
{ Tuan menjadi buronan nih } tutur Everst.
" Hal semacam ini sudah biasa. Jika aku bisa menyelamatkan mereka berdua, paling tidak akan di penjara seumur hidup atau di asingkan dari kekaisaran ini " tutur Danie, ia sekarang sedang berbaring di punggung Everst sambil salah satu tangannya di rentangkan ke atas untuk menghindari silauan matahari. Terbang bebas tanpa ada hambatan, ketenangan yang jarang ditemuinya.
" Apa kamu punya rumah? "
{ Tentu lah, bagaimana aku bisa hidup tanpa rumah?. Tapi jika nasib tuan berada di penjara- }
" Aku tidak akan membiarkannya, karena kebebasan adalah sifatku. Aku ingin singgah kerumahmu "
{ Kehormatan bagi saya tuan. Tuan akan terpsona dengan rumahku }
" Memangnya lebih bagus ketimbang gorong-gorong? "
{ Sarkasme tuan sangat bagus sekali~ } hanya bisa menahan amarah.
Everst terbang mengarungi langut sore kala itu.
Terbang melewati berbagai hutan dimana daun-daun sudah mulai berubah warna dari hijau, kuning, orange, merah, dan coklat. Menandakan musim gugur sudah datang dan sebentar lagi akan menjadi musim dingin.
Untuk terbang dari Linstone menuju rumah Averst memerlukan waktu lebih dari setengah jam, bisa dikatakan sangat jauh namun karena terbang santai sambil melihat pemandangan dibawah, Danie tidak merasa kalau waktu setengah jam itu waktu yang lama.
Sekarang mereka berdua sudah mulai melewati lembah dengan tebing yang tinggi-tinggi dan juga banyak bebatuan besar.
Di antara tebing rupanya ada satu lubang yang diduga adalah gua, dan benar saja Everst tebang lebih rendah dan akhirnya Danie dan Everst sampai di rumah sang burung jadi-jadian.
Danie turun dari tubuh Everst dan berpijak pada lantai bebatuan itu.
Sedangkan dibawahnya adalah jurang yang curam, sehingga boleh dikatakan rumahnya Everst sangatlah terpelosok dan pastinya sangat aman karena tidak ada yang akan berani datang ke tempat seperti jurang kematian.
{ Bagaimana menurutmu tuan?, hebat kan? }
Tanya Everst dengan bangga.
" Lumayan, dan damai. Disini sangat tenang, dan tidak aka ada orang yang tahu. Tapi...sepertinya kamu burung perampok ya? " Setelah melihat sekelilingnya, tepat di pinggir dinding ada setumpuk harta.
" Kamu memang licik, lebih kaya dariku " sambung Danie lagi, lalu berjalan mendekat ke tumpukan barang-barang mewah dan berkilau seperti emas, cawan berwarna emas, tongkat yang juga diatasnya ada batu permata berwarna merah, dan masih ada banyak lagi.
{ Benda berkilau yang menggiurkan mata, memangnya manusia saja yang memiliki keingingan untuk memilikinya? }
" Ohh...sebuah hobi. Apa buku ini juga? "
[ Ini buku tebal amat 15 cm?. ]mengambil satu buku diantara tumpukan harta.
Buku dengan cover hitam namun memiliki garis berwarna emas tanpa judul, namun sayangnya sudah agak usang apatah lagi debu banyak menempel di buku itu.
{ Buku sampah, tidak ada tulisan. Hanya kertas kosong saja }
[ Justru sebaliknya, jika buku ini tidak bisa di baca secara normal pasti ada satu hal kenapa berkamuflase seperti buku kosong yang tidak berguna ]
Dibukanya buku misterius itu, memang benar hanya ada lembar kertas kosong saja tanpa ada tulisan apapun.
Jadi Danie berfikir ada satu hal yang disembunyikan buku ini.
__ADS_1
" Sudahlah...aku tidak akan membacanya sekarang. " langsung menutup bukunya kembali dan meletakkanya di atas tumpukan emas lagi lalu sekalian membaringkan tubuhnya juga dan menggunakan buku tadi sebagai bantal untuk kepalanya sendiri.
Karena seharian bertindak seorang diri, tubuhnya kini yang lelah membuat rasa kantuknya menyerang dengan cepat, perlahan kedua mata itu menutup dan mulai dibuai oleh alam mimpi di alam bawah sadarnya sendiri.
Keesokan harinya.~~~~
Dengan wajah masih mamai, Danie berkata
" Hoammhh......., aku harus pergi "
{ mau apa pagi-pagi bergini? }
Danie terdiam, lalu berdiri dan bergerak mendekat ke Everst.
Ditatapnya lama-lama Everst, dengan sedikit mendongak ke atas sebab dia lebih tinggi darinya, lalu satu telunjuk Danie ia gerakkan dengan maksud agar menyesuaikan tingginya, jadi Everst menurunkan kepalanya.
Manik mata Everst ternyata sekarang menjadi merah, Danie menyipitkan matanya? disana terpantul dengan jelas wajahnya sendiri di manik mata Everst.
{ Kenapa melihatku begitu lama? } tanya Everst lagi
Lalu tangan kanannya menyentuh wajah dari si Everst.
" Paruh yang kekar, sorotan mata yang tajam, kaki yang kuat, sayap yang besar, kamu......"
"............."
" Terlalu jelek untukku "
" Ohh...sejak kapan kamu memanggilku ' mu kamu ' ? "
{ Ti..tidak, tidak...itu reaksi sesaatku }
" Panggil dengan namaku " Danie
{ Nama? } Everst
" Tidak tahu nama majikanmu sendiri?. Jangan menyebutku tuan, membosankan ditelinga " decih Danie.
{ Danie? }
" Ingatkan kamu tipe yang harus belajar menyebut orang dengan namanya langsung, sepertinya sudah terbiasa " karena bawahan seringnya(terbiasa) akan memanggil majikannya dengan sebutan tuan, jadi akan canggung.
{ Hanya sebuah nama, kenapa harus susah? } Everst
" sudahlah, kita pergi dari sini, tidak ada makanan juga kan? "
Kruyukkk.....( suara mengaum dari perut )
*******
di pegunungan tempat dimana para kesatria dan healer berperang.
" Apa benar Danie baik-baik saja? " cemas Keylin pada temannya, sudah dari kemarin tidak menemukan batang hidung Danie, rasanya seperti kesepian.
__ADS_1
" Kalau pemimpin bilang baik, pasti baik-baik saja. Kenapa denganmu?, khawatir pada laki-laki seperti dia? " Jawab Deepika.
" Memannya tidak boleh, mengkhawatirkan orang? "
" Atau kamu suka sama dia? "
" Tidak, aku hanya memanfaatkannya karena setiap makan makanan yang buruk ini, dia mempunyai cadangan buah yang enak "
" Jadi yang mamu khawatirkan itu makanannya ketimbang orangnya " tebaknya.
" cepat!, cepat!, ambil handuk hangat , dan bawa beberapa perban kesini! "
" Pendeta, disini ada yang terluka "
Beberapa orang berteriak, serangan masih belum habis dilancarkan namun beberapa kesatria terluka lagi.
Perang memang merugikan banyak orang.
" Kita harus kerja lagi, tanpa Danie ini sedikit membutuhkan waktu lama " ucap Deepika pada Keylin sebelum akhirnya mereka berdua bergegas melaksanakan tugasnya masing-masing.
**********
Di sebuah pondok di dalam hutan.
" Jangan melototiku, tenang saja aku tidak akan melakukan sesuatu padamu. Vian, lepaskan ikatan Elvira ini " Perintahnya pada Vian.
Dengan sigap, Vian melepaskan ikatan Elvira yang sudah di ikat dari kemarin.
Sesudahnya, Elvira mengusap-usap pergelangan tangannya karena ikatannya tadi itu benar-benar kencang.
Tidak habis pikir apa tujuan sebenarnya menculik dirinya beserta ibunya, balas dendam apa yang dimaksud orang yang sudah menculik dirinya, yah...akhirnya Elvira tahu kalau Danie bukanlah dalang dibalik penculikannya, melainkan Ordon. Siapa Ordon Elvira sendiri tak tahu jelas siapa dia, yang pastinya adalah orang yang selalu mengincar ibunya yang berarti adalah masalah antar pribadi atau apa itu masih tidak jelas
" Dimana ibuku! " seru Elvira.
" Ibunda ratumu ada di ruangan lain, dia tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita bernegosiasi? "
" Apa maksudmu? "
" Aku mungkin bisa menjamin keselamatannya asal kamu membawakan seseorang bernama Danie padaku. "
" Danie?, Danie yang mana! "
" Jangan berlagak tidak tahu. Jika menolak, ibumu akan tersiksa dengan racun yang sudah ku berikan. Berhasil tidaknya kamu membawa Danie juga akan memperngaruhi racun yang ada pada ibumu " Peringat Ordon pada Elvira, negosiasi dan ancaman yang ia buat untuk memperoleh Danie.
[ Kenapa bisa begini ]
" Baiklah, aku turuti permintaanmu. Tapi, sekarang dia kan ada di medan perang bagaima- "
" Tidak, dia sudah kembali. Jika bisa membawa Danie padaku, maka aku akan mengembalikan ibumu dengan utuh. Penawaran yang menarik bukan? " kata Ordon.
Rencana demi rencana harus berjalan dengan baik.
Kedua manik matanya menatap Elvira yang akhirnya mengakui untuk berani mengambil langkah dari rencananya , sekarang tinggal menunggu hasil kerja Elvira. Jika dia memiliki niat berkhianat maka racun dalam dirinya( Elvira) akan aktif dan sedikit demi sedikit akan membuat tubuhnya itu merasakan sakit luar biasa, seakan-akan tubuhnya utu tercabik-cabik.
__ADS_1