Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Chapter 79


__ADS_3

" Ngomong-ngomong, apa Bayangan/Hampa itu? " Tenya Eldania karena ingin tahu lebih jelas dan lebih rinci.


" Seperti yang anda tahu, disini adalah dunia dengan sihir, monster, dan ada juga siluman. Dan kali ini adalah siluman kuat yang tidak memiliki wujud. Ada rumor mengatakan, sewaktu kemunculan terakhirnya , Penyihir kelas A pun tak sanggup bertahan sampai lima menit. Jadi kita hanya bisa menunggu sampai dia menghilang kembali. " jelas Crish pada nona muda itu.


" Apa ini ada hubungannya dengan keagresifan dari monster yang kemarin? " tanya Jin, yang dimana dua hari lalu dirinya sempat bertarung dengan monster di hutan yang dimana jaraknya cukup dekat dengan kota.


" Kemungkinan iya. Terlebih Monster dan siluman tingkat rendah, mereka mudah terpengaruh dengan keadaan sekitar " Crish.


*****


Di luar markas.


" Datang!, mereka datang! "


SRRIINGG............


Dengan kekuatan yang mereka miliki, sekarang hanya berusaha untuk bertahan dari pada menyerang. Karena jika menyerang maka Bayangan/hampa akan menelanmu.


" Apa mereka bisa mengatasinya? "


Dilihat dari manapun, para kesatria penyihir terlihat kewalahan karena dinding pelindungnya perlahan menipis dan selalu berusaha untuk memperbaiki dinding pelindung baru yang sudah berlubang.


" Kayanya mereka harus menambah pasukan penyihir lagi "


Bisik beberapa orang di belakang Eldania.


[ Apa ini?, aku baru melihatnya. Terlihat kuat padahal dari sini hanya terlihat seperti kabut biasa yang berwarna hitam ]


Fikir Eldania.


Di sisi lain ada satu orang tengah berdiri di atas atap markas kesatria. Dengan pandangan remeh ia berkata..


" Ohh....pertunjukan yang menarik. Apa mereka bisa bertahan hingga makhluk itu pergi? "


Tetibe ada satu angin kecil menerpa tubuh orang tersebut sehingga surai emasnya bergerak. Namun tak lama kemudian dinding pelindung retak..


[ Sihir ini! ]


" Cih, Kalau ketemu akan aku potong habis dia dan aku buang ke dunia bawah " dirinya tahu siapa penyihir bajingan yang membuat kekacauan, dan membuat dinding pelindung tidak stabil hingga retak dimana-mana. Sehingga Bayangan/hampa memungkinkan untuk menerobos masuk dan menyerang apapun yang dilewatinya. Tapi karena suatu alasan sepele, dirinya mengabaikan hal ini dan lebih baik pergi dengan cara menghilang.


*********


[ Kenapa anak itu belum kembali? ]


Melihat yang mulia Archduke berdiri tanpa sepatah kata, Vidal merasa kalau sekarang tuannya sedang khawatir?.


[ Aku baru pertama kali yang mulia khawatir pada seseorang ]

__ADS_1


" Yang mulia, Benjami sudah memerintahkan kedua kesatria untuk menjaganya, jadi jangan mekhawatirkan keamanannya "


" Dari mana kamu berpikir aku sedang mengkhawatirkan dia?, aku mengkhawatirkan mereka masuk ke istana ini. Vidal, apa mereka sudah mengamankan tiap sudut istana? "


[ Yah, jangan bilang aku yang justru sedang mengkhawatirkan dia ] muka masam Vidal jelas ketahuan oleh Archduke, namun masih tetap sadar dengan pertanyaan barusan.


" Mereka semua sudah berada di posisinya, jadi jangan khawatir "


" Tapi aku senang jika kamu mekhawatirkan dia, jangan-jangan kamu ada rasa pada Nia? "


" Jangan memutar balikkan kalimatku " dengan malas Vidal berjalan keluar dari kamar Archduke.


******


" Gawat Reloynd, dinding pelindung kita tidak bisa bertahan "


walaupun keringatnya sempat bercucuran, namun dalam sekejap keringat tersebut langsung menguap.


Sedangkan di dalam markas kesatria Dania hanya duduk santai saja sambil menikmati teh hangat.


BRAKKK.....BRAKK....BRAKKK.....


Pintu utama tiba-tiba bergerak-gerak seolah-olah ada orang yang ingin mendobrak pintu besar itu dengan paksa.


Semua orang panik dan bersiap dengan berbagai kemungkinan yang akan datang. Karena daei pada itu, di luar alias di halaman depan terasa hening.


Kedua pintu besar dari markas utama terbuka lebar dan angin besar masuk memenuhi seluruh ruangan..


WUUSSHHHH.......


Setelah angin besar masuk, sekarang kabut berwarna hitam itulah yang masuk dan menyelimuti seluruh ruangan. Dingin, gelap, bagai ada di ruangan kosong yang hampa.


Banyak macam teriakan dari orang-orang, teriakan yang memanggil satu nama dengan nama yang lainnya.


TING.........


Percaya atau tidak kesatri setelah ada cahaya yang menerangi pandangannya, Dania melihat semua kesatria berlari ke atas.


[ Tunggu, apa ini? ] Dania merasa dirinya secara perlahan turun. Ketika melihat kebawah, yang sekarang di injaknya adalah anak tangga, tapi jika melihat ke belakang maka Dania melihat ujung dari tangga tersebut, ujung yang memiliki arti seperti turun ke jurang, karena tidak apapun disitu, hanya ada kegelapan lagi seperti ruang angkasa.


" Kenapa tangga ini bisa berjalan! " seru salah seorang kesatria, setelah lama menginjak anak tangga, tapi rupanya di atas sana bagai tiada ujungnya sekalipun.


" Kenapa aku ada di eskalator? " gumam Edna yang sama-sama berusaha berjalan naik ke atas.


" Eskalator?, apa itu? " tanya Jin yang ruapanya ada tepat di belakang Dania.


" Tentu saja tangga berjalan " ketusnya.

__ADS_1


DORRR.....DORRR.......DORRRR.......DORRR


" Sekarang apa itu? " Kali ini Hermione lah yang bertanya.


Bagai labirin, semuanya merasa seperti mozaik yang namun berubah-ubah.


" Kenapa matahari terbit?. " Sela Dania.


" Apa? "


" Lebih baik jangan banyak bertanya!. " lugas Dania.


" RUDOLPH!, Apa yang kamu lakukan!. " teriak Dania.


[ Nona ini tahu pria bersenjata itu? ] Fikir Jin.


Tapi Rudolph tidak menjawabnya, dan hanya melancarkan serangannya dengan menembakkan pelurunya.


Ketiga orang yaitu Dania, Jin, dan Hermione berlari lebih kencang kemudian karena di sisi sebelahnya juga ada ada anak tangga, secara bersamaan mereka bertiga melompat ke sisi yang lain itu demi menghindari serangan yang tidak menguntungkan itu.


Tidak menguntungkannya itu adalah, mereka bertiga dikejar oleh jurang yang ada di belakangnya, anak tangga yang panjang bagai tak berujung dan satu hal lagi ada satu orang yang sedang mengincar Dania dengan senapan panjangnya itu.


Tapi hal yang tidak di duga lainnya adalah, anak tangga tadi seketika menjadi rata bagai oapan seluncur, perosotan!.


Semua orang juga mengalaminya sehingga untuk sesaat mereka semua terpeleset karena posisinya yang miring dan hendak langsung meluncur kebawah.


Dania melepas sepatunya agar bisa berlari dengan baik.


Pasalnya jika tak lari, maka dirinya bisa di bunuh kapan saja.


Ok..dirinya tidak takut dibunuh karena memang sudah pernah mati, namun tidak ingin mati di kondisi yang curang semacam sekarang ini.


DORRR....DORRR....DORRR......


[ Sialan, jika seperti ini maka hanya akan menghabiskan tenanga untuk berlari saja ] dengan terpaksa dan dengan tekadnya, Edna berhenti.


karena pada akhirnya Rudolph hanya mengincar dirinya dan akan membunuh semua orang yang menghalanginya.


[ Hhhh...apa boleh buat ]


" Aku pinjam! " Sekali lari dan dengan dua kalimat tadi, pedang yang berada di sarung pedang yang dibawa jin langsung tercabut.


" Nona!, apa yang kamu lakukan! " teriak Jin, dan Hermione hanya meliriknya saja.


Tapi teriakan tadi tidak di anggap oleh Dania.


[ Aku tidak tahu apa maumu, tapi mencuri senjata milikku adalah perbuatan yang tidak termaafkan juga ] Apapun alasan Rudloph menyerang dirinya, Danie tidak peduli itu. Dan satu hal lagi dalam pertarungan lebih baik tidak usah banyak omong, karena akan menguras nafas dan energimu juga, itu jauh lebih merepotkan.

__ADS_1


Berlari dan meluncur tanpa alas kaki, tagan yang membawa pedang, berhadapan dengan orang yang membawa senjata api.


__ADS_2