Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pria Ini


__ADS_3

Koridor panjang yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.


Pemandangan kontras jelas terjadi jika melewati koridor dengan sekat beda jenis ini.


Di satu sisi adalah dinding beton yang hanya berhiaskan cat putih, sedangkan di satu sisi lagi adalah jendela full glass, yang kini sedang menampilkan pemandangan kota malam.


Kota padat dengan penuh kesibukan.


Mau malam atau pun siang, kota ini adalah tempat yang tidak akan mengenal kata tidur.


Termasuk orang ini.


Langkahnya yang menggema di koridor menjadi suara khas tersendiri dari sepasang sepatu yang di pakai pria dengan pakaian jas formal warna hitam ini.


Nafasnya sedikit tidak beraturan, tapi tetap berusaha untuk mengeluarkan suaranya.


" T-tuan......" Panggilnya, sambil membuat langkah lebar untuk mengejar laki-laki di depannya, yang sedari tadi terasa tidak dapat ia jangkau terus.


Sedangkan si empu, terus melanjutkan langkahnya yang santai, dan tiap jalan yang di ambilnya, tidak begitu membuat koridor itu berisik, karena kakinya hanya beralaskan sandal.


" Apa. " jawabnya dengan selamba, tanpa menoleh ke belakang untuk menatap lawan bicaranya,


meski masih menggerakkan kakinya untuk terus berjalan.


Padahal langkahnya begitu santai, tapi karena perbedaan postur serta panjang kaki yang di milikinya dengan orang yang di belakangnya itulah, menjadi sebuah beban tersendiri untuk anak buahnya yang masih berjalan mengikuti penuh dengan ke tergesa-gesa-an.


" Kenapa tanya apa?. Anda harus berpakaian dulu. " ucapnya lagi, di tangannya sudah tersampir setelan jas berwarna kelabu. Setelan jas yang sudah di siapkannya untuk majikannya yang baru saja selesai mandi setelah kegiatan berenang.


Slurp.....


Meminum minuman kalengan dalam beberapa kali teguk, pria ini lalu menatap kaleng yang sudah kosong itu, sebelum dia memutuskannya untuk melemparnya ke belakang.


SYUNG......


" ..........................." Pria ber kacamata itu langsung mengamati gerakan kaleng yang di lemparkan tuannya itu.


KLAKK......


Melompat dan mendarat dengan sempurna, dengan tangan kanan sudah mendapatkan kaleng yang sudah menjadi sampah itu.


" Bukannya kau sudah lihat, aku sudah berpakaian. "


Jawab pria yang di panggil tuan ini atas pertanyaan tadi.


Langkahnya yang tiba-tiba berhenti, membuat anak buahnya yang sedari tadi mengekori, langsung ikutan berhenti melangkah sebelum menabrak punggunya.


" Pakaian apanya, masa anda akan berpenampilan seperti itu. " protesnya, bahwa yang dimaksudnya bukanlah sebuah jubah mandi yang hanya membalut tubuh dari atas sampai lutut, dan memperlihatkan pemandangan dari dada bidang yang lumayan ter ekspose itu tapi pakaian yang benar-benar bisa terpakai ke tubuh dari atas sampai bawah.


Pria ini pun akhirnya menoleh ke belakang baru tubuhnya mengikutinya, untuk menghadap anak buahnya.


" Hm..?. " Mengangkat salah satu alisnya, disini ia baru saja menemukan sebuah perbedaan pemikiran.


" Apa bedanya itu, yang terpenting aku tidak telanjang kan?. "

__ADS_1


Membuat matanya jadi kembali memperhatikan tuannya dari atas sampai bawah.


" Itu-......" Kata-kata yang cukup masuk akal, membuatnya tidak bisa ber kata-kata lagi soal pemikiran logis itu kecuali,...


" Tapi di jam 8, anda akan ada pertemuan dengan para eksekutif, jadi anda harus bersiap-siap. " dan sekarang saja...jam sudah menunjukkan pukul 19:45, jadi tidak akan cukup waktu untuk tuannya pergi tepat waktu.


Mengabaikan keseriusan anak buahnya yang rajin mengingatkan jadwal pekerjaannya, dia langsung memutar tubuhnya kembali ke depan, memikirkan tempat yang sebenarnya akan ia tuju.


" Ck....pertemuan?. " gumamnya.


" Menurutmu disini siapa yang jadi bosnya?. "


tanyanya pada anak buahnya.


TAP......TAP..........TAP...........


Kembali melangkah, anak buahnya juga kembali mengekorinya.


" Anda. " jawabnya, dengan singkat, karena sudah jelas, orang yang di hadapannya itu adalah seorang bos besar.


" Kalau sudah mengerti, biarpun aku terlambat atau tidak datang sekalipun, biarkan saja mereka menunggu sampai batas kesabarannya habis. Karena aku punya seseorang yang lebih penting untuk aku temui ketimbang para tua bangka itu. Jadi....tugasmu sekarang bukanlah mengurusi pakaian apa yang aku pakai, melainkan memindahkan mereka dari tempat duduk ke lubang kematian. " Jelasnya panjang lebar.


Apa yang membuatnya berkata demikian?.


Pria ber kecamata itu hanya tahu, jika tuan-nya sudah berkata seperti itu, berarti ada hal yang sudah terjadi.


Di antaranya melawan kehendak dari tuannya atau pun sebuah kesalahan yang sudah tercium terlebih dahulu sebelum mereka sadar kalau itu sudah terkuak oleh sang tuan.


"......................"


" Baik tuan. " membungkuk hormat lalu akhirnya menyerah dengan keadaan saat ini dengan berjalan balik, ke arah yang berlawanan, menuntaskan misinya.


"...................."


[ Semuanya sama saja. ] fikirnya.


Setelah menemukan ujung dari koridor, kini yang ada di hadapannya adalah pintu lift. Dia menekan tombol lift menuju ke atas, tak perlu menunggu waktu yang lama, karena lift ini sendiri adalah satu lift yang memang di khususkan untuk dirinya seorang.


Setelah pintu lift terbuka, pria ini melangkah masuk dan lantai yang di pilihnya adalah lantai 59.


Lift yang bisa menampilkan peandangan kota secara langsung, dia menikmati pemandangan padatnya kota dari dalam lift yang terbuat dari kaca tersebut.


Kian waktu berlalu, dia berada di posisi yang makin meninggi.


Inilah kehidupannya, mengamati mereka dari atas, adalah pekerjaannya.


TIING......... ( bunyi lift yang berdenting, menunjukkan bahwa sudah mencapai tempat tujuan. )


" Selamat malam tuan. " All dua orang membungkuk hormat setelah mengetahui liift itu sudah mengantarkan tuannya ke lantai 59 ini.


Tanpa menatap dua orang yang berjaga di depan lift, dia langsung memberikan perintah sambil melewati mereka berdua.


" Kalian pergilah, lalu kosongkan 10 lantai dari sini. Aku berikan waktu 20 menit, jangan sampai ada yang naik batasan 10 lantai ini sampai besok siang. "

__ADS_1


Tanpa perlu di tanya, karena sebagai bawahan hanya perlu menuruti perintah atasannya.


" Baik, akan kami laksanakan. "


Dan dua orang yang terdiri dari pria dan wanita tadi, segera pergi. Tentu karena bekerja di lantai tertinggi ini, mereka berdua memiliki hak untuk menaiki lift barusan.


Sekarang, hanya tinggal dirinya seorang.


Apa yang ada di depannya, itulah tujuannya.


Dua pintu besar berwarna coklat yang behiaskan sebuah ukiran, dia buka.


CKLEK..........


Masuk tanpa mengetuk pintu, dia langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru yang terdapat di ruangan tersebut, dan berhasil menemukan seorang wanita dengan pakaian jas berwarna putih sedang berdiri dengan sebuah tablet di peluk ke dadanya.


" Apa pemeriksaannya sudah selesai?. "


Dan yang di tanyai segera berbalik, menghadap orang ini sambil menjawab pertanyaan baruusan.


" Sudah. "


" Jadi bagaimana keadaannya sekarang?. "


" Keadaannya sudah mulai stabil lagi, tapi harus tetap di pantau selama 2 jam ke depan. Jika tidak ada masalah, dalam jangka waktu itu, maka sudah tidak ada apa-apa lagi. " jelasnya, menurut data yang ia dapat setelah menangani pasien yang ada di bawah rawatannya.


"............................"


Menenung wanita ini, lantas yang di tenung makin di buat gusar karena merasa tertekan dengan tatapannya yang baginya terlihat menakutkan.


" A-apa saya periksa lagi, agar tuan Devon percaya?. " karena merasa di tatap seperti itu, jadi berpikir kalau tuannya ini tidak percaya dengan ucapannya tadi.


" Aku percaya padamu. Pergilah, aku tidak ada waktu lagi untuk pembicaraan panjang. " perintahnya.


" B-baik. " Memberikan hormat pada tuan yang di panggil Devon, wanita yang ber profesi sebagai dokter ini langsung cepat-cepat pergi sebelum menerima tatapan penuh dengan perhitungan yang di lontarkan oleh tuan Devon itu.


KLEK......


Tertutup.


Artinya sudah tidak ada seorang pun yang akan mengganggunya.


Devon, satu hal yang sedang dinanti-nantikannya setelah penantiannya selama..


" 2 tahun............" gumamnya.


Kakinya bergerak untuk memperpendek sebuah jarak.


Kini tatapannya tertuju pada seorang pasien yang sedang terlelap di atas ranjangnya.


Pasien, yang harus di temani dengan semua alat-alat canggih yang terjejer di sampingnya, itulah satu-satunya hal yang bisa di gunakan sebagai alat pendukung hidupnya selama ini.


Banyak waktu, dan uang yang terbuang, tapi satu hal yang pasti, kalau ia akan menerima hasil yang bagus setelah usaha yang sedemikan banyak itu.

__ADS_1


Yang di carinya, yang di kejarnya, dan yang di inginkannya..........setelah sekian lama itulah, meski yang di dapatinya cuma kesempatan yang sangat tipis, hari ini...malam ini, semuanya akan terbayarkan.


" Pada akhirnya, kau kembali ke sini. "


__ADS_2