Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pertunjukkan Resital Eldania


__ADS_3

Tap.......Tap.........Tap.......


Sepasang iris mata hijau zamrud itu terus beredar...mengamati ke segala arah, kemungkinan kalau dia ada di lantai satu.


Tapi tidak orang dengan pakaian yang di ingatnya itu.


" Siapa yang Ishid cari?. "


" Pemilik surat ini. Saya sudah pesan kursi di lantai dua, jadi Yunifer duduk di sanalah terlebih dahulu. " pinta Ishid.


Yunifer mengangguknya, jadi dia pergi ke satu tangga terdekat yang terhubung dengan lantai dua di atas sana.


Sedangkan Ishid pergi mencari akan keberadaannya, langkahnya jadi di buat bergerak lagi, sebab instingnya memang mengatakan kalau perempuan itu ada di sekitarnya, tidak begitu jauh.


Sampai 2 menit berlalu belum bertemu, tidak enak meninggalkan Yunifer yang baru saja berpisah 2 menit tapi sudah terasa lama, Ishid memutuskan naik ke tangga terdekat.


Tangga itu terletak dekat dengan sebuah panggung, tapi tirai merah yang awalnya tertutup pelan-pelan terbuka. Itu pun saat Ishid berada di titik tepat di depan panggung.


"................! "


*****


Seseorang yang baru saja memakan satu piring makanan dari 4 piring yang di sajikan oleh pelayan, dia yang memakai pakaian paling sederhana di antara yang lain nona yang lain, dan seseorang ini duduk di depan piano..


[ Kemana perginya?. ] Nigel yang ada di lantai dua memandangi sebuah meja sudah tersaji makanan andalan restorannya, tapi kemana perginya perempuan yang beberapa saat lalu masih duduk disini?.


TENG....


Sebuah tuts piano tiba-tiba saja berbunyi, mengalihkan perhatian Nigel yang awalnya ke meja, segera berlari ke tepi pagar pembatas dan melongok ke bawah.


Yunifer pun jadi ikut terpengaruh dengan suara dari tusts piano. Dia menoleh ke samping kanan bawah, ke lantai satu, disitu terlihat pacarnya sedang berdiri di depan panggung, dimana tirai itu sudah terbuka dan menampilkan sebuah piano berwarna hitam dengan pasangannya yaitu seorang pianis perempuan yang tidak lain adalah....


[ Dania?!. ] Yunifer tercekat, kenapa perempuan itu bisa disini dan sedang duduk di depan sebuah piano?


Di satu sisi..


[ Dia!. Aku tadi tidak menyuruhnya kan?. ] Nigel terkejut juga kalau suara dari satu nada piano tadi, gara-gara di mainkan oleh Lady itu.


[ Apa maksud kata 'jangan mencemaskan itu' adalah ini?. Kalau dia akan menggantikan Selina tampil?. Tapi chord lagunya kan ada di tanganku. ] Nigel membawanya, tapi kertas itu ada di dalam ruang kerjanya.


Jadi....?, bagaimana dengan dia?, apa akan memainkan lagu lain?.


Sedangkan di bawah di lantai satu, orang-orang masih duduk menunggu pesanannya datang, tapi sebuah dentingan nada rendah dari piano, langsung menarik segala pemikiran mereka.


" Siapa dia?. "


" Baru jam setengah delapan...bukankah acaranya di mulai jam 8?. " teringat akan Nona Selina yang akan menampilkan satu lagu baru yang di buatnya.


" Apa dia menggantikan Nona Selina?. " menyadari kalau yang ada di atas panggung adalah seorang wanita berambut pendek. Yang di mana rambut sisi kiri di kepang susun dan di beri satu pita berwarna putih, dan pita itu menggantung di belakang telinga.


Orang-orang mulai terpengaruh, perhatiannya tertuju padanya karena selain bukan nona Selina yang bukannya di ayas panggung, ternyata penggantinya adalah orang lain yang juga baru mereka lihat, mereka juga melihat akan penampilannya yang begitu sederhana tanpa embel-embel sebuah kemewahan di tiap sisi pakaian yang di kenakan perempuan itu.


Inilah satu-satunya waktu dimana dia jadi sorotan akan perhatian dari mereka semua.


Dia menyadarinya.


Dengan anggun, dia duduk di tempat duduknya. Di depannya bukan lagi makanan yang tadi dia terima, melainkan sebuah piano besar berwarna hitam, memperlihatkan sebuah polesan cat yang masih mengkilap seerta masih dalam kondisi sangat bagus.


Bisa di tebak, kalau piano ini adalah kualitas bagus super premium, layaknya konsep restoran ini.


[................. ] Menyadari kalau ada seseorang dengan mencoloknya berdiri di depan panggung, dia hanya meliriknya.


Namun berakhir dengan orang tersebut buru-buru pergi ke lantai dua, menemui pacarnya yang bernama Yunifer itu.


[ Ahh....... ] Entah kenapa hatinya lelah, apakah bisa dilampiaskan dari sebuah kesedian, kemarahan, cemas, yang pernah dia rasakan selama ini......ke dalam mode lagu ini?.


Terlepas dari pandangan akan tatapan mereka semua, di matanya...yang di lihat dan di rasakannya justru hanya sebuah kesendirian.


[ Padahal disini banyak orang. ] Tetapi yang dirasakannya bukanlah itu.


TENG..... TENG.....


Satu dua tuts kembali di tekan, menghasilkan harmoni nada yang jika tuts lain ikut di tekan, maka nada indahlah yang tercipta?.


Tidak....


Lagu pertama yang dimainkannya adalah keindahan dari sebuah kesedihan....


[ Sedih?. ] fikir salah satu seseorang di antara pengunjung ini.


TENG......TENG.......TENG.....


Terus, dan terus berlanjut....


Nigel tidak bisa berbuat apa pun, dia tidak akan mengacaukan keinginan Lady itu.


Apa lagi konser yang harusnya di adakan sebentar lagi.


Jadi dia duduk di tempat dimana tadi perempuan itu duduk, menontonnya dari lantai dua, dia masih bisa melihatnya dengan jelas.


Yunifer terus mengamati dan mendengarkan tiap harmoni yang tercipta iu, ternyata merupakan..


"................"


[ Lagu ini.....!, When the love falls!?. ] Yunifer memang kurang mahir dalam bermain piano, tapi dia tahu lagu yang sedang di mainkan oleh satu perempuan ini, apa lagi ciptaan milik siapa dia juga tahu karena ini juga salah satu lagu Favoritnya.


******


Di tempat seorang perempuan yang notabennya adalah seseorang yang sering berpetualang ke sana dan kemari, tiba-tiba di detik ini, dia ada di depan sebuah alat musik piano.


Piano yang tidak pernah dia sentuh sekalipun selama beberapa tahun terakhirnya ini, kini dia mainkan.


Sebuah lagu tercipta karena suatu perasaan di masukkan ke dalam tiap nada yang dia ambil.


Menghasilkan harmoni, saling bersambung dengan indah dan langsung tercampur dalam perasaan yang sangat melekat itu.


Apa arti dari kesedihan yang tiba-tiba datang menghantuinya ini?.


Kenapa ada perasaan sedih, dan kehilangan seperti ini?, padahal sudah dia lewati selama 7 hari, tapi tidak menghilangkan kesan serta fakta kalau dia di tinggal olehnya.


Siapa laagi kalau bukan Everst.


Eneh....

__ADS_1


"......................" Dania tidak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya.


Padahal dia hanyalah seekor makhluk yang tidak dapat hidup lebih dari umur manusia.


Dia yang terkadang membuat tingkah aneh, makan makanan manusia, mulutnya yng tajam setajam paruh yang dimilikinya.


Hubungan yang baru terjalin beberapa bulan, ternyata bisa membawa kesan mendalam seperti ini?.


[ Kehilangan ya?. ] Fikirnya, kepalanya menunduk ke bawah, membuat helaian rambut aram temaram itu menutupi sepasang matanya karena poninya yang sudah mulai memanjang.


Tapi tidak membuat jari jemarinya berhenti karena pikiran dan perasaannya itu.


Dia masih menekan berbagai tuts penghasil melodi, melodi yang sesuai dengan perasaannya saat ini.


Dania mengatupkan mulutnya, dia tidak jadi bergumam dan teralih ke dalam pikirannya.


[ Dan aku........seperti melupakan seseorang. ] Di awal dia sadar, saat di hutan itu......ada satu hal yang menghilang di dalam kepalanya.


Kenapa bisa begini?.


Di dalam kepalanya ada satu nama yang terhapus.


Tapi siapa?.


Eldania, dia pada akhirnya bukan menikmati resital dari Selena, melainkan menikmati penampilan resitalnya sendiri.


Dia memandang ke sepuluh jarinya sendiri.


Apa ini sebuah keberuntungannya sendiri masih bisa bermain piano?. Padahal jari-jari yang ini, tidak pernah sekali pun menyentuh alat musik ini.


Membuatnya memejamkan matanya dan tersenyum tipis.


Dia juga menikmati lagu yang sedang dia mainkan ini.


"..............."


Kali ini saja...........


Dia mencurahkan perasaannya ke dalam tiap lagu yang dia pilih sendiri.


*********


"..............." Memandanginya dengan serius, dia tidak dapat mengalihkan fokunya padanya.


Lagu yang tercipta yang di mainkan oleh perempuan ini tidak bisa membuantya untuk tidak mendengarkan.


Burung ini, dia ternyata merasakan kesedihan dari lagu yang Dania mainkan.


[ Apa pada akhirnya dia merasakan rasanya kehilangan?. ] Everst terdiam dengan mata terus menata pada kolam cermin itu.


"................."


1, 2 lagu yang dimainkan itu adalah lagu dengan dominan nada yang terdengar begitu menyedihkan.


"..............." Tidak mau terpengaruh dengan lagu itu terus, Everst langsung mengibarkan ke dua sayapnya dan terbang keluar lewat jendela.


Sampai tidak menyadari kalau ada satu bulu terlepas dan mendarat di permukaan air kolam tersebut.


Di 30 deti berikutnya, bulu coklat yang harusnya akan tetap mengambang di permukaan air, tiba-tiba saja ternggelam masuk ke dalam kolam yang masih menampilkan gambar seorang perempuan tengah bermain piano.


*******


Tangannya yang kebetulan sudah selesai dengan lagu ke 3 nya, segera mengambil benda yang mendarat di atas rambutnya.


"..............."


Apa yang di dapatkan?, satu hal merubah espresinya dari ekspresi dingin, menjadi satu kebahagiaan kecil.


Dania mengendus aroma dari satu hal yang d a pegang dengan keringanan uper ringan, itu adalah..


[ Bulu ini....] Aroma khas darinya, dia dapatkan kembali.


" Apakah dia masih hidup?. " karena jatuhnya dari atas, Dania mulai menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat apakah sosoknya sedang bertengger di atas?.


Tapi hasilnya tidak ada.


[ Tapi aku yakin, bulu ini adalah miliknya. ] Aroma, ingatan yang sudah tersimpan baik di kepalanya, tidak mungkin tebakannya itu salah.


Kalau....


[ Everst........] panggilnya di dalam hati.


Kalau Everst memang masih hidup.


Bulu yang di dapatkannya, dia terus menenunnya, sampai di satu waktu, Dania menyimpannya ke dalam saku bajunya.


[ Atu dia memang sedang mengamatiku dari tempat lain?. ] Apa pun itu, Dania yang selalu yakin dengan instingnya, apa lagi kali ini, satu hal ini berhasil membuat hal sedih tadi perlahan memudar.


Dan itulah, yang menjadikannya merubah tatanan lagu yang dia pilih di dalam kepalanya.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


[ Lagunya berubah..... ] fikir wanita ini. Wanita ini duduk di meja paling ujung belakang sendiri, tapi karena memiliki sihir di dalam dirinya, dia tetap bisa melihat gadis pianis itu dengan sangat jelas.


[ Aku tidak tahu, ternyata dia pergi ke sini. ]


Wanita ini kemudian meilirk ke samping kanan, krinya dan beralih ke depannya.

__ADS_1


Dua orang kakak dan adik di sampingnya ini terus terpaku pada penampilannya Dania, dan apa lagi dengan satu perempuan lagi yang justru malah membuat wajah tersipu.


Tersenyum di balik kipas berwarna hitam yang sedang dia kibarkan, lantas membuatanya senang penuh dengan arti yang mendalam.


[ Yah.........aku akui, dia memang anak jeniusku. Setelah selesai, aku harus pergi menemuinya. ]


Perpisahan yang begitu lama, membuatnya bertanya-tanya kenapa tidak ada kabar lagi setelah terusir dari kerajaan Linstone?.


" Lady Ellora. " panggil pria ini pada wanita dengan kipas sedang menutupi separuh wajahnya.


" Hm?, ada apa yang mulia?. " Yang di panggil segera memperbaiki posisi tubuhnya, lalu menatap pria di hadapannya yang punya status tinggi di kerajaan. Sebenarnya pria ini memiliki rambut pirang yang mencolok, tapi karena memakai Wig berwarna hitam, jadi setidaknya sedikit tersamarkan penyamaran....untuk ke tiga orang di sampingnya itu.


Tak lepas dari pandangannya, mulutnya berucap.


" Anda sepertinya sadar kalau beliau orang itu. "


" Ahahaha.....anda selalu jeli. " tertawa kecil, Lady Ellora menjawab lagi, tapi langsung untuk ke tiga orang ini sekaligus.


" Anda bertiga sekalian, sepertinya juga sadar kalau Nona yang di sana adalah seseorang yang sangat kalian kenal. "


" Tapi...apakah wanita itu betul dia?. " tanya perempuan ini, adik dari laki-laki di sampingnya.


" Jika Lady Ellora berkata demikian, pasti sudah tidak salah lagi. " sela pria ini atas keraguan adiknya.


" Tapi....tuan nona Youri..., " Lady ellora mengalihkan pandangannya pada satu perempuan lagi.


" Kenapa wajah anda tersipu?. Dia bukan lagi orang yang anda kenal, sekarang dia ada pada jati dirinya. Kenapa anda seolah tergoda dengan penampilannya?. "


" Ehh?. " perempuan bernama Youri ini lantas terkejut dengan pernyataan Lady Ellora.


" Apa wajahku memerah?. " menepuk dua pipinya, dia benar-benar jadi malu terhadap dua orang kakak beradik itu.


" Ya...wajahmu seperti tomat. " celetuk perempuan ini dengan sebuah anggukan pelan.


Di sela-sela perbincangan kecil dengan kehadiran penuh kerahisaan dari orang lain, mereka menoleh ke arah pintu masuk sesaat para resepsionis memberikan sambutan pada tamu yanv baru saja datang.


" Selamat malam tuan Archduke, dan..yang mulia Tassel. "


" Malam ini kelihatan ramai, apa ada peristiwa besar?. " Pria berambut abu-abu ini segera bertanya pada salah satu resepsionis itu.


" Sebenarnya tidak ada tuan, tapi seseorang tiba-tiba membawakan lagu baru. Dan ini sudah 4 lagi. "


Pandangannya mengejar ke arah satu manusia yang menjadi pusat perhatian, rupanya dia....


[ Undangannya jadi seorang pianis?. ] Aechduke tidak tahu kalau gadis itu rupanya bisa bermain piano dengan sedemikan bagus, seperti sudah terlatih dengan orang profesional.


" Mari, saya akan menunjukkan tempat duduk untuk anda. "





[ Dania...., dia tidak datang karena kesalahan si Mikhail gara-gara suratnya tertukar dengan punyanya Ishid, tapi ternyata dia ada disini. ] Tassel tidak berkata apa pun, dan mengikuti para pelayan yang mengantarkannya pada tempat duduk yang ada di lantai 2.























##############


Tanpa di sadari, Dania yang tetap terfokus , tidak memperhatikan para tamu itu karena asyik dengan permainannya sendiri dengan piano ini, membawa dampak begitu besar, mempersatukan satu demi satu orang yang pernah dekat dengan mereka.


Dia bertemu di satu tempat yang mewah ini dengan mereka, apa yang akan terjadi?.


Silahkan baca di CHAPTER BERIKUTNYA OK!.


--------->>


Catatan :


Jika ada Typo, maafkan manusia yang satu ini, setiap orang tidak peenah luput dari kesalahan mereka sendiri.


Dan...Author, pelan-pelan akan memperbaiki salah kata dari awal chap.

__ADS_1


Sekian....


Terima kasih.


__ADS_2