
Keheningan mulai terjadi lagi, dua orang yang berdiri saling memandang satu sama lain, cahaya yang redup tidak membuat pandangan mereka terbatas.
" Aku hanya ingin memanggilnya keluar. "
[ Kenapa bukan dia yang datang, apa dia penjaganya?. ] fikirnya, rencana agar membuat perempuan yang di targetnya itu keluar, sudah gagal, justru yang datang adalah orang ini?.
Siapa dia?.
Punya tinggi yang sama, tapi matanya dengan sorortan yang dingin itu seperti mata yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini.
Suara senyap sampai tidak menyadari keberadaannya adalah salah satu faktanya, apa lagi dengan, membuat senjatanya tadi, lenyap begitu saja seperti sudah menyatu dengan udara saja.
Apa kemampuan dari orang ini?.
Semua pertanyaan sebenarnya sudah terlintas di dalam kepalanya.
Tapi yang jadi satu perhatian untuk dirinya sekarang ini, di mana gadis itu?.
".........................." tidak ada ekspresi lain selain ekspresi datar, mata birunya terus menatap mata berwarna kuning dari pria bertopeng itu dengan arti tidak begitu menarik. Apa yang di ucapkannya tadi hanya sebuah alasan sepele saja.
[ Pasti hanya alasan saja. ] Tidak percaya dengan perkataannya yang terlalu simpel bagi dirinya.
" Sampai tahu kalau dia ada di dalam sana, berarti kau sudah mencari informasi sampai dengan menguntitnya. " ucapnya.
" Hah.......menguntit. " bibirnya yang awalnya terdiam menutup rapat langsung memberikan seringaian.
" Walaupun kelihatannya kau tidak akan percaya, tapi aku tidak akan mungkin menguntit pada seorang gadis. Kau pikir aku laki-laki macam apa?. " jelasnya, sambil mengendikkan bahu dengan santai.
Dia tidak percaya kalau orang di depannya akan menembak, karena sudah pasti hal paling utama adalah untuk mengorek informasi terlebih dahulu, itulah yang paling berharga.
CKRAK......
Lebih mendorong lagi ujung pistolnya.
" Hm......" dan ujung bibirnya tiba-tiba terangkat, membentuk bulan sabit yang memuakkan, dia tidak akan di bodohi dengan alasan seperti itu.
[ Dia pikir aku bisa mudah di tipu?. ]
Menguntit bukan berarti melakukannya dengan turun tangan secara langsung, dia tahu betul trik macam apa yang di gunakan orang ini untuk mengamati seseorang, yaitu dengan mengutus satu hewan untuk menjadi perantara penglihatannya.
Itu yang bisa di lakukan oleh orang ini.
" Kau yakin ingin membunuhku?. " tanyanya, nadanya yang tegas, tersirat bahwa dia tidak memiliki rasa takut lagi.
" Aku selalu yakin dengan apa yang kuyakini. " jawabnya.
[ Jika tidak mendapatkan hal yang di perlukan, lebih baik menghilangkan jejaknya. Meskipun sayang juga..... ] karena tidak mendapatkan apa pun, jadi memang sayang, kan?.
Wajahnya yang berpikir tidak menghentikan jari telunjuknya untuk tidak menekan pelatuknya, tapi di tengah-tengah keadaan akan melenyapkan orang ini, tiba-tiba saja...
" Aku datang ke sini hanya untuk mengantarkan sebuah pesan padanya. " sela pria ini.
[ Pesan? ] di antara tertarik dan tidak tertarik.
Tertarik unduk mendengarkan, tapi yang tidak tertariknya, rata-rata adalah oang yang selalu meminta satu hal padanya.
" Sampai membuat keributan. " celetuknya.
" Itu hanya caraku untuk melihat kemampuannya, tidak kurang dan tidak lebih. " Dan tentu sadar bahwa tindakannya membuat kekacauan kecil, tapi dia tidak menyesalinya.
" Yah........memang sampai membuat keributan, tapi bukannya menyenangkan bisa melihat para bangsawan yang hidup bergelimpangan harta seperti mereka, langsung di banjiri kepanikan seperti itu?. "
Bangsawan, hidup enak di atas penderitaan orang-orang miskin yang masih saja menyelimuti kekaisaran.
Semua itu memang tidak begitu terlihat, tapi kenyataannya masih ada banyak yang menderita kemiskinan dan penyakit, tapi para bangsawan selalu hidup mewah, dengan baju bagus, makanan enak, serta rumah besar yang nyaman.
Sebuah eksistensi yang tidak bisa di hilangkan antara kehidupan di posisi seperti langi dan bumi.
Nanmun tidak ingin terlalu ber basa basi dengannya lagi, dia kembali berbicara.
" Aku berikan waktu 3 detik, katakan pesan apa yang akan kau sampaikan padanya. "
" Aku harus bertemu dengannya secara langsung. "
" 1. " menghiraukan keinginannya, mulutnya tetap menghitung, dan pelan-pelan jari telunjuknya pun sedikit demi sedikit bergerak, dan bersiap-siap untuk melakukan hal yang memang harus di lakukannya sekarnag ini.
[ Dia tidak mendengarkanku!. ] sedikit kerepotan dengan tingkahnya, pria ini segera..
" 2. " menghitung lagi.
"............!. " Sebelum pria itu mengucapkan angka hitungan ke 3, dirinya segera berlari mundur ke belakang lalu terjun ke belakang.
" Aku sedang tidak ingin bertarung denganmu, tapi kita pasti bertemu lagi!. "
__ADS_1
kata-kata di detik terakhirnya sebelum melompat?!.
Tetap membiarkannya saja.
Satu hal yang menjadi prioritas adalah pesan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh pria bertopeng itu?.
Ya...jika dia mendapatkan kalau pria misterius itu hendak melakukan kejahatan, mungkin saja...tidak, bukan mungkin, tapi pasti, dia akan melenyapkannya. Tapi karena tidak ada tanda bahwa orang itu akan berbuat jahat, dan tujuan utamanya hanya untuk memberikan sebuah pesan, yang harus entah di sampaikan atau di berikan langsung, kali ini ia akan membiarkannya dulu.
" Lagi pula......." segera memutar tubuhnya lalu duduk di lantai batu, bersender pada tembok pendek itu, dia menatap kosong lonceng besar berwarna emas yang ada di hadapannya itu.
[ Aku sudah menanamkan pelacak padanya. ] batinnya.
Seebuah sihir pelacak, dia menanamkannya tepat saat moncong pistolnya menempel tepat di kening orang itu.
Jadi yang sekarang bisa ia lakukan adalah menunggu dan mengamati pergerakannya.
Tiba-tiba saja bibirnya tersenyum mengejek, tangan kirinya melepas satu benda tak kasat mata yang tidak akan bisa di lihat oleh orang lain, sekalipun itu penyihir kecuali dirinya. Efeknya yang hanya bekerja saat di pakai saja.
SHHAAAA.............
Tepat di saat yang bersamaan, setelah melepaskan benda kecil yang terselip di rambutnyya, itu tak lain adalah jepit rambut. Dalam seketika itu juga, penampilannya langsung berubah total.
Rambutnya langsung berubah menjadi panjang dan menari-nari saat sekelebat angin datang dengan cukup kencang, sebab dirinya sekarang sedang duduk di atas ketinggian 25 meter.
Warna matanya yang awalnya biru berubah menjadi Ruby, tubuhnya pun ikut berubah menjadi sedikit lebih pendek dan kecil. Sebuah perubahan yang sangat berbeda dari sosok aslinya.
Eldania......
DIa kemudian menatap benda kecil yang dia dapatkan dari Lady Ellora dulu, sebuah jepit rambut yang bisa membuat si pemakai dapat merubah penampilannya.
Dia memakainya lagi karena hanya ingin merasakan eksistensi akan dirinya sendiri yang berubah wujud menjadi seorang pria lagi.
Tapi, berbeda dari yang dulu, kini dia akan memakainya hanya untuk keperluan tertentu saja seperti tadi.
Dia tidak ingin merubah fakta lagi, kalau dirinya adalah perempuan.
[ Ya......aku memang perempuan, jika aku berpenampilan laki-laki terus, suatu hari nanti aku pasti akan menapatkan satu masalah. ] Entah apa itu, dia hanya tidak ingin dirinya punya salah paham lagi dengan orang lain.
Walaupun memang wajar, karena itulah resikonya, dia hanya tidak mau kalau dirinya...faktabahwa dia perempuan di lupakan.
*********
Tapi tidak akan ada yang pernah melupakan segala kontribusi yang di lakukan si gadis, sosok baru dari kediaman Archduke.
Archduke pun menjawabnya, dan lagi....rok itu langsung dia pasang ke ke lehernya, sehingga menutupi punggungnya yang lebar itu.
" Memangnya ini terlihat seperti rok?, padahal bisa saja ini jubah. "
[ Bisa juga seperti itu?. ] Nigel kini sedang ada di luar Restoran besama dengan Archduke.
Setelah kekacauan beberapa waktu lalu, semuanya sudah kembali tenang, dengan menutup restorannya untuk beberapa hari.
Nigel berencana untuk melakukan perbaikan, lalu menambahkan fasilitas pendukung lainnyaagar kejadian seperti tadi tidak terulang lagi.
Semua pengunjung pun sudah di perbolehkan pulang, setelah mendapatkan informasi kalau serangan berada berasal dari luar area Restoran, itulah yang di katakan sang putra mahkota Elvin, sebagai salah satu saksi di antara 3 saksi lainnya, yaitu rombongannya sendiri.
Dan saat ini, Archduke masih senantiasa menunggu agar bisapulang bersama, dan Nigel, karena sudah di beritahukan bahwa Lady yang menjadi tamu pentingnya pergi karena sebuah uruan, mau tak mau harus menemani Archduke yang punya pangkt tinggi ini, jadi tidak boleh di abaikan!.
TAP........TAP.........TAP..........TAP........
Archduke yang sadar akan dereap langkah kai yang kian mendekat, segera menoleh ke kanan di ikuti NIgel pula.
" Apa aku terlalu lama?. " tanyanya, sesaat setelah sampai di antara mereka berdua.
Archduke menutup mata, dan menjawab
" Tidak juga. "
[ Tidak?, padahal sudah berdiri di sini 1 jam. ] Nigel bingung, kenapa Archduke mau saja membohongi perempuan ini?!.
Seketika Nigel tercengang, setelah melihat dengan jelas penampilan lain dari Lady Dania ini.
Tahu apa yang sedang terlintas di dalam kepalanya Nigel, lewat ekspresinya itu, Dania berkata.
" Apa penamplanku memang mengganggu mata orang laln?. "
" Tidak!. " Nigel segera menjawab, karena merasa sedang menghina meski hanya dari ekspresi wajah saja.
Archduke menoleh ke arah Nigel dan bertanya dengan penasaran.
" Kalau tidak, kenapa ekspresimu seperti baru saja bertemu mantan?. "
Nigel yang mengabaikan apa kata Archduke tadi yaitu 'mantan', langsung menjawab sambil membenarkan ekspesinya yang sudah pasti kacau.
__ADS_1
" Saya hanya tidak tahu, kalau rupanya Lady adalah orang yang sering keluar masuk ke markas kesatria waktu itu. "
" Apa itu saja?. " Dania begitu heran, orang ini sering memasang wajah terkejut, atau memang Nigel itu sering melihat dari pada yang di ucapkan tdi, atau karena kagum?.
Tapi Dania segera angkat tangan ke arah Nigel dengan maksud untuk tidak menjawab.
" Tidak perlu di jawab. Entah mau bertanya membenarkan rumor yang beredar, atau apa pun itu, aku hanya ingin istirahat. "
" Ah......saya ak- '
" Kami akan pulang bersama. " sela Archduke.
[ Kenapa mau saja repot sendiri mengantarnya pulang, padahal aku dengannya punya tujuan yang sama. ] Atau memang Nigel kelebihan waktu luang, Archduke mana mungkin membuat satu orang ini di buat repot denga melayani gadis yang bahkan bukan siapa-siapa NIgel.
*********
Dari satu sisi, Darayad sudah kembali ke dalam kamarnya sambil menatap kolam cermin.
" Apa itu perebutan wanita?. " Darayad bertanya pada dirinya sendiri. Melihat gadis lewat kolam cermin, dimana gadis itu dalam seharian penuh rupanya di datangi oleh banyak orang, sekalipun sedang melakukan hal sepele.
" Kenapa juga anda serius menonton gadis itu?, dia tidak lebih hanya seorang gadis yang bisa memikat banyak pria. " Celetuk Ailyn, ikut menonton selagi tidak ada pekerjaan.
Darayad menoleh ke arah Ailyn.
" Apa kamu iri?. "
" Iri?!, mana mungkin!. Iri hanya karena dia-...."
Belum selesai berkata, Darayad menyela.
" Aku bisa memberimu libur 3 hari jika kau mau. "
" Yang mulia........." Ailyn menatap kakaknya dengan tatapan seperti orang yang sedang kelahan.
" Sudah berapa kali saya bilang, tidak ada libur. Rutinitas pekerjaan saja sudah bagaikan libur. Jadi apa gunanya?. " Tiap harinya berjalan-jalan di hutan, pergi ke sungai, ke bukit, bercengkrama dengan para pohon, pekerjaan yang santai sudah bukan seperti pekerjaan lagi.
Tapi maksud ucapan Darayad tadi bukanlah itu.
" Libur dalam artian, pergi ke kota. Pasti ada banyak hal yang tidak pernah kamu lihat, bagaimana?. Penawaranku cukup menakjubkan, mengingat kamu tidak pernah pergi kemanapun. " kata Darayad.
SHYUUTT............
BRUUK..........
Pendaratan yang sempurna, langsung terduduk di dalam sarang, Everst baru saja kembali dari acara berkelilingnya, dan di sambut dengan sebuah pembicaraan menarik oleh dua makhluk ini.
' Kota '
Itulah yang paling menarik.
Tapi dia belum mau pergi dari situ, jadi....
" Kalian berdua pergi saja, aku disni. " kata Everrst sambil membenarkan posisinya.
Ailyn tidak percaya, menyela ucapan Everst dengan segera.
" Yang seperti inilah, semakin mengkhawatirkan. Aku tidak akan pergi, kalau pergi bisa jadi burung ini akan duduk santai di sini. "
Everst yang tadinya sudah mulai memejamkan matanya, langsung kembali membuka matanya, melirik ke arah Ailyn.
" Wanita, kau keras kepala juga ya?. Itu yang membuatmu tidak mengerti arti dari kata bersenang-senang. Hidupmu hanya terpaku pada tugasmu, terkekang dengan pilihan dari orang lain, menjadikanmu tidak mengerti arti, bahwa keberadaanmu itu juga untuk menikmati hidup, dan itu sebuah kesenangan, hal yang selalu kau tekan sampai sekarang ini. " jelas Everst, penuh dengan nasihat berbumbu sindirian.
Mendengar perkataannya, Ailyn tidak bisa berkata-kata lagi.
Keinginannya yang sedari dulu di tekan, membuatnya terbiasa. Itu yang terkadang, jika kakaknya bertanya akan sesuatu yang di inginkan Ailyn, Ailyn tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.
Jika ada, Ailyn merasa berat untuk mengatakannya sampai akhirnya Ailyn lupa sendiri apa keinginannya waktu itu.
Dan solusi lain, adalah dengan memberinya hal baru, yang bisa di lihat dengan mata kepala Ailyn sendiri.
Itulah mengapa, Darayad kadang akan menggoda Ailyn untuk di berikan cuti dari tugasnya, agar pergi jalan-jalan ke kota. Mungkin saja dulu karena Ailyn tidak begitu tahu tentang kota manusia, dan jika saja Darayad ikut dengannya, penjagaan hutan akan jadi lemah, tapi kali ini berbeda, ada makhluk berbulu coklat ini!.
Dia malah dengan senang hati akan menggantikan penjagaan selama dirinya ( Darayad ) dan Ailyn pergi.
Darayad tentu tidak akan melewatkannya begitu saja.
Bahwa besok, dia akan mengajak Ailyn pergi ke kota, meski sekarang seperti orang yang sedang bingung menjawab karena perkataan Ailyn.
Karena Ailyn tidak dapat mempercayakan tugasnya itu hanya kepada seekor burung yang masih saja di bencinya gara-gara kasus pencekikan itu
Tapi tidak membuat Darayad benar-benar khawatir akan hal remeh temeh seperti ini. Dia akan mengatur semua hal selama kepergiannya salam 1 hari itu, dan di tambah adanya Everst, Darayad benar-benar tidak mepermasalahkan tentang penjagaan hutannya, dia serahkan kepadanya.
Jadi itulah mengapa, besok akan jadi hari istimewanya bersama dengan adiknya.
__ADS_1