
Di tengah malam kala itu.
Untuk ke dua kalinya bulan terlihat lebih terang dan besar dari pada yang biasanya.
Eldania kecil itu sedang menatap langit di atas dari balkon kamarnya, sayangnya bulan yang indah itu akan menghilang karena awan gelap dari arah selatan mulai berdatangan dan hendak menutupi bulan tersebut.
DUARRR.........
Sambaran kilat juga sudah mulai terdengar, kilatan-kilatan tersebut menghiasi kegelapan di ujung sana.
Sebab tidak bisa tidur lah, alasan mengapa dirinya sekarang masih bangun dan kondisi kamar pun tetap ia kekalkan agar gelap, karena kegelapan rasanya enak dan terasa dingin di kepala.
Angin pun sudah mulai berhembus, masuk ke dalam kamar lewat kedua pintu balkon yang terbuka membuat kedua tirai itu bergerak secara lembut mengikuti alur angin.
Raut wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun itu tidak akan ada seorang pun yang bisa menebak apa dari isi pikiran Eldania dari pada dia sendiri.
" Sihir....., Lady Ellora berkata jika aku memiliki sihir juga. Tapi bagaimana cara aku mengetahuinya? " gumamnya, tidak tahu apakah yang dikatakan Lady Ellora dulu adalah benar atau tidak.
Atau karena tubuhnya masih belum bisa merasakan mana dari sihir itu sendiri maka tidak merasakan apapun?.
Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otaknya, dan di saat yang sama rintik hujan sudah mulai mengguyur wilayah itu.
Ia segera masuk ke dalam kamar, namun di saat satu langkahnya sudah ia gunakan dan masuk kedalam kamar, barulah ia sadar ada satu hal yang berubah di dalam dirinya.
Helaian kain alias baju berjatuhan lalu berkata..
" Ini yang kedua kalinya "
********
Dilorong, satu orang tengah berjalan dengan santai dimana kedua tangannya sedang di regangkan ke atas.
" Hahh.....dokumennya masih saja menggunung "
[ Terpaksa buat kopi sendiri nih ]
Disaat sedang berjalan santai sendirian di tengah malam karena semua pelayan pastinya sudah pada tidur, tiba-tiba...
TLING......( Semua lampu seketika langsung padam )
Gelap, yah kegelapan yang mendadak datang dan disaat yang tidak tepat.
" Cih...kenapa harus di saat aku di lorong sih!"
Antara melanjutkan tujuannya ke dapur atau kembali ke kamar, hanya ada dua pilihan itu saja.
" Yang mulia " pada akhirnya ada Juro Vidal yang datang dengan membawa lilin di tangan kanannya.
" Sebaiknya yang mulia kembali dan beristirahat di kamar, saya dan beberapa orang akan mengurusi masalah ini " pintanya, ini demi keamanan majikannya sendiri.
" Ya sudahlah, sini lilinnya " Archduke langsung merebut lilin yang di bawa juro Vidal, lalu segera pergi meninggalkan Vidal sendirian di dalam ke gelapan.
[ Tuan ini, kenapa tidak menungguku menyalakan lilin ini ]
Vidal mengeluarkan lilin yang lain, namun sayangnya lilin tadi sudah di bawa tuannya, jadi terpaksa harus mengeluarkan pemantik apinya.
Setelah menyalakan lilin, ia pergi mencari orang lain untuk membantu memperbaiki (listrik) penerangan di istana.
Hujan semakin deras, kilatan petir juga sudah mulai merebak di langit sehingga membuat suara yang memekikkan telinga yang mendengarnya.
Rasa seram semakin menjadi-jadi jika takut kegelapan, koridor istana yang dimana setiap dinding ada lukisan yang terpajang disana, tiba-tiba kilatan dari petir membuat cahaya sesaat pastinya akan memiliki kesan seperti berjalan di istana berhantu.
__ADS_1
KRATAK...KRATAK...KRATAK..
Tetesan hujan yang mengguyur langsung menerjang kaca jendela.
" Benar-benar...badai sudah datang " tutur Archduke dikala dirinya masih berjalan menelusuri koridor dengan membawa lilin di tangan kanannya dan satu gelas susu di tangan kirinya. Awalnya ingin membuat kopi tapi tidak jadi karena lampu padam dan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya jika penerangan saja sudah minim.
PRANKKK.....
[ Suara apa tadi? ]
Arch menoleh ke samping kanan, tepatnya di koridor sebelah kanannya, dan itu letak kamar adik angkatnya.
Ia mengubah arahnya dan berjalan ke sana, mana tau ada marabahaya atau apapun itu.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di kamar itu, ia meletakkan segelas susu tadi di lantai tepi tembok lalu lilinnya ia pindahkan ke tangan kiri, tangan kanannya memegang knop pintu dan secara perlahan membuka daun pintu tersebut.
[ Gelap, asalnya benar dari sini ] fikirnya saat mengintip.
Hal yang pertama kali dilihatnya adalah ranjang yang kosong, walaupun memang gelap tapi kilatan tadi cukup untuk mengetahui kondisi sesaat apa yang di lihatnya, lalu di kilatan petir ke tiga dan ke empat Archduke melihat sosok yang sedang berdiri dan tertutup oleh kain.
[ Dia siapa? ] fikirnya, karena sosoknya yang mencurigakan, secara diam-diam ia masuk dan meletakkan lilin di meja sebelah pintu, lepas tu ia mengambil belati yang sering dibawanya.
Jalan mengendap-endap supaya tidak diketahui sosok misterius itu.
[ Dimana dia? ] sembari mengendap-endap, dirinya tidak melihat dimana Nia berada.
Tetapi yang sekarang menjadi perhatiannya adalah orang itu, entah apa yang sedang dilakukan sosok itu karena dari tadi hanya berdiri saja namun kain yang menjuntai menutupi kepala sampai lantai sudah bagaikan hantu.
Dirinya sudah bersiaga, dalam waktu yang
sesingkat mungkin Archduke menarik kain putih yang merupakan selimut.
" Erkkk...."
" Melawan lehermu terpotong. "
Niatnya untuk melawan pun ia urungkan karena disaat yang sama lehernya memang merasakan benda yang dingin.
"........."
" Siapa kamu! " Seru Archduke.
JGLERRR......
JEGLERR.....
Beberapa petir kembali bersuara keras dan kilatannya menampakkan dua orang tersebut saling tatap menatap.
[ Dia! ] Archduke membelakkan kedua matanya nelihat siapa yang sedang di ancamnya.
TLING......( Lampu kembali menyala, namun di dalam kamar tersebut masih gelap karena dari awal lampunya tidak di nyalakan )
" Ada keributan jadi saya ma- " Ayat Vidal terhenti di tengah, disaat masuk sekaligus menyalakan lampu kamar. Dirinya tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang ini.
" Yang...mulia?, si...siapa wanita itu? " ayatnya berubah menjadi sebuah pertanyaan.
Bagaimana tidak, karena pemandangan yang sedang dan tidak sengaja dilihatnya adalah yang mulia Archduke hendak menikam seorang wanita yang ada di bawahnya.
Archduke tahu siapa orang yang ada di bawahnya itu yaitu Nia, alias Eldania yang di pungutnya dulu saat di hutan.
Untuk sesaat lengan kiri dari wanita itu digunakan untuk menutup mata alias sebagian wajahnya.
__ADS_1
" Bagaimana bi- "
" Bi..sakah anda menyingkir? " pintanya, karena keadaannya sedikit..yah..
[ Memalukan, bagaimana bisa dia bisa secepat itu memojokkanku ] fikirnya, sambil menyembunyikan perasaan malunya.
Bagaimanapun ini kali pertamanya dalam kondisi seperti itu.
[ Siapa wanita itu?, dan ke..kenapa dia malah hanya memakai handuk saja? ] fikir Vidal.
" Ah..." Archduke segera menyingkir dari atas tubuh Eldania itu, lalu menyakukan belatinya kembali.
" Aku tidak tahu itu kamu " sambungnya lagi.
Bagi Eldania hal ini adalah untuk kedua kalinya, hal ini yang dimaksudnya adalah ukuran tubuhnya kembali seperti semula.
Namun untuk pertama kalinya ketahuan oleh orang lain yaitu Archduke yang notabennya apatah lagi laki-laki sekaligus majikan dari semua orang di istana Schnaider.
Karena ukurannya hanya bertahan sementara itulah dirinya akan berada di kamar saja dan lagi pula tadi semua lampu sedang padam, jadi tidak ada hal yang dipikirkan kecuali menunggu dirinya kembali berubah menjadi anak kecil.
Satu hal yang pasti, sebab tubuhnya menjadi normal dan semua baju yang ada di lemari adalah baju untuk ukuran anak-anak maka dari itu tidak ada pakaian yang bisa ia pakai kecuali menutup tubuhnya dengan handuk lalu mengikat kain yang merupakan selimut ke lehernya agar bisa menutuppi semua bagian di tubuhnya, namun siapa sangka akan ada orang yang masuk dan dengan kecepatan seperti tadi langsung bisa memojokkan dirinya.
Kulit putih pucatnya tentu sudah terlihat jelas tadi, kedua tangan , bahu, lalu sebenarnya di punggung juga memiliki bekas luka yang memang sangatttt jarang orang ketahui kecuali kedua orang di depannya itu siapa lagi kalau bukan Vidal dan Archduke.
Sedar dirinya ditatap oleh sepasang mata, dirinya segera memegang sisi selimut dan mengarahkan lengan tangan kirinya ke depan wajahnya agar bagian depan bisa tertutup selagi berbicara...
" Kemana arah pandangan matamu itu! " Kalimatnya jelas di tunjukkan kepada Vidal.
Vidal tidak mau tahu, yang ingin di ucapkannya adalah menginterogasinya
" Dari pada itu, kenapa wanita sepertimu ada disini!, atau jangan-jangan kamu wanita jalang yang ingin me- "
Sela Archduke dengan cepat.
" Tunggu Vidal, kamu salah paham dia Navi "
" A..pa? " wajahnya mengatakan
《 Bagaimana mungkin? 》
Setahu Vidal kalau Navi nya berumur 6 tahun, tapi yang ada di depannya sekarang adalah seorang gadis dibawah 20 tahun.
[ Mana mungkin?, Navi bukannya laki-laki? ]
[ Aku tidak tahu kalau anak kecil yang biasanya aku lihat ternyata seorang gadis yang seperti ini ]
Gadis berambut coklat yang panjangnya sudah setengah punggung, mata berwarna Ruby yang kini penuh dengan tatapan waspada. Semua wanita pasti akan waspada pada orang disekitarnya ketika dirinya sendiri sudah hampir telanjang.
Lalu Archduke berjalan mendekat dan mengusap kepala Eldania sambil memberi perintah pada Vidal.
" Vidal, kamu bawakan baju untuknya "
[ Dua orang ini memang tidak tahu malu ] Tidak peka dengan situasi dan kondisi, lalu tangan kanannya menepis tangan Archduke dan berjalan mundur kemudian pergi ke kasur dan langsung membaringkan tubuhnya sembari memberi perintah untuk..
" Kalian berdua pergi "
Langsung menarik selimut lainnya.
" Malam yang menyenangkan " Tutur Archduke langsung berjalan menjauh tanpa memperhatikan orang yang sedang meringkuk di kasur .
"..............."
__ADS_1
Apapun itu Eldania menutup kedua telinganya dengan bantal, walaupun begitu masih bisa terdengar jelas.
Tidak peduli apa yang di ucapkannya karena pada akhirnya semua ucapannya akan masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri titik.