
Rasanya lembut, juga hangat.
Itulah yang di rasakannya.
Namun seberapa lama waktu yang dia punya untuk menikmati momen langka ini?.
" Ciumanmu cukup agresif juga. " ucapnya.
Dan kata ' Agresif ' menjadi pemicunya, untuk Dania..
Agar dia.......segera...
" Dan lidahmu......uh... " matanya mengernyit, menahan sensasi geli serta panas dari lidah miliknya Dania.
Dan si pelaku utama, matanya langsung terbuka dengan lebar, sehingga dia benar-benar sadar, bahwa...
" ................! " yang dia cium bukanlah bibir, tapi itu adalah sebuah...
[ Telapak tangan?. ] detik hati Dania kala itu juga.
Di depan wajahnya bukanlah sebuah bibir yang dia harapkan, tapi rupanya adalah sebuah telapak tangan yang cukup halus, lembut, namun itu, sudah ternodai oleh air liurnya!.
[ Bagaimana ini?, aku menjilati dan mencium telapak tangan orang!. ]
Lalu seseorang yang dia jadikan korban atas tangan yang Dania tarik untuk dia cium, tidak lain adalah Erich.
Dengan telinga sudah berubah merah, seperti kepiting rebus.
" Apa kau sudah puas dengan telapak tanganku?. " kata Erich, sambil menodongkan telapak tangannya lagi ke depan wajah yang masih memasang ekspresi terkejut itu.
Dania sedikit melotot, di persembahkan telapak tangannya Erich ke depan wajahnya.
" Hehe...... " Dania tersenyum tawar, dan mengambil tangannya Erich lagi sembari menarik selimut, untuk di pakai sebagai menyeka atas air liur yang mendarat di telapak tangannya Erich.
SRUKK....SRUKK.....
" Maafkan aku... " dia merasa tidak enak, bahwa yang dia cium malah telapak tangan milik orang lain.
" Aku tidak sadar, kalau tidur pun bisa mengganggu orang. "
__ADS_1
Dania melihat telapak tangan Erich yang tidak memakai sarung tangan, cukup cantik untuk sebuah telapak tangan dari seorang pria.
Jika dalam dunia model, ada satu perusahaan dimana mereka hanya memotret bagian tangan-nya saja, seperti tangan yang yang sedang memegang pulpen, mengetik, atau mengecat kuku, tangan seperti Erich adalah yang paling cocok sebagai bahan pemotretan seperti itu.
Tapi.....
Lebih dari pada itu....
[ Tapi...perasaan....tanganku menarik kepala seseorang dan ....bagaimana rasanya ya?. ] Dalam keadaan tertunduk ke bawah, otaknya terus berpikir keras.
Perasaan dirinya menggenggam sarung tangan yang dingin, memegang kepala dengan rambut yang super halus itu, juga perasaan tangan seseorang yang menyentuh pinggangnya....semua perasaan itu masih ada dan dia ingat dengan jelas.
Tapi kenapa yang dia cium bukannya bibir, tapi telapak tangan?, dan punyanya Erich pula.
Dania menatap ke dua tangannya sendiri yang dia letakkan di atas selimut yang menutupi ke dua kakinya.
[ Apa itu hanya mimpi?, tapi rasanya sangat.... ] matanya terpejam, dia mencoba menggunakan otaknya.
[ Terasa. Aku sangat merasakan semua sentuhannya itu, tapi mencium, yang ada di depanku malah telaoak tangannya Erich. ]
Dania merasa ini tidak adil, bahwa dirinya bisa berciuman ternyata hanyalah antara bibir dengan kulit dari telapak tangan orang saja.
Padahal, dia sangat berharap bisa merasakan perasaan ketika berciuman, sekalipun itu mimpi, tapi semuanya hanya angan-angan saja.
" Apa tanganku jadi mengganggu tidurmu yang sedang nyenyak itu?. " Erich menarik tangannya, dan mengambil salah satu handuk basah di antara 3 handuk yang dia letakkan di atas piring, yang niatnya dia suguhkan untuk perempuan ini.
Lalu dia gunakan untuk membersihkan lagi tangannya, agar lebih bersih dari sebelumnya.
[ Tadi itu....kenapa sangat menggelikan?, padahal cuma telapak tangan yang di jilat. ] fikir Erich.
Dia tidak begitu mengerti dengan benar, padahal telapak tangannya hanya di cium dan di jilat, tapi hal itu membuat bulu kuduknya meremang.
Apa lagi saat merasakan panas dari lidah yang lembut dan kecil itu, ada perasaan panas lainnya yang muncul.
Oleh sebab itu, Erich langsung membual dengan alasan-alasan tadi agar perempuan ini terbangun dan segera tersadar.
Dania melirik ke arah nakas yang ada di samping tempat tidur itu, ada sisa dua handuk basah yang ketika di ambil ternyata hangat.
" Tidak, bukan itu.....aku malah berterima kasih karenamu, aku jadi bangun. Padahal harusnya bangunkan saja aku sebelum melakukan hal aneh padamu. " tutur Dania, dia menyarankan solusi terbaiknya. Sekalipun di bangunkan dengan cara di cubit atau di tampar, itu tidak masalah, asal tidak melakukan hal aneh pada orang lain.
" Tapi.... " sambil menempelkan handuk hangat itu ke wajahnya dengan pelan, agar bisa merasakan wajahnya yang kembali segar itu, Dania bertanya denga suara sedikit rendah.
" Bagaimana bisa aku ada kamarmu?!. "
Seketika, Dania melirik ke kanan dan ke kiri. Tidak salah lagi, tempat yang di jadikan sebagai tempat peristirahatannya adalah kamarnya Erich!.
Bisa sampai ke kamar ini lagi?.
Tidak ada yang dia ingat kecuali ingatan terakhirnya, tidur di atas rumput yang segar itu.
Tapi pagi ini sudah berada di tempat yang berbeda, bagaimana caranya?.
Kalau Erich yang menggendong, secara...dia akan sadar karena instinh, tapi...ini tidak sama sekali.
" Itu..... " Erich ragu jika memgatakan yang sebenarnya.
Tapi mata itu sangatlah mengganggu, jadi Erich mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari menjawab.
" Kau sendiri yang masuk ke sini. "
" Ha~...bagaimana mungkin, jelas-jelas aku tidur di atas rumput. Atau kau yang memindahkanku?. "
" Tidak. " ketus Erich.
Sekalipun memberikan tatapan menyelidik, jelas...bahwa Erich memang tidak berbohong.
[ Tapi maksudnya aku sendiri yang masuk.... itu...bagaimana?. ] Dania terus berusaha menemukan jawabannya.
" Tidak ingat ya?, tentu saja tidak ingat. Mana ada orang yang ingat saat orang itu sendiri tidur berjalan. " jawab Erich dengan selamba.
DEG......
" Tidur berjalan?!. "
" Atau tubuhmu....punya insting ingin tidur di tempat yang empuk, bisa jadi kan?. " tutur Erich sambil mengendikkan bahunya. Dia tidak tahu menahu tentang itu, jadi hanya sembarang menebak saja.
Erich mengangguk iya.
" Apa mungkin, alam bawah sadarmu yang muncul itu, membuat tubuhmu mencari tempat nyaman. Jika memang tidak percaya kau bisa melihat batu rekaman yang aku pasang di sepanjang koridor ini. " jelas Erich panjang lebar. Dan memberitahu batu rekaman, sebuah bola yang menangkap setiap kejadian yang bola itu rekam.
Jika di dunia modern, namanya CCTV.
Penasaran, Dania segera membuka selimutnya, lalu bangun dari kasur.
Tetapi ekspresi Erich yang terbengong, membuat Dania heran.
" Ayo...tunjukkan padaku dimana batu rekaman yang kamu pasang itu, kenapa bengong?. " Dania jadi menoleh ke belakang, apa yang Erich tatap, disana ada sebuah..
"..............! " noda yang menodai sprei putih itu!.
Dania segera menutupi noda di tengah kasur itu dengan selimut sesegera mungkin.
[ Apa yang barusan itu.....darah?. ] Erich tercekat, bahwa yang ada di sprei itu adalah darah merah yang sudah kering.
[ Atau yang semalam, itu memang bukan imajinasiku? ] Erich teringat dengan hal yang semalam dia lihat.
******
Flashback On.
" Jam setengah satu?. " Gumam Erich, ke dua tangannya menutup buku, setelah melirik jam yang terpajang di atas meja belajarnya sudah ada di angka satu lebih 5 menit.
[ Kenapa haus di saat begini?. ] gelas besar yang berisi air hangat sudah kosong, padahal Erich sedang tidak mau pergi ke kamarnya sendiri karena sudah ada orang yang menempatinya.
Namun karena tempat paling dekat untuk mendapatkan air adalah di kamar sebelah, jadi Erich memutuskan keluar dari ruang belajarnya, setelah membaca berbagai buku tentang sihir yang dia punya.
Dia hanya penasaran dengan sihir yang di gunakan oleh gadis itu, tapi tidak ada satu petunjuk pun. Kecuali dia bertanya langsung pada orang yang bersangkutan.
Tapi ketika hendak membuka pintu satu suara asing menjadi penarik peehatian Erich.
" Apa untungnya melakukan itu?. "
[ Suara laki-laki?. ] Erich penasaran, jadi sedikit mendorong lagi pintu itu agar bisa mengintip.
" Melakukan....apa?. "
" Asal muasal energi sihirmu habis, tidak ada untungnya kau membantu mereka. " ucapnya lagi.
" Hanya.......keinginanku. "
Pembicaraan singkat, tapi terkesan dalam balutan emosi saling mengkhawatirkan dan juga rindu.
Erich tidak begitu tahu siapa orang yang jadi lawan bicaranya Eldania itu, namun yang pasti hanya satu, bahwa aura yang dimiliki orang misterius itu...
[ Dia punya aura bangsawan yang sangat kuat. Tapi juga aroma darah yang menggangguku. ]
Erich benci ini, aroma darah yang kuat sama artinya bahwa pemilik dari aura ini adalah seseorang yang punya hubungan besar dalam hal membantai manusia.
Tapi apa mungkin?.
Melihat bahwa perempuan tersebut seperti tidak terganggu sama sekali dengan aura yang miliki laki-laki itu, berarti...
[ Dia punya sudut pandang yang berbeda denganku. ]
Satu hal lagi, punya pemikiran sendiri dalam arti lain mempunyai sudut pandang yang berbeda, juga mempengaruhi apa yang dirasakannya terhadap orang yang dia lihat.
Dalam kasusnya, karena Erich tidak tahu siapa orang misterius tersebut, lalu menganggapnya sebagai orang yang dia waspadai, juga bisa jadi akan menjadi musuh, maka dari itu Erich menerima aura mencekam yang kuat dari orang itu.
" Tidak ada siapa-siapa di sini, kali ini.....jangan pergi dulu...." pinta gadis itu.
Erich melihat bahwa dia sedang menahan kepergian laki-laki tersebut.
" Yang mulia. " ucapnya lagi.
__ADS_1
[ Yang mulia?, dia memanggilnya yang mulia?. ] Erich kini tahu, bahwa laki-laki misterius itu memang adalah seorang bangsawan, tapi untuk statusnya....terasa lebih tinggi.
Tapi apa itu?.
Dan pembicaraan pendek itu berlanjut bahkan setelah laki-laki itu tidak jadi pergi, dan malah ikut tidur bersama, sampai satu panggilan...
" Nesh.. "
" Hmm?. " Dania mendehem.
[ Apa itu nama panggilannya? ] Erich....jika terus menerus mencari informasi, dan apa lagi di tambah melihat apa yang terjadi di dalam kamarnya, makin lama dia menemukan kerumitan yang dimiliki gadis itu.
Dengan kata lain, jika terus dalam balutan rasa penasaran yang mendalam tentang dania, maka ada satu waktu orang yang di panggil Yang Mulia oleh Dania, bisa-bisa turun tangan dan bisa juga menjadi musuhnya.
" Aku ingin merasakannya. "
Dan Erich melihat tangannya Dania terangkat untuk menarik kepala pria itu agar lebih dekat lagi. Tidak ingin melihatnya lebih lama, Erich mengurungkan niatannya untuk mengambil air di kamarnya.
" Uhmm.... ..., ah... "
Lagi-lagi suara itu. Tidak tahan lagi dengan suara ******* menggoda seperti itu, Erich pun memilih pergi.
********
Flashback Off.
[ Apa itu karena yang semalam?. ] Erich bertanya pada dirinya sendiri, di dalam imajinasinya bahwa gadis ini semalam baru berolahraga di atas ranjangnya, sampai-sampai memperlihatkan darah yang menodai kasurnya, artinya keperawanan dari gadis ini sudah di pakai untuk pertama kalinya?!.
"................."
[ Tunggu...tunggu, kenapa aku memikirkan itu?!. ] Erich segera menyingkirkan imajinasi menyimpangnya itu.
[ Kenapa malah menodai kasurnya orang?!. ] Dania kesal dengan dirinya sendiri. Jadi dia pun menggunakan sihirnya kembali untuk membersihkan noda darahnya.
Erich mencoba menyadarkan dirinya kembali,
[ Atau...... ] Erich melirik ke arah rok yang di pakai oleh Dania, satu pikiran lain muncul.
[ Bukan... ] di rok biru itu juga noda darah.
[ Pasti rok-ku juga kena. ] dan sekalian saja......dia menggunakan sihirnya untuk dirinya sendiri, hingga noda yang ada di spresi maupun rok, akhirnya sudah menghilang sepenuhnya.
Akhirnya yang di pikirkan Erich setelah menghubungkan satu petunjuk dan petunjuk lain..
[ Aku hampir salah paham dengannya. ] Erich mendapatkan kesimpulan yang jelas sebelum membuat kesalahpahaman sendiri.
*******
" Pi....pi!. "
Ailyn mengangguk, menoleh ke arah kakaknya, sang Darayad mengiyakan Ailyn untuk pergi.
Di tengah kekacauan karena bencana alam yang tidam bisa di hindari lagi, Darayad meminta semua penghuni hutan untuk pergi ke tempat yang hutan.
Tapi ada juga...dari mereka terjebak, karena longsong yang tiba-tiba terjadi, dan mengubur mereka hidup-hidup.
Ailyn bertugas untuk menolong mereka yang mempunyai kemungkinan hidup yang tinggi, dan mendoakan mereka yang meninggal di tempat.
Darayad kemudian menoleh ke arah kasur, di sana ada seekor burung terbaring dengan mata terpejam.
Lebih tepatnya terbaring di kondisi, tidak tahu kapan dia akan bangun karena di dalam tubuhnya tidak ada pendukung, yaitu roh.
"..................... "
[ Setelah melihat keadaanya, gadis itu kembali menghilangkan situasi terburuknya. ] Darayad kembali menonton kolam cermin itu.
Semuanya terpapar dengan jelas, bahwa akibat dari guncangan besar yang terjadi kemarin sore, menimbulkan tsunami yang cukup besar, dan bisa jadi meratakan sebagian besar salah satu wilayah hutan bagian selatan.
Tetapi semuanya sudah di atasi dengan begitu mudahnya, .....lagi-lagi oleh gadis itu.
Dan dampak dari kematian manusia, bisa di minimalisir.
Itu semua atas jasanya lagi.
Darayad tidak begitu mengerti, apa alasannya sampai-sampai mau menghabiskan mana-nya sendiri.
Untuk memulihkan energinya, paling tidak butuh 1 minggu, agar bisa beraktivitas seperti biasa.
"..............! "
[ Kenapa menghilang!. ] Darayad terkejut, bahwa kolam cermin itu, tidak berfungsi untuk melanjutkan pengamatannya terhadap gadis tersebut.
" Apakah itu kesenanganmu?, melihat kerumitan orang lain lebih dalam?. " ujar Everst kepada Darayad yang terlihat terkejut, hanya karena kolam cermin tidak lagi bisa memperlihatkan gambaran dari aktivitas seseorang yang sering Darayad ' Elsie ' lihat.
DEG....
Darayad tanpa sadar terbuai dengan orang yang dia amati, tanpa memperhatikan fakta bahwa ada yang punya sangkut paut dengan gadis itu, dan itu adalah burung ini.
Dan ketika itu pula, Everst sebenarnya sedikit jengkel, tubuhnya dalam kondisi terbalik dengan ke dua kakinya berada di atas!.
Siapa lagi kalau bukan wanita hutan yang satunya lagi.
Everst segera merubah posisinya dengan benar.
Lalu dia dia berdiri di pinggir kasur.
" Karena kalian kemarin sudah pergi berdua untuk bersenang-senang, aku minta batu mana milikmu. "
" Hanya itu?. " Darayad tahu, bahwa nanti pasti ada imbalan yang di minta oleh burung ini setelah seharian menjaga hutan, tapi tidak tahu ternyata yang di minta adalah batu 'mana'.
" Apa kau berharap aku minta lebih?. " tanya balik Everst.
Tapi Everst segera menjawabnya alasannya.
" Aku tidak butuh apa pun selain batu itu, berikan aku 7 buah, itu saja. "
" Tidak mau lebih?. "
Everst menoleh ke arah kiri sedikit ke atas, melihat ke arah jendela, lalu dia menjawab.
" Kau kira aku serakus itu?, aku tahu di gudang hartamu ada banyak, tapi aku hanya butuh 7. Jika kurang, baru minta lagi. "
Darayad pun mengabulkan permintaan burung ini, dengan kekuatannya yang bisa mengendalikan dan menumbuhkan berbagai tanaman, di sebelah kakinya langsung tumbuh satu pohon dengan 7 kuncup bunga.
Kuncup yang harusnya mekar menjadi bunga indah, kuncup yang ini justru memekarkan satu bola berwarna biru, dalam ukuran bola kasti. Dan ke 7 kuncup itu terbuka, Darayad mengambilnya dan memasukkannya ke dalam kontong yang dia dapat dari tumbuhan lain.
Semuanya dia ambil dari gudang harta yang terletak di bawah tanah, dan karena istana pohon ini juga terhubung dengan kekuatannya, jadi hal sepele seperti ini, mudah untuk dia gunakan.
" Ini. " menyodorkan kantong seberat 3 setengah kilo kepada burung Everst.
Everst menerimanya dengan kakinya, lalu tanpa sepatah kata lagi, dia peegi lewat jendela dengan membawa 7 bola yang merupakan batu 'mana'.
[ Apa yang mau beliau perbuat dengan batu itu?. ]
Darayad penasaran, tapi dia tidak punya hak untuk bertanya. Karena satu pasti, itu adalah hal yang di rahasiakan oleh si Everst.
" Atau...itu akan dijadikan hadiah untuknya?. "
" Pi?. "
Pici juga melihat kepergian burung tersebut.
" Kenapa kamu terlihat sedih?, bukannya dia sering mengganggumu?. " Tanya Darayad pada Pici yang sudah kembali.
" Pi...pi...pi.. " Pici menjelaskannya secara singkat.
" Apa begitu?. " Darayad mengira hubungan antara Pici dengan Everst itu buruk, tapi tidak seperti yang terlihat.
Meskipun Everst seolah-olah menjahili Pici, tapi di balik kejahilan itu ada pelajaran yang di dapati Pici.
Pici sedikit tahu akan bela diri, dan cara bertahan dari musih jika sedang sendimusih
" Sayangnya, kamu tidak akan bertemu lagi dengannya. Beliau pergi ke tempat orang itu berada. " jelas Darayad.
__ADS_1
Dan Pici mendapatkan kesedihannya.
" Pi~... " kepalanya menunduk, lalu berjalan keluar dari kamar tersebut meski dengan langkah berat,