Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 27 ( Perjalanan Baru )


__ADS_3

Di hari yang sama.


Dania dan Arhes kembali ke istana, dan karena Arhes mengambil cuti tahunannya untuk menjenguk adiknya yang ada di desa, Arhes menerima izin tersebut dari Komandan Calporth.


Dan untuk membantu perjalanannya, Calporth membantunya dengan memberikan izin menggunakan teleportasi, hanya saja penggunaan teleportasi yang bisa mereka lakukan hanya mencakup separuh perjalanannya saja.


Dengan diberikan 2 kuda, Dania dan Arhes memulai perjalanannya.
















































__ADS_1






Tok...


Tak....


Tok....


Tak....


Tok....


Tak...


Langkah kaki kuda yang menapak ke jalanan bertanah itu menjadi pemecah keheningan mereka.


Arhes memimpin perjalanannya, sedangkan Dania mengambil langkah untuk mengikutinya saja.


Karena tidak ada topik pembicaraan yang bisa di bicarakan oleh mereka berdua, membuatnya hanya penuh dengan kecanggungan.


" Ngomong-ngomong, adikmu perempuan atau laki-laki?. "


" Perempuan. "


" Penyakitnya?. "


" Tidak tahu, aku masih belum bisa membawanya ke kota, selain perjalanan yang jauh, mereka harus tinggal di mana?. "


Mengingat bahwa harga untuk menyewa kamar sangatlah lumayan, belum lagi untuk pengobatan.


" Baru kali ini aku pulang setelah 1 tahun pergi. "


".................."


[ Dia bisa curhat dengan mudah, apa yang harus aku katakan?. ]


" Berapa usianya? "


" 15 tahun. Bibiku yang menjaga adikku. "


[ Lalu orang tuanya?. ]


Dania tidak pernah mengira, bagaimana rasanya punya kakak laki-laki yang perhatian?.


Apakah rasanya sangat jauh berbeda dengan kakak angkat?.


Lalu perjalanan mereka pun terus berlanjut, untuk memotong waktu tempuh, Arhes memberitahu sebuah jalan pintas, tapi yang harus dijadikan acuan untuk terus waspada jika lewat jalan pintas itu karena ada bahaya yang ada di sekitaran jalan tersebut.


Maka dari itu Dania memilih jalan tercepat saja, toh sudah banyak bahaya yang sudah sering di hadapinya.


" Kacang...kacang. "


[ Desa Irshin adalah desa yang terletak di wilayah utara kekaisaran, jika menurut informasi yang aku dapat, sebenarnya bahaya lewat jalan pintas ini karena sering ada perampok. ] sudah tidak jadi rahasia lagi bagi Dania yang sudah membaca sebagian buku di perpustakaan kota, fakta di balik tiap desa yang katanya ada kutukan lah, atau desa yang terkenal dengan desa budak.


Ia peroleh dan ia tahu dari apa yang ia baca dan ia dengar. Ada keuntungannya Dania yang pagi-pagi buta atau tengah malam keluar istana ke jalanan ibu kota hanya sekedar jalan-jalan, ia jadi memperoleh banyak informasi.


Ia lakukan hanya sekedar untuk ke isengan belaka, dan hal dasar untuk mengetahui seluk beluk tempat yang di tinggalinya.


Kembali ke cerita.


Dengan kecepatan 40 Km/jam, mereka menunggangi kuda dengan kecepatan itu kurang lebih sudah hampir satu jam. Dan matahari sudah mulai berada di atas kepala, cahaya yang cukup terik untuk membuat semua orang termasuk hewan dan tumbuhan sekalipun membutuhkan air untuk minum.


Arhes menghentikan langkah sang kuda, dan turun dari pelana.


" Apa sudah sampai?. " Dania malah bertanya sambil celingukan di tengah hutan, yah mungkin saja rumahnya memang ada di dalam hutan.


" Apa anda tidak lelah dan haus?. "


Dania yang tersenyum tawar menjawab dengan pelan.


" Ah.., begitu. Aku belum cukup haus, tapi aku akan minum. " ia memutuskan turun dari atas kuda dan tangannya pun mengambil kantung air yang ada di dalam tas yang ia bawa.


" Minum jika mau minum. " dan berbisik kepada sang kuda karena kebetulan di depan ada sungai kecil.


Gluk......Gluk......Gluk.....Gluk........


Dua makhluk aneh terlihat di mata Arhes, si manusia sedang minum dan sang hewan dengan nama kuda juga ikut minum.


" Apa kau mau?. " menawarkan pisang kesukaannya kepada Arhes.


Tapi Arhes menggeleng pelan, jadi Dania menawarkannya pada si kuda.


[................]


" Kita istirahat setengah jam. "


Dan hanya dibalas Anggukan oleh Dania, karena mulutnya berisi buah pisang.


[ Aku terpaksa berhenti meski baru 3 jam perjalanan karena dia perempuan, yang mungkin saja sudah lelah tapi tidak mau memberitahuku. Tapi reaksinya justru seperti.... ]


' Aku belum lelah. '


Saat menjawab kalau dia dirinya ( Dania ) belum merasa haus.


Tetapi, toh...yang namanya perjalanan panjang tidak harus dipaksa sampai secepat mungkin meski sudah memotong jalur, dan melihat kalau nona itu menikmati istirahatnya, jadi Arhes sengaja beristirahat selama setengah jam.

__ADS_1


___________


BRRRR.........


BRRRR........


{ Aku lelah.... } kata sang kuda yang baru saja mendengus.


Dania tahu batas maksimal tenaga kuda yang dinaikinya sudah hampir di ujung tanduk, Dania pun menghentikan kudanya untuk berhenti, dan ia turun dari kuda untuk mengurangi beban.


" Kenapa anda berhenti?. " saat Arhes sadar nona-nya tadi tertinggal, jadi terpaksa balik lagi.


" Aku bukannya mau menceramahimu, kau bisa bicara informal denganku aku bukannya nona atau majikan kalian, dan kamu juga terlihat lebih tua dariku kan, jadi tidak masalah. "


" .................. " Diberi peringatan seperti itu, memang ternyata adalah kesempatan bagus, karena pada dasarnya Arhes juga kurang suka berbicara formal.


" Baiklah jika itu keinginanmu. "


" Dan kenapa aku berhenti, karena ke dua kuda ini sudah terlalu lelah. " memberikan jawaban sekaligus peringatan untuk mengingatkan Arhes yang kelihatan sudah tidak sabar untuk sampai di rumah.


KRUYUUKKK~......


"................"


[ Tadi bukan suara dari perutku kan?. ] Dania membatin dengan hati yang cemas.


Matanya menatap wajah Arhes, melihat Arhes memalingkan wajahnya, ia jadi tahu kalau suara tafi berasal dari perut Arhes yang sudah tidak sabar minta di isi.


" Aku ingin istirahat. " ujar Dania sambil menuntun kudanya ke satu tempat yang memiliki banyak rumput dan kebetulan ada pohon rindang dimana di bawahnya ada genangan air juga rumput yang hijau.


" Aku akan pergi menangkap ikan. " ujar Arhes dan menitipkan kudanya pada Dania.


Seperginya Arhes, barulah kedua kuda itu...


{ Dia manusia yang gengsi. } kata kuda hitam yang dinaiki oleh Arhes tadi.


{ Pfft....kau tidak sebruntung aku, kau dikerjakan secara rodi oleh manusia itu. } kata kuda berwarna coklat.


Kuda pertama hanya meliriknya dengan tatapan malas.


" Kalian berdua, kelihatan teman yang akrab. " Sela Dania, ia menepuk-nepuk pipi kuda coklat, karena berani menertawakan temannya yang kelihatan lebih lelah darinya.


Kedua kuda itu menatap Dania secara bersamaan, wajah yang tampak polos di mata kedua kuda itu ternyata tidak sama dengan sifat aslinya.


{ Kenapa kau bisa bicara dengan kami?. } tanya sang kuda hitam, karena baru pertama kalinya ada manusia yang memahami perkataan mereka.


Dania tertawa bangga.


" Tentu saja karena aku berbakat. " singkatnya, dengan menyombongkan diri.


{....................} All, menatapnya dengan cuek.


" Begini-begini aku jadi bisa memperhatikan kalian kan?. " ujarnya lagi.


BRRR........


Masih saja dicuekkin, Dania memutuskan untuk pergi mencari sesuatu?.


Tidak, ia sedang mempersiapkan dirinya untuk.....


PRIITTTTTT.........


Bersiul kencang.


{ Hei, apa kau sednag memancing sekawanan serigala?. } tanya si kuda coklat.


" Apa?, memangnya disini ada serigala?. "


{ Mana ada hutan yang tidak ada binatang buas? } tuturnya lagi.


Mendengarnya seperti itu, ternyata kuda ini ada benarnya juga.


Tapi mau bagaimana lagi, ia ingin memanggil partner tak tau di untung ini, karena tiba-tiba sudah nemplok di bahu kanannya.


" Cepat banget. " gumamnya, karena merasa bahunya pegal.


Kwak....kwak...kwak...\= { tentu saja, artinya kau merindukanku kan?. }


" Terlalu PD. " jawab Dania dengan selamba.


{ Oh...itu temanmu?. } si kuda hitam merasa penasaran.


" Ya~... "


Kwak...kwak...kwak... \= { Kenapa tiba-tiba memanggilku?. }


" He~....kalau aku bilang beneran rindu bagaimana?. " sambil tersenyum mengejek.


" Tentu saja aku ingin memanfaatkanmu sebentar. "


Everst yang cuek karena ucapannya Dania tentang merindukannya hanyalah kebohongan, ia kini sedang bermain dengan bulu sayapnya untuk merapikan bulunya yang sedikit berantakan.


" Kau dengar aku tidak?. " merasa jengkel di cuekin oleh burung ****** ini.


Kwak?. \= { Apa?. } dengan kepala miring ke kiri.


" Ugh...... " karena tingkah burung yang seperti ini sangat menggelikan hati Dania, Dania tidak jadi marah dan justru membuatnya semakin gemas.


Dania menelan ludahnya sendiri, kemudian kedua tangannya menangkap tubuh Everst dan langsung...


MEMELUKNYA......

__ADS_1


" Ughh.....aku memang rindu padamu, menggemaskan sekali..huh..." sebagai orang yang sangat mencintai burung, Dania merasa dengan memeluknya, luapan rindunya akhirnya bisa tertumpahkan pada burung yang kadang pengertian ini.


__ADS_2