" Kenapa berusaha sekali. " tutur Evesat, makhluk di depannya itu masih saja tidak berhenti memukul ujung bulu yang sempat kena oleh pukulan kecil pohon mungil ini.
WUSH...WUSH.....
" Pi.....pi..... "
" Tidak usah menyia-nyiakan tenagamu itu. " kata Everst.
Melihat dua makhluk itu, Darayad tersenyum kecil, burung itu mau meladeni Pici bermain, seperti itulah hal yang sedang di lakukan dua makhluk tersebut. Padahal sampai beberapa hari lalu, Everst sudah membuat Pici terluka, tapi hari ini mereka berdua terlihat akur.
Hanya saja hal tersebut tidak bertahan lama, Everst langsung mengubarkan sayapnya dan bertengger ke pohon.
Menatap pohon mungil itu dengan tajam, sekalipun di teriaki terus..
" Pi....pi...pi....pi!. "
Melihat hal tersebut, Darayad berjalan ke arah mereka.
" Pici, jangan mengganggunya lagi. " Darayad memperingati.
" Pi...! " menoleh ke belakang, anak pohon ini langsung mengadu pada Darayad.
" Pi...pi....pi.. "
Mengabaikan ocehan kecil itu, Darayad mengangkat si tubuh Pici.
" Sudah...ini masih terlalu pagi untukmu Pici, sebaiknya istirahat lagi. " sebuah perintah pada Pici.
Darayad pun membawanya pergi daei sana, membiarkan Everst yang terlihat ingin sendirian di sana.
".................. "
Menatap kepergian ratu hutan, Everst menoleh ke belakang kemudian terbang ke langit.
Langit yang masih gelap, tidak membuatnya menjadi penghalang. Dari atas dia hanya melihat gundukan kecil dari ujung pohon yang rimbun akan daun.
Udaranya bersih, sensasi sejuk dingin menyapanya dengan lembut. Aroma daun pun dia hirup, dan mulai bertemu dengan makhluk lain yang bisa terbang.
[ Tidak lebih damai dari tempat asalku. ] pandangannya menatap jauh ke depan sana, pelan-pelan sinar matahari mulai menampakkan dirinya.
Hutan yang luas, dia berkelana kesana kemari, mendapatkan hal yang di inginkannya, itulah hidupnya. Setelah mendapatkannya, hal yang harus dilakukannya adalah untuk mempertahankan, menjaga satu hal itu dari pada menghilang dari genggamannya.
********
TAP........TAP........TAP........
Berjalan pelan di tengah koridor, langkah dari sepasang kakinya pun membawanya ke suatu tempat, dimana tempat tersebut adalah pusat dari segala kebutuhan agar manusia tetap hidiu, dengan menikmati makanan. Yaitu dapur.
KRIETT..........
Satu pintu yang terbuka, membuat satu tangan kirinya mndorong pelan pintu coklat tersebut, meski harus menerima derit pintu karena di paksa untuk bekerja.
Karena masih pagi-pagi buta, yang ada di dalam dapur adalah sang penguasa dapur itu sendiri, yaitu kepala koki.
" Apa yang membuat anda datang kemari?. " Tanya sang kepala koki kepada....
" Dan apa kotak yang di bawa nona itu?. " satu majikan lain yaitu nona Eldania.
Eldania bebrjalan lagi menuju sebuah meja, dan meletakkan kotak sepanjang 50 cm dengan lebar 40 cm itu ke depan penanggung jawab dapur.
" Aku membawakan ini. "
Dania pun membukanya, dan menunjukkan isi kotak yang penuh dengan barang.
" Ini?. " tangannya mengambil satu benda seperti pisau tapi ada yang berbeda, dan itu bagian tajam dari sisi pisau mempunyai bentu bergelombang.
" Semua peralatan ini, untuk kalian yang notabennya bekerja di dapur. Kecepatan memasak kalian bisa meningkat dengan menggunakan peralatan ini. "
" Bagaimana anda bisa terpikirkan untuk membuat ini semua?. "
Tanpa menatap lawan bicaranya, Dania menjawanya dengan lemmbut.
" Hanya intuisiku. " singkat Dania. DIa tidak akan berbicara lebih dari mana asal ide dari semua peralatan ini.
Dan sang koki teertawa senang, dari sekian banyaknya peralatan dapur yang rata-rata hanyalah wajan, panci, pisau, justru hari ini, dapur di hadiahi oleh peralatan lain yang memang terlihat aneh, tapi juga percaya kalalu semua benda-benda di dalam kotak itu, akan mempercepat kinerja mereka dalam mempersiapkan makanan.
" Hahaha.....anda memang jenius, kalau begitu anda jelaskan pada saya saja cara memakai semua ini, lalu saya akan mengajari anak buah saya. " ucapnya, lalu satu persatu benda yang di keluarkannya langsung di jelaskan dan di peragakan.
" Hanya ini caraku membantu kalian. " ucap Dania dengan lirih, dia sama sekali tidak bisa membantu banyak hal untuk dapur yang sudah bekerja menyediakan makanan untuk dirinya yang sebenarnya adalah orang lain yang tidak sengaja di bawa masuk ke istana oleh Archduke.
Tapi respon dari kepala koki ini adalah senyuman ramah yang hangat.
" Bukan hanya, tapi ini salah satu kehormatan bagi kami, bahwa kami bisa mendapatkan barang berharga seperti ini, membuktikan bahwa semua hal yang berkaitan dengan dapur bisa di permudah.
Itu salah satu ide yang tidak pernah di pikirkan oleh kami sekalipun sebagai orang yang bertanggung jawab di dapur, karena hanya terfokus pada masakan untuk di hidangkan dengan cara yang cantik dan enak. "
Sepagi ini, tapi sudah di puji.
Mana ada orang yang tidak senang jika di pui orang lain?, tapi pujian.......kadang membuat dampak lain, yang makin nlama akan membuatnya menjadi sombong.
Dia harus menekan hal itu, karena lagi pula semua peralatan ini bukanlah ide asli dari dirinya sendiri, tapi pengetahuan orang lain di dunia sebelumnya, dan dia gunakan di sini. Jadi efek pujian itu, memang tidak berpengaruh padanya.
__ADS_1
Setelah perdebatan hati dan pikiran mengenai ide yang bukan miliknya tapi di buat untuk sang koki ini, Dania kemudian menjelaskannya satu per satu barang-barang itu, memperagakannya juga sebagai hal yang harus di pahami agar lebih jelas,
l
l
l
l
l
l
l
l
l
l
Dania, tidak seolah hanya tinggal di istana dengan enak-enak saja, sebagai balasan atas Archduke yang mau membuat dirinya ( Dania ) tinggal di istana, dia harus membalas segala hal yang bisa dia lakukan untuk mereka.
Sampai dia juga mendatangi markas kesatria istana Scnaider juga.
HYAH........HYAH............
CTANG.........
Suara adu pedang yang terdengar, sukses menarik perhatiannya untuk pergi ke arena latihan di lapangan terbuka.
Dia berpindah tempat dari satu pohon ke pohon lain.
" Bukan seperti itu, Arhes.....ada apa denganmu akhir-akhir ini?, kau selalu tidak fokus. " teman tandingnya, memperingati Arhes karena khawatir.
Kurangnya konsentrasi, membuat Arhes dalam bahaya sewaktu-waktu jika saat latihan tidak fokus, buktinya tadi jika dia tidak menghentikan pedangnya sendiri, sudah pasti tangan Arhes sudah terluka.
" ...................., aku istirahat dulu. " Arhes mengabaikan ucapan temannya itu, menyarungkan pedangnya lagi, dia pergi dari arena latihan.
Menggaruk kepalanya yang sudah gatal, dia berbicara sendiri.
" Aku tidak mengerti dengan bocah itu, perasaan dulu, dia yang paling bersemangat di antaraa kita, tapi sekarang malah sebaliknya. "
"................"
[ Apa ada masalah lagi?. ] sambil mengayunkan kaki, kepalanya teleng ke kanan dan memperhatikan kepergian Arhes dari kejauhan.
Dan karena kesibukannya sendiri, dia juga tidak pernah bertemu dengan Arhes semenjakk kali terakhir bertemu saat kepulangannya hari itu.
Tapi ini.......
[ Apa dia punya masalah percintaan?. ] tebakan yang salah besar karena asal menebak.
pasalnya Arhes.......
l
l
l
l
Ingatan tentang waktu itu, perempuan yang notabennya adalah majikannya, mengusapkan keringatnya ke wajahnya ( Arhes ) !.
Sebuah debaran yang sungguh sia-sia, karena dia melihat ia ( Dania ) sudah punya seseorang.
" Hes...."
[ Bagaimana caranya aku menghilangkannya dari kepalaku?. ] fikir Arhes, kini dia sedang berusaha keras dengan pemikirannya sendiri, samppai suara kecil dari seseorang tidak dia dengar.
" Arhes.. " masih saja memanggilnya, mengejarnya pria itu, sepasang kaki yang bisa membuat langkah begitu lebar, membuatnya kesulitan untuk menggapai orang ini jika hanya berjalan biasa.
Mungkin memang sedang dalam lamunan yang begitu dalam, paggilannya tidak terdengar, Arhes terus berjalan ke depan, membuatnya harus berteriak.
" ARHES!. "
Satu teriakan yang memanggil namanya, membuat si empu langsung menoleh ke belakang.
".................! " Siapa lagi kalau orang yang sedang ada dalam pikirannya. Dia berlari ke arahnya dengan wajah serius.
" Perhatikan di belakangmu. " peringat Dania, bahwa salah satu kaki Arhes hendak menginjak garis tanah yang sudah dania buat tadi pagi.
[ Jangan dulu...!. ] Rasa cemasnya membuatnya berlari ke arah Arhes untuk menghentikan gerakan langkahnya.
Arhes yang refleks menoleh ke belakang, membuat posisi kakinya sedikit berubah. Awalnya memang rumput......tanah berumput biasa, tapi tat kala tapak sepatunya menyentuh tanah yang sengaja di beri garis yaitu hanya tanah yang di gores dengan ranting, seketika itu tanahnya langsung amblas.
BRUAAKK.........
"...........! " salah satu kakinya oleng pada tanah yang tiba-tiba kosong itu, membuatnya kehilangan keseimbangan dan hendak jatuh ke belakang, tapi......
GREP...........
Satu tangan kecil itu tiba-tiba mencengkram baju putih Arhes agar tidak terjatuh ke dalam lubang sedalam 1,4 meter itu.
Tapi semuanya beruubah, hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Baju di pakai Arhes langsung..
SHRAKKK........
".............! " Robek dalam detik itu juga!.
[ Apa....kenapa bisa, tiba-tiba ada lubang?. ] Arhes yang refleks meraih tangan orang yang masih berdiri dengan sobekan kain di tangannya ( Dania ), jadi ikut terbawa dengannya.
" Kau!. " Awalnya sudah selamat tidak ikut terbawa masuk, karena masih bisa menyetabilkan posisinya saat menangkap, menahan Arhes untuk tidak terjatuh, tapi karena tiba-tiba robek...seketika itu pula tangannya di gapai oleh Arhes, membuatnya kehilangan konsentrasi dan ikut masuk ke dalam lubang dan hasilnya adalah....
BRUUKK.......
Setelah bunyi tanah yang amblas, kini di susul oleh suara tubuh yang terjatuh.
" Ahh.........., kenapa bisa tanahnya tiba-tiba amblas. " rutuk Arhes dengan punggung menghempap permukaan tanah secara kasar
" Kenapa malah menarikku?. "
Sebuah gumaman lembut menyapa Arhes.
Setelah bergumam, sebuah perubahan terjadi...yaitu tepat di detak jantung.
Dag.....Dig....Dug........Dag...Dig........Dug.......
Durasi dantung yang sedemikian cepat, tapi dari pada itu......
Aroma maskulin menyeruak masuk, mengacaukan indera penciumannnya dan pikirannya.
__ADS_1
" Ini........suara jantungku atau jantungmu?. " Malah dengan santainya, Dania bertanya sambil mendengarkan detakan jantung Arhes dengan lebih seksama.
"...............!. "
Mata Arhes langsung membelalak lebar, penampakkan pertama yang di lihat oleh ke dua matanya adalah sebuah kepala dengan rambut coklat ada di atas dadanya.
" K-k....kamu....." kepala itu ikut naik turun seiring dirinya ( Arhes ) bernafas, membuat Arhes semakin tercekat dengan situasinya saat ini.
Dan deru nafas yang terasa panas, menyentuh kulit dadanya....
" A-apa yan terjadi....?. " tidak bisa berpikir dengan jernih, pertanyaan itulah yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Sang pemilik kepala segera menangkat kepalanya dan menjawabnya.
" Bukannya kamu yang menarikku?. "
[ Sepertinya aku pernah berada di poisi seperti ini dengan seseorang. ] fikirnya, tapi tidak ada ingatan dengan siapa?.
[ Apa otakku sedang eror?. ] Dania langsung mengernyitkan matanya, dan ke dua tangannya tiba-tiba mencengkram sisa baju Arhes yang masih terpakai.
Dia menyadarinya, jantungnya berdebar, cepat.......juga tidak bisa dia kontrol.
[ Hahh.....aku perempuan normal, jadi berdebar seperti ini harusnya waj-........]
"..................?. " menyadari Arhes terilhat terbengong dengan ke dua telinga memerah, Dania jadi bertanya-tanya.
[ Dia kenapa seterkejut itu?. ]
[ Kenapa dia tidak turun dari tubuhku?, dan malah menatapku seperti itu?. ] Arhes tidak tahu harus berbuat pa di saat seperti ini, perempuan ini, karena kesalahannya sendiri, secara refleks menarik perempuan ini jadi akhirnya jadi ikut terjatuh bersama, tapi sekarang.......
Dania yang sedang duduk di atas perutnya Arhes malah memasang wajah polos seperti tidak menyadari keadaan gawat darurat, yang bisa membuat orang lain menjadi salah paham.
Dari wajah, pandangannya turun ke bawah, dia..benar......gadis ini duduk seenak jidat seperti sedang duduk di atas kuda dengan begitu santainya.
Apa arti dari posisi yang sangat...sangat mempengaruhi fisik dan pikirannya Arhes sekarang ini?!.
[ Ho....dia punya otot perut yang bagus. ] Dania tersenyum penuh arti, dan tanpa sadar jadi tertarik dengan ke dua tangannya yang menyentuh bagian perut dari pria ini.
Dan ketika itu pula, ekspresi wajahnya yang di penuhi rasa ketertarikan, lantas membuat Arhes makin tercengang.
" Saya mohon cepat turun. " ucap Arhes dengan begitu berat hati, sampai-sampai lengan kanannya sengaja di taruh ke atas wajahnya untuk menutupi sepasang matanya.
Bagaimana tidak?.
Godaan seperti ini, dia sedang menahannya......hasrat itu, ya....jika dia ( Dania ) bergerak sembarangan lagi, entah apa yng akan terjadi, pasti sudah pasti akan jadi tontonan yang menarik untuknya.
" .............., pasti berat ya?. "
[ Ya!, berat sekali. Aku harus menahannya. ] dengan sekuat tenaga, Arhes harus mendinginkan kepalanya.
Padahal perkataan Dania bukan itu, bukan ucapan menggoda di penuhi nada mencibir, tapi berat karena berat badannya. Sebab akhir-akhir ini dia ( Daniai ) sering makan, jadi berpikiran dalam kurun waktu ini, berat badannya naik.
" Tunggu sebentar. " kata Dania, mencoba berdiri, tapi roknya tersangkut!.
[ Kenapa juga harus nyangkut, jjka bukkan karena nenek itu, aku tidak akan mau memakai rok. ] tapi karena alasan, banyak gaun yang di beli, jadi sangat di sayangkan jika tidak di pakai?.
[ Aku harus memikirkan gaun yang sangat mungkin, jarang aku pakai. ]
Di jual adalah salah satu solusinya, karena bagaimanapun dirinya adalah orang yang aktif bergerak ke sana-kemari, jadi sangat merepotkan jika memakai pakaian yang menghalangi aktivitasnya.
Arhes juga menyadari usahanya, usaha Dania untuk melepaskan satu benang yang tersangkut ke ikat pinggangnya?!.
" Tidak...tunggu. " Arhes yang terkejut langsung bangun, tidak mungkin dia akan membiarkan perempuan ini melakukan hal tersebut, jadi Arhes menghentkan perbuatannya dan akan melepaskan benang renda yang tersangkut itu.
Dania yang mendapatkan respon Arhes seperti itu, secara spontan mundur ke belakang, bukan....tapi duduk di pangkuannya?!.
Jika di pikirkan justru akan semakin aneh, dua orang lawan jenis saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat, sudah cukup untuk melanjutkan adegan berikutnya!.
[ Tidak...tidak..tidak....pikiranku sudah cukup kotor. ] mencoba membuyarkan imajinasinya itu, Dia berusaha untuk mengambil cara lain, sebelum ada orang yang lihat?, telat.....sebenarnya sudah ada satu dua orang yang melihatnya. Tapi tidak mau lebih lama lagi, Dania mulai melepaskan pengait yang letaknya ada di belakang pinggangnya.
" Kamu....jangan salah paham. " tuturnya dengan sedikit ragu, dan pengait yang ada di belakang rok pun terlepas.
" Tunggu, anda mau melepaskan r-......."
Tapi akhir ayat yang menggantung itu, di buktikan dengan rok yang sudah terlepas dari pinggangnya Dania.
Tidak seperti yang di bayangkan oleh Arhes, bahwa di balik rok yang di pakainya juga memakai sebuah dalaman, itu jauh di luar ekspetasi, Dania memakai celana ketat berwarna coklat.
" Jika bukan karena nenek Marsha, aku mana mungkin memakai rok. " ketusnya, lalu berdiri dari pangkuannya Arhes, dan menunggu orang ini selesai dengan pekerjaan kecilnya.
" Begitu ya?. " Arhes tersenyum tawar, dan berhasil melepaskan rok renda yang tersangkut tadi.
" Maaf. Jika bukan karena menarik tangan anda, mana mungkin hal ini terjadi. "
Karena berada di dalam istana, cara bahasa yang di gunakan sepenuhnya berubah menjadi formal.
" Hm..sudah seharusnya. " Memang, jika bukan karena Arhes yang tiba-tiba menarik tangannya, mana mungkin dirinya jadi ikut terjatuh dan masuk ke dalam pelukannya.
" Tapi.........itu. " Dania menunjuk ke pakaiannya Arhes, yang robek itu.
[ Kejadian yang mantap sih, tapi bisa jadi aku di gosip sebagai penyerang seorang kesatria Arhes dengan agresif. ] dengan artian ke arah sana.
"..................!. " Sadar kembali kalau dadanya sudah ter ekspose, Arhes segera menunduk lalu pergi begitu saja. Dia sudah tidak tahan dengan situasinya yang tidak bisa dengan mudahnya membuat sebuah alasan.
Di tinggal pergi, Dania bertanya-tanya.
" Dia membawa rok ku. " Karena ke buru jauh, Dania jadi memmbiarkannya dan hanya terfokus pada dirinya sendiri tentang tadi. Dia menyunggingkan senyuman, kejadian langka hampir saja melewati batas.
" Tidak..........aku tidak akan sampai begitu. " menegarkan hatinya, bahwa dirinya tidak akan melakukan hal layaknya wanita yang tinggal di rumah bordil.
*********
"........................."
Everst yang sudah di tinggal pergi oleh dua wanita kakak beradik itu, kini sedang menatap kolam cermin. Melihat peristiwa yang baru saja terjadi antara Eldania dengan Kesatria bernama Arhes.
Satu hal yang terlintas di kepalanya membuatnya terus terdiam tanpa memngucakan sepatah kata ataupun gumaman, meski di sampingnya ada makhluk kecil bernama Pici sedang menemaninya duduk.
" Pi.......pi....."
"......................"
Apalah arti dari melihat perempuan yang muncul di permukaan kolam ini, habis melewati masa terdekat mereka, sebagai jarak antara seorang perempuan dan laki-laki.
Everst sangat menyangkan hal itu, menyayangkan kalau Dania membiarkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan pria bernama Arhes itu.
Semakin datar, sorotan matanya pun semakin dingin.
Everst, dia terbang dan mendarat di atas kasur yang lebih empuk ketimban sarang itu. Dia segera duduk, alias merebahkan tubuhnya ke atas kasur, dia akan beristirahat sejenak, dan bisa di jadikan bahan pikirannya.
Apa yang akan di lakukannya untuk dua hari ke depan dan setelah melewati hari itu, itu yang menjadi prioritasnya terlebih dahulu.
Dengan kata lain, pertemuan seperti apa yang akan di lakukannya saat menemui perempuan ini setelah dua hari ini berlalu?.
__ADS_1