Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pertandingan


__ADS_3

CTAK.......


Tongkat yang dia pukul membuat bola hoki itu meluncur masuk ke dalam gawang lagi.


[ Apa niatan burung hantu tadi?. Pembatas yang aku pasang tidak menunjukkan dia punya niat buruk, apa seharusnya tadi aku tangkap saja?. ]


Dengan sepatu Ice Skating yang dia gunakan untuk sepasang kakinya, dia meluncur dengan lihai sambil membawa bola hoki itu dengan sebuah tongkat dan membawanya ke satu gawang lainnya.


KEPAKK.....


Sambil di halangi oleh keberadaan Everst yang terbang sambil membawa tongkat, dia segera melakukan gerakan berputar untuk menghalangi burung ini mencuri bolanya.


TAK....TAK......TAK........


Terus membawanya dalam jangkauan tongkatnya, dan Everst yang mencengkram tongkat di kedua kakinya terus berusaha merebut bolanya.


KWAK...


Karena merasa tidak bisa terus seperti itu, Everst terbang sedikit menjauh, lalu mengambil ancang-ancang untuk terbang melesat dengan cepat.


Tongkat kayunya terus di bawa, dan memposisikannya ke samping kanan.


Membuat strategi baru, dia akan melakukannya dalam sekali rebut, itulah niatannya Everst.


Tapi...


[ Dia mau merebutnya?. ] tidak bisa membiarkannya, Dania bersiap dengan serangannya Everst, sama-sama ikut menggerakkan kakinya agar bisa meluncur lebih cepat.


Berseluncur di atas es, dan terbang melesat dengan cepat, mereka berdua saling fokus satu sama lain, dan mulai bersiap-siap dengan teknik mereka untuk saling memperebutkan bola, tapi fokus itu langsung segera sirna setelah satu suara menyapa mereka berdua.


" Ajarkan aku berseluncur. "


[ Apa?. ]


Dania yang teralihkan dengan pembiacaraan itu segera memberhentikan seluncurnya dengan cepat.


" Aku?. "


{......................!. } Everst yang sudah berada di jarak kurang dari 10 meter, langsung terkejut dengan perempuan ini yang tiba-tiba saja berhenti di tengah-tengah, membuat fokusnya hilang dan tidak bisa mengendalikan penerbangannya untuk berhenti mendadak.


" Siapa lagi kalau bukan kamu. " Singkatnya, lalu Archduke menoleh ke samping kiri, terlihat ada satu burung hitam sedang bertengger di atas gawang, dan dia berkata lagi.


" Memangnya ada orang lain lagi yang bisa selainmu?. "


[ Tidak ada....tapi.... ] Melirik ke arah dua kaki milik Archduke.


" Jika punya sepatunya. " kata Dania secara singkat,


dia yang segera sadar dengan keberadaan burung ini yang sedang terbang ke arahnya dan mau menabraknya, segera mengambil posisi, merentangkan ke dua tangannya ke depan...


HAPP.....


Dania pun sengaja menangkap tubuh itu sebelum menghantam tubuhnya, meski pada akhirnya membuat dirinya terdorong jauh ke belakang karena tekanan yang dia dapatkan tadi, tapi keseimbangannya yang tetap terjaga, tidak membuat mereka terjatuh.


Everst yang tubuhnya langsung di tangkap oleh Dania, segera memandang wajahnya.


" Dengan senang hati bisa mengajarkanmu. " katanya lagi, dia membalas tatapan burung ini dengan senyuman. Rasa senang bisa memeluk tubuh dengan bulu lembut, juga punya sayap, sangatlah menggelitik hatinya yang sepi itu.


" ................. "


Archduke yang melihat senyuman yang diperlihatkan oleh gadis itu untuk seekor burung yang di peluknya pun langsung terdiam. Dia tidak tahu bahwa gadis itu bisa membuat ekspresi seperti itu.


[ Hm...mereka berdua sangat dekat sekali. ] Archduke yang mengalah akan kedekatan mereka berdua yang tidak bisa di pisahkan, hanya tersenyum tipis.


Setelah seminggu lebih hanya melihatnya sendirian, akhirnya sekarang hewan itu kembali.


Seolah bahwa burung itu adalah si pengisi hatinya Dania.


" Aku belum punya sepatunya, tapi itu akan segera jadi. Bagaimana kalau kau bermain lagi dan perlihatkan padaku dulu permainanmu. " kata Archduke, salah satu tangannya yang melambai adalah kode untuk Benjamin yang ada di belakangnya agar mengerjakan tugas barunya, sedangkan Archduke akan melihat permainan dari perempuan ini selagi menunggu sepatunya.


" Jika aku sudah bisa, kita bertanding. "


" Tentu saja. "


Dan Dania menyetujuinya, dia melepaskan pelukannya dan mengambil tongkatnya lagi yang tergeletak di bawah.


Keberadaan Archduke pun membuat beberapa orang pelayan datang, dua orang membawakan kursi dan sisanya membawa meja serta makanan untuk tuannya.


[ Dengan sepatu itu, dia bisa berdiri dan berseluncur dengan lihai. ] fikir pelayan wanita yang semalam tercebur ke kolam karena terkejut.


[ Cantik sekali gerakannya. ]


[ Gerakannya cepat sekali. ]


Satu persatu orang-orang memuji di dalam hati dan pikiran mereka.


Tapi.....


[ Burung itu. ] All. Semua pelayan yang ada menoleh secara bersamaan ke arah burung hitam yang bertengger santai di atas batang besi berjaring ( gawang ) sedangkan burung coklat, mencengkram sebuah tongkat di ke dua kakinya, lalu ikut bermain dalam permainan gadis itu.


CTAK.....


" Waahh.... " All, melihat benda berwarna hitam itu di pukul dan membuatnya berseluncur cepat menuju gawang, tapi sayangnya tidak berhasil, dan karena kuatnya pukulan, benda tersebut menghantam tepi besi itu lalu memantul dan terbang ke tempat lain.


Dania hanya memandang kemana arah bola Hoki itu pergi.


DHUAK...


" Aduh!. " pekik seseorang.


" Gawat.. " salah satu diantara mereka bergumam terkejut, karena benda itu tepat memukul belakang kepala seseorang yang kebetulan sedang berdiri memunggungi mereka.


" Siapa yang melempar benda ini ke arahku!. " ucap Calport, sambil menoleh ke belakang dan memperlihatkan benda di tangannya adalah benda yang cukup berat seperti batu, dan itu sudah menghantam tepat ke kepala berharganya.


Calporth mencari-cari sang tersangka.


Dania terus terang mengangkat tangannya sambil berkata.


" Aku. "


Calporth yang di suguhi pemandangan aneh itu segera menyadarkan pikiran dan hatinya yang kesal tadi.


4 pelayan, dua ekor burung, satu perempuan berdiri di atas sir kolam yang membeku, dan ada yang mulia Archduke juga sedang duduk menikmati monumannya.


[ Kenapa mereka semua ada di situ?. ] lalu kembali melirik ke arah gadis itu, Calporth akhirnya melihat dengan jelas kalau gadis itu sedang memakai sepatu seluncur dengan tongkat di tangannya, lalu melihat burung coklat itu pula juga sedang membawa tongkat yang sama pula.


[ Pemandangan ini.... ]


" Maafkan aku. Apa kepalamu terluka?. " tanya Dania, dia berseluncur sampai ke tepi kolam dan mencoba mencari konfirmasi adakah luka di kepalanya Calporth karena benturan tadi?.


Calporth langsung menyentuh kepala bagian belakang, lalu...


"............. "


Sebuah darah menodai ujung jarinya.


Dania menatap darah itu dengan datar, meskipun jarak di antara mereka terpaut 10 meter, tapi dia melihatnya dengan jelas, kemudian dia pun memutuskan berjalan mendekati Calporth yang ada di seberang semak-semak.


Dengan masih menggunakan sepatu seluncurnya, dia tetap bisa berjalan dengan baik.


" Anda mau apa?. " Calporth melihat gadis itu mendatanginya dengan ekspresi yang tidak bisa dia artikan itu. Ekspresi antara merasa bersalah, juga marah.


Apa itu?.


Setelah berada di depannya, Dania mengangkat tangannya sambil berkata.


" Jongkok. "


" Apa?. "


[ Kenapa aku harus jongkok?. ] Calporth bertanya bingung di dalam hatinya.


Dan ekspresi itu berubah menjadi ekspresi masam.


Dia malas mengakuinya, tapi Dania benar-benar melihat keberadaan Calporth ini, seperti sebuah patung yang di pajang di tengah alun-alun, sangat mencolok, apa lagi dengan tingginya.


Dia niatnya ingin menyembuhkan luka itu sebagai permintaan maafnya, tapi satu masalahnya, dia malas mendongak dan mengulurkan tangannya ke atas demi menyentuh kepala laki-laki ini.


Sehingga Dania menjelskan sedikit alasannya.


" Kepalamu terluka, jadi setidaknya bungkuklah agar aku bisa menyembuhkanmu. " beritahu Dania kepada Calporth atas niatannya sebagai balasan permintaan maafnya.


" Itu....... " Calporth yang argu, menyempatkan dirinya melirik ke arah mereka semua, para pelayan tadi sudah pergi karena perintah dari Archduke sendiri, tapi lain hal dengan ke dua burung itu, salah satu di antara mereka menatapnya dengan sorotan tajam, itu adalah burung yang berwarna coklat.


Dania yang malas menunggu jawabannya Calporth, langsung saja menarik tangan kiri Calporth dengan sedikit bertenaga, sehingga secara otomatis dianya langsung membungkuk.

__ADS_1


DI kesempatan detik itu juga, Dania segera menyentuh bagian kepala belakangnya pria ini lalu dalam beberapa saat kemudian, langsung melepaskannya.


" Sudah, aku minta maaf untuk yang tadi, itu tidak sengaja. " dan Dania berlalu pergi, memunggungi Calporth.


Calporth yang masih mematung dengan tindakan dari gadis ini langsung berfikir.


[ Hm?........apa yang barusan terjadi?. ] waktu yang berlalu singkat itu seperti berjalan dengan berbagai peristiwa, dan semuanya sudah selesai begitu saja?.


***********


Terlepas akan keberadaan semua orang yang ada di istana Scneider yang di penuhi kesibukan dengan perbaikan semua tempat di istana dan para kesatria yang tiba-tiba bekerja menjadi kuli bangunan, sedangkan di istana kerajaan banyak di antara mereka mengeluhkan peristiwa yang terjadi dua hari lalu.


Gempa yang mengakibatkan banyaknya kekacauan, pesta ulang tahun sang raja yang pada akhirnya tetap di laksanakan meski dengan situasi acara yang berbeda dari rencana.


Semuanya di luar kendali gara-gara bencana alam.


Dan acara pesta ulang tahun raja, adalah malam ini.


Tapi meski begitu, pesta itu tidaklah berlangsung lama, dan banyak yang langsung berteleportasi pulang setelah acara itu selesai.


Apa daya, jika bencana itu membuat sebagian besar kerajaan dan kekaisaran di wilayah benua timur juga mengalami permasalahan yang sama, sehingga tidak bisa di tinggal lebih lama lagi demi pesta ulang tahun ini ketimbang tempat tinggal mereka yang juga ikut terdampak.


" Karena sejak awal sudah kacau, sampai akhir juga akan tetap berakhir dengan hasil yang buruk. " gumam pria muda ini.


Dua orang di belakangnya yang tidak sengaja mendengarnya, yaitu Elvin dan Tassel, dua orang itu saling pandang satu sama lain.


Mereka berdua juga tahu bahwa di bulan akhir tahuni ini sudah terlalu banyak kekacauan.


Dari yang pertama adalah kemunculan Bayangan/Hampa, lalu di bulan berikutnya penyerangan membabi buta dari goblin dan monster, di daerah perbatasan ada penyerangan dari ras iblis yang mengakibatkan benteng dan jembatan utama di sana, sebagian besar rusak parah.


Ada pula penyusupan yang di lakukan oleh iblis sekaligus penyihir tipe petarung, ada penyerangan di restoran, dan kali ini ada sebuah gempa.


Ke depannya akan ada apa lagi?.


Hanya dewa yang tahu.


Semuanya terjadi secaa berurutan, apakah sebentar lagi adalah hari akhir?.


Tassel yang pada akhirnya tidak bisa berkutik dari pekerjaannya, selesai menghadiri pesta, dia harus kebali lagi ke rutinitasnya, karena pekerajannya lebih menumpuk dari perkiraannya.


Dia harus mengerahkan banyak kesatria untuk ikut membantu dalam semua perbaikan segala kerusakan di tempat penting.


Membuatnya jadi tidak mempedulikanya lagi, urusan pribadinya.


Mikhail dan SIeg, kedua bersaudara ini langsung turun ke lapangan untuk mengatur bawahan mereka.


Erich, seperti biasa dia akan keluar rumah, dan memakai kekuatannya untuk pergi ke mana pun yang dia mau, demi memantau dan mencari informasi yang menarik atau pun sepele sekali pun, karena semua apa yang dia dengar dan dia lihat merupakan hal paling berharga,


Bagi Erich, pegetahuan melebihi segala hal di dunia dari pada uang, informasi yang dia dapat adalah yang paling mahal, dan lebih berharga ketimbang permata mahal sekali pun.


Sedangkan Elvin, Elvira, Youri, Ellora, mereka berempat juga segera beranjak dari istana kerajaan Rovathia.


Awalnya Elvin dan Ellora ingin menemui seseorang yang tak lain adalah Eldania, namun ternyata waktu sudah tidak akan mencukupi hanya untuk sekedar bertemu saja, karena jalan menuju Istana Scneider juga sedikit memakan waktu, dan Elvin serta Elvira harus segera pulang karena perintah sang ayah mereka, agar secepatnya pulang.


Jadi.......


Pada akhirnya mereka semua hanya menemui kesibukannya masing-masing.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


******


Di malam yang sama.


Malam yang harusnya menjadi waktu istirahat bagi meeka semua, waktu ini di gantikan dengan sorak sorai yang meriah.


Di ke diaman halaman belakang istana Scneider, menjadi tempat paling ramai dan meriah. Tepatnya di satu kolam yang membeku, kolam itu di jadikan sebagai tempat pertandingan.


" HYAHH!. " Hermione memukulnya dengan kuat dan hasilnya...


CTAK...........


Bola hoki meleset dan terpantul ke sisi lain.


" Hahhh..........." All.


Mendesah pelan, karena tidak masuk.


" Kau sangat tidak becus Hermione, jadi biar aku saja yang memasukannya. " kata Jin, dan membawa bola Hoki ke arah yang lain dari tempat Hermione tadi.


" Baiklah, kita lihat ini.....Kesatria Jin terus melakukan gerakan gesitnya meski baru pertama kali menggunakan sepatu Ice Skating. Dia membawa bolanya ke arah gawang lawan, apakah dia bisa memasukkannya dan mengambil poin lagi?. " ucap Nigel, menjadi host dalam acara tersebut, sehingga acara bertamba meriah.


Semua penonton semakin di buat tegang. Di sini sudah ada dua tim yang mengisi pertandikan Hoki, lalu tiap Tim di pimpin oleh Archduke sendiri dan satu Tim lagi di pimpin oleh Eldania.


" Oh...yang mulia terus mencooba merebutnya, dan berhasi!. " Nigel turut antusias melihat usaha yang mulia Archduke yang berhasil merebut bola dri tangan JIn.


CTAK...CTAK......


Saat Archduke hampir berada di posisi terdekat gawang pihak lawan, dan mengayunkan tongkatnya untuk memukul, serangan oihak lawan mulai terjadi.


Tepat saat Archduke memukul bola tepat ke depan sana, bola itu langsung saja terhalang dan sedikit terpamtul karena tiba-tiba saja Dania datang.


Kini yang menguasai bola adalah gadis ini, membawanya kembali dan segera ia tembakkan ke arah gawang pihak lawan.


SYUHTT..........


Namun...


" Ah!. Arhes dengan berani mengambil bola langusng dari nona!. " Nigel terkejut akan keberanian Arhes yang tidak tanggung-tanggung itu, dalam sekali coba langsung bisa merebut bola yang sedang dalam kuasanya gadis ini.


CTAK....


" GOLLLL........! " Nigel tercengang dengan prestasi yang sudah Arhes toreh.


" KYAAAAA..........HEBAT. " Semua pelayan wanita berteriak histeris ketika melihat jagoannya menang, alias berhasil merebut skor.


" Kesatria Arhes ternyata bisa lebih keren dari bayanganku. " bisik pelayan ini kepada teman di sebelahnya.


" Iya, lihat tubuhnya yang berisi seperti itu......aku baru bisa menyadarinya sekarang, tapi dia terlihat lebih tampan. " dengan senyuman malu-malu, dia terpesona dengan penampilan Arhes, yang meski hanya berpakaian biasa, tapi ketika lengan baju panjang itu di gulung sampai ke lengan, itu membuat Arhehs benar-benar memperlihatkan lengannya yang berotot alias kekar


"....................." Dania hanya melihat keberasilan Arhes dalam merebut bolanya, tapi itulah awal dari petandingan mereka sebenarnya.


[ Padahal beluum 4 jam berlatih menggunakan sepatu itu, tapi langsung mahir saja dia. ] Dania menataptidak suka akan keberhasilan Arhes yang secara singkat bisa menguasai sepaptu seluncur itu.


Setelah salah satu tim berhasil mencetak skor, permainan kembali di mulai dengan posisi awal mereka.


Tangannya menggenggam erat tongkatnya dan bersiap mengambil posisi awal di tengah lapangan, mempersiapkan pertandingan ke 3.


" Tim 1 akhirnya mendapatkan skor dan mengimbangi skor dari Tim 2!. " ucap NIgel. Nigel yang melihatnya tak kuasa untuk terus bersuara bagai burung berkicau di pagi hari.


" Tapi sepertinya....nona tidak akan tinggal diam karena musuhnya sudah mengimbangi angka mereka!. Apakah nona akan balas dendam kepada Arhes?!. Kaena jika bukan Arhes yang berani merebut bolanya, maka kemenangan akan di dapatkan oleh nona!. Bagaimana ini?!. "


KWAKK....!


Pekik Everst tepat di telinganya Nigel, dan satu saypnya langsung memukul belakang kepala Nigel.


" Awww....! " Nigel merintih sakit setelah telinganya di teriaki oleh seekor burung coklat ini, kepalanya juga tidak kalah sebagai korban pukulan sayapnya itu.

__ADS_1


[ Memangnya ini pertandingan bola. ] Dania menggerutu di dalam hatinnya, karena Nigela yang berisik itu.


Untungnya Everst segera bertindak cepat.


[ Bagus sekali dia berterik dan memukulnya. ] sekaligus memuji tindakan Everst itu, karena berhasil mendiamkan ocehan itu.


Pertandingan ke 3 pun akan di mulai, dan ke dua tim sudah berada di posisi masing-masing, termasuk Dania dan Arhes yang menempatkan diri di posisi terdepan, sehingga ke dua orang ini saling berhadapan, dan akan bersiap merebut kembali bola yang sudah di letakkan di tengah arena lapangan.


PRITT.........


CTAKK........


Arhes langsung mengambil dulu bola itu dan masih dalam jangkauan tongkatnya unttuk terus dia bawa menuju gawang lawan.


Tapi Dania terus mengejar, lalu di susul oleh Hermione yang berada di jarak 7 meter darinya, dia hanya bersiap jikalau Dania bisa merebut bolanya dari tangan Arhes, dan mengoper ke arahnya.


" Yaaa.......Nona berhasil merebutnya, sekarang kita lihat apakah akan sampai ke tuujuan mereka!?. " Nigel yang kembali bersuara, lagi-lagi memberisikkan tempat mereka


" Ho........Nona mengopernya ke Hermione, dia terus berusaha melindungi bolanya, Jin akan merebutnya!. Hermione langsung mengopernya ke ke tua ( Calporth) dan...."


CTAK.........


" Oh Yeah.....seperti yang di perkirakan, Tim Nona kembali mendapatkan angka tambahan berkat operan Hermione dan sang ketua yang menembakkannya dengan tepat sasaran!. "


Dan semuanya bersitegang karena tim andalan merea terus menerus saling mengejar angka, juga banyak di antara mereka saling bertaruh sama lain .


CTAK........


" Goll...lagi oleh yang mulia Archduke. "


" Ah......siapa ini, aku mendukung tim-nya Yang mulia. "


" Aku juga. "


" Sama. "


" Kalau kau Shera?. " salalh satu di antara mereka bertanya kepada Shera.


" Kau pasti mendukung kakakmu kan?. "


Shera yang tidak berpaling dari apa yang sedang dia tonton, tetap menjawabnya dengan nada santai.


" Aku....mendukung kakak. "


" Ah betul kan?. Kamu sebagai adiknya pasti akan mendukung kakakmu yang tampan itu. " ucapnya dengan percaya diri bahwa tebakannya adalah benar, bebnar bahwa Shera yang notabennya adaha adiknya Arhes, pasti akan mendukung Arhes.


Shera menoleh ke samping kanan.


" Bukan kakak-ku, tapi Kak Dania. " sambungnya lagi. Mengartikan maskud ucapannya tadi, bahawa yang dia dukung bukanlah kak Arhes, melainkan Kak Eldania.


Karena pada dasarnya dia sangat yakin dengan kemampuan kak Dania yang diam-diam bisa hebat sesuai mood-nya. Intinya, Shera mendukung Kak Dania setelah melihat kehebatannya dalam bertarung sebelum ini.


" Dia kakakmu loh, kenapa tidak mendukungnya?. Dan malah mendukung nona Dania?. "


Dan dengan senyuman yang ramah itu, Shera kembali menjawab.


" Karena saya mendukung orang yang punya kemungkinan tinggi untuk menang, dan Kak Dania sudah pasti aka menang. Karena semua permainan ini juga berawal dari Kak Dania juga kan?, jadi beliau yang paling mahir di sini. "


Benar saja meski tadi berad di posisi skor 2:2, sekarang Dania benar-benar mulai menunjukkan kemampuannya, sekaliguus menunjukkan kemampuan tim-nya, bahwa merekalah yang akan menyapu bersih skor.


Dan tentunya, di pertandingan kali ini, Archduke membuat sebuah hadiah.


CTAK.............


Kembali mendapatkan angka.


dan selanjutnya.......


Sampai di titik dua jam bertanding.......


CTAK............


[ Lihai sekali dia. ] Jin benar-benar kwalahan jika mau merebut bola dari Dania, dan yang bisa melakukannya adalah Arhes ataupun Archduke.


Tapi.......pertandingan akan segera berakhir.


" 4:5, pemenangnya adalah.......Tim 2!. " teriak Nigel.


" Hah.....hah.......hah........" All ( Archduke, Arhes, Jin, Hermione, Calporth, dan Dania. )


Mereka berenam berdiri di tempat wilayah lawan, dan saling memandang satu sama lain, karena pertandingan malam ini, berakhir dengan kemenangan yang di buat oleh gadis yang kini sedang mendongak ke atas.


" Kau kalah, jadi harus tepati janjimu. " pinta orang ini kepada temannya karena kalah taruhan.


" Iya......ini. " memberikan sekantung uang kepada temannya itu, gara-gara kalah.


Dan Shera, dia tersenyum senag dengan keberhasilan Kak Dania, berhasil memenangkan pertandingan yang rata-rata perandingan ini di dominasi oleh lai-laki, tapi itu tidak membuat Kak Dania yang seorang perempuan bisa kalah begitu saja.


" Lalu sesuai dengan janji, pemenang akan mendapatkan hadiah dari yang mulia Archduke. "


" Sesuai janjiku, yang menang akan mendapatkan hadiah dariku. Dan hadiah itu adalah 500 keping emas untuk tiap orang dan di tambah sebuah liburan selama seminggu. "


" APA?!. " Semua orang berteriak tidak percaya. Hanya dalam kurung 2 jam, yang memenangkan pertandingan bisa mendapatkan 500 keping emas yang setara dengan gaji dua bulan mereka yang posisinya adalah kesatria, dan yang menjadi pelayan, itu adalah nominal uang selama 5 bulan.


[ jadi aku juga dapat uang?, tapi liburan itu.......aku tidak memerlukannya. ] Dania menatap ke atas, bulan sudah tidak ada lagi, tapi da mempercayai bahwa di atas langit sana ada seekor burung sedang terbang berputar.


Bukan Everst, karena dia sedang berdiri di atap, juga bukan Raya, sebab dia bukanlah burung yang akan terbang malam-malam sesuka hatinya.


Karena sekarang, dia sedang bersama dengan Yunifer, menjaganya selagi Ishid pergi, itu yang sebenarnya terjadi.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


" Ini......untuk kalian bertiga. " Archduke memberikan sebuah kotak persegi panjang, di dalamnya adalah koin emas yang tertata rapi memenuhi kotak kayu tersebut.


" Dan ini untuk kalian berdua. " setelah memberikan kotak berisi emas kepada merek abertiga, Arhes dan Jin yangmenjadi satu tim-nya Archduke pun dia beri hadiah juga.


Koin emas sebanyak 200 keping, sudah lebih dar cukup sebagai usaha keras mereka.


" Terima kasih Yang mulia. " All.


" Ya. Sekarang kalian bisa beristirahat. " jawab Archduke sekaligus perintah.


Dan mereka berempat segera meninggalkan ruang kerja Archduke. Yang tesisa sekarang adalah mereka berdua, Archduke dan Dania.


##########


Sebagai pengingat....


Kenapa di chap ini dan ini......bercerita yang cukup menyimpang dari judul?.


Soalnya.....ini masih Extra Chap.


Memang...kebanyakan, rata-rata seperti kesehariannya.


Tapi betul juga, dan gaya ceritaku itu.....satu chap bukanlah satu peristiwa yang langsung selesai.


Satu hari yang berjalan, bisa memakan beberapa chapter, dan........dari pemikiranku sendiri, karena ini berjudul ' Kesatria Eldania ' , bukan berarti tiap peristiwa selalu ada adegan bertarung.


Ahh........terserah pendapat kalian tentang ini, aku hanyalah peng hobi pembuat novel, jadi hanya menurut isi hati dan pikiran saja.


Sekian....terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2