Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Serangan Kejutan.


__ADS_3

Reaksi------


.................................................


Pemandangan mengejutkan,ketika melihat mayat tepat didepan mata, terpotong, tersayat, tertancap panah.


Pemandangan orang MATI, artian yang sama namun dengan cara dan situasi yang berbeda.










































__ADS_1
























Matahari sudah terbit.


Salah seorang membangunkan orang yang tertidur pulas itu.


"Pendeta?"


Namun masih tidak dijawab.


"Pendeta Danie?,hari sudah pagi. Setengah jam lagi kita berangkat"


"Ermhh....?"sang empu langsung tersadar,dan segera bangun.


[Siapa yang memberiku selimut?] Mendapati selimut menyelimuti kakinya,lalu ia melipat selimut yang dipakainya dan meletakkannya ke kotak tempat selimut berada.


[Ternyata melamun api unggun, membuatku tertidur dan memimpikan mimpi dari memori yang berhubungan dengan api]


Terlihat juga beberapa kesatria suci baru saja pulang dari pengintaian mereka untuk meninjau medan.


Kalau tidak ada hal aneh,maka perjalanan tuk mendaki gunung bisa dilanjutkan.


Setelah merapikan dirinya sendiri,Danie mendapati Pangeran Elvin sedang menyapa pendeta Renesha.


[Sambutan yang mesra]fikirnya.


"Cepat bersiap pendeta Danie!,atau pemimpin akan menambah hukumanmu" tutur pendeta lainnya,mencoba memperingatkan.


"..........."


Disisi lain,tepatnya perbualan antara dua orang yaitu Elvin dan Renesha.


"Apa pendeta bisa tidur dengan nyenyak kemarin?" Elvin.


"Iya,apa kesatria juga tidur dengan nyenyak?"tanya balik Renesha sembari mengusap dagunya namun wajahnya sedikit memerah karena malu.


"Iya,aku bisa tidur dengan nyenyak. Tapi pendeta terilihat sedikit lelah"tanyanya lagi, dengan senyuman di bibir, senyuman yang disengaja dan terlihat sedang menyindir.


"Omong-omong, apa kesatria baru saja melakukan investigasi?, bukankah seharusnya prajurit lain?"Renesha


"Ah,jika aku yang mengomando,penyelidikannya akan lebih cepat selesai. Bukankah itu lebih baik dibanding mengoper komando pada orang lain dan waktunya jadi makin terulur?. Lalu aku juga harus cepat kembali,agar pendeta juga bisa cepat melewati gunung ini dan bisa beristirahat dengan baik"Jelas Elvin.


"Ah..iya,terima kasih atas perhatian anda"jawabnya dengan nada malas.


"Di bawah gunung ada vila peristirahatan yang dibangun penguasa sebelumnya,karena pendeta tidak bisa makan dengan baik beberapa selama hari ini,aku harap pendeta bisa menikmati jamuan dan beristirahat ditempat itu"jelas Elvin sekali lagi,memberikan sedikit informasi setelah mengamati medan yang akan dilaluinya.


"Iya,benar. Sepertinya itu akan enak sekali"tiba-tiba suasana hati Renesha berubah ceria.

__ADS_1


"Maka dari itu, jika kita bisa menikmati gunung dengan selamat,...........apa pendeta mau makan bersamaku?"tawar Elvin.


PRUUFFTTT...........(Danie Menyemburkan minuman yang sedang diminumnya)


"Apa aku tidak salah dengar?,apa pendengaranku terlalu tajam?"Danie mencoba menepuk-nepuk kedua telinganya sendiri, apakah hanya khayalan dari imajinasi lalu seperti mendengar sesuatu, atau pendengarannya benar-benar mendengar permintaan yang barusan diucapkan Elviniraz pada Renesha.


Padahal jaraknya lumayan jauh, tapi Danie tidak mengerti kenapa bisa mendengar pembicaraan mereka berdua dengan jelas, atau karena nalurinya sendiri yang bersuaha mendengar perbualan mereka jadi dia dapat mendengarnya dengan mengabaikan suara riuh dari orang yang lewat.


****


[Lelah sekali,mendaki gunung dan berjalan berhari-hari]


Berjalan mendaki gunung hampir menggunakan kedua tangannya juga.


"Kenapa ada satu pendeta di tengah-tengah barisan kelompok kita?"


Tanya salah seorang kesatria Kekaisaran, hari ini kelompok dari kesatria Nikhil Knights mengikuti di paling belakang.


"Saya.....benar-benar minta maaf,karena tertinggal dari kelompok saya sendiri"seketika kepalanya menoleh kebelakang, wajah berkeringat karena lelah.


Karena telat bangun, jadi tertinggal dari kelompok sesama pendeta.


"Tidak apa-apa pendeta~, saya senang pendeta ada di tengah pasukan kita, jadi anda tidak perlu khawatir"


"Iya, pendeta juga bisa menjadi penyelamat kita, jika sekarang anda disini terus"


"Ya"


[Ahaha...ada apa dengan orang-orang ini]


tersenyum tawar,melihat kelakukan para kesatria yang terlihat dibuat senang.


"Pemimpin memerintahkan kita beristirahat 10 menit" seru salah seorang di barisan depan.


[Akhirnya bisa istira...........]ketika Danie hendak duduk,tiba-tiba ada satu panah melesat melewati tepat di atas kepalanya.


"Hat.."melanjutkan ayat di pikirannya. Nyatanya dirinya karena lelah, jadi tidak menyadari akan ada kedatangan musuh.


"Ahhh......."


"Kita disergap!" teriak kesatria lainnya.


Salah satu kesatria tadi terkena anak panah tepat di dada.


[Darah..,jika seseorang terjatuh dengan darah merah terciprat diudara orang itu tidak akan bangun lagi.]secara otomatis darah dari orang tadi memang terciprat ke wajahnya Danie.


Ketika melihat salah satu kesatria tumbang tepat diepan matanya, memorinya mulai datang kembali, memori kelam dan sejarah hitam.


Tangan dan baju yang setiap malam pasti akan mewarnainya dengan warna merah oleh darah di kemeja putihnya.


Peluru yang selalu keluar dari pistol untuk memecah keheningan.


Mayat manusia tergeletak didepan dengan darah mengalir deras dari lubang kecil di dada korban yang ia buat.


Serta teriakan dari isakan tangisan karena rasa sakit, selalu mengisi gendang telinganya.


Ruang bawah tanah yang dingin dan di penuhi bau anyir selalu ia kunjungi untuk menginterogasi pelaku sekaligus akan menjadi korbannya di malam yang tenang itu.


Isi pikiran Danie mulai rancu dengan keadaan yang ia lihat sekarang ini, walau mati itu sama saja dengan hilangnya nyawa, namun kematian yang ia buat jelas berbeda dengan orang-orang disini. Darah yang menciprat keluar dan melayang diudara lalu jatuh ketanah karena sayatan besar yang dilakukan oleh sekelompok kesatria berpedang, itu adalah cara kejam namun dimata Danie terlihat lebih kejam dari pada dirinya yang dulu?.


Tapi setelah introspeksi diri, sekarang mulai sedikit tahu kalau dirinya dengan mereka terlihat sama saja, yaitu 'MEMBUNUH'.


Walau membuat nyawa seseorang melayang hanya demi kebaikan, maka hal itu tetap saja sama dengan yang namanya membunuh.


Tapi dalam kamus yang ada pada dirinya yang sekarang bernama Danie(nama baru yang sebenarnya Eldania)/ dulunya Alinda, maka isinya ada beberapa kalimat saja.


"Membunuh atau di bunuh"


Kembali ke cerita semula.--------


Danie masih ter syok kaget?, yah..sedikit terkejut ketika darah itu menyembur keluar ketika anak panah langsung tertancap pada tubuh seseorang.


Tidak seperti peluru yang akan masuk kedalam tubuh namun darahnya tidak menyembur,melainkan mengalir.


Tentu itu adalah pengalaman yang berbeda selama hidupnya.


"Pendeta!"


[ Benar,dalam kamusku hanya ada kalimat Membunuh atau dibunuh,disituasi perang justru itu adalah kalimat paling tepat]


Ungkap Danie lepas berpikir sesaat.


"Pendeta!,...pendeta berlindung dulu!"


Semua orang sekarang ingin menghabiskan tenaganya untuk saling menjatuhkan lawannya.


Suara pedang berdenting, suara yang dulu jarang pernah ia dengar, kini bisa ia dengar setiap hari.


Mayat yeng tergeletak lebih banyak dari bayangan, merupakan hal langka juga.

__ADS_1


__ADS_2