Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Surat


__ADS_3

Eldania 170


Semua pekerjaan, dari mengawasi wilayah perbatasan, meningkatkan pengamanan dengan menambahkan pasukan di daerah yang rentan terjadinya penyusupan dari bangsa iblis, semuanya sudah terurus dengan baik.


Tak terkecuali bangunan-bangunan yang hancur, kerusakan kecil hingga besar yang terjadi di tengah kota setelah kejadian masuknya iblis, semuanya sudah kembali di bangun dan sudah dalam kondisi seperti sedia kala.


Itulah kehebatan dari adanya sihir, semuanya bisa di kerjakan dengan sedemikian cepat dari waktu yang seharusnya.


Dan diantara kesibukan yang kian mereda itu, tentu saja ada satu orang dengan santainya kembali menikmati waktunya dengan berkeliling kota, melihat sudut kota yang pernah dia rusakkan itu.


Dania memang berjalan seorang diri, tapi semuanya selalu sirna ketika si Raya ini tiap pagi menemuinya. Seperti sekarang saja, dia bertengger di bangku taman dan mengejutkan para pejalan kaki yang baru sadar kalau wujudnya itu bukanlah patung, tapi betulan burung asli yang berdiri layaknya patung.


Atau bisa di kata sebagai patung hidup.


" ............. " Dania melirik ke arah sebelahnya, Raya memang berdiri di situ, entah apa yang sebenarnya dia inginkan, membuatnya jadi sempat berpikir kalau dia ini jadi seperti perangko.


Dania terdiam, sambil mengunyah roti yang baru di belinya, namun Raya meliriknya seakan dia juga menginginkannya.


Tapi ketika di tawari, Raya hanya menggeleng kepala.


[ Tentu saja.....karena dia bukan seperti Everst. ] Dania kembali makan.


Dari sini dia sadar, kalau Raya memang berbeda jauh dengan Everst.


Raya bisa berdiam diri tanpa bicara, dan memakan apa yang seharusnya jenis burung ini makan, tidak seperti Everst yang banyak bicara, mengatur, tapi kadang kala minta makan makanan manusia.


Kwak....Kwak.... { Apa kau masih bersedih?. }


Dania tersenyum lemah sambil menjawab.


" Ternyata burung sepertimu perhatian dengan ekspresiku. " Tapi pandangannya tetap tidak teralihkan dengan air mancur yang menghiasi taman tengah kota ini.


Kwak....Kwak.... { Bukan perhatian, tapi kasihan. }


" Bukannya itu sama saja?. " persetan dengan pandangan orang lain yang menatapnya dengan tatapan merendahkan 'dia bicara dengan burung' layaknya orang gila, dia tidak peduli lagi tentang itu.


" Dan jujur, aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk jika tetap seperti ini. "


Tentu Dania ingat dengan kejadian terakhir kali itu, dia mengirimkan langsung Raya ke kediaman Ishid dengan memasukkannya ke dalam karung. Itulah yang terjadi jika burung ini membuat onar dengannya, tapi jika tetap seperti sekarang, bisa mengobrol dan di ajak kerja sama, maka dia tidak akan memperlakukannya dengan buruk.


kwak..........{ Kau keterlaluan. }


" Mana yang lebih keterlaluan dari burung sepertimu masuk ke dalam kamar seseorang?. "


Kwak.....kwak........{ Itu karena ulah peliharaanmu, mengambil makananku. }


" Dia yang mengambil, kenapa juga targetnya aku?. Everst bukan burung yang punya tempat tinggal sepertimu. Jadi tidak usah mencarinya apalagi masuk ke dalam kamarku. " jelas Dania.


Dania bisa mengbrol dengan burung ini, ini lah perasaan Deja Vu-nya.


" Duduklah. "


Raya memirngkan kepaanya, tanda bingung.


Kwak?. { Kenapa duduk?. }


Dania menekan tubuh Raya agar duduk.


" Aku bilang duduk, ya duduk saja. "


Tubuhnya yang di tekan kuat oleh tangannya Dania, Raya jadi tidak bisa berkutik. Dia pelan-pelan melipat kakinya dan berakhir dengan duduk.


{..............! } Raya aegera menoleh ke samping kirinya, saat mendapatkan tubuhnya tiba-tiba menjadi berat itu karena ulah perempuan ini.


Rupanya perempuan ini menjadikan tubuhnya Raya sebagai bantal tidurnya.


Kwak...!


Raya mulai protes, merasa tidak sudi sebagai bantal tidurnya perempuan ini.


Tubuh kekarnya dan indah seperti ini, masa digunakan sebagai bantalnya?.


Apa yang dikatakan mereka?.


Raya mulai mendegar sedikit suara ribut dari burung kecil, dan itulah keributan mereka sedang menertawainya.


" Diamlah.." Menahan tubuh Raya agar tidak banya bergerak.


Sedangkan di satu sisi..


Cip.....cip....cip...... { Lihat itu, burung sebesar itu mau di perintah oleh manusia. }


Cip...cip....{ Hahaha...ini pemandangan yang menarik. }


Cip....cip..cip...cip....{ Manusia itu pasti menganggap burung itu sebagai pengganti burung sebelumnya. }


Percakapan di antara 3 burung kecil yang sedang beridiri di tepi kolam air mancur pun terjadi.


Tapi semuanya langsung kabur setelah ada 4 burung Dara tiba-tiba mendarat di dekat mereka.


Kurr...kurr....{ Pergilah dari wilayahku. } perintah burung Dara ini pada ke tiga burung kecil yang sudah pergi terbang.


Setelah perintah itu, puluhan burung Dara yang sedari terbang menunggu ketuanya mengusir 3 burung kecil itu, akhirnya mendarat.


" Khekk............"


Suara tawa seseorang, warga burung Dara langsung mencari ke sember suara, dan yang terlihat hanya satu burung besar sedang duduk sebagai bantal tidur seorang manusia.


Dania, dia memutar tubuhnya memunggungi mereka semua, sedang menahan tawanya yang sedari tadi di tahan.


Dia tertawa karena lucu saja, saling usir mengusir...


Kurr.....Kurr....kurr...{ Apa barusan aku mendengar suara tawa?.. }


Tanya burung Dara ini pada yang lainnya.


Kurr....{ Aku juga mendengarnya. }


" Mama....saatnya beri makan burung.! " teriak bocah perempuan sambil berlarian menuju kumpulan burung tersebut.


KEPAKK....


Semuanya langsung kabur menghindari bahaya manusia ini, karena tiba-tiba muncul.


" Tuh kan....burungnya jadi kabur semua, jangan membuat mereka kaget. " peringat wanita ini pada anaknya yang berlarian ke sana kemari, membuat burung Dara yang hendak di kasih makan itu, pada kabur semua.


" Tapi ini menyenangkan ma.." jawab anak ini, mengambil bungkusan kain coklat dari tangan mamanya, membukanya lalu mengeluarkan isinya sedikit demi sedikit untuk di sebar, agar semua burung Dara itu mendarat dan memakan makanan yang dia bagi.

__ADS_1


" Menyenangkan, betapa gilanya kan?, aku bisa mendengar mereka bicara termasuk kau. " tiba-tiba perempuan ini membuka suaranya setelah gelakan tawa yag dari tadi tertahan.


Bisa mengerti percakapan anatara binatang, itulah yang menjadi kegilaannya.


Mau di hiraukan, tapi percakapan di antara mereka yang kadang lucu, membuatnya kadang kala membuatnya menjadi tertawa sendiri.


Tapi itu hanya sebagian kecil saja, karena diantaranya banyak ucapan yang tidak berguna, yang tak lain pertengkaran karena kekuasaan wilayah mereka.


Kwak.........


" .................... "


Tapi semuanya kembali hening, tidak ada percakapan di antara mereka lagi, selain suara para pengunjung yang berlalu lalang di taman.


[ Tetap saja berbeda. ] yah...apa pun itu, Dania berusaha memejamkan matanya.


Sedangkan di jarak 30 meter dari tempat dua makhluk itu sedang tertidur, berdirilah seorang perempuan berambut perak sambil mengamati mereka berdua dari kejauhan.


" Dia. "


" Ada apa Cania?. " Tanya Yunifer pada Cania yang baru menyadari kalau temannya ini tiba-tiba berhenti dan mengamati sesuatu di ujung sana?.


Yunifer lantas mengikuti kemana arah tatapan Cania berada.


" Hmm...?, bukannya itu........."


[ Burungnya Ishid!?. ] Yunifer terkejut dengan keberadaan dari burung yang di kenalinya itu.


Lain hal dengan Cania, yang terfokus pada seseorang yang tertidur itu.


Tidak salah lagi, si pemilik dari rambut coklat..


[ Aku dengar dia tinggal di istana Scnaider, adik angkat dari yang mulia Archduke. Apa perempuan itu selalu bertingkah seperti iitu?. ]


Cania memang tidak begitu banyak menemukan informasi tentang perempuan itu, jadi Cania hanya bersikap apa danya saja jika bertemu dengannya suatu saat nanti.


[ Kenapa...dia di situ?. Dan siapa yang tertidur di sebelahnya?. Aku kira....] Semua kalimat di pikirannya langsung menghilang setelah Cania tiba-tiba mengacaukan pikirannya dengan..


" Sudah jam 9....." Ucap Cania, berusaha mengalihkan Yunifer agar tidak terpaku dengan dua makhluk yang sedang tertidur itu.


" Jam 9!. " Yunifer berbicara sedikit dengan nada keras.


[ Tidak ada waktu lagi.....] fikirnya, lalu Yunifer langsung menarik tangan Cania agar mengikutinya.


" Yunifer...kenapa menarikku?. "


" KIta harus belanja sekarang, sebelum tokonya penuh. " jawab Yunifer, mencengkram pergelangan tangan Cania, agar tidak tertinggal di belakang.


[ Penuh?. ] Cania tidak mengerti toko mana yang Yunifer maksud ini, tapi tetap berusaha mengikuti kecepatan langkahnya Yunifer.


[ Aku sudah janji mau membelikannya kue, hari ini dia kan ulang tahun. Tapi tokonya selalu penuh dengan antrian. Aku harus cepat sebelum antriannya bertambah panjang. ] Rencana di balik jalan-jalan santai bersama Cania, itulah yang di pikirkan oleh Yunifer.


Dari satu sisi, dirinya mengajak Cania agar ikut berjalan-jalan bebrsama sebab janji yang waktu itu, namun di sisi lain ia harus membelikan sebuah hadiah untuk Ishid.


Sebagai kejutan ulang tahunnya nanti.


*******


" Menurutmu bagaimana?, apa kita harus mengundangnya lagi?. " Menyerahkan satu undangan dengan cap khusus dari pasukan kesatria pada anak buahnya yaitu MIkhail.


" Jadi menurutmu, dia akan datang jika berurusan dengan hal seperti ini?. " Tassel, menimbang-nimbang lagi isi dari surat undangan yang sudah d buatnya itu untuk Dania yang tinggal secara khusus di istana Scnaider itu.


Isinya adalah pemanggilan untuk datang ke markas pasukan kesatria With Night.


Alasannya tertulis untuk pertemuan penting, yang berkaitan dengan kejadian penyerangan pasukan iblis.


" Iya, saya jamin dia pasti datang. " Mikhail mendukung atas rencana dari yang mulia Tassel ini.


" JIka menurutmu itu cara yang bagus, maka kirimkan undangan itu ke sana. "


Mikhail hanya menjawabnya dengan senyuman, lalu bergegas pergi meninggalkan ruang kerja majikannya ini.


Yang di tinggal, memikirkan kembali atas undangan yang dia kirimkan minggu yang lalu.


Dia menerima sebuah penolakan lisan yang di wakilkan pada sang Archduke sendiri.


[ Sampai Archduke sendiri yang membuat pernyataan penolakan. apa mereka punya hubungan sedekat itu?. ]


Sementara itu, Kesatria Mikhail mulai berjalan ke satu tempat, mencari orang yang tepat untuk mengantarkan surat ini ke kediaman Scnaider.


[ Kira-kira apa maksudnya yang mulia terus-terusan ingin dia datang ya?. ] Sambil di buai pikirannya karena yang mulia terlihat terobsesi dengan perempuan itu, ada satu pintu yang tiba-tiba terbuka dan orang itu tiba-tiba keluar tanpa langkah kaki yang berisik, membuat Mikhail tanpa sengaja jadi...


BRUKK....


Tabrakan tadi juga tanpa sengaja membuat surat yang ia pegang jadi terjatuh ke lantai.


" Eh....maaf. " langsung meminta maaf, setelah menabrak seseorang yang tiba-tiba keluar.


Mikhail langsung membungkuk dan mengambil amplop miliknya.


" Kelihatannya terburu-buru sampai menabrak orang. " ikut mmengambil amplop yang tadi terjatuh karena Mikhail menabraknya, dia yang juga pnya urusan mendesak, langsung pergi begitu saja.


Bahkan di saat Mikhail baru menyadari kalau yang tadi dia tabrak adalah Ishid.


[...............! ]


orang itu sudah pergil lebih dahulu sebelum mereka bertatap muka.


[ DIa juga terlihat terburu-buru. ] batin Mikhail, di hari yang sama di jam yang sama pula, punya kasus yang ikut sama-saa juga.


Apa itu sebuah kebetulan belaka?.


" Revin!. " Panggil Miikhail yang secara kebetulan melihat temannya datang sendirian.


" Ada apa?. " Revin bertanya, sesaat setelah tadi namanya di panggil.


" Antar surat ini ke kediamannya Archduke. " pinta Mikhail kepada temannya itu.


" Lagi?. " Pasalnya minggu lalu ia juga di beri perintah yang sama, tapi kali ini lagi.


" Itu perintah, bawa saja. Tugasmu hanya mengantarkannya dengan selamat, tidak susah juga kan?. "


" Baiklah. " menyimpan amplop itu ke dalam seragamnya, Revin pun melaksanakan misinya itu.


Dari pada tidak ada pekerjaan, ini lebih mudah di lakukan, dan setidaknya bisa jalan-jalan sebentar.


*********

__ADS_1


TOK.......TAK..........


TOK........TAK.......


TOK.......TAK.......


Suara dari tapak kaki kuda mengisi keheningan di perjalanan pulangnya. Hari yang sudah menjadi sore, tidak membuatnya berhenti terus memikirkan satu hal yang terjadi dengan gadis itu setelah kepulangannya dari kampung halamannya Arhes selama seminggu ini.


Dia merasakan sedikit perubahan yang terjadi pada gadis itu, diantaranya adalah...


[ Akhir-akhir ini, dia sering keluar sampai malam atau sekalinya tidak keluar, dia akan mengurung di dalam kamar. ]


Selain itu, ada yang lainnya juga, satu fakta yang sudah terlihat jelas, kalau orang yang sedang di pikirkan Archduke itu jadi jarang bicara, dan hanya bicara jika memang perlu saja, yang membuatnya jadi sosok yang terlihat lebih dingin.


" Hahh.........." menghela nafasnya dengan kasar, Archduke yang selama seminggu ini lebih sibuk dari minggu lalu, harus mencari tahu tentang perubahan yang terjadi pada perempuan itu secara prbadi, itu lebih baik untuk mengetahui alasan pastinya.


[ Aku sepertinya harus memanggil Arhes. ]


" Kamu lagi. " ucap satu kesatria yang menjaga gerbang utama istana Scnaider.


"..............! " Archduke yang tersadar dari segala pemikirannya langsung turun dari kereta kuda saat melihat ada tamu tidak di undah sedang berbicara pada anak buahnya.


" Ya...aku lagi, bosan yah melllihatku datang kesini. " jawab Revin dengan selamba, kebetulan sekali hari ini yang menjadi penjaga gerbang adalah salah satu temannya.


" Oh....kamu datang lagi. Aku rasa kamu jadi sering bertamu kesini. " sela Archduke, di tengah-tengah perbincangan mereka.


" Yang mulia!. " All.


Saat terfokus dengan Revin yang datang dengan sebuah surat di tangannya, Archduke langsung menyambar surat itu dari Revin ini.


" Apa ini surat lamaran untukku?. " sambil tersenyum ramah pada Revin, Archduke melihat amplop itu dengan lebih teliti lagi, membalik-baliknya, dan tidak ada yang terlihat istimewa kecuali satu cap yang menempel di amplop ini.


[ D-dia...archduke yang gila itu....] Sebuah candaan aneh yang hanya bisa dia dengar dari satu orang berpangkat di bawah raja ini.


" Bukan. " jawab Revin dengan singkat.


" Kalau bukan apa ini surat untuk cintaku?. " goda Archduke lagi. Dia sangat senang jika mempermainkan atas pembicaraan yang seperti ini, jadi tidak ada kesan kaku diantara mereka.


[ Hadeh.......kenapa anda selalu berkata seperti itu. ] fikir kesatria penjaga gerbang ini.


Dia sebagai bawahannya sekalipun tetap tidak mengerti kenapa majikannya ini selalu bisa membuat candaan seperti itu.


" A-apa yang anda katakan tadi?. C-cinta?. " Revin tercengang dengan ungkapan cinta yang di lontarkan oleh mulut Archduke malah terdengar lebih mengerikan dari yang seharusnya.


" Apa maksudnya itu, dia?. " Revin menunjuk pada satu orang perempuan yang baru pertama kali dia lihat, bisa melihat Dania memakai baju normal layaknya perempuan pada umumnya.


[ Tapi dia pergi jalan kaki!?. ]


Satu masalah lainnya, dia perempuan tidak normal yang lebih memilih berjalan kaki ketimbang naik kereta kuda.


Lalu yang di tunjuk Revin...


Dengan wajah polosnya, gadis ini memiringkan kepalanya setelah melihat ada satu orang yang tiba-tiba saja menunjuk ke arahnya.


[ Apa mereka sedang membicarakanku?. ] Masih tetap berjalan, tapi dia memilih mendekati mereka semua yang entahnya, berkumpul di depan gerbang.


" Kamu sudah pulang?. " tanya Archduke.


Dania mendehem sebagai tanda iya, malah lebih tertarik dengan amplop itu ketimbang melihat reaksi wajah mereka semua.


Archduke yang menyadari ketertarikan perempuan ini pada amplop yang sedang dia pegang ini, segera menyerahkannya kepada si penuju surat, tak lain jika amplop ini bukan untuk dirinya, maka untuk gadis ini.


" Ada surat lamaran untukmu. " Celetuk Archduke, kembali memulai dramanya.


" Apa?. Lamaran?. " Dania melirik ke arah satu-satunya orang asing yang pasti adalah yang mengirim surat ini.


" A-aku jadi malu. " menutup separuh wajahnya yang malu, lalu Dania kembali berkata.


" Aku kira kamu tidak tertarik denganku. " dengan entengnya menjawab akan alur drama yang di buat Archduke ini.


" Kau...s-siapa yang bilang aku melamarmu?!. " Lain dengan ucapannya, wajahnya Revin terlihat tersipu di tambah salah tingkah sendiri.


" Dia.." Tanpa melihat wajah seseorang yang sedang dia tunjuk, jempolnya mengarah pada Archduke sendiri.


Dania menatap amplop itu penuh dengan makna, seperti seseorang yang memang menunggu satu lamaran dari seorang laki-laki.


" Ini....aku pertama kalinya bisa menerima surat lamaran, jadi terima kasih. " tuturnya, dia kemudian menyunggingkan senyuman.


Senyuman yang terukir karena sebuah imajinasi berlebih yang sedang Dania pikirkan.


Kata seandainya yang sering terngiang di kepalanya.


Seandainya memang benar ada yang melamarnya, dia akan sangat-sangat menghargai ungkapan cinta itu dengan sepenuh hati, apa lagi jika orang itu adalah seseorang yang memang Dania sukai juga.


Itu adalah satu anugerah yang paling ingin dia dapatkan, namun apakah akan terjadi?.


Revin yang terus memperhatikan reaksi wajah perempuan ini yang begitu serius dengan ucapannya, hanya terdiam.


[ Dia..terlihat serius. ] Dan kebetulan dirinya sedang jomblo.


[ Sampai berterima kasih padaku?. ] Wajahnya separuh tidak enak hati melihat perempuan ini seperti memang sedang mendambakan cinta yang berujung lamaran.


Revin jadi terpengaruh dengan situasi itu, sampai-sampai semuanya jadi buyar ketika yang mulia Archduke mengelus-elus kepalanya Dania.


[ Tidak-tidak......aku laki-laki yang tidak suka perempuan tomboy seperti dia. ] berusaha mengalihkan pikirannya tentang bisa bersama dengan perempuan ini.


Revin memberikan salam perpisahan dengan sopan pada mereka berdua dan kembali menaiki kuda.


" Anda berdua......" sedikit terkejut dengan pemandangan itu.


Dania segera menepis tangan Archduke yang masih saja mengelus kepalanya.


" Sudah selesai. " Jujur saja, Dania merasa nyaman jika kepalanya di elus-elus seperti itu.


Tapi demi menjaga citranya, dia tidak mau di perlakukan seperti itu lama-lama.


" Dan aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. " Dania menjawab ungkapan satu kesatria itu.


Tidak mempedulikan pandangan mereka semua, Dania kembali berjalan kaki memasuki gerbang sambil membuka amplop yang sebenarnya dari tadi itu di buat penasaran.


"...............! "


Satu kebetulan yang aneh, Dania mengerutkan dahinya, satu hal yang membuat dirinya sedikit terkejut dengan isi suratnya.


[ Ini......memangnya ada urusan apa lagi denganku?. ] batinnya.


Satu perasaan bahwa semuanya sudah berakhir setelah menyesaikan surat perjanjian itu. Dan imbalannya adalah ratusan keping emas sebagai gajinya.

__ADS_1


__ADS_2